
Mmmm..?" Gumam Dinna yang baru terbangun dari tidurnya.
"Lho? Kenapa Aku ada disini?" Ujar Dinna bingung.
Wajar saja Dinna kebingungan seperti itu, pasalnya Ia sekarang sedang berada di pinggir sungai, dan lahan di sekitarnya sudah habis terbakar.
Bahkan sekarang Ia sedang duduk di selembar kain, di atas abu dan arang dari bekas kebakaran.
"Wreong?" Miko menghampiri Dinna yang sedang duduk sambil mengusap pelipis matanya.
"Kenapa kita ada disini?" Tanya Dinna pada Miko.
Namun Miko tidak menjawab, Ia malah mendekat ke arah Dinna, lalu mengusap punggungnya di celah tangan Dinna, dan tanpa menunggu lagi, Miko tertidur lelap sambil memeluk tangan Dinna.
"Dasar pemalas..." Ucap Dinna sambil mengelus kening Miko.
Kuuurrr.." Dengkuran ringan terdengar dari Miko yang sudah terlelap.
"Sejak kapan ini terjadi, kenapa Aku tidak ingat?" Gumam Dinna.
Sementara Dinna memikirkan kejadian yang tidak Ia ingat, Nadi dan Virra sekarang sudah terbangun dari tidurnya, dan tentu mereka sama dengan Dinna, bingung dengan keadaan di sekitar mereka.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Nadi pada Dinna yang sedang memejamkan matanya itu.
"Kau sudah sadar. Entahlah, Aku pun tidak tahu, karena waktu terbangun tadi, Aku sudah berada disini." Jawab Dinna sambil melihat ke arah sungai.
"Uhh.. Sakit!" Keluh Virra sambil mengusap bahu kirinya.
Dan itu pasti Virra rasakan, karena saat Miko melemparkan mereka bertiga ke atas punggungnya, Virra berada di tengah-tengah, terhimpit oleh tubuh Nadi dan Dinna, posisi yang sangat tidak menguntungkan.
"Kenapa?" Tanya Nadi.
"Sakit, bahuku sakit.." Jawab Virra.
"Jangan banyak bergerak, Kau diam saja disitu, Aku akan cari tahu apa yang terjadi disini." Ucap Nadi sambil berdiri.
__ADS_1
"Ya.." Jawab Virra singkat.
Tanpa berlama-lama lagi, Nadi langsung menggunakan Langkah Cepat untuk menjelajah di sekitar hutan, namun bukan jawaban yang Ia dapat.
Tapi pemandangan mengerikan yang Ia lihat, dari sepanjang mata memandang, yang Ia lihat hanyalah bekas api yang sudah membakar pepohonan.
Bahkan saat Ia menggunakan Anugerah Mata Tajam, bekas kebakaran itu masih terlihat sampai 9 kilo meter jauhnya disana, tinggal sedikit lagi untuk mencapai Kota Note.
Mengerikan, hanya satu kata itu yang sedang Nadi pikirkan. Setelah puas menyaksikan keadaan di sana, Ia kembali ke tempat Dinna dan Virra menunggu.
"Gimana? Nemu sesuatu?" Tanya Dinna setelah Nadi sampai disana.
"Semua hutan terbakar, bahkan hampir sampai ke Kota." Jelas Nadi.
"Lha? Kok bisa?" Sontak Dinna terkejut.
"Entahlah, tidak ada yang tahu mengenai kejadian ini." Ucap Nadi santai, lalu Ia berjalan ke arah sungai, berniat untuk membasuh mukanya.
Walaupun keadaan hutan seperti ini, tapi air yang mengalir di sungai itu sudah jernih kembali, dan itu menandakan bahwa Mereka bertiga sudah pingsan sangat lama.
"Bangunkan!" Perintah Nadi.
"Tapi Ia baru saja tertidur, mungkin Dia yang sudah menjaga kita tadi." Jawab Dinna.
"Tidak apa, yang penting Kita tahu keadaan ini sejenak." Jelas Nadi.
"Baiklah. Miko.. Bangun.." Ucap Dinna membangunkan Miko dengan lembut.
"Ngg...? Wreong?" Jawab Miko membuka matanya sedikit, namun tidak sampai terbangun.
"Ish, pemalas!" Saut Nadi kesal, lalu Ia berjalan ke arah Dinna, berniat untuk membangunkannya sendiri.
"Diam!" Bentak Dinna menghentikan Nadi, dan membuat Virra terperanjat karena kaget dengan suara Dinna.
"Biar Aku saja, Kau diam disitu." Lanjut Dinna.
__ADS_1
"Hei, bangun dulu..." Sekali lagi Dinna membangunkan Miko.
"Wreoong?" Miko akhirnya membuka matanya, karena Dinna sudah menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Bisa Kau jelaskan dulu keadaannya, baru nanti Kau boleh tidur lagi." Jelas Dinna berbicara pada Miko, dan pastinya Miko tidak mengerti.
"Sini, biar Aku saja!" Ucap Nadi mendekat kepada Miko.
"Apa yang terjadi saat Kami tidur tadi?" Tanya Nadi dengan ekspresi penuh khawatir itu, namun tidak ada yang bisa melihat ekspresi itu, hanya Miko yang tahu.
Mendengar pertanyaan Nadi, Miko langsung menjelaskan semua yang Ia ketahui, dan setelah selesai menjelaskan, Nadi langsung melotot terkejut.
Ya, Ia terkejut, karena ternyata yang membakar habis hutan ini adalah Miko! Ia tidak tahu bahwa Miko bisa melakukan hal semacam ini.
"Astaga, hahaha... Untunglah Kau selamat, soal hutan, nanti akan kucari penyelesaiannya, Kau lanjutkan istirhatmu lagi." Ucap Nadi, dan tentunya masih dalam bahasa Hewan ilusi.
"Apa?" Tanya Dinna.
"Dia, Dia yang membakar hutan ini." Jelas Nadi menahan tawanya.
"Hah!? Kenapa?" Tanya Dinna terkejut.
"Lebih baik kita makan dulu, nanti akan kujelaskan."
"Hei, itu lebih penting! Jangan makan saja yang Kau pikirkan!" Teriak Dinna kesal.
"Makan penting! Kau mau Kita mati kelaparan?" Debat Nadi.
Dan begitulah siang yang mereka lewati, bukan khawatir tentang hutan yang terbakar, tapi mereka memperdebatkan soal makan atau tidak.
...°°°°°°°...
Maaf kalo belum bisa bawa fantasi kalian menyala, cerita khayalan ini, Aku berusaha agar tidak tersentuh cerita fantasi pada umumnya.
Terima kasih sudah dukung Pencuri ya☺
__ADS_1
Jangan lupa tersenyum😬