
Ben menolak memberitahu Bulan siapakah orang yang ingin bertemu dengan gadis pelayan itu. Tentu saja Bulan tidak mau ikut dengan orang asing yang tidak ia kenal apalagi ia baru saja mengalami kejadian buruk. Secara tidak langsung, Bulan merasa trauma juga dengan orang baru disekitarnya.
"Maaf, tuan Ben. Saya tidak bisa ikut dengan anda," ujar Bulan sambil mengembalikan jas hitam yang diberikan Ben untuk menutupi tubuhnya.
Setelah itu, Bulan berlalu pergi meninggalkan Ben begitu saja dan membuat sang asisten artis itu jadi bingung. Sebab, baru kali ini ada wanita menolak bertemu dengan Raja. Biasanya, hanya dengan melihat sosok Ben saja, para kaum hawa pasti berlomba-lomba datang mendekatinya agar dibolehkan bertemu dengan Raja.
Tak sedikit dari mereka malah ada yang melakukan berbagai macam cara agar Ben membukakan jalan untuk bisa dekat dengan idola mereka seperti merayu, menyuap dan tindakan-tindakan lainnya demi bisa bersama Raja dan Ben menolak segala macam cara orang-orang itu. Namun, tidak dengan Bulan yang terang-terangan menolak bertemu Raja bahkan ia tidak mau tahu siapa Ben sebenarnya.
Sang asisten hendak menyusul kepergian Bulan, tapi niatnya ia urungkan karena Bulan tiba-tiba saja dipanggil oleh kepala pelayan hotel. Ben tidak ingin siapapun tahu, makanya ia hanya diam saja di tengah taman seolah-olah sedang menikmati udara segar di taman ini. Padahal ia memerhatikan Bulan yang sedang dimarahi Dinda.
"Enak sekali kau, ha? Kelayapan kemana-mana sementara rekan-rekanmu yang lain pada sibuk bekerja, memang kau itu istrinya bos apa? Ini hotel bintang lima woy! Dan kau cuma pelayan hotel, ngaca dong! Jangan sok belagu! Kalau kau masih ingin bekerja di hotel ini, kerja yang bener! Cari duit itu nggak gampang! Nggak kayak kamu yang enak-enakan di taman ini. Cepat bersihkan ruang resepsionis dan seluruh ruang VIP serta meja dan kursi di lobi depan. Sedikit saja kesalahan yang kau buat, akan aku pastikan kau bakal dipecat didetik itu juga!" geram Dinda mengomeli Bulan habis-habisan.
"Baik Kak," jawab Bulan sambil terus menunduk.
Bulan sendiri sadar kalau ia juga salah. Harusnya ia bekerja dan bukannya datang ke taman ini. Iapun pamit undur diri untuk melaksanakan perintah Dinda meski ia tak punya semangat lagi untuk melanjutkan hidup setelah apa yang menimpanya.
Sebenarnya, yang belagu dan sok jadi bos di sini itu Dinda sendiri, tapi malah ngatain orang lain. Tidak ada satupun pelayan di hotel ini berani dengan Dinda karena ia adalah orang kepercayaan para petinggi hotel. Untuk itulah ia mendapatkan jabatan sebagai kepala pelayan di hotel ini meskipun semua orang pada bertanya-tanya, kenapa bisa Dinda yang terpilih.
Apalagi sikap Dinda sama sekali tak mencerminkan pemimpin yang baik bagi para staf pelayan yang bekerja di hotel ini. Dinda cenderung sangat angkuh dan suka memerintah sana sini seenaknya. Pernah ada pelayan yang protes dan tak terima atas sikap Dinda. Iapun melaporkan tindakan kepala pelayan sombong itu ke atasan. Namun, bukannya keadilan yang didapat, pelayan yang melawan Dinda malah dipecat dan diusir dari hotel ini.
__ADS_1
Sejak saat itu, tak ada yang berani melawan Dinda lagi apapun perlakuannya pada para pelayan hotel yang lain. Termasuk yang ia lakukan pada Bulan sekarang. Dinda sama sekali tak peduli pada kondisi Bulan, padahal wajah gadis itu sangat pucat dan tubuhnya juga lemah, tapi Dinda malah memberinya tugas yang sangat berat.
Ben yang melihat situasi itu sebenarnya juga trenyuh dengan nasib malang seorang Bulan. Namun, ia tak punya hak apapun untuk ikut campur urusan wanita ranjang majikannya. Ben sudah gagal membawa Bulan pada Raja, dan ia harus melaporkan semua ini pada sang artis secepatnya.
***
Di kamar hotel Raja, sang artis sedang tertawa terbahak-bahak ketika Ben melaporkan kalau Bulan menolak ajakannya untuk bertemu. Bahkan gadis itu terkesan seolah sengaja melarikan diri dari sang artis. Seperti halnya Ben yang terkejut atas penolakan Bulan untuk menemuinya. Raja bahkan tidak bisa percaya.
Biasanya, sang artislah yang menolak wanita yang ingin bertemu secara pribadi dengannya kecuali jumpa fans, tapi untuk kali ini dalam sejarah hidup keartisannya, seorang Raja ditolak wanita yang ingin ia temui. Apalagi wanita itu hanyalah seorang pelayan biasa dan bukan siapa-siapa. Ini sungguh penghinaan besar bagi seorang arti sekelas Raja.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Raja setelah tawanya sedikit mereda. "Gadis itu ... menolak bertemu denganku tanpa tahu siapakah orang yang akan ia temui? Dan orang itu adalah aku?" Raja menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya. "Aku? Aku di tolak? Hahaha ..." Raja tertawa lagi dan Ben hanya diam tak bereaksi.
"Anda tidak bisa bertindak gegabah Tuan muda, biarkan masalah ini saya yang bereskan. Akan saya bawa gadis itu untuk anda bagaimanapun caranya. Tapi ... anda tidak bisa keluar dari sini karena diluaran sana masih banyak sekali wartawan dan paparazi. Para fans fanatik anda juga setia menunggu anda. Jangan terbawa emosi yang bisa menyebabkan masalah besar bagi dunia keartisan anda, Tuan." Ben mencoba memberi saran dan yang ia katakan itu memang benar.
Raja terdiam dan mulai berpikir lagi. Saat ini, ia memang sedang dalam emosi terlepas apa yang sudah menimpanya. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya, Raja bakal mengalami hal serumit ini. Bagaimana bisa ia tidur dengan wanita asing yang tak ia kenal dan ia tidak sadar. Sungguh sangat tidak masuk akal. Bahkan dalam benakpun, Raja bergidik ngeri sendiri saat mengingat kejadian malam itu. Raja kembali duduk di atas ranjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kau benar, Ben." suara Raja sudah tak terdengar emosi lagi. "Aku tak bisa bertindak sesuka hatiku saat ini. Baiklah, aku akan di sini sementara sampai suasana hatiku kembali baik. Bagaimana dengan manajer? Apa dia mencariku? Semua jadwalku hari ini ... sungguh aku badmood sekali dan tak ingin melakukan apapun," keluh Raja.
"Dia sudah menghandle semua aktivitas anda Tuan, jangan khawatirkan soal itu. Anda juga butuh refreshing."
__ADS_1
"Aku lelah, aku benar-benar lelah. Aku ingin tidur. Pergilah sekarang dan biarkan aku beristirahat sejenak. Sore nanti, aku akan pulang ke rumah." Raja merebahkan dirinya di atas kasur sambil meletakkan tangannya di atas kening.
"Sebenarnya ... ada satu hal lain yang harus anda ketahui Tuan muda," ujar Ben ragu-ragu.
"Apa itu?" Tanya Raja malas dan tetap terbaring di atas ranjangnya.
"Keluarga besar anda, akan datang ke hotel ini untuk makan malam bersama," terang Ben dengan ekspresi datar sedatar-datarnya.
"Apa?" teriak Raja terkejut dan langsung bangun dari tidurnya. "Kenapa kau tidak bilang padaku daritadi! Sial!" bentak Raja dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Ada hal lain lagi," ujar Ben dengan tenang.
"Apalagi?" sengal Raja mulai emosi. Banyak sekali masalah yang terjadi dalam hidupnya hanya dalam kurun waktu kurang dari dua hari.
Ben menjelaskan kronologi kejadian saat Bulan mendapat perlakukan tidak menyenangkan yang dilakukan kepala pelayan hotel ini. Tak ada reaksi dari Raja. Ia hanya sedang memikirkan sesuatu dan sengaja tak ia ungkapkan pada Ben. Sebaliknya, Ben malah mengutarakan pendapatnya tentang Bulan.
"Saya rasa, nona Bulan bukan wanita yang buruk, Tuan. Wajahnya terlihat sangat pucat dan menyedihkan. Sepertinya, yang paling dirugikan dalam kejadian malam itu adalah dia. Jika saya jadi nona Bulan, saya akan meminta Tuan menikahi saya. Tapi nyatanya, nona Bulan malah terus menghindari Tuan. Ada bekas luka ditangannya, dugaan saya ... mungkin nona Bulan mencoba bunuh diri. Saya akan cari tahu apa yang terjadi sebenarnya, mohon Tuan jangan terus menyalahkan nona Bulan karena belum tentu, dia yang bersalah. Permisi Tuan," ujar Ben dan langsung pergi meninggalkan Raja dalam diam.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***