Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
episode 55 Tegang


__ADS_3

Rupanya, Bulan sengaja di bawa ke sebuah pesta kecil yang diadakan oleh rekan-rekan ibu Raja. Maklum, mertua Bulan ini termasuk wanita sosialita dengan gaya hidup yang wah, kesehariannya hanya menghabiskan uang suaminya untuk bersenang-senang meski tak sedikit juga uang yang ia gunakan untuk beramal. Namun, itu semua hanya bentuk pencitraan, sebagai ajang pamer yang bisa ia umbar pada teman sosialitanya.


Rekan-rekan mertua Bulan sudah tidak kaget lagi dengan tabiat Jenny yang suka pamer ini itu. Mereka semua justru mendukung tanpa syarat apapun tindakan Jenny demi gaya sosialitanya yang tinggi. Ia sangat gemar sekali datang ke sebuah pesta terutama pesta kaum para borjuis di kota ini seperti yang dilakukannya sekarang.


Namun, ada yang berbeda dengan kedatangan Jenny ke sebuah pesta dengan mengajak Bulan bersamanya. Kali ini, ia tak ingin pamer apapun, tapi sebaliknya … ia seperti mempunyai rencana lain untuk Bulan yang pastinya itu bukan sesuatu hal baik.


Apa rencana ibu mertuaku kali ini? Batin Bulan saat ia diajak masuk ke sebuah hotel mewah di kota tempat Bulan tinggal sekarang.


Ibu mertuanya ini sengaja tidak bilang kalau ia akan mengajak menantunya pergi ke suatu acara pesta. Untunglah, Raja membelikan banyak pakaian bagus dan bermerk untuk Bulan sehingga ia tak terlalu malu akan penampilannya bila diajak ke tempat yang menurut Bulan bukanlah kelasnya.


Lebih beruntung lagi, wajah Bulan diberkahi dengan kecantikan alami sehingga meski tak banyak memakai make up, wajah Bulan terlihat berseri. Bulan mengamati semua orang-orang yang hadir di sini dan agak minder sendiri melihat penampilan mereka semua. Sekuat apapun Bulan bertahan, ia tetap merasa tak bisa dibandingkan dengan orang-orang berkelas yang ada di hotel mewah ini.


Firasat Bulan sudah mulai buruk sekarang, ia yakin mertuanya mencoba membuatnya kena mental di tempat seperti ini dan Bulan harus mulai bersiap siaga menghadapi segala cobaan yang ada dan akan menimpanya.


Kau kuat Bulan, kau pasti bisa, batin Bulan menyemangati dirinya sendiri.


Benar dugaan Bulan, ibu mertuanya tidak mengakuinya sebagai menantu dihadapan semua rekan-rekannya. Sebaliknya, ibu mertuanya malah mengkalim Bulan sebagai anak kenalannya dan tak sengaja mengajaknya kemari. Bulan sih tidak berkecil hati atas pengakuan Jenny karena ia sendirilah yang minta kalau pernikahannya dengan Raja disembunyikan sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Hal itu karena Bulan tak ingin menghancurkan karir suaminya serta ingin hidup tenang dan damai sebagai orang biasa dan bukannya istri dari seorang artis ternama.


“Eh, Jeng … ini anaknya si itu ya … yang dulu hamil di luar nikah?” tanya salah satu rekan mertua Bulan. Wanita paruh baya itu bagai emas berjalan karena hampir disekujur tubuhnya ditempeli banyak sekali perhiasan.


“Udah deh, nggak usah sebut merek, ya?” ujar Jenny sambil mengejek Bulan serta penampilannya yang terkesan biasa-biasa saja.


Tak ingin mendengar ghibahan tak berarti dari rekan-rekan dan ibu mertua Bulan, istri Raja itu memutuskan pergi dari kumpulan mereka. Tapi, salah satu lengannya di gait oleh seorang wanita yang tiba-tiba saja hadir di depannya. Sontak Bulan sangat terkejut karena wanita itu adalah mantan wanita yang dulu sempat dijodohkan dengan suaminya. Wanita itu, siapa lagi kalau bukan Kiran.

__ADS_1


“Nonaa ….”


“Sssstt, jangan kabur seperti pengecut saat kau menghadapi emak-emak rempong itu.” Kiran menatap tajam mata Bulan. Entah bagaimana bisa wanita cantik ini juga hadis di hotel mewah begini.


“Aku tidak kabur, aku hanya tak mau mendengar apa yang tak ingin kudengar.” Bulan membela diri karena ia tak punya niat jadi pengecut. Sampai detik ini, ia hanya ingin menjaga nama baik suaminya dengan tidak menimbulkan masalah yang bisa merusak citra baik Raja.


“Kau jangan bodoh, mereka akan terus memperlakukanmu seperti ini jika kau diam saja. Huh, aku juga sebal dengan para emak-emak itu. Aku ingin sekali memberi mereka pelajaran. Pesta ini jadi membosankan gara-gara kehadiran mereka. Kau mau bermain denganku?”


“Bermain apa?” tanya Bulan tidak mengerti.


Wanita yang dulu Bulan kira adalah wanita jahat dan garang, kini tampak keren dan bisa menunjukkan sisi baiknya. Entah ada angin apa sehingga Kiran jadi baik sekali pada Bulan sekarang.


“Sudah, ikut saja.” Kiran tersenyum licik dan menggamit tangan Bulan untuk mendekat kekerumunan para emak-emak sosialita itu.


“Haloooo, tante tante yang cantik cantik dan imut …,” sapa Kiran dengan gaya khas centilnya.


Tentu saja kumpulan emak-emak itu langsung keki ketika Kiran memanggil mereka dengan sebutan ‘tante-tante’.


“Eh, siapa namamu? Aku lupa,” bisik Kiran ditelinga Bulan.


“Bulan,” jawab Bulan singkat dan masih bingung sendiri.


“Ohoho … kenalin nih, Tan … ini teman Kiran sewaktu kuliah di Harvard. Dia pinter kan, emang sih anaknya kelihatan pendiam dan cupu banget, tapi dia luar biasa loh.” Kiran sengaja mengelu-elukan Bulan di depan para emak-emak rempong ini tanpa peduli ada tatapan aneh Bulan.

__ADS_1


“Anak-anak Tante mana ada yang kuliah di Harvard? Itu universitas gak gampang bisa ditembus loh. Karena yang bisa masuk ke sana cuma orang-orang yang IQ nya tinggi, nggak rendahan kayak kalian semua yang hanya bisa ghibahin kekurangan orang lain aja, makanya anak-anak Tante pada nggak ada yang bisa masuk ke sana. Iya kan … hehehe ….” ujar Kiran cos pleng dan bisa dikatakan nyelekit banget kalau menyindir para kumpulan ibui-ibu sosialita ini.


“Eh Kiran, jaga itu mulut kamu, ya? Jangan mentang-mentang kamu anaknya direktur hotel ini terus bisa seenaknya ngomong ke kita-kita. Siapa yang kau panggil Tan, ha? Tan tan, Tan tan, memangnya kami ini setan apa?” teriak salah satu wanita emas berjalan mulai marah dan tak terima dengan ucapan Kiran yang memang terang-terangan meledek dan menyindir mereka semua.


“Lah, emang Tante nggak punya kaca di rumah? Setan beneran aja takut lho Tan, sama Tante. Ngga nyadar ya?” tantang Kiran sama sekali tak takut dengan ibu-ibu satu ini.


“Eh dasar anak kurang ajar!” ibu-ibu emas berjalan itu melayangkan tangannya dan hendak menampar wajah Kiran di hadapan banyak orang. Tapi dengan cepat Bulan yang ada di samping Kiran langsung menghalau tangan rekan mertuanya karena hendak menyakiti Kiran.


“Jangan main kekerasan Nyonya,” ujar Bulan dan menatap tajam wanita yang hendak menggampar wajah Kiran.


“Iih … lepasin, nggak! Jijiik aku tanganku kau sentuh!” gidik ibu-ibu sombong itu.


Bulanpun juga tak ingi memegang tangan wanita yang tak punya etika dan moral lama-lama. Ia menepis kasar lengan ibu emas berjalan itu sehingga semakin marahlah wanita paruh baya tersebut.


“Kalian berdua I ni benar-benar nggak bermoral! Berani sekali melawan orangtua! Kalian mesti dikasih pelajaran supaya tahu gimana caranya sopan sama orang!” bentaknya kesal dan …


Plak!


Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi kiri Bulan dan orang yang menampar istri Raja, siapa lagi kalau bukan Jenny, mertua Bulan sendiri.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2