
Lama juga Raja menunggui Bulan menangis dan membiarkan gadis itu mengeluarkan seluruh amarah yang terpendam dalam hatinya. Selama ini, Raja hidup dengan sempurna dan tak punya kekurangan apa-apa. Popularitasnya, ketenarannya, ketampanannya yang membuat ia dipuja-puja kaum hawa serta banyaknya penghargaan yang ia peroleh sebagai artis ternama, membuat Raja serasa bagai hidup di surga. Ia tak butuh apapun lagi di dunia ini sampai akhirnya, ia bertemu dengan Bulan dengan cara yang tak Raja inginkan.
Melihat gadis malang ini, hati nurani Raja serasa tergerak dengan sendirinya. Ia juga merasa aneh saat mengetahui hidup Bulan sangat berbanding terbalik dengan hidupnya. Tidak ada kebahagiaan di wajah Bulan.
Bahkan Raja tak pernah melihat Bulan tersenyum. Hanya ada kepedihan di raut wajah cantik Bulan. Dalam hati Raja, timbul suatu perasaan ingin melindungi gadis ini, gadis yang sempat ia benci karena menganggap Bulan sama saja seperti para wanita penggoda pada umumnya.
Namun, kini pandangan Raja tentang Bulan berubah, Bulan sangat baik dan ia berbeda dengan para wanita yang pernah ia jumpa. Bahkan Raja tak pernah menemukan seorang putri mengenaskan seperti Bulan.
Setelah Bulan agak tenang, Raja melepaskan pelukannya dan membukakan makanan yang ia bawa. Saat mencium aroma makanan tersebut, Bulan langsung merasa mual dan ia berlari ke kamar mandi untuk muntah. Raja jadi bingung melihat Bulan seperti itu. Iapun mengikuti Bulan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengetahui keadaan Bulan.
"Berhenti di situ! Jangan masuk! Hueeeek!" pinta Bulan karena malu bila harus dilihat Raja dalam keadaan berantakan begini.
"Apa setiap hari kau seperti ini? Bagaimana rasanya? Sakit?" tanya Raja cemas.
"Tidak apa-apa, kata dokter hal ini memang terjadi padaku," terang Bulan setelah ia merasa lebih baik. Perutnya serasa sangat lapar dan Bulan ingin sekali makan-makanan yang pedas. Ia keluar dari kamar mandi diikuti Raja dari belakang. Gadis itu terduduk lunglai dibawah ranjang.
"Kau ingin makanan yang lain? Aku bisa carikan, aku sudah menyuruh Ben tapi entah kenapa ia lama sekali?" Raja mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya. "Ben! Kau ada di mana? Kenapa lama sekali?" tanya Raja kesal tapi ia tak bisa bersuara kencang.
"Tidak ada toko buah yang menjual mangga muda, Tuan. Ini saya sedang berkeliling kota, harap bersabar," jawab Ben sambil celingak celinguk kesana kemari. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mulai menyusuri ruko penjual buah yang buka, tapi tak ada satupun yang menjual buah mangga muda di sini.
"Ini sudah hampir pagi, sampai kapan kau mau berkeliling? Cepat dapatkan mangga muda itu bagaimanapun caranya, ambil dari pohon tetangga atau entah siapa. Terserah! Pokoknya aku mau mangga muda itu sekarang juga, jika kau tak kembali dalam waktu satu jam, maka kaulah yang akan kujadikan rujak!" celetuk Raja seenaknya dan itu membuat Ben mendapatkan akal.
__ADS_1
"Baik, akan saya dapatkan segera!" Ben menutup panggilannya dan segera bergegas kembali ke mobilnya. "Yang hamil siapa, yang ngidam siapa? Dan yang repot siapa? Sebenarnya yang mau punya anak ini siapa, sih?" gumam Ben sambil menutup pintu mobil dengan kencang lalu menyalakan mesin mobilnya menuju ke suatu tempat di mana ada mangga yang bisa ia dapatkan.
"Kau kejam sekali dengan asistenmu?" tanya Bulan.
"Ini namanya tegas, bukan kejam," sanggah Raja.
"Suruh asistenmu kembali, aku sudah tak ingin mangga muda lagi, aku akan habiskan makanan yang kau bawa ini. Sayang kalau tidak dimakan, sepertinya enak." Bulan mulai memakan makanan yang Raja bawa dengan lahap.
Sedangkan Raja jadi bingung melihat perubahan keinginan Bulan. Tadi katanya nggak mau makanan yang Raja bawa dan minta mangga muda, sekarang nggak mau mangga muda dan malah makan makanan yang dibawa Raja.
Apa semua wanita hamil itu seperti itu? batin Raja. Ia menghubungi Ben untuk kembali datang menjemputnya kemari. Namun sayang, Ben kehabisan baterei sehingga asisten Raja itu tak bisa lagi dihubungi.
Gadis itu tertidur dan terlihat sangat lelah. Raja membantu mengusap bibir Bulan yang belepotan makanan, lalu mengangkat tubuh Bulan dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Raja membantu menyelimuti tubuh Bulan dan tanpa sengaja, gadis itu memeluk tangan Raja sehingga si artis tak bisa bangun berdiri.
"Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak. Besok aku akan datang menjemputmu, kau akan jadi pengantinku, bukan pengantin siapapun. Bersiap-siaplah, Bulan. Kau akan jadi pengantin Raja." Raja mencium kening Bulan dengan lembut dan menarik lengannya pelan-pelan lalu pergi meninggalkan Bulan yang tertidur lelap tanpa mimpi.
***
Bila Raja sudah pulang kerumahnya dengan memanggil pengawal lain untuk menjemputnya, maka lain halnya dengan Ben yang masih sibuk mencari mangga muda tanpa tahu tuannya sudah tak menginginkan mangga muda lagi. Pria yang selalu memakai jas hitam itu memasuki kompleks perumahan elit di mana ia pernah melihat ada pohon mangga tumbuh lebat di halaman depan salah satu rumah di kompleks ini. Ini semua idenya Raja yang tadi asal jeplak sehingga Ben bermaksud mengambil mangga muda dari pohonnya setelah meminta izin pada pemiliknya nanti.
Benar saja, tak berselang lama, Ben menemukan pohon mangga sedang berbuah lebat tumbuh di depan rumah besar yang indah dan agak familiar bagi Ben. Tanpa ragu, Ben keluar mobil dan masuk ke dalam rumah tersebut untuk minta izin pada sang pemilik rumah agar diizinkan memetik beberapa mangga muda yang bergelantungan dipohonnya. Dan betapa terkejutnya Ben karena rumah yang didatanginya adalah rumah Kiran, mantan calon istri tuannya.
__ADS_1
"Kau!" seru Kinan terkejut setelah ia membuka pintu dan yang datang adalah asisten Raja.
Waduh, jadi ini rumah Kiran? Pantas aku merasa pernah datang kemari. Gawat, kenapa aku bodoh sekali, pergi sajalah, batin Ben.
"Maaf Nona. Saya salah alamat, permisi." Ben hendak balik badan tapi dicegah oleh Kiran.
"Memangnya kau sedang cari siapa?" tanya gadis itu.
"Rumah penjual mangga, aku lihat ada banyak mangga di depan rumah anda. Aku kira rumah ini milik penjual mangga dan aku ingin membelinya. Tapi ternyata bukan. Permisi," ujar Ben pintar juga ngelesnya.
"Mangga-mangga itu kan belum ada yang matang dan masih mentah? Untuk apa kau makan mangga muda? Seperti orang hamil saja," celetuk Kiran kepo dan nyatanya benar, mangga muda yang dicari Ben memang untuk wanita hamil.
Ben tak mau menyahut dan langsung nyelonong pergi begitu saja. Namun, hal itu malah membuat Kiran curiga dan mengikutinya. Ia menyambar kunci mobilnya dan mengikut mobil Ben dari belakang.
Kecurigaan Kiran semakin menguat kala Ben berhenti di depan rumah kosong yang ada pohon mangganya. Pria itu keluar dari dalam mobil dan memanjat pohon mangga tersebut mirip seperti kukang. Ben mengambil beberapa buah mangga muda segar dan turun ke bawah. Ia bergegas memasukkan mangga-mangga menggiurkan lidah itu tanpa tahu sudah ada Kiran dibelakangnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau mencuri mangga?" tanya Kiran dan otomatis langsung mengagetkan Ben hingga pria itu hampir jantungan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1