
Trak!" Suara ranting patah.
"Adduh..." Gumam Nadi.
Sssssssttt.." Si Ular bangun, Dia berdiri tegak menunjukan kegagahannya.
Tentu saja Dia langsung marah dengan kedatangan Nadi, dan tanpa peringatan langsung menyerang Nadi dengan cepat.
Brukk!!" Ekor ular itu menyambar pijakan Nadi.
Tapi karena ular itu hanya berada di tingkat rendah, jadi Dia menjadi sasaran empuk untuk Nadi.
"Haha, lemah..." Tawa Nadi mengejek. Lalu Nadi dengan cepat melompat melewati sungai.
"Cratthhh.." Kepala ular itu terlepas oleh Nadi.
Tentunya Nadi tidak menggunakan tangan kosong, melainkan menggunakan Belati miliknya.
"Dasar, kenapa harus pakai senjata!" Saut Dinna marah.
"Hehe, maaf..." Ucap Nadi malu, karena Ia tidak bisa menepati omongannya tadi.
"Terus sekarang apa?" Tanya Dinna masih kesal.
"Kita makan aja ular ini, sayang kalau gak dimakan." Ucap Nadi sambil ngiler melihat ular itu.
"Kau itu walau kena kutukan masih aja banyak makan, gimana kalo nggak..." Ucap Dinna lalu Ia berjalan menjauh dari Nadi.
"Hey tunggu, Kita kan tadi pagi baru makan kelinci aja, jadi sekarang kita makan ular besar ini, Aku butuh asupan nutrisi nih." Saut Nadi.
"Terserah Kau, nih masak aja sendiri, Aku cape..." Ucap Dinna duduk setelah mengeluarkan alat masak untuk Nadi.
"Ya kalo gitu kenapa nggak?" Jawab Nadi menerima perintah Dinna.
(Skip makan dan minum)
__ADS_1
...******...
Kota Ers
"Pada akhirnya Kita nggak menemukan apa Anugerahmu itu, hahhh..." Ucap Dinna lalu menghela nafas berat, Ia sangat kecewa.
"Apa boleh buat, mungkin yang kemarin itu cuman efek topeng ini, sesampainya disana jual aja." Jawab Nadi sambil menilik topeng belah milik Adonis.
"Jika begitu, seharusnya topeng itu bisa sangat mahal, ayo Miko lari!!!" Ujar Dinna langsung semangat kembali.
"Wreooong!!" Miko pun berlari cepat ke arah gerbang Kota Ers.
Sesampainya disana, mereka di hadang oleh penjaga gerbang, entah ada masalah apa, biasanya mereka cukup dengan membayar uang masuk saja, tapi kali ini berbeda, karena terlihat jelas di mimik penjaga itu.
"Maaf, Kami harus memeriksa barang bawaan kalian." Ucap Penjaga itu.
"Boleh sih, tapi ada apa, dan juga kenapa Kau jaga disini sendiri?" Tanya Dinna merasa bingung, bukan hanya penjaga yang sendiri, melainkan orang di Kota juga terbilang sepi.
"Kemarin, baru saja Pemilik Kota ini di bunuh, dan sekarang Kota ini tidak ada Pemilik, semua Penjaga atau laki-laki dibawa oleh Dia, dan tersisa perempuan, anak-anak dan manula." Ucap Penjaga itu murung.
"Iya, Aku tahu itu, tapi setidaknya Aku ingin menjaga tempat orang-orang yang Aku sayangi." Jawab Penjaga itu sambil menangis.
Jujur saja, Dinna dan Nadi tidak menghiraukan Si Penjaga, karena tentunya mereka tahu bahwa itu hanya akting belaka, dan dengan ekpresi datar, mereka maju melangkah masuk ke gerbang.
"Eh tunggu!!" Ucap Si Penjaga sambil menyentuh pundak Nadi.
Slasshhh...." Kepala Penjaga itu kini sudah terpisah dari tubuhnya.
Brukk!!"
"Kenapa Kau malah bunuh Dia?" Tanya Dinna sambil berjalan santai, walaupun Dia menanyakan alasannya kepada Nadi, tapi Dinna sama sekali tidak melirik ke arah mayat Penjaga itu.
"Tanpa alasan.." Ucap Nadi lurus.
"Miko, cari tahu berapa orang yang masih selamat." Perintah Nadi, dan Miko pun melirik paham, lalu Ia berlari dengan cepat, dengan ukuran tubuhnya yang sudah mengecil, sekitar 5cm.
__ADS_1
Setelah Miko pergi, Nadi dan Dinna kini di hadang oleh 5 orang di depannya, di tambah 5 orang lagi di setiap sisinya, mereka muncul di atas atap rumah, mengepung Nadi dan Dinna seperti di dalam sangkar.
Walaupun begitu, tentunya hal ini tidaklah menjadi ancaman bagi mereka berdua, dan malahan hal ini dijadikan ajang untuk latihan.
"Seperti rencanaku tadi, Kita caritahu Anugerahmu dengan membunuh langsung manusia." Ucap Dinna.
"Oke..." Jawab Nadi lalu mengeluarkan Belati miliknya.
Tanpa menunggu lama lagi, Nadi langsung melompat menerjang 5 orang yang berada di depannya, dan detik itu juga, kepala 5 orang itu berjatuhan ke atas tanah.
Sekarang sisa 3 kumpulan lagi, dan hal tadi membuat ke 15 orang itu murka, karena teman mereka di habisi layaknya ayam yang sudah siap di potong, artinya tidak berguna.
"Kau!!! Ayo semua Kita serang Dia bersamaan..." Ucap salah seorang Pria.
"Bodoh, kalau mau menyerang tidak usah banyak bicara..." Ucap Nadi santai, sementara di atas kepalanya, orang-orang itu tengah melompat ke arahnya.
Kcraatttss!!!" Tubuh orang-orang itu menjadi terbelah-belah, bagaimana tidak, karena Nadi tadi memutar tubuhnya sambil menyerang mereka, layaknya seperti mesin blender.
"Bagaimana?" Tanya Dinna sambil berjalan ke arah Nadi yang di lumuri oleh jus darah itu.
"Gak ada, mereka mudah bukan karena Aku kuat, tapi mereka emang hanya orang-orang biasa saja." Jawab Nadi sambil membersihkan wajahnya yang penuh darah.
Hupla.. "wreokng!!" Ucap Miko sambil melompat dari atas pundak Dinna, sebenarnya dari tadi Miko sudah kembali, namun ia menunggu di atas pundak Dinna, bahkan Dinna sendiri tidak menyadari kehadiran Miko.
"Dari kapan Kau disitu?" Tanya Dinna, namun Miko tidak menjawab ucapannya.
"Gimana? Berapa orang?" Tanya Nadi kepada Miko.
Miko pun menjelaskan informasi yang Dia punya mengenai penduduk Kota ini, tentunya dalam bahasa Hewan Ilusi, karena Nadi mengetahui bahasa itu, jadi mudah saja Nadi mengobrol dengan Miko.
"Apa katanya?" Tanya Dinna penasaran.
"Gak ada siapapun disini, isinya hanya berandalan perusak, Penjaga tadi juga adalah bagian dari kawanan itu, dan hanya satu orang yang wajib Kita datangi." Ucap Nadi sambil melirik ke arah Mansion besar yang menjulang tinggi.
"Oke." Jawab Dinna paham, lalu mereka bertiga pun pergi menuju Mansion itu.
__ADS_1
...°°°°°°°°...