PENCURI

PENCURI
32. Ingatan Pak Tua


__ADS_3

Hari telah berlalu, pagi baru yang masih kelabu mulai menggantikan sang malam.


...******...


KAMAR


"Hoaaaawmm." Dinna menguap sembari merentangkan tubuhnya.


Sebenarnya Ia tidak ingin bangun pagi hari, namun apa daya, sinar mentari tanpa sengaja menyengat sudut matanya.


Dengan raut masih mengantuk, Dinna mulai beranjak dari tempat tidur, dan berjalan perlahan ke arah kamar mandi.


(Skip Mandi)


DAPUR


Satu jam telah berlalu, sekarang Dinna sudah selesai menyiapkan makanan sederhana untuknya sarapan. Namun Dinna mulai penasaran, karena Nadi belum juga datang.


Tidak biasanya Nadi telat bangun pagi, apalagi jika sudah mendengar atau mencium aroma masakan, pasti Dia akan menjadi yang pertama datang, tapi sekarang, malah Miko yang sudah menunggu dari tadi.


"Tunggu sebentar, akan kupanggil dulu Dia." Ucap Dinna sambil melenggang pergi, meninggalkan Miko yang sedang meringkuk bosan.


Karena Dinna tidak tahu Nadi menempati kamar yang mana, jadi untuk mencarinya membutuhkan waktu cukup lama, karena saat di telepati pun, Nadi tidak menyahut.


"Ck, sebenarnya dimana Dia!?" Decak kesal Dinna.


Sekitar 15 menit sudah Dinna berjalan menyusuri satu persatu kamar di lantai bawah, akhirnya Ia sampai di sebuah kamar yang terbilang cukup biasa.


Bahkan di bilang biasa pun kurang cocok, karena pintu itu tampak seperti pintu gudang, tidak terawat, dan terlihat sudah tua.


Dengan sedikit ragu, Dinna mendekati pintu.


Kriiiett...." Derit pintu keras terdengar memekakan telinga.


"Mana mungkin sih Dia disini." Gumam Dinna sambil melihat ruangan yang gelap itu.

__ADS_1


Ctek!" Dinna menyalakan saklar lampu yang berada tepat di samping pintu.


Setelah lampu menyala dan menerangi seluruh ruangan itu, mata Dinna langsung terkunci ke satu hal, yaitu kepada Nadi yang sedang tertidur pulas di atas kasur.


Ya, begitulah pikiran Dinna pada awalnya. Tapi saat Dinna mendekat kepada Nadi, berniat untuk membangunkannya sarapan, Dinna langsung terkejut saat itu juga.


Bahkan Ia langsung berjalan cepat ke arah Nadi. Tampak wajah pucat terukir di wajah Nadi, bahkan tidak hanya itu, kini pipinya sudah basah, karena terus di aliri air mata tangis yang masih mengalir.


Pada detik itu juga, Dinna langsung berusaha untuk membangunkan Nadi, tentunya rasa khawatir, cemas dan lainnya membludak menjadi satu.


"Hey, bangun! Bangun!" Ujar Dinna sambil menggoyangkan tubuh Nadi, namun usaha itu tidak membuahkan hasil, Nadi masih tetap menutup matanya sambil menangis.


"Ish, kenapa sih!?" Tanya Dinna semakin cemas.


"Bangun! Nadi... Cepat bangun!" Teriak Dinna berusaha membangunkan Nadi.


Arrghhhh...!!" Teriak Nadi yang langsung terbangun secara mendadak, bahkan langsung duduk dengan mata yang masih melotot.


Walaupun sudah bangun, tapi Nadi masih tetap di dalam dunianya sendiri, mata yang kosong, memancarkan ketakutan dan kesedihan, bahkan Ia sambil mengepalkan tangannya erat.


"Sudah, ada Aku disini, jangan khawatir." Ucap Dinna lembut, berusaha untuk menenangkan batin Nadi yang masih bimbang.


Dan ya, berkat pelukan Dinna itu, Nadi sekarang menjadi sedikit tenang, rasa sedih dan takut itu perlahan pergi, dan momen itu berlalu cukup lama.


...******...


DAPUR


"Sebenarnya kenapa tadi?" Tanya Dinna penasaran setelah menyantap sarapan buatannya.


"Aku mimpi buruk tadi, mungkin ini efek karena Aku sudah mengambil Anugerah milik Si Pak Tua." jawab Nadi santai.


"Mimpi apa?"


"Sudahlah, nanti Aku ceritakan, sekarang adalah waktunya untuk makan." Ucap Nadi sambil menikmati makanannya, dan Dinna tentu menurutinya, walau sedikit kecewa.

__ADS_1


Setelah makan....


"Mungkin, saat Aku mengambil Anugerah Si Pak Tua, tanpa sengaja Aku juga mengambil pengalaman dan pengetahuannya." Ucap Nadi membuka obrolan.


Nadi tahu, bahwa ucapannya tadi membuat Dinna menjadi kecewa, apalagi Ia tadi sangat khawatir setelah membangunkannya.


"Terus?" Tanya Dinna singkat.


"Ya, Kau tahu kan kemarin, Aku berhasil menguasai Langkah Cepat dalam waktu setengah hari saja. Sebenarnya untuk menguasai Langkah Cepat, Aku harus melakukan latihan selama 1 bulan."


"Tapi entah kenapa, semakin Aku pikirkan, semakin Aku coba, pengalaman Si Pak Tua mengalir di otakku, dan tentunya itu bukan pengalaman menyenangkan." Lanjut Nadi kembali sedih.


"Ish, bodoh! Gunakan pengalaman itu sebagai bagian dari hidupmu, jangan jadikan sebagai pengganti pola pikirmu yang sempit itu." Saut Dinna marah.


"Hah?" Nadi terperangah kaget.


"Yang Kau ambil itu cuman pengalaman dan pengetahuannya saja, bukan berarti setiap pikiran dan lainnya Kau ambil juga, anggap saja itu sebagai hari-hari Kau melewati latihan." Tegas Dinna.


Dinna tahu, sebenarnya itu bukan karena pengalaman Si Pak Tua, tapi karena pola pikir Nadi masih lemah, jadi Ia dengan mudah termakan oleh pengalaman itu.


"Ya tapi, di dalam pengalaman itu, ada rasa sedih dan takut dari Si Pak Tua, apalagi saat Ia tau bahwa Adonis mati di tanganku, rasanya seolah-olah..." Ucap Nadi langsung pucat, sampai ucapannya terpotong.


Tap!" Dinna kembali memeluk Nadi.


"Ya, Aku tahu, jika Kamu tidak bisa melupakannya, maka anggap saja yang ada di pikiranmu itu, cuman cerita dari orang lain, dan jangan anggap bahwa itu cerita milikmu." Ucap Dinna lembut.


"Akan ku coba." Ucap Nadi sambil bersandar di pelukan hangat Dinna.


"Ingat saja satu hal ini, keluargamu hanya satu, yaitu Aku dan Miko, paham?" Ucap Dinna melepas pelukannya, lalu Ia menatap serius ke arah bola mata Nadi.


"Ya..." Jawab Nadi sambil senyum terpesona.


"Bagus, ingat terus kenangan indah Kita bersama, dan jadikan setiap pengalaman yang Kau ambil itu sebagai kekuatan, bukan kelemahan." Balas senyum dari Dinna.


...°°°°°°°°°°...

__ADS_1


__ADS_2