
"Akan kulepas kutukanmu." Ucap Nadi.
Sekarang Nadi berniat untuk segera melepas kutukan Si Peri, tadinya Ia mau melakukannya di esok hari, tapi karena kondisi Si Peri tidak memungkinkan, jadi Nadi memutuskan untuk memulainya sekarang.
"Apa Kamu siap?" Tanya Nadi, namun Si Peri tidak menjawab, Ia masih menunduk sambil bersandar di bantal yang terlihat empuk itu.
"Aku tidak akan menanyakan nama aslimu siapa, yang perlu Kau lakukan hanya satu, yaitu percaya padaku." Lanjut Nadi.
Ya, Nadi tahu, bahwa Si Peri sekarang sudah trauma, Ia sangat takut jika di manfaatkan kembali, tapi saat Nadi bilang tidak membutuhkan nama aslinya, Si Peri mulai melihat ke arah mata Nadi.
"Benarkah?" Tanya Si Peri ragu.
"Ya, tentu saja, Kau hanya perlu mendengarkan semua ucapanku nanti, dan di setiap pertanyaan, Kau bebas memilih untuk menjawab Ya atau Tidak, itu semua tergantung keputusanmu." Jawab Nadi.
Alasan Nadi tidak membutuhkan nama asli Si Peri karena Ia sudah tahu, bahkan tidak hanya itu, Ia sudah tahu semua tentang Si Peri, tentunya Ia dapatkan dari Si Pria Kurus yang di bunuhnya.
Sebenarnya Pria Kurus itu adalah Teman Si Peri, bahkan mereka sudah sangat dekat melebihi seorang sahabat, dan suatu waktu, Si Peri meminta bantuan temannya itu, untuk melepaskan kutukannya.
Namun sayangnya, Si Peri malah Di Khianati, bukannya melepas kutukan Si Peri, Ia malah di kekang untuk memenuhi keserakahannya.
Begitulah dasarnya manusia, mau sedekat apapun, atau alasan lainnya, kalau sudah berurusan dengan napsu duniawai, maka orang itu akan menghalalkan segala macam cara.
"Baiklah." Ucap Si Peri kembali menunduk, Ia menunduk bukan kembali murung, tetapi untuk bersiap sebelum Nadi memulai melepas kutukannya.
"Ulurkan kedua tanganmu..." Pinta Nadi kepada Si Peri.
Lalu Si Peri menurutinya tanpa bertanya apapun, setelah Si Peri mengulurkan tangannya, Nadi memejamkan matanya, lalu Ia mengulurkan jari telunjuk keatas telapak tangan Si Peri.
"S----e... Mulai sekarang Aku adalah Tuanmu, apa Kau setuju?" Tanya Nadi.
Sontak Si Peri terkejut, karena Nadi telah mengetahui nama aslinya, dan yang membuat Si Peri tidak percaya, adalah Nadi tidak memanfaatkannya, dan saat proses itu, Dia malah menanyakan persetujuannya, padahal hal itu tidak di perlukan.
Tapi, seberapa terkejutnya pun Si Peri, Ia tidak sampai menunjukkan reaksinya, Ia masih menunduk, namun kali ini Ia memejamkan matanya, berpikir sejenak sebelum menjawab ucapan Nadi.
"Ya, Aku setuju." Ucap Si Peri setelah yakin.
Dan setelah Si Peri menyetujuinya, muncul setetes air dari ujung telunjuk Nadi, dan langsung membasahi kedua telapak tangan Si Peri.
"Minum air yang tersisa." Perintah Nadi, lalu Si Peri pun meuruti perkataan Nadi.
Setelah Si Peri meminum air itu, seketika Ia terbaring kesamping, Ia pingsan.
__ADS_1
"Ada apa!?" Sontak Dinna terkejut, dan berniat untuk membenarkan posisi Si Peri.
"Diam!" Ucap Nadi tegas, dan membuat Dinna menghentikan aksinya tanpa menjawab.
Nadi sekarang masih dalam posisinya, jari telunjuknya belum Ia tarik kembali, mulutnya sekarang sedang menutup rapat, tidak ada yang tahu Nadi sedang melakukan apa di alam bawah sadarnya.
.
"Bangun!" Saut Nadi setengah teriak.
Sekarang Nadi sedang berada di alam bawah sadarnya, tempat itu sangatlah tenang, bahkan sangat tenang, walaupun banyak pohon dan angin yang berhembus.
Tapi suasana sepinya terkesan sangat horor, bahkan detak jantung pun dapat terdengar dengan jelas disana.
"Ng..." Gumam Si Peri sebelum membuka matanya.
"Hah!? Ini dimana?" Ujar Si Peri terkejut.
"Kau ada di alam bawah sadarku." Jawab Nadi yang berada tidak jauh dari Si Peri.
"Kenapa Aku bisa ada disini?" Tanya Si Peri sambil beranjak berdiri.
"Mungkin Kau tidak ingat, tapi sebelumnya Kau pernah dalam keadaan seperti ini sekali." Jelas Nadi.
"Sudahlah, karena ingatanmu telah di hapus mengenai kejadian itu, sekarang fokusmu hanya mendengarkan Aku, paham?" Ucap Nadi tegas.
"Baiklah.." Jawab Si Peri tidak membantah.
"Sebutkan namamu..." Pinta Nadi.
"Bukannya Kau sudah tahu?" Tanya Si Peri.
"Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu." Jawab Nadi tanpa kebohongan.
"Baiklah, nama asliku Sylvie. Nama ini Aku dapat dari teman baikku." Jelas Si Peri.
"Aku mengerti, dengarkan ini baik-baik, Ini adalah perintah pertama dan terakhirku sebagai Tuanmu. Apa Kau keberatan?" Tanya Nadi dengan tampang seriusnya.
"Tidak." Jawab Si Peri singkat.
"Bagus, dengarkan dan jangan membantah, ini perintahku, mulai dari sekarang, namamu akan kuganti menjadi Elaine, namun Kau harus melupakan nama itu, buang jauh-jauh dari memori otakmu, Kau tidak akan pernah ingat, walau menggunakan sihir apapun."
__ADS_1
"Bai...."
Bruukk!!" Si Peri terjatuh.
"Dan ini hadiah terakhirku." Ucap Nadi, lalu Ia mengulurkan tangannya, dan setelah itu, muncul asap pelangi di sekitar kepala Si Peri.
Asap itu adalah ingatan yang sempat di hapus oleh Si Pria Kurus itu, dan sekarang Nadi telah memulihkan semua ingatannya kembali.
Tentu saja bukan hanya itu, Nadi juga menghapus semua percakapannya di alam ini, alasannya cuman satu, agar Si Peri benar-benar terbebas dari kutukannya.
Kutukan yang mengikat tubuh dan jiwanya, karena harus terkekang dengan nama Roh Pemilik Anugerah ini sebelumnya.
Alasan Nadi dapat melakukan itu semua hanya satu, karena Si Peri dan Nadi sudah terhubung melalui ikatan Tuan dan Bawahan, jadi Nadi dapat menggunakan Anugerah Si Peri.
Anugerah yang sangat langka, bahkan sangat jarang di temukan, yaitu Anugerah pengendali waktu, dan itu yang menjadi alasan, Nadi kalah bertarung dengan Si Pria Kurus, padahal Dia ada di dalam alunan Ilusi miliknya.
Setelah selesai, tubuh Si Peri perlahan menghilang. Dan sekarang saatnya untuk Nadi kembali juga, tapi Nadi lumayan bingung untuk kembali, Ia tidak tahu caranya, karena di ingatan Si Pria Kurus tidak ada cara untuk kembali.
Tentu saja Nadi berusaha untuk tidak panik, ini alam bawah sadarnya, seharusnya Ia bisa mengendalikannya sesuka hatinya. Tanpa berlama lagi, Nadi langsung memejamkan matanya.
Ia fokuskan untuk berpikir keluar dari alam bawah sadar ini, kalo bicara soal fokus, Nadi itu ahlinya, lalu setelah Nadi sudah yakin, Ia membuka matanya kembali, dan sekarang Ia sudah berada di kamar itu lagi.
Namun, setelah Nadi tersadar, Ia di suguhkan pemandangan indah, tampak dengan jelas, saat Nadi menoleh ke arah samping, tubuh mulus Si Peri yang tidak tertutupi sehelai kain terukir di matanya.
Ya, Si Peri sudah tidak mengecil lagi, Ia sudah dapat mengatur Anugerahnya dengan baik, dan saat tersadar, Ia langsung mengembalikan tubuhnya ke bentuk semula, tanpa peduli bahwa Ia sedang telanjang.
Seharusnya momen itu dapat Nadi nikmati lebih lama lagi, tapi di situ ada Dinna yang sedang melepas jubahnya, berniat untuk di pakaikan ke Si Peri.
Saat Dinna akan melingkarkan jubah itu di pundak Si Peri, Ia tanpa sengaja melihat Nadi yang sedang fokus melihat tubuh Si Peri, ya Ia sedang fokus, karena itu keahliannya, bahkan Ia tidak berkedip.
"Dasar Mesum!!" Teriak Dinna sambil melempar Jubah itu tepat ke wajah Nadi.
"Apa?" Tanya Si Peri yang merasa bingung, karena Dinna tidak jadi mengenakan jubah itu, dan malah melemparnya.
"Ayo pergi keluar!" Jawab Dinna langsung mendorong tubuh Si Peri dari belakang.
"Apa sih?" Tanya Nadi sambil menurunkan jubah itu dari wajahnya.
Braakk!!" Bukan jawaban yang Nadi dapatkan, namun gebrakan keras dari pintu yang Dinna berikan.
"Hahhh... Padahal bukan itu maksudku." Hela nafas Nadi berat, lalu Ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur, dan tidak lama kemudian, Nadi terlelap.
__ADS_1
...°°°°°°°°°°...