
Tak berselang lama, Ben masuk ke dalam menemui Raja dan langsung berdiri di samping tuannya. Ia melihat Raja yang masih sibuk membersihkan wajah dan kemejanya akibat siraman kopi dari Kiran. Mengetahui hal itu, Ben sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Pernyataan Kiran yang mengatakan kalau Raja menggunakan seorang pelayan untuk mengelabuhi sang model, tak membuat kaget Ben karena ia tahu, tuannya ini pasti menggunakan berbagai macam cara agar ia bisa menang dari taruhan mereka. Ben mengakui, kalau Raja adalah artis tergila yang pernah ia kenal selama hidupnya. Entah apa yang akan dilakukan keluarga Raja jika mereka tahu seperti apa kelakuan tuan mudanya.
Alih-alih menjadi dokter seperti yang diinginkan keluarganya, Raja malah memilih menjadi musisi ternama. Tidak ada yang tahu apa alasan Raja memutuskan berkarir di dunia hiburan. Setiap kali ditanya alasannya apa, Raja selalu menjawab karena ia suka. Sejak itu ia memutuskan hidup mandiri dan berdiri sendiri diatas kakinya dan tak pernah memakai uang pemberian ayahnya karena honor dari menjadi artis saja sudah tumpah ruah bagi Raja.
Apalagi, sejak kecil Raja memang artistik banget. Ia musisi berbakat yang punya suara merdu dan juga multitalenta, memliki segudang prestasi dan bahkan memenangkan ajang kompetisi tren di negara ini. Pesona sang artis sepertinya takkan bisa pudar dimata penggemar. Setiap hari, penggemar Raja semakin lama semakin bertambah dan juga ia sangat super duper sibuk dengan menjadi brand ambassador diberbagai iklan ternama. Kepopuleran Raja tak bisa diragukan lagi, Ia didapuk menjadi salah satu artis kelas kakap yang patut diperhitungkan dengan honor mahal disetiap tampilannya. Kebayang nggak sih bila jadi kekasihnya Raja, pasti dunia bakal heboh jungkir balik.
Sayangnya, hingga detik ini, Raja tetap konsisten dengan dunia keartisannya. Demi menjaga popularitasnya agar tetap stabil dimata penggemarnya, sang artis lebih memilih betah menjomblo ketimbang punya kekasih. Untuk itulah ia selalu menolak semua wanita yang dijodohkan keluarganya meskipun usianya sudah matang untuk menikah. Raja bahkan tak segan menggunakan berbagai macam cara dan membuat wanita yang dijodohkan dengannya mundur alon-alon dengan pura-pura menjadi G dan yang terakhir mengakui seorang pelayan hotel yang tidak ia kenal sebagai kekasihnya bahkan sampai menyatakan kalau pelayan itu tengah hamil anaknya pula. Benar-benar gila ini si Raja.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Ben pura-pura tidak mengerti, ia bisa membayangkan apa yang terjadi di sini. Untunglah fans fanatik Raja tidak ada yang tahu, kalau sampai mereka tahu pasti bakal terjadi kehebohan diluar sana.
"Tidak terjadi apa-apa. Mana uang taruhanku. Aku yang menang," ujar Raja tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Bulan. Ia bahkan tidak peduli seperti apa kondisi pelayan yang baru saja ia manfaatkan.
Seperti halnya Bulan, entah kenapa ... tiba-tiba Raja juga merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Tubuhnya terasa sangat panas dan kepalanya juga mendadak pusing. Raja memegangi kepalnya sejenak sebelum menerima uang menang taruhan dari Ben.
"Tuan muda, anda ... tidak apa-apa?" tanya Ben mulai khawatir setelah melihat ada yang tidak beres dengan majikannya.
"Pesankan aku sebuah kamar. Aku ... ingin istirahat sejenak dan membersihkan diri, sepertinya aku kelelahan sehingga kepalaku sangat pusing sekali. Aku juga merasa sangat ... gerah." Raja memijat-mijat keningnya dan melonggarkan jas yang ia pakai.
__ADS_1
"Baik Tuan, mari ikut saya ..." Ben membantu memapah Raja berjalan ke bagian resepsionis untuk memesankan kamar untuknya. Setelah mendapat kunci, Ben mengantar Raja ke kamarnya.
Sepertinya, obat perangsang yang tadi sempat dimasukkan Kiran ke dalam kopi sudah mulai bereaksi. Yah, si Kiran ternyata licik juga, tadinya model cantik itu kira akan bisa menjebak Raja di dalam hotel dengan memberi obat perangsang lalu memainkan sebuah trik supaya sang artis mau menikah dengannya. Namun ternyata rencana Kiran telah gagal total. Sang artis malah memimum kopi beracun itu dan membaginya dengan Bulan.
Benar-benar diluar dugaan Kiran. Itulah kenapa tadi Kiran bersikukuh agar Raja tak meminum kopi pesanannya. Tapi si Gila Raja malah meminumnya dan berbagi dengan Bulan pula. Kini, antara Bulan dan Raja sudah mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam diri mereka masing-masing karena keduanya bukan meminum kopi sianida, melainkan kopi perangsang.
***
Sementara Bulan, masih berusaha kuat agar ia tetap sadar dan tidak pingsan. Tubuhnya terasa panas seolah ingin melepas seluruh pakaian seragamnya. Tapi tak mungkin ia melakukannya di tempat terbuka yang bisa dilihat banyak orang. Bulan harus mencari tempat yang sepi supaya tidak ada orang yang melihatnya.
"Ehm, Bulan .... kau bisa bantu aku?" tanya salah satu rekan Bulan dari arah belakang saat ia hendak menuju kamar mandi khusus staff hotel.
"Tolong antarkan selimut ini di kamar 106 Exekutive King, aku lupa menaruh selimut ini setelah selesai kubersihkan tadi. Kau bisa membantuku, kan? Aku sedang banyak pekerjaan sekarang."
"Tapi ..."
"Ayolah Bulan, tolong ... setelah itu kau bisa istirahat sejenak," rayu temannya agar Bulan mau membantunya.
"Baiklah, berikan aku kuncinya, akan aku letakkan di sana," ujar Bulan lirih sambil menerima selimut putih itu. Ia juga tidak enak hati jika menolak permintaan tolong rekan kerjanya.
__ADS_1
"Terimakasih Bulan, aku pergi dulu, cepatlah kau antar selimut itu sebelum ada tamu yang memakainya!" teriak rekannya sambil berlalu pergi.
Bulan naik ke atas dan menuju tempat Executive King untuk meletakkan selimut di dalam kamar 106 yang secara kebetulan itu adalah kamar yang baru saja dipesan Raja. Karena Bulan memegang kunci, ia mengira tidak ada orang di dalam kamar ini dan langsung nyelonong masuk begitu saja tanpa permisi. Tubuh Bulan serasa semakin panas dan ia sudah tak bisa menahannya lagi. Buru-buru ia mengunci kamar hotel ini dan membuka seluruh pakaiannya lalu tidur di atas kasur tanpa ia tahu kalau Raja akan datang kemari sebentar lagi.
Karena Bulan mengira kamar ini kosong, ia berniat untuk istirahat sejenak di sini dan langsung tidur tanpa mengenakan pakaian lengkap dan hanya memakai pakaian dalam saja diatas tempat tidur tamu. Tak berselang lama setelah Bulan terlelap, Raja yang dipapah Ben sudah ada didepan pintu. Ia juga tidak tahan lagi untuk segera melepas pakaiannya begitu ia masuk ke dalam kamar yang ia pesan.
"Ben, tinggalkan aku sendiri di dalam, kau pergilah, nanti aku bakal memanggilmu lagi kalau aku sudah enakan. Aku mau istirahat tanpa diganggu siapapun!" ujar Raja mencari alasan. Padahal ia ingin sekali melepas seluruh pakaiannya begitu menutup pintu kamar.
Tanpa curiga, Ben pun mengikuti apapun yang dikatakan Raja, "Baik Tuan. Permisi," pamitnya undur diri.
Setelah membantu membukakan pintu, tanpa ikut masuk Ben langsung pergi meninggalkan Raja. Sang artis bergegas ke dalam kamar sambil berjalan gontai lalu melepas seluruh pakaiannya dan hanya mengenakan celana pendek saja. Ia merasa sangat lega meskipun masih merasakan aneh ditubuhnya. Pisang ambonnya tiba-tiba saja bangun dan berdiri tegak ketika melihat ada seorang wanita setengah telanjang, sedang tidur lelap ditempat tidurnya. Hasrat kelelakiannya tiba-tiba bergejolak dan semakin memuncak saat melihat tubuh mulus wanita tersebut.
Apa hotel ini menyediakan layanan eksklusif? batin Raja senang sekaligus bingung. Sungguh ia tak bisa menahan hasratnya lagi.
Seketika birahi Raja meningkat pesat sehingga ia tanpa sadar, Raja mendekat ke arah tubuh wanita yang tidak jelas seperti apa bentuk wajahnya karena mata Raja berkunang-kunang. Namun, otaknya bergerak sendiri memerintahkan tangan Raja untuk menggerayangi tubuh indah dan seksi wanita yang ada didepannya ini tanpa ia tahu bahwa wanita itu adalah Bulan sang pelayan yang tadi sudah ia manfaatkan untuk memenangkan taruhan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1