Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 29 Perasaan Bulan


__ADS_3

Entah darimana Raja tahu tentang sosok calon suami Bulan yang sudah tua dan cacat. Yang jelas, hal itu tetap tidak mengubah keadaan. Sebagai gadis biasa, Bulan sadar diri dan sangat mengerti di mana posisinya. Ia juga bisa menerima keadaan nasibnya karena menjadi putri yang terbuang dikeluarganya. Takkan ada kebahagiaan dalam hidup Bulan sampai kapanpun. Seolah itu adalah kutukan untuknya.


"Tuan Raja ... aku rasa ... kau tahu kenapa aku tak bisa memintamu menikahiku. Dunia kita berbeda, kau terlalu jauh berada di atas langit, sedangkan aku ... aku hanya anak yang dianggap haram dimana keberadaannya tak diterima di bumi ini. Menikah denganmu, itu adalah hal yang mustahil dilakukan. Bahkan dalam mimpiku sekalipun.


"Kalaupun kita menikah, hidup yang akan kita jalani tidak akan mudah. Rasanya ... aku takkan sanggup menjalani kehidupan berbeda kita bersama. Aku tidak yakin kita bakal bahagia jika kau memaksakan diri menikah denganku. Namun, kau jangan khawatir, anak ini ... akan aku jaga dengan segenap hati dan jiwaku karena dia adalah hidupku sekarang. Aku tak punya siapa-siapa selain anak ini.


"Terimakasih sudah mau mengakui anak ini dan menerima kehadirannya. Tujuanku menemuimu, hanya ingin memberitahu tentang keberadaan anak ini. Aku tak menginginkan lebih dan aku juga tak menyalahkanmu. Aku janji akan merahasiakan ini semua dari orang lain supaya kau tetap bisa melanjutkan hidupmu dan aku tetap di jalanku. Aku yakin ... ini adalah yang terbaik untuk kita berdua." Mata Bulan berkaca-kaca saat mengatakan kalimat panjang lebar itu pada Raja.


Raja tertegun, yang dikatakan Bulan benar, tapi juga salah besar. Sepertinya, wanita cantik yang berdiri dihadapannya memang sudah mantap dengan keputusannya begitu pula dengan keputusan yang bakal diambil Raja.


Baru kali ini ... Raja bertemu dengan wanita yang benar-benar memiliki ketulusan hati luar biasa. Jika wanita lain, mereka akan menghalalkan berbagai macam cara agar bisa bersama dengan Raja dan tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Berbeda dengan Bulan yang terang-terangan menolak hidup bersamanya dan memilih menderita karena perbedaan strata diantara mereka.


Bahkan Raja sampai kehabisan kata-kata karena Bulan mempertimbangkan segala hal yang terjadi jika ia memaksa Bulan bersamanya. Jelas-jelas hati Bulan terluka, tapi ia bersikukuh menolak Raja. Seorang artis papan atas ditolak gadis biasa, itu adalah hal yang luar biasa.


"Kau yakin ... tak ingin aku bertanggungjawab atas anak ini?" tanya Raja sekali lagi berharap keputusan Bulan bisa berubah.


Bulan terdiam, air matanya terus jatuh mengalir membasahi pipi. Mungkin suatu hari nanti ia akan menyesali keputusan ini, tapi ... ia sudah tak sanggup menghadapi cobaan hidup yang lebih berat dari ini bila ia menerima Raja sebagai suaminya.


Keluarga Raja, para fans fanatik Raja, takkan bisa menerima siapa Bulan yang sekarang. Tak hanya Bulan yang akan menderita dan kecewa, anak yang dikandungnya, pasti akan mengalami hal sama seperti yang ia alami sekarang, yaitu menjadi anak terasingkan dikeluarganya sendiri. Tentulah Bulan tak menginginkan hal itu terjadi pada calon anaknya ini.

__ADS_1


"Aku yakin inilah yang terbaik untuk kita semua," jawab Bulan lirih dengan hati pedih serasa teriris-iris belati.


Raja menunduk dan menghormati segala keputusan yang Bulan ambil. Masalah ini memang sangat rumit dan sulit dicari jalan keluarnya. Raja sendiri tak bisa memaksakan kehendaknya pada Bulan karena yang dikatakan Bulan semua demi kebaikannya, bukan kebaikan Bulan.


"Ayo ... aku antar pulang," ajak Raja sambil membantu mengusap sisa bulir air mata Bulan. Ia tak ingin bicara lagi karena keputusan gadis itu sudah bulat dan takkan bisa diubah.


Raja meminta Ben yang menyetir, sementara ia duduk di belakang bersama dengan Bulan. Mata Raja tak pernah sedikitpun berpaling dari wajah sedih Bulan. Ingin rasanya ia memeluk gadis malang itu tapi tidak enak juga pada Ben. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara baik Raja ataupun Bulan. Wanita yang duduk di samping Raja hanya melihat pemandangan yang mereka lintasi. Sedangkan Raja terus saja menatap Bulan dalam diam.


"Berhenti di sini, Tuan Ben," pinta Bulan ketika mereka sudah memasuki komplek perumahan tempat tinggal Bulan.


"Tapi rumah anda masih jauh Nona," ujar Ben kurang setuju kalau harus berhenti di sini.


Ben menatap Raja melalui kaca spion dan tuannya itu menganggukkan kepalanya tanda Ben harus menuruti apapun keinginan Bulan. Melihat kode dari majikannya, Ben pun menurut. Ia menepikan mobilnya dipinggir jalan.


"Terimakasih sudah mengantarku, selamat tinggal, Tuan Raja." Bulan memaksakan diri tersenyum dan hendak meraih gagang pintu mobil untuk membukanya, tapi lengannya dicekal oleh Raja.


"Sampai ketemu lagi, semoga tidurmu nyenyak malam ini ... ehm ... sebelum kau keluar ... bolehkan aku ... me- ... ke- ... mengelus perutmu? Itupun jika kau tidak keberatan." Raja merasa aneh dan canggung saat mengucapkan kata itu pada Bulan. Bahkan mulut Ben saja langsung menganga lebar tak percaya majikannya bisa bicara seperti itu pada seorang wanita yang tengah hamil anaknya.


"Tentu." Bulan tak jadi membuka pintu dan meletakkan tangan Raja diperutnya karena Raja berhak juga merasakan kehadiran calon anaknya diperut Bulan.

__ADS_1


Ada perasan aneh langsung menyerang Bulan sehingga gadis itu ingin menjerit sekencang-kencangnya. Namun mati-matian ia tahan agar tangisnya tidak pecah di sini. Sentuhan tangan Raja yang lembut di atas perutnya membuat hati Bulan trenyuh. Ia yakin anaknya ini pasti senang karena ayahnya mengakuinya sebagai anak, tidak seperti dirinya yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah. Saking kerasnya Bulan berusaha, ia sampai menutup mulutnya dengan tangan dan memalingkan wajahnya dari Raja.


"Ben, alihkan spionmu dan tutup matamu! Pakai earphonemu juga!" pinta Raja dan Ben langsung melaksanakan perintah majikannya tanpa syarat.


Setelah memastikan asistennya tak bisa lihat atau dengar apapun, Raja memeluk tubuh Bulan dengan erat sehingga tangis gadis itupun pecah karena Bulan tak kuat lagi menahannya.


"Menangislah, jangan ditahan ... keluarkan seluruh rasa yang kau pendam. Berbagilah denganku," ujar Raja sambil mengeratkan pelukannya sehingga semakin kencanglah tangis Bulan.


Kenapa jadi begini? Kenapa aku jadi ragu lagi ... tidak Bulan ... kau jangan lemah. Kau tidak pantas untuk Raja. Dia itu artis ternama dan kau hanyalah anak buangan. Mana pantas kau bersanding dengannya. Hidupmu akan sulit jika kau memilih bersamanya, jerit Bulan dalam hati mengingatkan dirinya sendiri meski tak dapat dipungkiri, pelukan Raja serasa hangat dan menyenangkan.


"Aku harus pergi sekarang," isak Bulan dan ia langsung membuka gagang pintu lalu berlari keluar tanpa mau melihat wajah Raja.


Bukan karena bulan sangat membenci Raja, tapi jika ia terus bersama sang artis lebih lama, Bulan takut ia akan lepas kendali dan jadi egois untuk memiliki Raja. Gadis itu tidak ingin menambah masalah lagi dihidupnya. Ia hanya ingin hidup tenang bersama dengan calon anaknya walau Bulan tahu badai petir akan menyambarnya sebentar lagi bila seluruh keluarganya tahu dirinya tengah berbadan dua. Namun Bulan sudah siap untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun ia harus mati ditangan ayahnya.


"Tuan Raja ... kenapa anda membiarkan nona Bulan pergi begitu saja?" tanya Ben heran, bingung sekaligus gereget menatap Bulan terus berlari kencang menuju rumahnya.


"Dia harus pulang untuk bersiap menjadi pengantin, bukan pengantin pria tua cacat pilihan keluarganya, melainkan pengantin milik Raja," ucap Raja tenang sambil terus memerhatikan Bulan dari balik kaca mobilnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2