
"Yosh, ayo berangkat!!" Ujar Nadi sambil menatap awan putih yang bergerumul disana.
Nymm nymm nym..." Tidak ada jawaban, karena saat ini Dinna, Virra dan Miko sedang sibuk mengunyah telur Wyvern.
"Astaga, dari tadi itu belum juga habis, mau sampai kapan Kita di atas sini." Ucap Nadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Orang yang makan 3 butir telur raksasa dengan cepat lebih baik diam saja!" Celetuk Dinna kesal.
"Hhe, habis itu enak, gak ada waktu untuk menikmatinya lama-lama." Ucap Nadi seraya tersenyum.
"Yasudah, Aku cari cara dulu agar kalian dapat turun dengan mudah." Lanjut Nadi, lalu Ia terjun ke bawah tanpa ragu.
Beberapa saat kemudian...
Hupla.. "Sudah selesai kah?" Tanya Nadi tiba-tiba muncul di atas sarang.
"Ya." Jawab Dinna singkat. Sementara Virra, Ia sedang bermain sejenak dengan Miko.
"Ayo Kita lanjutkan petualangan!!" Teriak Nadi bersemangat.
"Tapi ini dimana?" Tanya Virra bingung, karena Ia cukup asing dengan tempat ini.
"Wilayah ini adalah Ko..." Belum selesai Nadi menjawab.
"Ini Kota Note." Potong Dinna.
"Kok tahu?" Tanya Nadi merasa heran.
"Karena tempat para Wyvern hanya ada di Kota Note, sisanya sangat jauh dari Kota Ujung, tapi tebakanku benarkan?" Jawab Dinna bangga.
"Ya, terserah. Ayo turun!" Ucap Nadi tidak peduli.
"Semua, saat Aku bilang lompat, Kita lompat bersama ya. Satu Dua.."
__ADS_1
"Lompat!!" Teriak Dinna melompat mendahului hitungan Nadi.
"Lompat!/Wreong!!" Virra dan Miko langsung mengikuti Dinna yang sudah melompat lebih dulu.
"Aish, dasar kalian!" Gumam Nadi kesal.
Hup...!" Nadi pun melompat, tentunya dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Huuuuu....!!!" Teriak Dinna, dan Virra. Mereka sangat menikmati jalan buatan Nadi ini, bahkan siapapun pasti akan sangat senang.
Pasalnya, ini adalah PEROSOTAN RAKSASA!!! Perosotan yang dibuat melingkuk dari tanah, seolah disini adalah wahana yang di sediakan khusus untuk mereka.
Dasshh...!! "Huh, akhirnya sampai juga." Ucap Dinna sambil mengusap keringat di keningnya.
Dashh..! "Haha hahah... Apa itu, menyenangkan!!" Ujar Virra yang baru sampai di permukaan.
Dasshh..!
Dashh..!" Miko dan Nadi juga sudah sampai, namun berbeda dengan Dinna dan Virra, Nadi tidak menikmati perosotan itu.
"Kenapa Dia?" Tanya Virra, karena Ia melihat raut wajah Nadi di penuhi rasa kesal.
"Biar saja, Dia memang begitu." Jawab Dinna biasa.
Brrrr..." Miko bergidik menari hebat, Dia bukan takut, tapi Dia sedang merapihkan susunan bulunya yang berantakan.
"Mau kemana?" Tanya Dinna.
"Entah, lurus saja kedepan, siapa tahu ada hal menarik disana." Jawab Nadi, tapi Ia tidak melihat ke arah mata Dinna saat menjawab, dan hanya fokus melihat ke arah jalan di depannya.
"Oke." Pungkas Dinna tanpa melanjutkan pertanyaannya.
Setengah hari lebih mereka berjalan, namun belum kunjung menemukan sebuah Kota untuk mereka singgahi.
__ADS_1
Sebenarnya, saat ini mereka sedang berjalan menuju perbatasan dengan Wilayah Eils, tapi tentu saja tidak langsung menuju sana, karena ada satu Kota yang harus mereka lewati sebelum menuju perbatasan.
"Sekarang Kita istirahat dulu disini sejenak." Ucap Nadi, lalu Ia mendirikan sebuah rumah yang terbuat dari tanah.
"Kenapa buat rumah?" Tanya Virra.
"Agar tidak ada kejadian seperti kemarin, jadi nanti Kita tidur di dalam saja." Jawab Nadi.
"Nah sekarang adalah waktunya makan, Din..?" Ucap Nadi melirik ke arah Dinna.
"Ya ya.." Jawab Dinna, lalu Ia mengeluarkan 4 butir telur Wyvern dan peralatan masak lainnya.
Makan adalah ritual wajib bagi Nadi dkk, tanpa makan, hidup itu tidak ada artinya.
Skip...
"Uhhh.. Kenyangnya.." Lega Nadi setelah makan banyak.
Dwuaarrr..!!" Suara ledakan guntur entah berasal dari mana.
Padahal malam ini cuacanya sangatlah cerah, tidak ada tanda-tanda sedikitpun akan turun hujan, tapi anehnya suara guntur terdengar sangat jelas, bahkan tidak sekali, tapi berkali-kali.
"Sepertinya akan hujan, ayo masuk ke dalam." Ajak Dinna, lalu Ia berjalan masuk ke dalam rumah buatan Nadi itu.
Sementara Virra dan Miko mengikuti Dinna masuk ke dalam, Nadi sekarang masih berada di luar, Ia terlihat sedang menikmati pemandangan langit malam itu.
Tapi nyatanya tidak, Ia sekarang sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa Ia ingat, tapi rasanya seolah-olah itu adalah hal yang sangat penting.
Dan ketidaktahuan itu, menimbulkan rasa sesak yang teramat sakit di dadanya, seolah ribuan jarum sedang menusuk jantung Nadi.
Druaaarrr...!'" Ledakan guntur yang kesekian kalinya, tapi sekarang ledakan itu di temani oleh turunnya hujan yang lebat.
"Ayo masuk!" Teriak Dinna, dan berhasil memecah lamunan Nadi itu.
__ADS_1
"Ya.." Jawab Nadi, lalu Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
...°°°°°°°°...