
Ben masih merintih kesakitan karena kakinya terasa sakit habis diinjak Kiran. Ia bahkan berjalan pincang saat hendak kembali pulang ke rumah Raja. Tadinya Ben sudah standby di bawah rumah Bulan bermaksud memberikan buah mangga muda yang diminta tuannya untuk Bulan.
Namun, saat Ben datang ke rumah yang ia sewa, ia sudah tak mendapati Raja baik di rumah sewaannya atau di kamar Bulan. Raja sudah tidak ada di sini lagi. Ben menyimpulkan mungkin tuannya sudah pulang duluan. Ben mengisi baterainya yang habis agar bisa ia gunakan menelepon Raja dan sang artis langsung meminta Ben segera menyusulnya pulang ke rumah.
"Lalu ... bagaimana dengan mangganya, Tuan? Ini sudah saya bawakan," tanya Ben saat bicara dengan Raja melalui sambungan telepon.
"Bulan sudah tak menginginkannya. Ia sedang tidur pulas. Kasihkan saja mangga itu pada wanita hamil lainnya dan cepatlah kemari! Bantu aku bersiap-siap!" teriak Raja kesal sambil menutup sambungan teleponnya.
Ben sendiri tak kalah kesal, sudah susah payah manjat pohon mangga orang lain, dituduh mencuri dan terpaksa harus berakting jadi suami mantan wanita yang dijodohkan dengan tuannya, eh ternyata mangga mudanya tidak jadi di makan. Sungguh ini namanya bagai mencincang air. Melakukan suatu pekerjaan yang sia-sia dan sebagai bawahan, Ben harus menerimanya tanpa bisa protes.
"Lalu, harus kuapakan mangga ini?" geram Ben memandangi beberapa mangga muda yang ada ditangannya.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu hal yang harus ia lakukan detik ini juga. Pria ber jas hitam itu bangun berdiri dan memutuskan kembali ke rumah Kiran dan bukannya ke rumah Raja. Ia memencet tombol dan Kiran langsung membukakan pintu untuknya.
"Untuk apa kau datang lagi kemari?" tanya Kiran bingung dan merasa aneh, apalagi wajah Ben terlihat kusut bagai benang kusut.
"Maaf untuk kejadian tadi, dan ini ..." Ben menyerahkan mangga muda yang tadi ia petik. Ia sengaja memberikannya pada Kiran.
__ADS_1
"Kenapa kau berikan mangga itu untukku? Bukannya itu untuk kekasih gelap tuanmu?" sindir Kiran. Gadis itu bersandar di pinggir pintu masuk.
"Mangga ini bukan untuk kekasih tuan Raja. Tapi ini untukmu, ambillah, kali aja kau yang ngidam. Permisi!" Ben meletakkan mangga-mangga muda tak berdosa itu tepat di bawah kaki Kiran dan langsung nyelonong pergi begitu saja.
"Dasar nggak waras! Kau pikir aku wanita apaan, ha? Kau datang hanya untuk membuatku kesal!" teriak Kiran sambil melempari Ben sandal.
Untungnya, Ben sudah masuk ke dalam mobil dan langsung melesat pergi tanpa menggubris teriakan Kiran. Semakin emosilah model cantik itu melihat betapa sombong dan angkuhnya Ben padanya.
"Aku pasti sudah gila jika aku menyukai bau parfumnya, haiisssh ... menyebalkan sekali orang itu!" geram Kiran bertingkah seolah sedang kepanasan. Napasnya juga naik turun gara-gara melihat tingkah Ben yang membuatnya kesal tujuh turunan.
***
Namun, Raja adalah pria yang di didik untuk bertanggungjawab penuh atas apa yang sudah ia perbuat dalam bentuk apapun. Artinya, Raja siap menikahi Bulan hari ini juga tanpa memberitahu keluarganya terlebih dulu. Ia bahkan membatalkan semua acara keartisannya dan ambil cuti sehari. Tentu saja yang mengatur semua itu adalah Ben, asisten kepercayaan Raja yang selalu bisa diandalkan.
Bel rumah Raja berbunyi saat sang artis sedang sibuk mengancingkan lengan jas hitamnya. Karena Ben masih sibuk di luar, akhirnya Raja sendiri yang membukakan pintu rumahnya. Raja pikir yang memencet bel adalah Ben yang baru kembali, tapi ternyata bukan. Si artis itu sangat terkejut ketika yang datang menemuinya pagi-pagi begini rupanya adalah nenek Raja sendiri.
"Nenek!" seru Raja sangat terkejut, tidak biasanya neneknya datang mendadak begini. Apalagi ini masih sangat pagi.
__ADS_1
"Kau mau pergi ke mana? Kok rapi sekali? Kayak mau nikah saja," komentar sang nenek yang langsung masuk ke dalam rumah cucunya. "Ada apa dengan rumahmu? Kenapa ada banyak bunga dan juga balon? Apa ada yang ulang tahun? Siapa? Yang pasti bukan kau karena ulang tahunmu sudah lewat begitupula dengan Ben." nenek Raja mulai menginterogasi dan membuat Raja harus memutar otak mencari alasan tepat jangan sampai neneknya ini tahu kalau ia akan menculik pengantin orang lain.
"Hari ini ada pemotretan Nek, ini tema pemotretannya, sebaiknya nenek pergi saja karena hari ini aku sangat sibuk. Aku janji, besok aku akan menemui nenek di rumah." rupanya Raja juga pintar cari alasan sama seperti Ben.
"Oh, iya? Tapi tadi manajermu bilang kau sedang ambil cuti sekarang?" tanya nenek mulai curiga dan membuat Raja jadi bingung harus berkata apalagi.
Belum juga Raja menjawab, tiba-tiba saja Ben nyelonong masuk begitu saja sambil mengatakan kalimat yang sangat mencengangkan. "Tuan raja, mobil sudah siap, kita harus segera berangkat! Jangan sampai terlambat karena nona Bulan sudah hendak dinikahkan. Saya akan menculik pria tua cacat itu dan andalah yang akan mengg ..." Ben berhenti bicara karena ia baru sadar ada nenek Raja berdiri disamping tuannya.
Dari luar, tadi nenek Raja tak terlihat, makanya Ben berani bicara seperti itu tanpa tahu kalau ada orang lain diruangan ini selain Raja. Sedangkan Raja sendiri hanya menutup wajahnya dengan satu tangan karena rahasia besarnya telah terbongkar dihadapan sang nenek tercinta yang sejak tadi tak bisa mengedipkan mata saking shocknya mendengar ucapan Ben.
"Nyo-nyonya besar ..." ujar Ben gugup bercampur grogi. Sepertinya, ia telah melakukan kesalahan besar.
"Kau bilang apa tadi? Menculik pengantin pria yang hendak menikah dan kau meminta cucuku menggantikan pria tua cacat yang kau culik? Dan ... siapa nama pengantin wanitanya, tadi? Bulan? Bulan yang waktu itu? Yang menolak kujodohkan dengan Raja?" tanya nenek Bulan hampir tidak percaya.
"Nenek dengarkan aku," Raja mau menjelaskan, tapi neneknya memberi kode tanda tak ingin dengar apapun dari Raja. Sebaliknya, sang nenek menatap mata Ben dengan tatapan menakutkan. "Jelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya Ben, jika tidak, kau dan seluruh keluargamu akan kupecat!" ancam nenek Raja dan Ben sama sekali tak punya pilihan lain.
Ben menatap Raja yang juga terkejut, asisten sok cool itu hanya bisa menelan ludah mendengar ancaman dari nyonya besarnya. Tak ada yang bisa dilakukan Ben selain menuruti permintaan nenek Raja untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Raja dan Bulan tanpa ada yang harus ditutupi. Lagipula, nenek Raja memang wajib tahu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***