
"Nadi! Bangun...!!!!" Teriak Dinna.
Dan entah bagaimana, Nadi yang sedikit lagi kehilangan kesadarannya, langsung membuka matanya cepat, karena mendengar suara Dinna itu.
Adonis tentu terkejut ketika mendengar Suara Dinna, Ia tidak percaya Dinna bisa lepas dari cengkraman ilusi Si Serigala.
Lalu dengan cepat Adonis membalikkan tubuhnya, berniat untuk melihat ke arah Nadi.
Cleb!!" Belati hitam yang mengkilap, menancap sempurna di kening Adonis, ya di kening, karena topeng yang menghalangi wajahnya, sekarang sudah terbelah menjadi dua.
"Bagaimana bisa!" Lirih Adonis sambil bersiap jatuh kebelakang.
Bruk!!" Adonis terbanting, tepat di bebatuan keras di bawah kakinya.
Ia tidak percaya, bahwa orang sekarat yang bahkan tidak bisa berdiri, berhasil menyerangnya telak seperti itu.
Nadi memang tidak bisa berdiri, bahkan setelah serangan terakhir itu, kini Ia ambruk dan hilang kesadaran.
Bisa di bilang, kekuatan Nadi tadi hanyalah adrenalinnya belaka, walau kekuatan asli di tubuhnya sudah menghilang, tapi dengan keinginan kuat, adrenalin bisa memberikan kekuatan sepersekian detik.
Dan itu yang di dapatkan Nadi tadi, sesaat setelah Dinna memanggil namanya, Nadi membuka matanya cepat, lalu Ia mengambil Belati miliknya, dan dengan cepat menghempaskan Belati itu dalam posisi tengkurap.
Si Serigala yang melihat tuannya sedang terkapar, langsung muncul dari balik bayangan Dinna, lalu Ia menggigit baju Adonis, dan menghilang seperti kabut yang tertiup angin.
Tanpa menunggu lagi, Dinna langsung berlari ke arah Nadi, di ikuti dengan Miko dan Fanta di belakangnya. Sesampainya disana, Dinna langsung membalikan tubuh Nadi, lalu menaruh kepalanya di atas pangkuannya.
...******...
Sekitar 1 jam lebih sudah Nadi pingsan, Ia masih belum juga bangun, Dinna yang sangat khawatir, memutuskan untuk mengambil beberapa rempah di hutan.
"Mau kemana?" Tanya Fanta.
Ia melihat Dinna sedag menurunkan kepala Nadi dari pangkuannya.
"Aku mau mencari obat untuknya, Kau jaga Dia disini bersama Miko." Ucap Dinna.
"Tidak, biar Aku saja, Kau lebih baik tunggu Dia disini, karena selain Aku lebih tahu tentang hutan, Aku tidak tidak bisa melindungi Dia disini, kekuatanku sekarang seperti manusia biasa." Ucapnya sambil berdiri.
"Baiklah, bawa Miko bersamamu." Ucap Dinna sambil melihat ke arah Miko yang sedang tiduran di atas batu.
Miko mengerti isyarat Dinna, lalu Ia turun dari atas batu itu, dan merubah ukuran tubuhnya, Fanta tanpa berlama lama lagi, Ia langsung naik ke atas punggung Miko.
Namun saat Miko dan Fanta akan pergi, tiba-tiba Nadi menggerakan ujung tangannya, walau itu tidak di lihat oleh Dinna, tapi Miko merasakan bahwa Nadi akan segera bangun.
__ADS_1
"Wreoong!" Raung Miko, lalu Ia menundukan kepalanya ke arah Dinna.
"Ada apa?" Tanya Dinna.
Eurrrghh!!" Lirih Nadi, dengan spontan Dinna langsung melihat ke arahnya.
"Kau selamat?" Ucap Nadi terbata-bata, walau Ia belum membuka seluruh matanya, tapi Ia bisa melihat bayang bayang Dinna di depan pandangannya.
Namun, bukan jawaban yang Dinna berikan, melainkan air mata haru yang keluar dari bola matanya yang mengkilap.
"Kenapa Kau menangis?" Tanya Nadi sambil menggerakan tangannya untuk mengusap air mata Dinna.
Dinna masih tidak menjawab, lalu Ia menggenggam tangan Nadi erat, dan menempelkan pipinya, lalu menangis deras.
Fanta melihat momen itu, Ia memutuskan untuk turun dari punggung Miko, lalu Miko pun dengan cepat mengubah ukurannya kembali, lalu berjalan dan menyelinap masuk di sela tangan kanan Nadi.
"Kau juga?" Ucap Nadi sambil mengelus lembut kepala Miko.
Momen itu berlalu lumayan lama, memang ini bukan cerita drama, atau sekuel dramatis, tapi momen ini bagi mereka sangatlah berharga, mengingat mereka sudah berpetualang bersama dan sudah seperti keluarga.
Krubukk..." Suara orkestra megah terdengar di bawah sana, bahkan sampai membuyarkan lamunan Dinna.
"Oke, ayo makan!" Ucap Dinna langsung kembali bugar seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kalian awas dulu, sekarang bukan waktunya untuk sedih sedihan, sekarang adalah waktunya untuk makan!" Dengan mantap dan pasti Dinna berkata.
Dengan cepat dan tanpa berlama lama lagi, Dinna langsung mengeluarkan Rusa besar hasil tangkapan Nadi tadi, sebenarnya itu untuk makan nanti, tapi sekarang berbeda lagi ceritanya.
(Skip masak)
Sekarang mereka sedang duduk melingkar, membentuk barisan sambil menyantap hidangan lezat dari Dinna, apalagi kalau bukan sup daging khasnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa tadi Kamu bisa seperti itu?" Tanya Fanta.
"Entah." Jawab Nadi singkat.
"Oiya, sepertinya Aku gak jadi ikut dengan kalian." Ucap Fanta sambil menyeruput sup bagiannya.
"Baguslah." Jawab Nadi.
"Ish, jangan begitu!" Ujar Dinna.
"Memangnya kenapa? Bahkan Kita belum memulai perjalanan ini." Tanya Dinna.
__ADS_1
"Aku memiliki Anugerah sebagai penjaga hutan, kalau di sekitar hutan, Aku sangat kuat, tapi di balik kekuatan itu, kelemahanku juga banyak, apalagi dalam keadaan seperti ini, Aku malah berakhir jadi beban saja." Ucapnya murung.
"Terus?" Tanya Dinna kembali.
"Lebih baik Aku seperti dulu, Aku lebih suka tempat yang damai, akan menyeramkan jika bertemu orang seperti tadi lagi, bisa-bisa Aku mati dengan konyol ditangannya." Ucap Fanta sambil merinding.
"Yasudah, jika itu memang pilihanmu." Jawab Dinna.
"Iya, terima kasih."
Mereka pun melanjutkan makan mereka, sampai panci berisi sup itu kering tak bersisa. Dan sedikit berbincang santai setelahnya.
"Aku duluan ya." Pamit Fanta setelah lumayan lama mengobrol dengan mereka.
"Baik, hati-hati." Ucap Dinna.
Saat Fanta melangkah pergi, Ia melihat kilatan cahaya terpantul di sebuah batu, saat Fanta mendekatinya, ternyata itu bukan batu, melainkan topeng Adonis yang sudah terbelah menjadi dua.
"Hei lihat ini, sepertinya ini punya orang tadi." Teriak Fanta sambil menunjuk ke arah topeng itu.
"Lumayan tuh sepertinya harta karun, kalau di jual bisa mahal." Ucap Dinna.
"Terus?" Tanya Nadi yang sedang santai bersandar di tubuh Miko.
"Ambillah... Itu pun Kau harus Aku ingatin terus."
"Kau aja."
"Cepat ambil saja, jangan banyak debat lagi."
"Sesaat Kau nangis tadi melihatku terluka, tapi sekarang malah sudah nyuruh tanpa rasa iba lagi."
Dinna menatap tajam ke arah Nadi, isyarat untuk tidak memperpanjang lagi percakapan itu. Dan Nadi pun terpaksa harus menurutinya.
.
"Emang benda berharga apa itu?" Ucap Nadi yang sudah sampai di samping Fanta.
Tanpa menunggu jawaban dari Fanta, Nadi langsung mengambil topeng itu, lalu menyimpannya di saku celana belakang nya.
Sesaat setelah mengambil topeng itu, Nadi langsung kembali, namun tiba-tiba muncul cahaya keemasan bersinar dari tangan, dan mulai merambat keseluruh tubuhnya.
Siapapun akan tahu arti cahaya itu, cahaya hangat yang menandakan seseorang mendapatkan Anugerahnya.
__ADS_1
Brukk!!" Tiba-tiba Nadi jatuh tersungkur sebelum cahaya itu meredup.
...°°°°°°°°...