Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 24 Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Keputusan Bulan sudah bulat. Ia tidak ingin dituduh yang bukan-bukan lagi oleh Raja tentang perjodohan dadakan yang dilakukan oleh neneknya. Bulan ingin melupakan semua ini dan menjalani hidupnya seperti yang sudah diatur oleh keluarganya. Yaitu menikahi pria tua cacat yang harusnya lebih pantas menjadi ayah Bulan ketimbang calon suaminya.


Entah seperti apa kehidupan Bulan setelah ini, tapi baginya itu lebih baik daripada berurusan dengan Raja dan keluarganya. Sudah cukup hinaan yang Raja lontarkan padanya. Ia tak ingin dihina lagi setelah ini. Sambil menangis, Bulan menyusuri jalan untuk mengeluarkan semua amarah terpendamnya.


Sesampainya di rumah, Bulan langsung dimarahi habis-habisan oleh ibu tiri dan ayahnya. Namun Bulan hanya diam dan menundukkan kepala seakan pasrah akan nasib buruknya menjadi seorang putri yang terbuang di keluarga ini. Gaun indah Bulan yang tadi sempat ia kenakan juga sudah Bulan ganti dengan pakaian kasualnya. Ia tak ingin keluarganya tahu apa yang menimpa Bulan selama ia ada di luar rumah ini.


Beruntung insiden yang ada di hotel tempatnya bekerja tak mengekspose berita tentang pengumuman mengejutkan dari nenek Raja soal perjodohannya dengan artis ternama sombong itu. Sepertinya, mereka membatalkan pengumuman itu dan menghapusmya agar tak ada yang tahu selain orang-orang yang ada di hotel tersebut.


"Kau sudah terlalu bebas Bulan, berhentilah kuliah dan menikah saja dengan pria yang sudah ayah pilihkan untukmu. Mulai sekarang kau tak boleh keluar rumah lagi. Apa kau mengerti!" bentak ayah Bulan dan gadis itu hanya diam mengangguk tanpa mampu bicara apa-apa.


Bukan karena Bulan sudah berhenti kuliah sejak lama, tapi karena ia sudah tak punya tenaga untuk membantah ucapan ayahnya. Gadis malang itu pasrah akan nasib buruknya di dunia ini. Meski dalam hati, Bulan ingin sekali menjerit sekencang-kencangnya. Ia tidak minta dilahirkan jika hanya harus hidup menderita dan tersiksa seperti sekarang.


"Kenapa kau hanya diam saja? Ada apa denganmu?" tanya ayah Bulan. Ia melihat ada yang aneh pada putrinya.


Biasanya, Bulan selalu saja melawan dan membantah setiap kata yang ia ucapkan. Tapi kali ini berbeda, tidak ada perlawanan apapun dari putri bungsunya. Justru sebaliknya, Bulan seolah menerima semua keputusan ayahnya.


"Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya lelah," ujar Bulan lirih.


Yang dimaksud Bulan, ia lelah dengan kehidupan ini, kehidupan yang seolah mempermainkan hati dan perasaan Bulan serta nasib sialnya yang tak kunjung usai. Bahkan sekarang, Bulan tidak tahu harus bagaimana menjalani hari-harinya setelah ini.


Tidak ada lagi pembicaraan. Keputusan ayah Bulan sudah bulat dan ia mulai mencari tanggal pernikahan Bulan secepatnya. Dengan kata lain, seluruh anggota rumah ini menginginkan Bulan secepatnya pergi dari sini untuk ikut suaminya.


***


Sebulan telah berlalu, Bulan mengisi hari-harinya dengan terus mengurung diri di dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apapun. Setiap hari, ia duduk dijendela dan memandangi alam sekitar rumahnya yang luas. Hidup Bulan bagai serasa hampa, sirna dan tak ada cahaya. Sebaliknya, orang-orang di rumah Bulan sibuk mempersiapkan pernikahan Bulan yang akan digelar beberapa hari lagi tanpa peduli bagaimana perasaan Bulan saat ini.

__ADS_1


Hari ini, Tari datang berkunjung ke rumah Bulan untuk mengetahui seperti apa kondisi temannya. Dan betapa terkejutnya ia setelah tahu keadaan Bulan malah bertambah parah dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu sebulan lalu.


"Astaga Bulan, kenapa kau jadi kurus kering begitu, apa yang terjadi padamu? Apa keluargamu tidak memberimu makan?" cerocos Tari langsung prihatin saat melihat Bulan banyak mengalami penurunan berat badan.


"Mereka memberiku makan, akunya saja yang tak punya selera untuk memakan semua makanan yang ada di rumah ini," jawab Bulan lirih.


"Kalau begitu, ayo kita makan di luar. Lihat dirimu! Kau seperti mayat hidup! Astaga, tubuhmu jadi tepos begitu, hanya pipimu saja yang tembem." Tari berkomentar seenaknya dan langsung menggamit tangan Bulan untuk mengajaknya pergi dari sini.


"Tapi, Tar ... ayah tak mengizinkanku keluar dari rumah ini."


"Aku yang akan mintakan izin pada ayahmu, aku yakin dia pasti setuju jika kau pergi denganku. Kau butuh udara segar. Kau bukan vampir yang harus dikurung di dalam istana." Tari tetap memaksa Bulan dan mengajaknya keluar kamar setelah Bulan sempat meraih tas kecil yang berisi dompet dan ponselnnya.


Ucapan Tari memang benar, setelah berdiskusi cukup lama dengan ayah Bulan, akhirnya pria paruh baya itu mengizinkan putrinya pergi keluar jalan-jalan bersama Tari dengan catatan, mereka berdua tidak boleh pulang larut malam. Taripun senang, begitupula dengan Bulan. Setelah sebulan lamanya hanya bisa melihat sinar matahari dari balik jendela, kini Bulan bisa menghirup udara segar dan menikmati cahaya mentari secara langsung bersama dengan Tari.


Hal pertama yang dilakukan dua sahabat begitu keduanya keluar kandang adalah mencari tempat makanan Favorit mereka. Hari ini, Bulan mulai bisa tersenyum karena kehadiran Tari telah membebaskannya dari neraka. Gadis itu beruntung punya sahabat seperti Tari yang selalu ada untuk Bulan disaat ia sedang mengalami depresi berat menjelang hari pernikahannya. Mereka berdua benar-benar bersenang-senang meskipun ini hanya untuk sementara.


"Hueeek!" Bulan kembali muntah untuk kesekian kalinya. Kepalanya serasa pusing dan juga pening. Tak berselang lama, Tari ikutan masuk ke toilet karena mengkhawatirkan kondisi Bulan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Tari sambil memijat pelan tengkuk Bulan, dan lagi-lagi, sahabatnya itu muntah sampai perutnya kosong.


"Kenapa rasanya aneh sekali," ujar Bulan lirih, rasa mual saat mencium bau pewangi toilet juga membuatnya kembali muntah-muntah. Namun, karena perut Bulan sudah kosong, tak ada lagi yang bisa dia muntahkan.


"Apa kau sedang tidak enak badan? Bagaimana kalau aku mengantarmu periksa ke dokter. Aku sangat khawatir dengan kesehatanmu," ujar Tari dan Bulan pun setuju. Bulan juga ingin tahu sebenarnya dia ini sakit apa, padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Tidak pernah mual seperti ini.


Sesampainya di rumah sakit, Bulan masih di suruh antri. Banyak sekali pasien datang ke rumah sakit ini dengan berbagai macam keluhan yang mereka derita. Tari dan Bulan duduk berdampingan sambil menunggu antrian. Namun tiba-tiba, ponsel Tari berbunyi dan ia buru-buru menjauh dari Bulan untuk mengangkat panggilan teleponnya. Tak berselang lama, Tari kembali dengan sejuta kecemasan diwajahnya.

__ADS_1


"Bulan, maafkan aku. Sepertinya, aku tidak bisa lama-lama menemanimu. Ada hal mendesak yang harus aku tinggalkan sekarang, Cello kecelakaan. Aku harus melihat kondisinya sekarang," ujar Tari cemas, ia juga bingun antara harus menunggui Bulan ataukah kekasihnya.


"Hah, bagaimana bisa Cello kecelakaan!" pekik Bulan terkejut. Namun ia langsung memahami situasi rumit yang dialami Tari. Sebaiknya kau pergi saja, temui Cello. Jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa." Bulan mencoba membantu memecahkan kegalauan yang dirasakan sahabatnya.


"Kau yakin, tidak apa-apa sendirian di sini? Apa perlu kupanggilkan salah satu keluargamu supaya ada yang menemanimu?" tawar tari.


"Tidak perlu, sungguh aku bisa periksa sendiri. Kau pergilah, nanti hubungi aku kalau ada apa-apa. Semoga Cello juga baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu resah, Tar ... dan terimakasih sudah mau menemaniku hari ini." Bulan menggenggam kedua tangan sahabatnya agar Tari tak terlalu mencemaskan keadaannya dan lebih fokus pada kondisi kekasihnya.


"Maafkan aku Bulan," ujar Tari sambil membalas genggaman tangan Bulan. Matanya juga mulai berkaca-kaca karena pikirannya kalut memikirkan Cello.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku mengerti posisimu. Pergilah." Sekali lagi, Bulan meyakinkan Tari agar sahabatnya ini segera pergi untuk melihat apakah Cello kekasihnya baik-baik saja atau tidak.


Kabar ini begitu mengejutkan sampai Bulan sendiri juga tidak tahu harus berkata apalagi. Akhirnya, Tari pamit pergi dan langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Cello dirawat saat ini. Rumah sakitnya lumayan jauh sehingga Tari harus menggunakan taksi agar ia lekas sampai.


Setelah 2 jam menunggu, akhirnya tiba giliran nama Bulan dipanggil. Diapun masuk keruangan seorang dokter dan menjalani pemeriksaan setelah menjelaskan keluhan apa yang dirasakan Bulan. Dokter tersebut memeriksa perut Bulan dengan menggunakan USG dan hasilnya sangat mengejutkan.


"Selamat Nyonya Bulan, anda hamil," ujar dokter tersebut dan Bulan langsung shock mendengarnya.


"A-apa, Dok? Hamil?" pekik Bulan antara percaya dan tidak percaya.


"Benar, untuk selanjutnya, anda bisa memeriksakan kandungan anda di dokter kandungan. Sekali lagi selamat ya, Nyonya. Jangan lupa jaga kesehatan dan atur pola makan, jangan takut bila berat badan anda setelah ini bakal naik drastis. Tapi ada juga yang turun karena rasa mual di trimester pertama. Nanti bakalan hilang setelah memasuki masa trimester kedua." dokter tersebut tersenyum dan menuliskan beberapa resep vitamin untuk Bulan.


Tubuh Bulan langsung lemas mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksanya. "Tidak ... i-ini tidak mungkin," gumam Bulan lirih, shock dan juga panik.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2