
Dalam sepi, sunyi dan sendiri, Bulan menelungkupkan wajahnya diantara lututnya sambil terus menangis tersedu-sedu. Tak ada semangat hidup lagi bagi Bulan. Seketika hidupnya telah runtuh dan hancur berkeping-keping tanpa tahu bagaimana cara memperbaikinya.
"Bulan, kau sudah bangun? Ini sudah pukul 09.00 pagi. Kau harus bersiap-siap per ..." Tari yang tiba-tiba datang, langsung terkejut ketika melihat temannya menangis sendirian dalam diam. Ia bahkan tak jadi melanjutkan kalimatnya. "Ya ampun Bulan, kau kenapa?" Tari berlari menghampiri Bulan dan memeluk tubuh sahabatnya yang lemah tak berdaya.
Tangis Bulan semakin menjadi ketika dirinya dipeluk Tari. Ia ingin cerita, tapi tak tahu harus mulai darimana. Tidak mungkin juga, Bulan bercerita pada temannya di tempat yang dindingnya saja bisa mendengar. Gadis malang ini hanya bisa menangis dan terus menangis dipelukan Tari sampai ia kembali tenang sendiri. Tari sendiri juga bingung, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa selain menunggui Bulan hingga ia siap diajak bicara.
"Apa ... kau masih sanggup bekerja hari ini? Jika tidak, bagaimana kalau kau ambil cuti sehari. Nanti malam, aku akan datang dan bermalam dirumahmu. Kita harus bicarakan ini. Kau harus cerita padaku. Sekarang berkemaslah pulang, biar aku yang urus surat cutimu." Tari hendak bangun berdiri setelah memastikan temannya sudah tampak baik-baik saja. Namun, tiba-tiba saja Bulan mencekal lengan Tari dan menarik sahabatnya agar duduk kembali disampingnya.
"Tidak, Tar. Meskipun aku belum bisa cerita padamu tentang apa yang terjadi padaku, aku tetap harus bekerja. Jika aku pulang sekarang, keluargaku akan curiga dan menanyakan banyak hal padaku. Aku tidak siap menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka," isak Bulan sambil mengusap sisa bulir air matanya.
"Sebenarnya, kau ini kenapa, sih? Kok bisa sampai nangis gitu? Apa kakak tirimu cari gara-gara lagi denganmu? Apa dia menuduhmu yang bukan-bukan lagi?" tanya Tari mencoba menebak-nebak. Sebab, ini bukan pertama kalinya Bulan sedih seperti ini dan rata-rata kebanyakan karena akibat perlakuan buruk keluarga Bulan.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku ... aku tidak tahu bagaimana caraku memberitahumu. Aku sungguh tidak tahu." Bulan menundukkan kepalanya seakan beban berat dipundaknya sangat sulit untuk diturunkan. Ia bahkan ragu apakah harus membaginya dengan Tari atau tidak. Sebab, masalah Bulan kali ini benar-benar sangat intern dan termasuk aib yang harus ia tanggung sendiri dan tak seharusnya dibagi.
"Ya sudah. Kau butuh waktu untuk menenangkan diri. Kalau kau tak ingin pulang, kau bisa tetap di sini. Jika ada yang menanyakanmu, aku akan bilang kalau kau sakit."
__ADS_1
"Tidak, aku akan bekerja, hanya saja mungkin aku tidak bisa menerima tamu di depan. Aku akan bekerja dibagian lain saja yang tak banyak dilihat orang."
Bukan tanpa alasan kenapa Bulan terpaksa bekerja di balik layar, dan terkesan bersembunyi. Ia tak ingin bertemu dengan sang artis itu lagi untuk selama-lamanya. Rasa perih yang menusuk-nusuk hati akibat kecelakaan yang terjadi pada Bulan dan sang artis, membuat gadis itu memutuskan untuk tak bertemu dengan siapapun hari ini.
"Oke. Biar aku saja yang bekerja dibagian penerima tamu hari ini. Kau bantu yang lain saja di belakang." Tari menatap wajah sembab Bulan karena kebanyakan menangis dan membantu merapikan pakaiannya. "Kau yakin kau tidak apa-apa?" tanya Tari sekali lagi.
"Ehm, aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir." Bulan mencoba tersenyum di depan Tari agar sahabatnya ini tak lagi mencemaskannya.
"Baiklah, Kalau kau sudah bilang begitu. Bagaimana kalau kita lupakan saja sejenak masalahmu meskipun aku tidak tahu apa persoalanmu. Kau sudah dengar tidak? Kalau ada artis papan atas menginap di hotel kita. Bagaimana kalau kita minta tanda tangannya mumpung dia masih ada di hotel ini?" usul Tari dan ucapannya itu langsung membuat dada Bulan serasa meledak seketika.
Nah loh, mungkin Tari tidak tahu kalau penyebab Bulan jadi seperti ini adalah artis papan atas yang ia bicarakan. Seketika tubuh Bulan langsung menegang dan juga panik.
Tanpa tahu apa yang dirasakan Bulan, Tari dengan seenak jidatnya membawa Bulan ke tempat ruangan Raja berada. Bulan sudah berkali-kali menolak, tapi Tari terus memaksa gadis itu untuk menemui sang artis sebelum diketahui banyak orang. Sebisa mungkin Bulan mencari alasan agar ia tidak melihat wajah artis tampan itu dihadapannya lagi, namun sahabatnya Tari, tidak mau tahu dan tetap memaksanya menemui idolanya untuk meminta tanda tangan.
Tidak ada maksud lain sebenarnya, Tari hanya berpikir, mungkin dengan mempertemukan Bulan dengan artis papan atas tertampan di negara ini, suasana hati Bulan bisa kembali baik. Padahal, biang kerok yang menyebabkan Bulan jadi nyesek begini adalah sang artis sendiri. Tari hanya beranggapan, obat ampuh bagi para wanita yang sedang galau akut adalah melihat para cogan apalagi kalau secara langsung, face to face seperti yang bakal dilakukan Bulan dan Tari ini.
__ADS_1
Secara, Raja adalah artis papan atas yang banyak digandrungi para kaum hawa dimanapun dia berada. Suatu kesempatan emas bila bisa meminta tanda tangan Raja selagi sang artis menginap di hotel tempat Tari bekerja.
"Tar, hentikan. Aku nggak mau ketemu artis itu! Tolong mengertilah!" tolak Bulan saat Tari terus menyeret paksa dirinya menuju kamar Raja yang beberapa jam lalu sempat ditinggalkan Bulan setelah kejadian tak terduga itu.
Bulan jelas kalah kuat dengan Tari karena ia dalam keadaan lemah tak bertenaga karena terkuras emosi jiwa, hati dan pikiran gara-gara masalah masa depan hidupnya yang sudah tak tentu arah. Ditambah rasa sakit yang Bulan rasakan membuat ia tak bisa melawan kekuatan tangan Tari yang terus menyeretnya pergi ke kamar Raja untuk minta tanda tangannya.
"Udah, jangan banyak alasan. Kau pasti bakal berbinar-binar senang ketika melihat artis top ini. Sungguh, ini sangat luar biasa! Siapa yang menduga kalau artis kece badai itu menginap di hotel ini? Nyesel aku tukar shift denganmu. Masa kau nggak tahu kalau ada artis papan atas menginap di hotel ini? Rugi banget tahu nggak?" Tari terus menyeret tubuh lemah sahabatnya tanpa peduli bagaimana perasaan Bulan saat ini.
Lebih dari itu, Bulan juga sangat menyesal karena bersedia bertukar shift dengan Tari sehingga menyebabkan ia harus jadi hancur seperti ini. Mata Bulan terpejam menahan semua rasa gejolak dan amarah yang tak tahu, harus ia luapkan pada siapa. Ia sungguh tak ingin melihat artis yang Tari bilang top itu. Hati bulan sudah hancur lebur, ia tak punya semangat hidup lagi, Bulan bahkan tidak tahu harus bagaimaan jika bertemu lagi dengan orang yang sudah menodainya. Gadis malang itu, benar-benar tidak sanggup lagi menghadapi dirinya sendiri.
Kini, keduanya sudah ada di depan pintu kamar sang artis dan tanpa menunggu lama, Tari memencet bel kamar tersebut. Bulan mencoba mengeluarkan sisa tenaganya yang tersisa untuk langsung berlari menjauh begitu pintu kamar dibuka karena saat itulah, Tari baru mau melepaskan cekalannya. Jantungnya bergejolak kuat berharap ia tak bertemu lagi dengan Raja.
Jangan sampai dia melihatku lagi! batin Bulan was-was.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***