
Kiran masih belum bisa percaya pada apa yang ia lihat di depan mata kepalanya. Seorang asisten kepercayaan Raja yang terkenal sok cool dan angkuh, berani mencuri mangga milik orang lain malam-malam. Benar-benar luar biasa dan sungguh perbuatan yang tak terduga.
Alih-alih merekam perbuatan tak terpuji yang dilakukan Ben saat mencuri mangga di rumah orang lain, Kiran malah penasaran, untuk siapakah mangga muda itu? Harusnya ini kesempatannya untuk balas dendam pada Ben atas ancamannya kala itu. Namun, hati Kiran tak ingin melakukannya. Ia justru sangat ingin tahu siapakah orang yang membuat Ben rela melakukan aksi nekat itu.
Ben sendiri juga tidak menyangka kalau Kiran mengikutinya sampai sejauh ini. Sudah terlanjur kepalang basah, Ben harus memutar otak untuk mencari alasan agar Kiran tidak curiga untuk siapa mangga ini akan ia diberikan. Tidak mungkin Ben mengatakan yang sebenarnya pada gadis ini hanya agar terhindar dari kesalahpahaman yang Kiran pikirkan tentangnya.
"Saya tidak mencuri, Nona." Ben mencoba bersikap tenang setenang permukaan air kolam meski dalam hatinya sedang was-was. "Terserah anda mau percaya atau tidak. Rumah ini kosong dan tidak ada pemiliknya, jadi ya terpaksa saya ambil beberapa mangga. Nanti kalau pemiliknya datang, juga pasti akan saya bayar." Ben membela diri dan untungnya ia pintar sekali cari alasan.
Jelas Kiran takkan mudah percaya begitu saja dan ia masih kepo akan diberikan kepada siapa mangga muda itu sehingga Ben harus rela repot-repot mendapatkan mangga muda di tengah malam begini bahkan sampai nekat mencuri mangga orang lain pula. Kalau untuk dimakan Ben sendiri rasanya itu tidak mungkin, siapa yang doyan mangga mentah karena rasanya pasti sangat masam kecuali orang lagi ngidam. Masa Ben lagi ngidam?
Pikiran Kiran sudah mulai merambat kemana-mana dan mengira, jangan-jangan mangga muda itu untuk kekasih gelap Ben. Sebab, yang Kiran tahu, Ben sama seperti tuannya, masih lajang dan belum menikah. Bahkan kekasihpun Ben juga tidak punya. Beda dengan Raja yang setahu Kiran mengakui gadis pelayan hotel sebagai kekasihnya bahkan tengah hamil anaknya.
"Tunggu!" tiba-tiba Kiran teringat sesuatu, "Apa ... mangga itu untuk kekasih Raja yang lagi hamil? Pelayan hotel itu, kan? Jadi beneran dia hami? Raja tidak bohong padaku saat ia mengatakan wanita pelayan itu hamil? Benar, kan?" tebak Kiran meski tebakannya belum sepenuhnya tepat.
Sebenarnya, waktu itu Bulan masih belum hamil. Raja hanya bersandiwara agar Kiran menolak perjodohan mereka. Eh, nggak tahunya omongan Raja kini telah menjadi nyata. Benar apa kata orang yang mengatakan bahwa ucapan adalah doa. Apa yang dulu pernah diucapkan Raja benar-benar terjadi. Bulan kini tengah hamil anaknya.
__ADS_1
Ben tertegun, ia tidak menyangka Kiran bisa tahu. Namun, Ben tetap bersikap tenang seolah tebakan Kiran itu salah besar. Bisa gawat kalau si model cantik ini menyebarkan gosip yang tidak benar diluaran tentang majikannya. Iapun tak bisa mengancam Kiran lagi karena Ben sendiri kepergok mencuri mangga tetangga kompleksnya meski Kiran tak menyinggung soal itu.
Belum juga Ben buka suara untuk mengajak Kiran bekerja sama agar gosip Raja yang menghamili kekasihnya tidak tersebar luas, tiba-tiba sang pemilik rumah kosong ini datang dan langsung menghampiri Kiran dan Ben. Mungkin pemilik rumah tersebut bingung, kenapa bisa ada 2 orang di depan rumahnya disaat dirinya tidak ada.
"Apa yang kalian lakukan di depan rumahku malam-malam begini?" tanya sang pemilik rumah dan ia terkejut saat melihat Ben membawa buah mangga segar yang pastinya didapat dari pohon mangga miliknya. "Itu kan manggaku?" tanya pemilik itu dan membuat bingung Ben serta Kiran. Secara tidak langsung Kiran pasti juga jadi tertuduh. "Kalian mencuri manggaku?" tuduhnya.
"Ah, tidak Pak, bukan begitu ...."
"Bukan, Pak!" sela Ben cepat memotong kata-kata Kiran sebelum model itu buka suara lebih banyak lagi. "Bapak jangan salah paham, saya sudah mengetuk pintu rumah Bapak daritadi tapi tidak ada orang, sedangkan saya sangat butuh mangga muda ini, Pak. Istri saya lagi ngidam, iya kan Sayang?" Ben berakting mengakui Kiran sebagai istrinya dan mengkode Kiran agar mau bekerja sama dengannya.
Tentu saja Kiran terkejut dan hendak buka suara menolak tawaran Ben yang tidak tahu malu ini, tapi asisten Raja itu langsung memeluknya dengan erat sehingga Kiran tak jadi buka mulut.
"Tuh kan Sayang, apa aku bilang, pemilik rumahnya pasti nggak terima kalau aku harus manjat pohon dan metik mangga muda tanpa minta izin dulu. Kita kembalikan aja mangganya, ya? Semoga dedek bayinya nanti nggak ngences kalau dia lahir." lagi-lagi Ben berakting mengelus lembut perut rata Kiran tanpa izin dan membuat mata gadis itu melotot seolah ingin melompat keluar.
"Kau ini bicara apa, sih ...." Belum sempat Kiran menyelesaikan kalimatnya, Ben kembali memeluk Kiran seolah menenangkannya untuk mengikhlaskan mangga yang tak jadi ia dapat. Padahal aslinya Ben menghalangi Kiran agar ia tak bisa bersuara.
__ADS_1
"Oh gitu ... jadi mbaknya hamil, ya sudah kalau gitu, ambil aja mangganya. Kalau kurang mao metik lagi juga nggak apa-apa. Semoga bayinya sehat sampai lahiran nanti ya, Mbak. Saya masuk dulu," ujar sang pemilik Rumah yang langsung memahami kondisi pasangan muda mudi yang ia kira sebagai suami istri, padahal bukan.
"Terimakasih, Pak. Semoga Tuhan membalas kebaikan hati Bapak," ujar Ben sambil tersenyum tapi tubuhnya mendekap erat wajah Kiran di dada bidangnya. Model cantik itu sama sekali tak bisa berkutik karena Ben sangat kuat.
Tak ingin buang waktu dan mengganggu keromantisan Ben-Kiran, pemilik rumah memilih masuk ke dalam dan mengunci pintu. Kiran langsung menginjak kaki Ben dengan kencang agar pria itu melepas pelukannya dan menjauh darinya.
"Auch! Aduh duh duh ..." Ben mengerang kesakitan. Ia menatap marah pada Kiran karena injakan kaki gadis itu terasa sakit sekali.
"Sekali lagi kau menyentuhku tanpa izin, bukan cuma kakimu yang aku injak, seluruh tubuhmu bakal aku jadikan keset rumahku! Camkan itu! Dasar menyebalkan!" Kiran marah dan balik badan pergi meninggalkan Ben untuk kembali ke mobilnya sendiri.
Dengan kesal yang amat sangat, Kiran menyalakan mesin mobilnya dan pulang kembali ke rumah. Sejujurnya, gadis itu tak ingin wajahnya yang merah padam karena dipeluk Ben tiba-tiba dilihat oleh asisten Raja. Jantung Kiran benar-benar berdegup dengan kencang dan jadi sangat gugup sekali saat Ben memeluknya. Rasanya benar-benar ingin meledak, makanya ia buru-buru pergi dan meninggalkan Ben seolah ia sangat marah.
"Sadarlah Kiran, apa yang terjadi padamu? Dia itu hanya seorang asisten yang otaknya rada nggak waras. Kau tidak boleh menyukainya. Fokuslah Kiran! Astaga, kenapa dia tiba-tiba memelukku seperti itu? Bikin jantungan saja. Aku bahkan menyukai bau parfumnya, aduh ... bagaimana ini?" gumam Kiran sambil menyetir.
BERSAMBUNG
__ADS_1
****