
Mata Raja dan Ben saling melirik satu sama lain ketika ada orang yang menyapa dan mengenali mereka. Namun, Raja hanya tersenyum sinis dibalik maskernya dan bersikap biasa saja. Ia tahu suara siapakah yang ada dibelakangnya ini. Pemilik suara itu, pasti si model cantik yang pernah dijodohkan dengannya. Dia adalah Kiran. Entah ini kebetulan yang disengaja atau tidak, Raja sama sekali tak peduli pada model pendatang baru itu.
Sang artis malah kembali fokus memilih-milih pakaian yang cocok dikenakan istrinya dan tak menghiraukan keberadaan Kiran. Bagi Raja, saat ini hatinya sedang berbunga-bunga, ia mulai merasakan betapa indahnya jatuh cinta. Tak ada hal yang lebih penting dibandingkan Bulan sekarang.
Sungguh, Raja sama sekali tak memedulikan hal lain yang ada disekitarnya. Mau ada gosip miring tentangnya, Raja juga bodo amat. Pikirannya hanya terfokus pada Bulan dan wajah cantiknya Bulan. Adegan mesra dirinya dan Bulan saat keduanya bersenggamaa bersama, terus terbayang-bayang dibenak Raja. Ingin sekali Raja menyelesaikan seluruh aktivitasnya hari ini dan kembali bertemu dengan Bulan. Namun, ini masih terlalu pagi untuk pulang, bahkan ia belum melakukan aktivitasnya yang sudah terjadwal.
Berbeda dengan Raja, Ben langsung balik badan dan menatap wajah Kiran yang tersenyum penuh makna melihat 2 pria paling aneh menurutnya. Satunya sombong, dan angkuhnya nggak ketulungan, satunya lagi sangat menyebalkan. Kiran cuma memicingkan mata kala Raja pergi menjauh seolah menganggap Kiran tak pernah ada. Kiran sendiri juga acuh karena bukan Raja sasarannya, melainkan Ben, asisten kepercayaan Raja.
Meski dua pria tinggi itu sama-sama memakai masker untuk menutupi identitas asli mereka dan menyamarkan keberadaan mereka di mall ini, tetap saja Kiran masih bisa mengenali Raja dan Ben. Bagaimanapun juga, Kiran takkan pernah melupakan apa yang pernah ia lalui bersama Ben belakangan ini, dan yang terakhir adalah momen Ben mengakuinya sebagai istri yang sedang hamil muda untuk menutupi aksi nyeleneh Ben saat mencuri mangga muda orang.
Model cantik itu bahkan tidak menyangka kalau dirinya bakal bertemu asisten menyebalkan itu di mall ini. Padahal, Kiran sengaja bangun pagi dan langsung pergi ke mall untuk mencari model sepatu sama yang sempat hilang karena ia lemparkan pada seseorang dan uniknya, orang itu ada di sini, tepat didepannya.
"Kita ketemu lagi, tuan Ben." Kiran sengaja membuka percakapan terlebih dulu.
Rasa kesal yang dirasakan Kiran terhadap Ben tak bisa terbendung lagi meski dalam hati, ia sangat senang bisa melihat pria yang bisa membuatnya merasakan begitu banyak emosi. Kesalnya Kiran pada Ben, sangat berbeda dengan kesal yang ia rasakan pada Raja. Meskipun Ben membuat Kiran kesal setengah mati, Kiran sama sekali tak membenci pria tampan itu, tapi ketika melihat Raja, Kiran benar-benar benci sekali pada artis songong itu sekalipun pria yang kini telah menjadi suami Bulan adalah artis ternama papan atas yang jauh populer dibandingkan dengannya.
__ADS_1
Ben berjalan mendekat ke arah Kiran dan menundukkan wajahnya yang tertutup masker agar sejajar dengan wajah cantik didepannya. "Selamat pagi, nona Kiran. Bagaimana harimu? Apa kau menikmati mangga mudanya dengan baik?" tanya Ben mulai mengeluarkan jurus intimidasinya kepada Kiran.
"Jaga mulutmu!" geram Kiran, baru ketemu sudah membuatnya naik pitam. Untuk apa Ben membahas lagi masalah mangga muda itu. "Jangan buat orang salah persepsi dengan ucapanmu! Kau yang mencuri mangga muda itu ..."
"Untukmu! Aku melakukannya untukmu!" potong Ben cepat sebelum Kiran menyelesaikan kalimatnya. Pegawai toko yang ada di sekitar Kiran langsung berbisik-bisik menerka-nerka apa maksud dari percakapan Ben dan Kiran barusan.
"Tuan Ben, jangan bicara yang bukan-bukan, kau mencurinya ..."
"Untukmu ... kau yang minta bantuanku kala itu." Ben tersenyum licik dan mbak mbak penjaga toko langsung menatap aneh tubuh Kiran dari atas sampai bawah. Tentu saja orang-orang yang ada di sini lebih percaya pada Ben ketimbang Kiran.
"Huh, semua orang di dunai hiburan juag tahu Nona ... artis pendatang baru yang baru naik daun, pasti pernah mengalami masa indah bersama penyokongnya untuk mendongkrak popularitas, dan hal itu ... bisa saja terjadi padamu juga." Ben sengaja menuduh Kiran yang bukan-bukan agar model didepannya ini tak cari gara-gara lagi dengan Raja.
Kiran merasa tersinggung dengan ucapan Ben, seolah ia adalah artis rendahan yang rela menjual harga diri hanya demi mendapatkan tempat sebagai model. Padahal, Kiran tak pernah melakukan hal seperti yang dituduhkan Ben padanya. Ia hendak menggampar wajah Ben, tapi tangannya yang melayang bebas di udara langsung dicekal kuat oleh pria tinggi itu.
Ben memutar tubuh Kiran dan sengaja memiting tangannya ke belakang sehingga Kiran membelakangi tubuh Ben yang berdiri dekat dibalik punggungnya. "Jangan S K S D denganku, ataupun mencoba mengusik kehidupan tuan Raja. Jika sekali lagi kau sok akrab lagi dengan kami, tanggung sendiri akibatnya," bisik Ben sengaja memberikan ancaman yang menjengkelkan sekaligus menjatuhkan. Ia mendorong tubuh Kiran maju ke depan dengan kasar lalu pergi menyusul Raja pergi.
__ADS_1
Tak bisa dijelaskan seperti apa kesalnya Kiran saat ini. Ia benar-benar tidak menyangka Ben mampu menuduhnya yang bukan-bukan hanya demi melindung Raja dari gosip miring yang mungkin saja akan ia sebarkan. Sebenci apapun Kiran pada Raja, ia tak suka ikut campur urusan orang lain. Model cantik itu bahkan tak peduli apapun yang dilakukan Raja saat ini. Ia menyapa hanya memastikan apakah pria bermasker itu beneran Ben atau bukan. Tidak disangka, hatinya jadi sedikit terluka ketika Ben berpikiran buruk tentangnya sehingga menyebabkan gosip yang tidak-tidak bagi Kiran.
"Dasar berengesek!" gumam Kiran kesal karena untuk kesekian kalinya, pria tinggi dan tampan itu berhasil membuat darahnya mendidih seakan ingin meledak-ledak. "Aku pasti sudah gila karena sudah memikirkan pria kejam seperti dia!" tangan Kiran mengepal kuat dan menatap lurus punggung Ben yang semakin lama, semakin menjauh dan menghilang di balik pintu distro.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya manajer Kiran yang baru saja datang.
"Tidak apa-apa, cepat cari model sepatu sama seperti yang sudah kubilang, sebentar lagi aku ada pemotretan dan cuma sepatu itu saja yang pas dengan gaunku." Kiran mencoba menekan perasaannya dan bersikap seperti biasa walau semua orang yang ada di distro ini sudah mulai melakukan bisik-bisik tetangga dan semua itu gara-gara mulut lamisnya Ben.
"Maaf Nona, sepatu itu adalah sepatu unlimited dan sudah tidak diproduksi lagi. Silahkan cari model sepatu yang lain lagi," ujar manajer Kiran sehingga semakin kesallah Kiran.
Sudah bangun pagi-pagi, bukannya menemukan barang yang ia cari, Kiran malah bertemu Ben dan mendapat intimidasi yang berujung sakit hati. Lengkap sudah nasib sial Kiran hari ini. Namun, tak ada yang bisa Kiran lakukan sekarang, sepatunya sudah hilang dan ia terpaksa mencari sepatu yang lain.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1