
Krubukk..krbuk.." Bunyi keroncongan, terdengar sumbang berasal dari perut Nadi.
Ia sekarang sedang berjalan menyusuri kotornya jalan pasar, Ia masih merasa jijik melihat manusia-manusia yang berserakan di hadapannya. Ada yang sedang tertidur di kubangan lumpur.
Ada yang sedang melakukan hal tak senonoh dengan vulgar, bahkan ada yang sedang menyiksa seseorang. Nadi merinding disko dibuatnya, bahkan Hewan Ilusi lebih terhormat daripada mereka.
Saat Ia akan kembali ketempatnya semula, berniat untuk pukang ke Gua, Ia mencium aroma makanan yang begitu sedap, bahkan Nadi yang tidak pernah memakannya, bisa tahu rasanya hanya dari aroma makanan itu.
Lalu, Nadi mencari sumber aroma sedap itu, dan ternyata tidak jauh dari tempatnya berada, aroma itu berasal dari belokan kecil di depannya, tepatnya di sebuah kedai kecil, milik Pedagang.
Kedai itu memiliki lumayan banyak kursi, walau tempatnya kecil. Setelah menemukannya, Nadi mendekat ke arah si kedai itu, karena terlihat sepi, Nadi langsung menyerobot makanan yang berjejer di hadapannya.
Plak!!" Tangan Nadi di hempaskan oleh Si Pedagang, tepat saat akan menyentuh makanannya.
Pedagang itu sebenarnya sudah memperhatikan Nadi dari tadi, jadi mudah saja untuk menghentikan aksinya. Nadi yang tidak terima di perlakukan seperti itu, berniat untuk menghunuskan Belatinya.
Tepat di saat Dia akan menyerang Si Pedagang, Nadi terdiam karena terkejut, tangannya yang sudah dalam posisi bersiap untuk menghunus, berhenti di tengah-tengah.
Nadi terkejut, karena Si Pedagang menyodorkan makanan lain kepada Nadi, dengan senyumannya Ia berkata...
"Nih makan yang ini aja." Dengan suara yang terdengar serak, Ia memberikan makanan itu kepada Nadi.
Dengan cepat, Nadi mengambil makanan itu, lalu menyantapnya di tempat.
Haps, nyuemamnye,mnyemamnymmm..." Bak binatang kelaparan yang tidak makan berhari-hari, Nadi melahap itu dengan cepat, dan gragas.
Belum juga sampai 10 detik, makanan yang diberikan dalam porsi yang cukup banyak itu, habis dalam waktu singkat. Lalu Nadi menyodorkan wadah yang kosong itu kepada Si Pedagang, meminta untuk di tambahkan isinya kembali.
Namun Si Pedagang menolak permintaan Nadi, lalu Ia mengeluarkan satu koin emas dan satu koin perak, Ia menunjukannya kepada Nadi.
Nadi tentu bingung apa maksud Si Pedagang, lalu Ia mengambil Satu koin perak, dan menggigitnya.
Treekk!" Terdengar keras suara Nadi yang menggigit koin itu.
__ADS_1
Bahkan Si Pedagang tertawa di buatnya, lalu Ia mengambil koin itu di tangan Nadi, dan berkata...
"Koin ini, bisa di tukarkan dengan makanan." Jelas Si Pedagang, sambil menunjukan koin ke arah makanan, berusaha untuk memberikan isyarat jelas kepada Nadi.
Jika tadi Nadi tidak masuk ke dalam rumah Si Pemilik, Ia tidak akan mengerti maksud Si Pedagang ini. Saat Ia paham maksudnya, dengan cepat Ia berlari, dan kembali menuju Rumah Si Pemilik.
Sebelumnya, karena Nadi menghabiskan waktu setengah jam untuk berkeliling disana, Ia tidak sengaja menemukan gundukan koin yang serupa dengan Si Pedagang.
Dengan semangat berapi-api, Ia berlari dengan sekuat tenaganya, lalu menerobos jendela rumah Si Pemilik, dan berlari lagi menuju ruangan koin itu berada.
Sesampainya disana, Nadi bingung karena banyaknya koin yang menggunung, Ia tidak tahu bagaimana cara mengambil semuanya. Karena sudah tidak sabar lagi, Nadi mengambilnya dengan kedua genggaman tangan kecilnya itu.
Tepat setelah Ia keluar dari ruangan itu, Ia tidak sengaja menemukan wadah kecil berisi banyak koin yang serupa, karena tidak mau repot, Dia mengambil wadah itu, lalu melemparkan koin yang berada di genggamannya.
.
Drap drap drap drap..." Nadi berlari kencang kembali ke Si Pedagang.
Bruuk!!" Nadi meletakkan wadah itu dengan keras di hadapan Si Pedagang.
Dengan cepat, Nadi mengambil makanan itu, dan saat Ia akan memakan bagian atasnya, Si Pedagang menghentikan Nadi, lalu memberikan kembali wadah berisi koin itu, yang sebelumnya Si Pedagang sudah mengambil bagiannya.
Nadi yang tidak mengerti maksud Si Pedagang, mengabaikannya begitu saja, lalu berjalan keluar dari kedai itu sambil memakan makanannya.
"Terima kasih." Ucap Si Pedagang setelah Nadi pergi.
Setelah Nadi keluar dari kedai itu, Ia melihat orang-orang yang sedang berkumpul di satu tempat, dan melihat seorang gadis berusia 12 tahun di tengah-tengah kumpulan itu.
Namun Nadi tidak peduli, karena Ia tidak tahu dan itu juga bukan urusannya, Ia hanya berjalan santai melewati kumpulan orang-orang itu, lalu berjalan melewati gang kecil tempat Ia datang sebelumnya.
...*****...
Di Hutan
__ADS_1
Sinar mentari pagi muncul di belakang Nadi, Nadi sama sekali tidak tidur setelah keluar dari kota itu, Ia tidak bisa tidur setelah menyantap makanan pemberian Si Pedagang, Ia masih terbayang-bayang akan rasanya.
Sedangkan perjalanan menuju ke Gua, masih lah sangat jauh, karena ini baru setengah jalan Ia lewati. Dengan perasaan gundah dan lapar, Ia menjatuhkan dirinya di rumput basah.
Berusaha memejamkan matanya, agar Dia tidak ingat dengan makanan itu lagi. Namun, seberapa kuatnya pun Nadi berusaha, pikiran itu masih tetap ada.
Agghhhh...!!!" Nadi berteriak kesal, lalu berdiri dari posisinya, dan berlari cepat ke jalan yang Ia lewati sebelumnya, berniat untuk kembali ke kota itu.
Belum sampai 20 meter Nadi berlari, Ia mencium aroma sedap tidak jauh di depannya, lalu Ia makin teringat dengan makanan enak Si Pedagang, dengan semangat yang membara karena kelaparan, Nadi berlari cepat ke sumber aroma itu.
Aroma itu berasal dari seorang Gadis cantik yang sedang merebus sup, tapi Nadi tidak menghiraukan Gadis itu, dan fokus berlari ke arah sup buatan Gadis itu.
Tap.. brurlluk!!" Nadi menyentuh panci panas berisi sup itu, dan karena Ia terkejut, Ia tidak sengaja membuatnya tumpah berserakan.
Tentu Nadi tidak suka membuang-buang makanan, dengan cepat, Ia mulai menjilati bagian sup yang tersisa di atas rumput.
Gadis yang membuat sup itu menjadi kesal dengan tingkah Nadi, lalu Ia menendang Nadi agar berhenti menjilati rumput.
Brukkk!!" Tendangan itu pelan, namun membuat Nadi terjungkal.
Nadi tidak terima dengan perlakuan Si Gadis, lalu Ia mulai berdiri, dan berniat melancarkan serangannya ke arah Si Gadis.
Swusshhh..." Nadi menyerang menggunakan Belatinya, namun Belati itu tidak mengenai Si Gadis.
Set sets wushsh set.." Berulang kali Nadi berusaha menebas, namun hasilnya nihil, Gadis itu bisa menghindari semua serangan Nadi.
Nadi yang sedang lengah, karena memikirkan alasan Ia tidak bisa menyerang, berakibat patal baginya.
Dengan cepat, Si Gadis berlari ke arah belakang Nadi, lalu..
Daaagh..." Gadis itu melemparkan panci yang sudah kosong, tepat ke punggung Nadi.
Dan tidak berhenti disitu, bahkan Nadi belum sempat untuk mengangkat tubuhnya, Gadis itu memberikan tendangan telak di perut Nadi, sampai-sampai Nadi pingsan dibuatnya.
__ADS_1
"Hah, ternyata lemah..." Ucap Gadis itu, lalu mengambil panci miliknya kembali.
...°°°°°°°...