PENCURI

PENCURI
18. Hadiah Dan Impian


__ADS_3

"Sekarang, ulurkan kedua tanganmu." Pinta Bi En sambil mengulurkan tangannya.


Nadi pun menuruti permintaan Bi En, ya bukan menuruti, tapi mengikuti. Dan ketika tangannya di ulurkan, Bi En langsung menggenggam kedua tangan Nadi.


Nadi sebenarnya tidak merasa nyaman, tapi karena Dinna dan Miko berada di sampingnya, itu menjadi pilihan kedua bagi Nadi untuk tetap mengikuti Bi En.


Setelah menggenggam tangan Nadi, Bi En memejamkan matanya, dan terlihat ukiran cahaya keemasan, muncul dari kepala Bi En, lalu turun menyusuri bahu sampai tangan Bi En.


Tapi cahaya itu berhenti di pergelangan tangan Bi En. Melihat itu, Nadi sedikit bertanya-tanya, cahaya apa itu sebenarnya? Begitulah isi pikirannya.


Lalu Nadi mengangkat kepalanya, melihat ke arah wajah Bi En. Wajah Bi En terlihat sangat tenang, tidak ada ancaman yang terpancar sedikitpun darinya.


Saat Nadi melihat Bi En sedang menutup mata, Ia secara refleks ikut menutup matanya, entah karena apa Dia menutup mata, tapi raut wajah Nadi begitu tenang.


Dan saat itu pula, cahaya yang tadi berhenti di pergelangan tangan Bi En, mulai bergerak kembali, cahaya itu melintasi tangan Nadi, lalu naik sampai bahunya.


Tidak berhenti disitu, cahaya itu berputar-putar sejenak mengelilingi kepala Nadi, lalu masuk melalui keningnya, dan menghilang.


Tepat saat cahaya itu menghilang, Nadi tiba-tiba kehilangan keseimbangannya, lalu...


Bruk!!" Nadi terjungkal ke belakang, tapi tidak sampai jatuh, karena Miko sedang berada di sana.


Setelah Nadi terjungkal, Bi En melepas genggamannya, lalu membuka matanya perlahan.


"Aku masih merasa tidak enak, maaf ya soal tadi." Ucap Bi En kepada Dinna, setelah membuka matanya.


"Tidak apa Bi, tenang aja, walau tadi Bibi berniat membunuhnya, Dia pasti masih selamat." Jawab Dinna santai.


...******...


...Flasback On...


Sesaat setelah Dinna sadar dari pingsannya...


Dinna masih dalam pelukan Bi En, walau Ia tidak balas memeluk Bi En, tapi Bi En tidak peduli dengan hal itu, dan terus memeluk Dinna erat, sampai menangis sejadi-jadinya.


"Sudah Bi, Aku tidak apa-apa." Ucap Dinna, membujuk Bi En agar melepas pelukannya.


Bi En pun menuruti permintaan Dinna, lalu Ia melepas pelukannya, namun masih dalam posisi jongkok.


"Ayo pulang dulu, biar Bibi obati lukamu, sama sekalian Kucing itu." Ucap Bi En sambil melirik ke arah Miko yang sedang di gendong Nadi.


Namun saat Bi En melihat ke arah Miko, Nadi menduga Bi En akan berbuat macam-macam padanya, dengan cepat Nadi mengambil tangan Dinna, lalu menariknya berjalan ke arah gerbang.


"Tunggu!" Ujar Bi En yang ikut menarik tangan Dinna satunya.


Tentu Nadi tidak memperdulikan hal itu, dan masih berusaha menarik tangan Dinna.


"Hei, sebentar, kita obati dulu Miko oke." Ucap Dinna kepada Nadi, yang pastinya Nadi tidak mengerti.


Bi En tiba-tiba merasa sangat kesal kepada Nadi, karena Ia terus berusaha menarik Dinna paksa, dan tidak menanggapi pembicaraan Dia dan Dinna.


"Bocah! Kau dari tadi tidak ada sopan sopannya, kalau emang Kau berani, coba buktikan kekuatanmu." Tantang Bi En.


Nadi lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Bi En, dan tetap menarik tangan Dinna, mengajaknya untuk pergi.


Bi En yang mulai naik pitam, melepas tangan Dinna, lalu Ia beranjak berdiri, dan melangkah ke arah Nadi.


Dziig!!" Bi En menendang Nadi, namun tidak sampai terjatuh, ya Bi En masih menahan kekuatannya.


Tendangan itu hanya membuat Nadi melangkah satu langkah, tapi karena Ia sedang menggendong Miko, yang memiliki bobot tubuh yang berat.

__ADS_1


Hal itu membuat Nadi kehilangan keseimbangan, sampai Dia tidak sengaja melepas pelukannya dari Miko.


Brukk!!" Miko terjatuh ketanah, sebetulnya jarak Miko yang sedang di gendong, dengan jarak tanah, itu tidaklah cukup jauh, hanya sekitar 10 cm, itu karena ukuran Miko setengah dari tinggi Nadi, lebih sedikit.


Melihat Miko terbaring di tanah, Nadi melepaskan genggamannya dari tangan Dinna, lalu Ia mengalihkan pandangannya kepada Bi En, dengan tatapan tajam Ia melihat.


Lalu dengan cepat Nadi melompat ke arah Bi En.


Slassh!" Nadi menghunuskan belatinya.


Namun Bi En dengan mudah menghindari serangan Belati itu dengan lompatan ke belakang.


Jika kalian bertanya dimana Nadi menyimpan Belatinya, jawabannya mudah, Nadi tidak menyimpan Belati itu dimana mana, karena Ia terus menggenggamnya, sambil menggendong Miko tadi.


Tap!"


Set!" Nadi kembali melompat dengan cepat.


Bi En tentunya sangat kuat, karena Ia mantan petualang, dan guru dari Dinna, Dinna saja dengan mudah mengalahkan Nadi, apalagi Bi En.


Tapi sekesal-kesalnya Bi En, Ia masih tetap menanan dirinya ketika melawan anak kecil. Tepat setelah Nadi melompat, Bi En merunduk, berniat memberikan pukulan telak pada perutnya.


Dinna mengetahui serangan yang akan Bi En pakai, lalu Ia kembali teringat, bahwa Nadi belum lama ini sembuh dari pertarungannya dengan kelelawar.


Dengan cepat Dinna berlari mendekat ke tengah-tengah area pertempuran, lalu Ia melompat ke arah Nadi, dan memeluknya erat sampai mereka terjatuh.


"Apa-apaan Kau, itu bahaya tau!" Teriak Bi En marah. Ya Dia marah, karena tinggal sedikit lagi, Dia meninju tubuh Dinna.


"Sudah cukup Bi, Dia baru saja sembuh, kalau terkena serangan itu, Dia bisa saja mati." Ucap Dinna sambil membantu Nadi berdiri.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Dinna.


"Aku, dan, Bi En, adalah, kenalan, jadi, Kau, tidak, usah, khawatir." Isyarat Dinna menenangkan. (Gerakan menunjuk-nunjuk pake tangan aja, bukan bahasa isyarat betulan).


"Ayo ikut Aku." Ucap Dinna sambil mendorong pelan punggung Nadi, Ia mengarahkan Nadi ke ruangan yang sebelumnya akan mereka pakai untuk istirahat.


.


Sesampainya di ruangan itu, Bi En langsung membungkukkan tubuhnya, lalu meminta maaf kepada Nadi.


"Maaf, Bibi salah!" Teriak Bi En, namun tidak di tanggapi oleh Nadi.


Ya, Nadi tidak menanggapi ucapan Bi En, setelah masuk, Ia langsung berjalan mencari tempat untuk menaruh Miko.


"Sudah Bi, sebenarnya Ia tidak mengerti ucapan Bibi, dan itu adalah alasan Ku kemari, untuk meminta bantuan kepada Bibi, agar Dia mendapat pengetahuan." Saut Dinna yang melihat Bi En masih membungkuk.


"Hah! Apa Kamu bilang? Kenapa baru bilang sekarang?" Ucap Bi En kesal.


"Lah, gimana mau bicara, kan kita ngobrol aja belum tadi, keburu banyak ini itu." Jawab Dinna santai.


"Aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Bisa Kau arahkan Dia, biar sekarang saja Bibi berikan pengetahuan padanya." Pinta Bi En.


Anugerah Bi En adalah Anugerah yang langka, karena selain bisa mengajari, Ia juga bisa belajar, dan proses belajarnya sangatlah cepat, sebut saja Anugerah Guru/Murid.


Dan itu alasannya, Bi En memiliki tubuh yang kuat, selama Ia berpetualang, Ia sering belajar segala ilmu bela diri, sampai peningkatan tubuh dari orang lain, dan bahkan Ia terkenal karena belum terkalahkan semasa petualangannya.


"Suruh Dia duduk di sini." Pinta Bi En.


...Flashback Off...


...*******...

__ADS_1


Ruangan Bi En


"Maaf soal tadi, Bibi tidak tahu jika Ia tidak mengerti ucapan Bibi, bahkan sampai berniat untuk membunuhnya tadi, padahal Dia juga sudah menolong Bibi dari serangan orang asing itu." Sesal Bi En.


"Ya gak apa Bi, Aku mengerti."


Hahhh... "Aku benar-benar bodoh tadi." Ucap Bi En sambil menghela nafas.


"Ngomong-ngomong, kenapa tidak ada Penjaga atau Warga yang datang kesini Bi? Padahal waktu Aku tinggal disini, mereka selalu datang, mau masalah sekecil apapun itu." Tanya Dinna bingung, karena tidak ada Penjaga atau Warga lainnya yang membantu.


"Pemilik disini sudah berganti, Dia sangat serakah, sampai-sampai mempersulit semua orang disini. Dan sebenarnya Bibi dimintai tolong oleh mereka, tapi Bibi gak mau ikut campur."


"Kamu tahu kan, berapa anak terlantar yang Bibi urus, jika Bibi menyerang Si Pemilik, Dia tidak segan-segan membunuh mereka, dan jika Bibi masih kekeh melawan Dia, semua orang disini akan ikut dibantai juga."


"Dan karena itu, Bibi jadi dimusuhi oleh semua orang disini, kecuali pelanggan tetap Bibi, karena mereka tahu alasan sebenarnya Bibi tidak ikut campur, tapi mereka sekarang sudah mati oleh orang tadi." Ucap Bi En murung.


"Apa tidak ada cara lain? Apa Aku bisa membantu?" Ucap Dinna.


"Sayangnya Kau belum mampu melawan Anugerah miliknya."


"Benarkah?"


"Sudah, jangan Kau pikirkan, biar Bibi cari cara lain nanti." Pungkas Bi En menghentikan obrolan.


.


Tidak lama Nadi terbaring pingsan, Ia sekarang sudah membuka matanya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Dinna yang baru melihat Nadi membuka matanya.


"Ya.." Jawab Nadi, lalu mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu mengerti ucapanku?" Tanya Dinna sekali lagi.


"Ya.." Jawabnya singkat.


Dinna langsung memeluk Nadi, bahkan sampai berkaca-kaca, Ia sangat senang dengan hasil ini.


"Syukurlah, Aku jadi tidak perlu repot lagi kalau mau bicara sama Kamu..." Ucap Dinna sambil tersenyum kecil.


"Ya.."


"Oiya, biar apdol, Aku kenalin diriku sekali lagi, namaku Dinna, dan Dia Bi En. Kemarin Aku juga baru menamai Kucingmu, Ia sekarang memiliki nama Miko, tidak apa kan?" Ucap Dinna.


"Ya.. Miko, nama yang bagus." Ucap Nadi.


"Miko aja yang di puji?" Tanya Dinna sedikit cemburu.


"Aku Nadi..." Ucap Nadi, lalu Ia menceritakan kejadian saat Ia bertarung dengan Kelelawar, sampai Ia bisa masuk ke tempat yang asing baginya.


"Sepertinya Dia adalah Ibuku, sekarang Aku punya ambisi yang harus Aku tuntaskan. Terima kasih Bi En, berkatmu Aku bisa ingat kembali dengan kejadian kemarin." Ucap Nadi lalu menunduk berterima kasih kepada Bi En.


"Ya, tidak masalah, Aku juga minta maaf, karena menyerangmu tadi." Jawab Bi En.


Pengetahuan yang di berikan oleh Bi En bukan hanya tentang cara bicara, nulis, atau membaca saja, tapi juga soal tata krama, cara bertahan hidup di dunia luar dan lainnya.


"Oke, kalau gitu, selagi menunggu Miko bangun, kita buat makanan dulu yuk." Saut Dinna bersemangat.


"Ya.." Jawab Nadi singkat.


"Boleh juga, Aku akan cari bahan masakan yang masih bisa di pakai." Ucap Bi En lalu pergi keluar ruangan.

__ADS_1


"Asik... Kita pesta ya Bi!!" Saut Dinna sambil tersenyum lebar.


...°°°°°°°°...


__ADS_2