Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
episode 28 Pertanyaan


__ADS_3

Benar apa yang dikatakan Raja, Ben sudah menunggu kedatangan Bulan dari pintu belakang kafe. Pria tinggi ber jas hitam itu langsung menyongsong Bulan begitu gadis itu keluar. Asisten Raja langsung mengajak Bulan masuk ke dalam mobil sedan hitam tanpa kentara.


Setelah mengetahui kondisi aman terkendali dan tak ada yang tahu tentang Bulan, dengan cepat, Ben memutari mobil lalu masuk ke bangku belakang kendali setir. Tak perlu menunggu waktu lama, ia memutar kunci dan melesat pergi ke tempat yang diberitahukan Raja padanya.


Bulan tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ia masih belum percaya pada apa yang ia alami saat ini. Pria yang sangat ia benci memperlakukannya dengan baik dan bahkan mengakui kalau bayi yang dikandungnya adalah benihnya, tanpa syarat pula.


Bulan juga tidak tahu apakah ia harus sedih atau bahagia. Sebab, apapun yang terjadi pada Bulan dan Raja saat ini, lusa ia akan tetap menikah dengan pria lain pilihan keluarganya, bukan dengan Raja karena itu sangat mustahil untuk dilakukan. Mana mungkin seorang gadis biasa dari keluarga putri yang terbuang, menikah dengan seorang artis ternama sekelas Raja. Jelas itu tidak akan pernah mungkin terjadi bahkan dalam mimpi sekalipun.


Menikah dengan Raja adalah suatu hal yang mustahil bisa diwujudkan bagi Bulan. Bagi gadis malang itu, tidak akan ada yang berubah dalam hidup Bulan. Lalu bagaimana dengan nasib anak ini ... entahlah ... Bulan bingung, gelisah dan gundah gulana.


"Bisa kau antar aku pulang saja? Keluargaku pasti mencariku," pinta Bulan pada Ben. Otaknya sudah mentok dan tak bisa berpikir lagi.


"Maaf Nona, tuan Raja sendirilah yang akan mengantar anda pulang nanti. Tugas saya hanya membawa anda ke tempat yang tuan Raja inginkan. Bersabarlah, Tuan Raja sedang dalam perjalanan menyusul kita. Saya harap anda bisa memaklumi keadaannya sebagai seorang artis," terang Ben.


Bulan pun terdiam. Bukan soal Raja mengikutinya atau tidak. Bagi Bulan, Raja sudah tahu kehadiran calon buah hatinya saja itu sudah lebih dari cukup. Gadis itu sungguh tak mengharapkan apapun lebih dari ini. Yang menjadi pikiran Bulan adalah, ia ragu apakah masih berani pulang atau tidak. Ia yakin, keluarganya pasti heboh mencarinya. Bulan juga lupa membawa ponselnya.


Kini, mereka telah memasuki kawasan bebas polusi udara dan masuk ke sebuah green house ternama yang hanya dimiliki oleh keluarga konglomerat saja. Salah satu pemilik green house ini dalah Raja. Dan kawasan ini bersifat pribadi. Tak sembarangan orang bisa masuk kemari tanpa izin resmi.


''Di mana ini? Sepi sekali?" tanya Bulan setelah Ben kembali dari lokasi pemeriksaan yang dilakukan setiap pengendara yang memasuki kawasan elit ini.


"Salah satu kediaman pribadi tuan Raja Nona, tempat ini memang tak banyak diketahui public. Tuan Raja baru bisa datang kemari kalau ia lagi suntuk dan butuh waktu sendiri," jawab Ben.

__ADS_1


"Oh." Bulan manggut-manggut.


Sudah bisa ditebak betapa kaya rayanya Raja karena memiliki salah satu hunian termegah di negara ini. Secara, dia artis papan atas ternama yang popularitasnya sudah tidak diragukan lagi. Sangat aneh kalau artis sekelas Raja tak punya aset berharga seperti kawasan mewah ini.


Tak lama kemudian, merekapun sampai di rumah mewah bergaya khas Eropa klasik yang didominasi dengan warna putih tulang. Tempatnya sangat sunyi dan sepi, tapi udara di sini sangat segar dan menyejukkan hati. Itu karena ada banyak sekali jenis tumbuhan yang tumbuh mengelilingi rumah putih berlantai 3 itu.


"Silahkan masuk, Nona. Buat diri anda senyaman mungkin." Ben mempersilakan Bulan masuk ke rumah majikannya. "Saya akan tinggalkan anda di sini. Bila butuh apa-apa tinggal panggil saja saya, permisi." Ben menundukkan kepalanya dan pamit undur diri.


Bulan masih belum bisa bicara karena ia terlau kagum dengan seluruh isi rumah ini. Sangat elegan dan berkelas. Sesuai banget dengan tempat hunian rumah artis ternama sekelas Raja. Tidak ada barang murah di sini. Semuanya barang luxury. Bahkan keset dan vasnya saja bermerk import semua.


"Maaf lama menunggu," seru seseorang dari balik pungggung Bulan saat gadis itu sibuk memandangi lukisan indah didepannya.


Bulan langsung tahu, suara merdu siapa itu. Ia balik badan dan menatap orang yang tak lain dan tak bukan adalah Raja. Entah sejak kapan artis itu tiba di sini.


"Tidak bisa," jawa lb Raja mulai melangkah maju mendekat ke tempat Bulan berdiri. "Makanlah sesuatu. Aku sudah bawakan banyak vitamin juga untukmu. Biasanya wanita hamil itu mengalami kenaikan berat badan, tapi kau malah sebaliknya. Ayo kita ke ruang makan, kau harus makan banyak," ajak Raja.


Bulan tertegun, sunggguh ia tak pernah sekalipun diperhatikan seperti ini. Mata gadis itu berkaca-kaca karena baru kali ini ada yang peduli apakah ia sudah makan atau belum selain Tari tentunya. Bahkan keluarganya sendiri sekalipun tak pernah menanyakan apakah ia butuh vitamin atau asupan gizi atau tidak. Ia tak pernah menyangka, artis sombong seperti Raja bisa baik juga padanya.


Raja mempersilakan Bulan duduk lalu mengambil beberapa makanan yang dihidangkan di atas meja. Iapun ikut duduk dekat di samping Bulan sambil melihatnya makan. Gila nggak sih, kalau orang lain pasti sudah pingsan karena bisa bersanding dengan artis papan atas sekelas Raja. Sayangnya, Bulan bukan fans Raja, jadi gadis itu tampak biasa-biasa saja.


"Makanlah yang banyak, setelah itu minum vitamin ini." Raja menyodorkan vitamin yang ia dapat dari apotek saat perjalanan kemari.

__ADS_1


Sebenarnya Bulan masih merasa canggung dan aneh. Tapi ia mencoba bersikap tenang dan biasa-biasa saja.


"Bagaimana caramu membelinya? Tidak mungkin kau mendapatkan barang ini dengan mudah mengingat kau bisa jadi pusat perhatian banyak orang dimanapun kau berada?"


Raja tersenyum. "Apa aku setenar itu?" tanya Raja.


"Sepertinya begitu, tapi aku tak pernah melihatmu sebelumnya karena aku ... tak suka lihat televisi." Bulan meminum segelas air dan berpaling dari tatapan mata Raja yang terus melihatnya. Lama-lama risih juga dilihat artis.


"Pantas saja kau membenciku, kau tak pernah tahu seperti apa performa dan pesonaku. Semua wanita langsung kelepek-kelepek hanya dengan melihatku tersenyum. Kau benar, aku selalu menjadi pusat perhatian. Untuk mendapatkan vitamin ini, aku tak bisa turun tangan sendiri. Aku menyuruh anak buahku mendapatkannya karena kupikir kau membutuhkannya."


"Aku sudah kenyang," ujar Bulan cepat mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia jadi sangat canggung bicara dan duduk bersama dengan Raja. "Antar aku pulang sekarang, atau biar lebih aman, suruh anak buahmu saja yang mengantarku. Ini adalah pertemuan terakhir kita. Aku sangat berterimakasih atas perhatian dan kebaikan hatimu. Semoga kau semakin sukses lagi nanti. Sampai jumpa." Bulan bangun berdiri dan bermaksud pergi, tapi tangan Raja menarik tangan gadis itu hingga terduduk kembali.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi, hm? Siapa juga yang bilang kalau ini adalah pertemuan terakhir kita."


"Tuan Raja ... aku harap kau tidak lupa, aku adalah calon istri pria lain. Lusa aku menikah dengannya."


"Aku tahu ... yang menjadi pertanyaanku ... kenapa kau mau menikahi pria tua cacat pilihan keluargamu? Kenapa kau tak meminta aku yang menikahimu? Oke kalau kau membenciku, tapi tidak bisakah kau cari pria tampan lain yang lebih baik dari pria tua cacat itu? Ah, satu lagi ... apa calon suamimu tahu? Kalau kau hamil anakku?" tanya Raja. Mata elangnya menatap tajam manik mata Bulan.


Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Raja sangat komplit sampai Bulan tak tahu harus menjawab apa. Ia bahkan terkejut karena Raja tahu seperti apa kondisi calon suaminya, padahal Bulan tak pernah memberitahunya sebelumnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2