Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 36 Pernikahan


__ADS_3

Ben sudah tidak punya pilihan ketika nenek tuannya memberikan ancaman yang menakutkan. Raja sendiri tak bisa berkutik dihadapan sang nenek. Berulang kali sang artis mencoba menjelaskan, tapi neneknya tidak mau dengar apapun dari Raja. Kenzie tetap ingin Ben sendiri yang menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini.


Di sisi lain, Ben dan Raja terbentur dengan waktu, mereka berdua tidak bisa lama-lama ada di sini dan harus pergi ke tempat Bulan akan dinikahkan secepat mungkin. Tanpa ragu, Ben akhirnya terpaksa menceritakan semua yang terjadi di mulai dari pertemuan Raja dengan Bulan. Tak lupa Ben juga menjelaskan alasan kenapa Bulan menolak perjodohan yang dilakukan nenek Raja kala itu. Sebab, Bulan tak ingin dituding yang bukan-bukan oleh Raja sekalipun sang artis sudah menodainya. Tak ketinggalan pula, Ben juga memberitahu kalau sebentar lagi, sang nenek bakal punya cicit pertama di keluarganya.


"Nona Bulan terpaksa memilih menikah dengan pria tua cacat pilihan keluarganya ketimbang meminta pertanggungjawaban dari tuan Raja, Nyonya. Sebab, ia tak ingin menjadi beban hidup Tuan sebagai seorang artis ternama. Nona Bulan tidak ingin karir tuan Raja hancur hanya karena keberadaan dirinya dan bayinya," terang Ben agak dilebih-lebihkan sehingga membuat darah nenek Raja langsung mendidih.


Mata sang Nenek menatap tajam cucunya yang berdiri kikuk tanpa bisa berkata-kata. Raja agak kesal dengan Ben yang seolah menuduhnya tak peduli pada Bulan, padahal ia rela manjat pagar agar bisa bertemu dengan wanita yang tengah mengandung anaknya. Namun, Raja langsung ciut ketika melihat ada kilatan kemarahan besar di mata neneknya.


"Beraninya kau ..." geram Kenzie ketika menatap wajah menjengkelkan Raja.


"Ne-nenek ... biar kujelaskan, aku tak sebejaat itu, Nek. Semua ini gara-gara perjodohan yang ayah atur untukku, kalau saja waktu itu aku dan Bulan tak meminum obat perangsang ... hal seperti ini takkan terjadi, Nek ... percayalah ... Jangan benci Bulan, Nek. Dia tidak bersalah! Salahkan saja, Ayah!" Raja mencoba menenangkan amarah neneknya.


"Dasar bocah tengik!" Nenek Raja langsung memukuli Raja bertubi-tubi dengan tas yang ia bawa.


Raja kewalahan menghadapi amukan neneknya, tapi ia juga tak berani melawan. Ben bertindak cepat dengan melindungi tuannya, menjadikan tubuh Ben sebagai tameng agar Raja tak kena pukulan nenek.


"Tolong hentikan, Nyonya, tuan Raja tidak boleh terluka. Kami harus segera pergi dari sini!" sergah Ben memohon pada nenek Raja untuk berhenti memukuli cucunya. Sungguh asisten yang sangat setia pada tuannya dan langka.


"Baik!" ujar nenek Raja sambil menahan emosi. "Kalian semua yang diluar! Kemarilah!" Nenek Raja memanggil semua pengawal-pengawalnya. Dan tanpa menunggu waktu lama, mereka semua masuk ke dalam dan berjajar rapi di belakangnya. "Kurung dua pria ini di dalam kamar dan jangan biarkan mereka keluar sampai aku kembali!" perintah sang nenek dengan lantang lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Raja dan Ben dengan wajah tercengang-cengang.


"Tidak! Nenek! Apa yang Nenek lakukan! Jangan kurung aku di sini! Aku sudah terlambat, Nek!" teriak Raja dengan kencang dan hendak menyusul kepergian neneknya.

__ADS_1


Tapi tubuh Raja dihadang oleh para pengawal Kenzie yang bertubuh besar dan kekar ala Ade Rai dan Dedy Corbuzer. Sehebat apapun Ben dan Raja dalam bela diri, tetap saja tubuh mereka berdua kalah besar dengan para pengawal kepercayaan Kenzie.


"Gawat! Bagaimana ini, Ben?" tanya Raja mulai panik. Ia sudah tak punya waktu lagi. Bagaimanapun caranya, ia harus pergi ke rumah Bulan.


Saat ini, pasti Bulan sudah mau dinikahkan dengan pria tua cacat pilihan keluarganya. Ben sendiri juga tak tahu harus bagaimana. Tubuh para pengawal ini sangat besar seperti monster. Satu kali gerakan saja, sudah bisa dipastikan kalau seluruh tulang-tulang Ben bakal remuk redam.


"Arrggggghhh!" Raja berteriak kencang sampai suaranya terdengar menggelegar dari luar. Bahkan sang nenek bisa mendengar suara teriakan cucunya.


Sayangnya, Kenzie tidak peduli, ia masuk ke dalam mobil limosinnya dengan santai dan tenang. "Antar aku ke rumah gadis bernama Bulan. Gunakan kecepatan tinggi agar kita bisa lekas sampai ke sana! Aku tak ingin terlambat menghadiri pernikahannya," pinta nenek Raja sambil tersenyum simpul.


"Baik, Nyonya." Sang sopir langsung melaksanakan perintah majikannya.


***


Sedangkan Bulan jangan ditanya, sejak ia terjaga, Bulan terus saja menangis karena sesungguhnya ia tak ingin menikah dengan pria tua itu. Masih teringat jelas diingatan Bulan tentang pelukan Raja yang bisa menenteramkan hati dan jiwanya, sampai Bulan tak sadar kalau ia langsung tertidur nyenyak di bahu Raja.


Padahal sebelumnya, Bulan sangat kesulitan memejamkan mata. Namun sayang seribu sayang, ketika ia bangun, Raja sudah tidak ada disisinya, seolah kehadiran Raja bagai mimpi belaka. Sebagai gantinya, para periaslah yang datang dan meminta Bulan untuk bersiap-siap jadi pengantin.


"Baiklah, kita langsung mulai saja acara ijab kabulnya," ujar penghulu yang akan menikahkan Bulan.


Tangis Bulan langsung pecah, tapi ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang terus saja tak mau berhenti mengalir. Ia berharap pernikahan ini batal meski Bulan tahu jelas itu tidak mungkin terjadi.

__ADS_1


Namun, belum juga penghulu tersebut buka suara, tiba-tiba saja Bulan merasa mual yang amat sangat sampai ia tak bisa menahannya lagi. Iapun tanpa sengaja muntah tepat di depan penghulu yang pada saat itu sedang menjabat tangan pria yang akan menjadi suami Bulan.


"Huek! Huek!" Bulan kembali muntah dan membuat penghulu itu tertegun. Bagaimana tidak? Sebab muntahan Bulan mengenai tangan dan wajah serta seluruh baju penghulu itu sendiri.


Beberapa orang mencoba membantu mengelap tangan penghulu yang terkena muntahan Bulan. Begitu sang penghulu sadar, iapun berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan calon suami Bulan jangan di tanya, Ia langsung naik pitam, begitu menyadari apa yang terjadi pada Bulan.


"Siapa yang melakukannya?" tanya pria tua cacat itu pada Bulan dengan nada suara bergetar karena marah.


Sebagai orang yang sudah berumur, tentu ia tahu apa yang dialami Bulan saat ini hanya dengan sekali lihat. Gadis malang itu panik dan hanya menangis tanpa bisa menjawab.


"Katakan! Anak siapa yang kau kandung?" teriak pria tua itu lagi karena Bulan tak kunjung bicara.


Sontak semua orang langsung tercengang mendengar teriakan pria tua cacat itu pada Bulan, tak terkecuali ayah Bulan. Mereka mengira kalau si pria tua cacat itu salah bicara.


"Apa yang anda katakan ini Tuan? Apa maksudnya ..." tanya Mark selaku ayah Bulan. Ia bingung begitupula dengan yang lainnya.


"Apa kau tidak sadar Tuan Mark? Anakmu ini sedang hamil? Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Pertanyaanku adalah ... anak siapa itu? Yang jelas itu bukan anakku!" teriak pria tua itu tak terima. Gadis yang hendak ia nikahi ternyata telah mengandung anak orang lain.


"A-apa?" Mata ayah Bulan melotot seolah hampir melompat keluar saking terkejutnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2