
"Siapa Kau?!" Teriak Nadi.
"Aku? Aku bukanlah siapa-siapa, karena percuma Kau tahu siapa Aku, karena hari ini Kau akan mati di tanganku." Jawab Pria itu, dan yang terdengar hanyalah suaranya.
Pria itu adalah Pria bertopeng suruhan Aglaea tadi, butuh 1 jam baginya untuk menemukan lokasi Nadi saat ini. Dan saat menemukannya, Ia langsung menjebak Nadi agar tidak kabur.
"Oh, sepertinya Kau menantangku. Dinna, Fanta kalian turun dulu. Miko!" Ucap Nadi sambil menatap yakin ke arah mata Miko.
"Wreong!" Jawab Miko, setelah Dinna dan Fanta turun, seketika di sela bulu lembutnya keluar gumpalan asap putih, dan tidak lama, muncul api besar di ujung ekornya, lalu mulai merambat ke seluruh tubuhnya.
"Jangan menahan kekuatanmu!" Tegas Nadi.
"Wreeeoong!!" Miko mengerti maksud Nadi, lalu Ia menggunakan Anugerahnya, untuk memperbesar ukuran tubuhnya, dan api yang menyala di seluruh tubuhnya pun ikut membesar.
"Ah, panas.." Gumam Fanta.
"Tahan..." Ucap Dinna lalu membuka jubahnya.
"Kau pikir dengan itu kalian bisa lepas, jangan harap.." Saut Pria Bertopeng itu.
"Itu bukanlah tujuanku. Miko di sampingmu!" Teriak Nadi.
"Wreeong!!" Dengan cepat Miko membuka mulutnya lebar, lalu Ia menggigit sesuatu di gumpalan asap hitam di sampingnya.
"Arrrgghhh!!" Terdengar teriakan di dalam asap hitam itu. Ternyata yang menyebabkan asap hitam itu adalah Serigala milik Si Pria Bertopeng, dan sekarang, wujudnya dalam sebuah asap.
"Arahkan apimu kesana!" Perintah Nadi.
Lalu api yang semula menjalar di seluruh tubuh Miko, mulai merambat dan berkumpul depan wajah Miko, lalu api itu seperti membakar sesuatu dihadapannya.
Dan berkat serangan itu, asap hitam yang mengelilingi mereka menghilang dengan cepat.
"Swusshh.. Tap!.. Bagaimana mungkin!" Ucap Serigala itu melompat dan sedang terbakar oleh api milik Miko. Namun, tidak lama kemudian api itu terjatuh ke bebatuan, dan masih dalam keadaan terbakar.
"Bodoh! masa Kau tidak tahu alasan kekalahanmu, alasannya sederhana, karena wujudmu tadi asap, jadi kelemahanmu juga asap, dan Miko bisa mengeluarkan asap dari api miliknya." Ucap Nadi bangga.
Si serigala yang sudah kembali dalam wujud bayangannya, mulai memancarkan aura membunuh, dan berniat untuk menyerang balik Miko. Tapi saat Si Serigala akan melompat, Dia di tahan oleh Pria bertopeng itu.
"Menarik, Kau masuk ke dalam bayanganku, dan jangan ganggu." Perintah Pria itu kepada Serigalanya.
Lalu Si Serigala masuk ke dalam bayangan Pria itu, tentu dengan raut wajah marah, karena sebenarnya Ia ingin segera mencabik cabik Miko dengan tangannya.
"Miko mundur, biar Aku yang bunuh Dia." Perintah Nadi, lalu Ia berjalan perlahan ke arah Pria itu.
Miko pun mundur secara perlahan, sambil mengecilkan ukuran tubuhnya kembali.
"Siapa namamu?" Tanya Pria itu.
"Nadi." Jawab Nadi, dan sekarang Ia sudah berada di depan Pria itu, jaraknya sangat dekat, kira kira cuman 5 langkah antara mereka.
__ADS_1
"Nadi, akan kuingat nama itu, maaf sudah meremehkanmu, sebagai ucapan permintaan maaf, Aku akan memeperkenalkan diriku. Namaku Adonis." Ucap Adonis sopan, bahkan sambil sedikit membungkuk, sambil menaruh tangan kanan di dadanya.
"Sopan juga Kau, tapi sayang Kau akan mati di tanganku." Ucap Nadi sombong, lalu Ia mengeluarkan Belati miliknya.
"Silahkan, itu juga jika Kau bisa." Seringai Adonis, lalu Ia menghilang dari pandangan Nadi.
Nadi langsung terkejut, karena Adonis tiba-tiba hilang dari pandanganya, dan saat Ia akan membalikkan tubuhnya, berniat untuk mencari keberadaan Adonis, tiba-tiba Adonis muncul di belakangnya.
"Boom!" Ucap Adonis sambil tersenyum simpul, meremehkan.
Swushh!!" Dengan cepat Nadi mengayunkan Belatinya.
Namun lagi-lagi Adonis menghilang, Dinna Fanta dan Miku tentu sama terkejutnya dengan Nadi, karena baru kali ini mereka bertemu orang yang bisa berpindah tempat seperti itu.
"Aku disini!" Ucap Adonis yang berada di samping Nadi.
Swushh!!" Nadi dengan cepat mengayunkan kembali Belatinya.
"Menyerang kemana Kau? Aku disi.."
Swushhh." Tanpa menunggu Nadi langsung mengayunkan kembali Belatinya.
"Wah, berbahaya sekali." Ucal Adonis yang berada di belakang Nadi.
"Jangan main-main!" Teriak Nadi sambil mengayunkan kembali Belatinya.
"Ternyata Kau begitu lemah, apa Bunga itu tidak memberikanmu Anugerah?" Ucap Adonis yang berada di tempatnya semula.
"Jangan pura-pura bodoh, setelah Kau memakan bunga milik Ratu, takdirmu sekarang hanyalah mati." Ucap Adonis, lalu dengan cepat Ia memukul mundur Nadi, bahkan sampai terpental ke tempat Dinna berada sekarang.
Bruuk!!"
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Dinna sambil menghampiri Nadi.
"Jangan-jangan, maksudnya Bunga yang memberikanmu kutukan itu, yang seminggu lalu Kau makan sampai habis." Jelas Dinna kepada Nadi.
"Oh, Aku ingat." Ucap Nadi yang sedang berusaha untuk berdiri.
"Jadi Kau pemilik Bunga itu, tapi maaf, sayangnya Bungamu itu sudah busuk, tidak, tepatnya busuk di perutku haha." Dengan santainya Nadi berkata, bahkan sampai tertawa mengejek kepada Adonis.
"Dasar manusia lemah, bahkan saking lemahnya, tubuhmu tidak bisa menyerap kekuatan Bunga itu, haha, sepertinya Aku akan membunuhmu sekarang, agar Kau tahu betapa lemahnya dirimu." Ucap Adonis.
"Coba saja.." Tantang Nadi.
"Jangan sampai mati, atau teman-temanmu akan menanggung rasa sakit yang melebihi kematian nantinya." Jawab Adonis sambil tersenyum.
"Jangan bawa bawa temanku br***sk!!" Marah Nadi, lalu Ia berlari dengan cepat ke arah Adonis.
Tanpa ragu Nadi menghunuskan Belatinya tepat ke arah wajah Adonis, namun sayangnya serangan itu tidaklah berhasil.
__ADS_1
Bahkan serangannya tidak bisa mengenai wajah Adonis, tepatnya mustahil bisa mengenainya, karena Adonis terus berpindah tempat saat Nadi akan mengenainya.
"Kau tidak Bisa menyerang diriku, karena Aku memiliki Anugerah yang tidak akan bisa Kau jangkau." Ucap Adonis santai.
"Omong kosong!" Jawab Nadi, lalu Ia berlari ke arah Adonis kembali.
Namun hasilnya masihlah sama, Adonis langsung menghilang tepat setelah Nadi mengunuskan Belati miliknya.
"Cukup bermain-mainnya!" Ucap Adonis di belakang Nadi, lalu tanpa ragu Ia menendang Nadi sekuat tenaganya, bahkan sampai terdengar suara retakan tulang punggung Nadi.
Bruukk!!" Nadi terpental jauh sampai menabrak Batu besar disana.
Errgrhh... "Huh.. Kuat juga Kau... woooekk!;" lirih Nadi, lalu Ia mengeluarkan darah dari mulutnya, tidak, kata yang tepatnya adalah Ia muntah darah, akibat serangan Adonis yang tidak bisa Ia hindari.
"Haha, hebat juga Kau masih memiliki kesadaran setelah tendanganku tadi." Ucap Adonis di kejauhan.
Nadi sekarang sedang mencoba untuk berdiri, namun hasilnya nihil, luka yang Ia terima tadi sangatlah fatal.
"Tenang saja, Aku akan mengakhiri penderitaanmu dengan cepat" ucap Adonis, lalu Ia menghilang, dan muncul di atas punggung Nadi, ya di atas punggung Nadi.
Lalau Adonis mulai menginjak-injak punggung Nadi dengan brutal.
Duag!"
Duag!"
Duag!" Bertubi-tubi tendangan dilayangkan ke atas punggung Nadi, bahkan sekarang Nadi tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali.
Lalu apa yang dilakukan Dinna dan yang lainnya, mereka sedang melihat Nadi disiksa dari kejauhan, karena mereka sekarang sedang mematung, dan terlihat raut wajah marah di terukir jelas di wajah mereka.
Ya mereka mematung, tapi bukan karena mereka ketakutan, mereka seperti itu karena Serigala milik Adonis, saat pertarungan dengan Nadi tadi, Si Serigala berpindah tempat ke dalam bayangan Dinna dan yang lainnya.
Lalu Si Serigala menggunakan kemampuannya, untuk menbungkam Dinna Fanta dan Miko.
Jujur, ini adalah kali pertamanya mereka mengalami kesulitan seperti ini, musuh mereka terlalu kuat, tapi apakah hanya sampai disini kisah petualangan mereka.
Bahkan Fanta belum memulai hari pertamanya, kini mereka harus berhenti karena alasan yang konyol, dan Nadi sedang di ambang kematiannya, apa Ia akan terlihat mati konyol seperti itu?
"Sepertinya sudah cukup, Akan ku bawa Dia ke hadapan Ratu sekarang, Kau urus mereka, bunuh juga tidak masalah, karena Dia juga akan kubunuh nanti." Ucap Adonis kepada Si Serigala, lalu Ia turun dari atas pungung Nadi.
Keadaan Nadi sekarang sangatlah menyedihkan, banyak darah keluar dari mulut dan hidungnya, tulang punggung sampai rusuknya sekarang sudah remuk semua, Ia bahkan sudah tidak sanggup menutup matanya sendiri.
Dan terlihat kesediahan yang bercampur dengan kemarahan di wajahnya itu. Bahkan Nadi sampai mengeluarkan air mata kesengsaraan dari sudut matanya.
Ditambah Ia mendengar Adonis membiarkan Serigalanya untuk membunuh teman-temannya, lengkap sudah penderitaan Nadi. Ia sekarang seperti seekor ayam yang habis di geprek, hancur, sangat menyedihkan.
Dengan tenaganya yang tersisa sedikit, Ia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai Dinna.
"Maaf" lirih Nadi, lalu perlahan penglihatannya mulai meredup.
__ADS_1
...°°°°°°°°...