
Dua jam lamanya, Bulan tak sadarkan diri dan Raja terus menungguinya tanpa pernah berpaling dari wajah pucat wanita yang kini tengah mengandung anaknya. Raja mendengar kabar, kalau terjadi insiden menegangkan sehingga mengakibatkan Bulan pingsan. Insiden itu adalah secara terang-terangan, ayah Bulan menghunuskan pedangnya untuk menebas kepala putrinya sendiri. benar-benar tindakan yang tidak pantas dilakukan seorang ayah.
Raja juga tahu, kalau neneknya telah menukar Bulan dengan dua koper besar berisi uang tunai agar gadis malang ini terbebas dari hukuman yang diberikan ayahnya. Padahal, apa yang terjadi pada Bulan, bukan sepenuhnya salah wanita ini, melainkan salah Raja juga. Namun, yang terkena imbasnya adalah Bulan.
Sungguh, Raja tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Raja turut hadir di sana. Mungkin, ialah yang akan merebut pedang tersebut dan menghunuskan pedangnya pada ayah Bulan sendiri. Membayangkan hal itu, hati Raja serasa mendidih seakan ikut merasakan betapa pedih dan perihnya hati Bulan saat ini.
Raja duduk di samping Bulan dan mengusap lembut kening wanita cantik itu. Dalam tidurpun, air mata Bulan masih bisa mengalir saking mirisnya nasib hidup yang Bulan jalani. Raja membantu mengusap buliran air mata Bulan dalam diam tak bersuara.
"Aku tak habis pikir, bagaimana ayahmu tega melakukan ini padamu?" ucap Raja lirih. "Kau adalah darah dagingnya sendiri, tak seharusnya ia bersikap seperti itu." Raja mengamati Bulan yang belum terjaga dari pingsannya.
Entah karena gadis itu sudah tak mau bangun lagi atau apa, yang jelas ... perlakuan ayah Bulan terhadapnya benar-benar kelewatan. Mark bahkan tak pantas disebut sebagai seorang ayah. Hal itu mengingatkan Raja pada anak yang kini dikandung Bulan. Ia trenyuh karena ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya juga menjadi seorang ayah. Raja bertekad akan melindungi Bulan dan anak yang dikandungnya.
Raja memberanikan diri mengusap lembut perut rata Bulan. "Di dalam rahim ini, tumbuh darah dagingku, bagaimana bisa aku tidak mengakuinya sementara akulah orang pertama yang merenggut kesucianmu. Aku berjanji akan menjaga anak ini apapun yang terjadi." Mata Raja terus terpusat pada perut rata Bulan yang sepertinya sudah agak lebih besar dari terakhir kali Raja lihat.
"Ada ... di mana aku?" tanya Bulan tiba-tiba dan pastinya mengagetkan Raja. Spontan ia menarik tangannya dari atas perut Bulan.
"Kau sudah sadar?" tanya Raja memerhatikan keadaan Bulan. "Ini rumahku. Kau pernah kemari sebelumnya."
Gadis itu langsung bangun dan duduk bersandar disandaran ranjang, meski kepalanya terasa sangat berat, Bulan mencoba tegar.
"Berbaring saja kalau kau masih merasa pusing. Kau harus banyak istirahat untuk memulihkan tenagamu agar tidak pingsan lagi."
Bulan mencoba mengontrol dirinya. Setelah ia benar-benar bisa melihat dengan jelas dan tidak pusing lagi, Bulan baru sadar kalau ia sudah berganti pakaian yang bukan miliknya.
"I-ini ... pakaian siapa?" tanya Bulan bingung, seingatnya ... terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran, Bulan masih memakai pakaian pengantin.
__ADS_1
"Itu kemeja dan celana pendekku. Di rumah ini ... tidak ada pakaian wanita, pakaianmu kotor dan berantakan, makanya aku menggantinya ...."
"Apa?" teriak Bulan memotong kata-kata Raja. "Ka-kau ... mengganti pakaianku? Kau sendiri?" tanya Bulan tidak percaya.
"Iya, siapa lagi? Hanya ada aku di kamar ini," jawab Raja tenang.
Bulan panik, artinya si artis ini melihat dan meraba seluruh tubuhnya saat ia menggantikan pakaian Bulan. "Ti-tidak ... ke-kenapa ... kau tak tunggu aku sadar biar aku bisa mengganti pakaianku sendiri? Kenapa harus kau yang mengganti pakaianku?" isak Bulan, ia sudah tak punya harga diri lagi dihadapan Raja.
"Apa bedanya? Aku sudah pernah melihat tubuhmu sebelumnya, makanya ada anakku di dalam rahimmu. Toh kita juga akan menjadi suami istri sebentar lagi. Kau tak perlu malu lagi didepanku. Kau juga boleh melihat tubuhku kalau kau mau." Raja hendak melepas kancing kemejanya dihadapan Bulan.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Bulan menutup wajahnya dengan tangan.
"Mau memperlihatkan tubuhku padamu, meski aku yakin kau juga sudah pernah lihat. Hanya saja, kita waktu itu sama-sama tidak sadar. Jadi mau aku pamerkan sekarang biar kita impas." Raja kembali membuka kancingnya satu persatu walau Bulan tidak mau melihatnya.
"Tolong hentikan! Kau tak perlu buka baju seperti itu?" ujar Bulan masih tak berani menatap Raja.
"Kalian berdua sudah mau punya anak, masa yang satu belum keluar kalian mau bikin anak lagi? Tidak bisakah kalian menunggu si orok keluar dulu?" tanya Ben sok polos.
Sebuah bantal langsung mendarat mulus di wajah lebam Ben akibat bogem mentah dari salah satu bodyguard nenek Raja.
"Jaga ucapanmu! Kenapa kau tak ketuk pintu dulu, ha?" bentak Raja marah. Ia mengancingkan kembali kemejanya.
Momen menggoda Bulan jadi gagal total. Tapi Raja masih punya kesempatan lain karena nanti malam ia akan menjadi suami Bulan.
"Maaf Tuan, sudah kebiasaan saya datang ke kamar anda tanpa perlu mengetuk pintu. Saya lupa kalau sekarang, sudah ada nona Bulan yang akan menemani tidur anda sekarang."
__ADS_1
Bulan tersentak, ganti dia yang berpikiran bukan-bukan tentang Raja dan Ben. "Jadi benar ... kalian berdua ...."
"Ya nggaklah! Aku normal! Sungguh!" Raja meyakinkan.
Tapi Bulan malah semakin bergidik ngeri melihat Raja. Gadis itu langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi Raja lalu menutup pintunya rapat-rapat.
"Bulan, percayalah padaku, aku nomal!" seru Raja dari luar kamar mandi. "Aku pecinta wanita juga, tapi cuma sama kamu aja aku sukanya. Nggak tahu kalau Ben!"
"Saya juga normal, Tuan!" Ben ikut membela diri.
"Diam kau! Untuk apa kau kemari! Bulan jadi salah paham lagi padaku!" sentak Raja kesal.
"Nenek anda memanggil anda berdua untuk turun ke bawah. Banyak hal yang harus disiapkan untuk pernikahan kalian nanti malam," terang Ben dan wajah dongkol Raja langsung berubah jadi senang.
"Apa?" teriak Bulan tiba-tiba membuka kembali pintu kamar mandinya kerena mendengar pembicaran Ben barusan. "Menikah? Siapa? Aku?" tanya Bulan bingung dan juga tidak mengerti.
Baru tadi pagi pernikahannya gagal dan Bulan hampir saja mati. Sekarang ia malah akan dinikahkan lagi malam ini.
"Iya, Nona ... malam ini, Anda akan menikah dengan tuan Raja dan akan tinggal di sini selamanya. Selamat untuk kalian berdua," ujar Ben sambil tersenyum.
"Tunggu-tunggu! Pasti ada yang salah," sela Bulan panik.
"Apanya yang salah? Pria tua cacat itu sudah tidak mau lagi menikah denganmu karena dia tahu kau hamil anakku. Sudah tidak ada yang menghalangi kita untuk menikah sekalipun itu keluargamu sendiri. Nenek sudah buat perjanjian dengan mereka. Kau sudah menjadi bagian dari keluargaku. Tidak ada salahnya kita menikah sekarang."
"Tuan Raja ... jangan lupa ... kau seorang artis. Apa kata para fansmu kalau tahu idolanya menikah dengan orang sepertiku?" tanya Bulan dan seketika Raja langsung terdiam begitupula dengan Ben.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****