PENCURI

PENCURI
36. Membunuh Perompak


__ADS_3

Setelah hari yang panjang kemarin, akhirnya Nadi, Dinna, dan Miko berhasil keluar dari tanah gersang itu, dan sekarang mereka berada di hutan.


Hutan yang terbilang sepi, dan tanpa nama, walaupun begitu, tapi orang lain menyebutnya hutan kematian, karena disini adalah tempatnya para bandit liar, atau orang buangan.


Ya, walaupun begitu, mereka tidak ada apa-apanya dengan Nadi, Dinna, dan Miko. Buktinya, sekarang 10 orang perompak tengah berlutut di hadapan mereka bertiga.


Mereka dengan mudah dikalahkan, bukan karena memang lemah, tapi karenamereka tidak memiliki Anugerah, atau peralatan yang memadai.


Ya walaupun begitu, setidaknya, dengan keterampilan yang dimiliki mereka, mereka bisa membunuh orang yang memiliki kekuatan dalam keheningan hutan.


Sangat menakutkan, apalagi karena mereka hanya orang biasa, orang biasa yang tidak bisa hidup sendiri, karena harus tetap berkelompok, untuk mendapatkan kekuatan.


"Maaf, tolong biarkan Kami hidup." Ucap salah seorang itu meminta ampun, bahkan Ia sekarang sedang berkaca-kaca, padahal tadi Nadi hanya menunjukkan kekuatannya sedikit.


"Maaf saja, tapi Aku tidak bisa mengabulkan keinginan terakhir kalian, karena sekarang kalian sudah jadi bahan percobaanku." Seringai Nadi tidak perduli dengan mereka.


"Hiiiy...." Lirih orang itu melihat senyuman Nadi, lalu Ia mundur dengan refleks.


"Mau kemana?" Tanya Nadi yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Maaf..."


Slasshhh...." Kepala Orang itu sekarang sudah terlepas, dan menyisakan muncratan darah yang keluar dari bekas tebasan rapi di lehernya.

__ADS_1


"Oh, ternyata tidak bisa jika seperti ini." Gumam Nadi santai, namun tidak dengan 9 orang yang tersisa, mereka menatap ngeri ke arah Nadi.


Bagaimana tidak ngeri, Nadi menebas orang tadi tanpa ekspresi, seakan sedang menebas boneka yang telah di siapkan khusus untuknya.


Sementara itu, Dinna dan Miko sedang bersantai di bawah sejuknya pepohonan, mereka tidak peduli kepada para perompak itu.


Ya, tidak peduli, jangan tanya Dinna, Ia hanya menganggap mereka, sebagai boneka latihan untuk Nadi saja, Dia tidak peduli karena mereka hanyalah sampah serakah.


Latihan sekarang, hanyalah untuk memastikan saja, Nadi sedang memastikan syarat untuk mengaktifkan Anugerahnya, karena sebelumnya Ia hanya mengaktifkannya dalam keadaan kepepet.


"Sekarang giliranmu." Ucap Nadi seraya mendekat ke salah seorang pria yang berlutut ketakutan.


"Maaf, tolong jangan bunuh Aku!" Pinta orang itu sambil bersujud.


"Ya, setidaknya akan kubunuh Kau tanpa rasa sakit." Jawab Nadi, lalu Ia mengangkat kepala orang itu, dan tanpa ragu, Ia menghunuskan Belati miliknya tepat ke kening Pria itu.


Melihat sikap Nadi itu, membuat ke 8 orang sisanya menjadi makin ketakutan, bahkan sangat takut, sampai-sampai ada dua orang yang pingsan.


Sebenarnya mereka bisa saja kabur dari Nadi, tapi jika itu Nadi yang dulu, karena Nadi sekarang, sudah menguasai Anugerah Reg, jadi bisa menangkap kembali orang-orang itu dengan mudah.


"Oh, bagus..." Senyum Nadi melihat kedua orang yang pingsan itu.


Nadi mendekatinya dengan Langkah Cepat, lalu Ia sekarang sedang jongkok di depan kedua orang pingsan itu.

__ADS_1


"Terima kasih..." Cleb! Ucap Nadi lalu Ia menghunuskan Belatinya tepat ke arah jantung salah seorang itu.


Lalu mengalir lah cahaya keemasan dari ujung Belatinya, menuju bahu dan sampai ke kepala Nadi. Nadi sekarang sedang merebut keterampilan orang itu, dan tampak senyum puas di raut wajahnya.


Walau mereka terlihat lemah, tapi setidaknya keterampilan mereka dalam bersembunyi dan menyergap patut di puji, dan itu sangatlah berharga.


Belum puas dengan hasil itu, Nadi melirik ke satu orang pingsan lainnya, lalu Ia melakukan hal yang sama, namun kali ini Ia menancapkan Belati itu ke arah lehernya.


Clebb!!" Muncratan darah mencuat dari sela robekan itu.


Dan sesuai perkiraan Nadi, ternyata memang tidak ada reaksinya, mengetahui hasil itu, sekarang Nadi semakin paham dengan kekuatannya.


Lalu Ia menggunakan Langkah Cepat untuk membunuh sisa orang itu.


Mereka semua telah mati terbunuh dengan serangan yang menusuk jantung mereka, Nadi merasa puas dengan hasil itu, terlihat jelas di senyuman yang Ia pancarkan.


"Bagaimana?" Saut Dinna yang sekarang sedang memasak makan siang, Ia bertanya seperti itu, karena sudah tidak mendengar suara rengekan dari para perompak.


"Sekali lagi..." Ucap Nadi, lalu Ia berjalan ke arah mayat orang kedua yang Nadi bunuh tadi.


Cleb!!" Nadi menusukan Belatinya ke arah jantung orang itu, berniat untuk mengambil keterampilan darinya, namun sayangnya itu tidak berhasil, karena jiwa orang itu sudah terpisah dari raganya.


"Ternyata tidak bisa di gunakan kepada orang mati ya." Gumam Nadi merasa kecewa.

__ADS_1


Hah.. sayang sekali." Batin Nadi, lalu Ia berjalan ke arah Dinna yang sedang asik mengaduk rebusan di pancinya.


...°°°°°°°°...


__ADS_2