Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 8 Alasan


__ADS_3

Di pagi buta, Bulan masuk ke dalam kamar mandi staff pekerja hotel dan mengunci diri didalamnya. Bulan meluapkan seluruh isi hatinya dengan menangis dan merutuki kebodohan serta kecerobohan yang ia lakukan.


"Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi?" Bulan mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, tapi semakin ia mencoba mengingatnya, semakin streslah Bulan. Berkali-kali ia memukul-mukul kepalanya dalam guyuran air shower yang menyiram seluruh tubuh Bulan. "Aku kotor! Aku sudah kotor!" isak Bulan dalam tangisannya. "Kayaknya, aku harus mati daripada bikin malu keluarga, eh tunggu! Keluargaku kan tidak menganggapku ada? Kalau aku mati mereka bakal berpesta, ah tidak ... tapi aku malu pada diriku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku mati saja?" Bulan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya saking stresnya dia menyadari kalau dirinya telah tak virgin lagi sekarang.


Pikiran gadis itu sedang kalut sehingga ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri meniru adegan di film-film bioskop yang sempat ia lihat cuplikannya. Biasanya kalau di film-film, orang yang mau bunuh diri dalam keadaan seperti bulan sekarang ini, caranya adalah dengan memecahkan kaca kamar mandi lalu menggunakan pecahan kaca tersebut untuk mengiris lengan tangan. Tapi niat buruk dan bodooh itu Bulan urungkan karena Tari, sahabat Bulan, tiba-tiba saja datang mengetuk pintu kamar mandinya.


Tok tok tok!


"Bulan, apa kau ada di dalam? Kau dengar aku?" tanya Tari tanpa curiga. Ia tidak tahu kalau temannya itu sedang depresi akut. "Bulan? Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Kau tidak apa-apa? Apa kau baik-baik saja? Kalau tidak mau jawab, aku dobrak pintu ini, nih!" Tari terus saja nyerocos sehingga membuat Bulan jadi bingung harus menjawab apa.


"Iya, aku baik-baik saja, aku sedang mandi. Tunggu sebentar," seru Bulan.


Akhirnya, gadis malang itu memutuskan untuk merahasiakan saja apa yang terjadi pada dirinya dan Raja terhadap siapapun meski dalam hati, Bulan sungguh tidak rela kesuciannya direnggut oleh pria yang tak ia cintai apalagi pria itu adalah seorang G. Bulan merasa jijiik pada dirinya sendiri, berkali-kali ia menyirami tubuhnya dengan air sebanyak yang ia bisa. Mungkin kalau dikalkulasikan, sudah ada puluhan truk container air yang Bulan gunakan untuk membersihkan tubuhnya karena telah dinodaii Raja.


Lama juga Tari menunggui Bulan mandi dengan penasaran tingkat tinggi. Sebab, teman-temannya diluaran sana bilang kalau Bulan keluar dari lift dalam keadaan menangis tanpa diketahui apa penyebabnya. Tidak ada yang berani bertanya karena mereka semua tak terlalu dekat dengan Bulan dan hanya mengenal gadis itu sebagai rekan kerja sesama staff hotel saja.

__ADS_1


Hanya Tarilah yang tahu seperti apa Bulan dan seluk beluknya. Ia pun langsung shock melihat wajah pucat Bulan begitu temannya keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata. Wajah Bulan pucat bagai mayat, bahkan hantu gentayangan kalah pucat dari wajah Bulan sekarang. Lah gimana nggak pucat? Orang tubuh Bulan tersiram air hampir 2 jam lamanya.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu? Apa kau sakit? Kau mau aku antar ke rumah sakit?" Tari menawari bantuan. Ngeri juga melihat Bulan bak setan begitu.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah dan butuh tidur sebentar, Ini masih pukul 6 pagi, jam kerjaku untuk hari ini adalah pukul 10 pagi. Bangunkan aku jika sudah waktuku bekerja," terang Bulan lirih tanpa senyum dan malah terlihat nyesek banget.


Walaupun ini bukan pertama kalinya Tari melihat wajah sedih Bulan seperti ini, tetap saja Tari jadi khawatir juga. "Bagaimana kalau kau pulang dulu dan istirahatlah di rumah, aku khawatir kau bisa sakit kalau seperti ini. Setelah kau tenang, kau bisa ceritakan padaku apa yang membuatmu begini." Tari masih mencoba memahami kondisi Bulan meski ia tidak tahu apa yang menimpa temannya.


Mungkin saja Bulan dimarahi oleh keluarganya lagi. Itulah yang ada dalam pikiran Tari saat ini ketika melihat kondisi Bulan yang menyedihkan.


Pernikahan kedua orang tua Bulan tak seharmonis keluarga lainnya. Bulan merasa sangat tertekan sepanjang hidupnya dengan segudang peraturan ketat keluarganya. Belum lagi segala bentuk tuduhan yang selalu keluarga tiri Bulan tuduhkan padanya hingga akhirnya, gadis itu memutuskan berhenti kuliah dan mencari pekerjaan untuk bisa hidup mandiri sendiri dan bebas dari belenggu keluarganya.


Masih teringat jelas di benak Tari bagaimana Bulan merengek padanya agar ia bisa dibantu berkerja di hotel tempat Tari bekerja supaya Bulan dapat menghasilkan uang sendiri. Dengan begitu, Bulan tak perlu lagi menuruti keinginan ayahnya yang memintanya menikah dengan rekan kerja ayahnya yang sudah tua dan lumpuh. Dan bahkan sebenarnya, pria tua pilihan ayah Bulan jauh lebih cocok jadi ayah gadis malang itu ketimbang calon suami. Mengetahui kisah Bulan yang miris dan memprihatinkan, akhirnya Taripun membantu Bulan mendapatkan pekerjaan paruh waktu di hotel ini.


Dari rumah, Bulan berangkat seolah layaknya berangkat ke kampus, tapi ia berbelok arah menuju hotel tempatnya bekerja dan pulang di sore hari. Itulah rutinitas Bulan sehari-hari sejak beberapa bulan yang lalu tanpa sepengetahuan keluarganya. Dan disinilah tuan putri yang terbuang itu sekarang.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Tar, sungguh aku baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya aku terlihat seperti ini, kan? Aku mau istirhat saja. Jangan khawatirkan aku," ujar Bulan tak bersemangat dan memutuskan pergi meninggalkan Tari yang berdiri heran.


Tak ada yang bisa Tari lakukan kalau sahabatnya sudah berkata seperti itu. Namun ia sangat terkejut melihat keanehan yang terjadi pada Bulan saat ia berjalan. Cara jalan Bulan sangat berbeda dengan sebelumnya.


"Hei, Bulan, kau kenapa? Kok jalan tertatih-tatih gitu?" tanya Tari bingung sekaligus penasaran


Deg!


Seketika jantung Bulan berdetak sangat kencang mendengar pertanyaan sahabatnya. Tidak mungkin Bulan bilang kalau ia telah dinodaii seorang artis yang kebetulan menginap di hotel ini meskipun kejadian itu terjadi bukan atas kemauan mereka berdua. Secepat kilat, Bulan memutar otak untuk mencari alasan lain walau dalam hati, ia marasa sangat hancur sehancur hancurnya.


"Aku terpeleset di kamar mandi tadi, makanya jalanku seperti ini," ujar Bulan berbohong dan untungnya masuk akal. Taripun tidak bicara lagi dan malah membantu Bulan berjalan menuju kamar staf hotel yang tersedia tanpa merasa curiga sedikitpun.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2