Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
episode 64 Keputusan Raja


__ADS_3

Raja sedang bersama dengan Bulan saat dari kejauhan, ia melihat sistem sensor yang terpasang di area sekitar lolaksi rumah Raja, memberi tanda kalau ada orang asing datang mendekat kerumahnya. Sensor tersebut menyala merah sehingga Raja tahu kalau ada seseorang mencoba memasuki kawasan huniannya meskipun orang itu masih berada dalam jarak radius 5 km dari posisi rumah Raja sekarang.


Setelah Raja memeriksa melalui cctv, ia tersenyum karena yang datang ternyata adalah Ben dan Kiran. Yang menjadi pertanyaan Raja adalah, kenapa asisten pribadinya itu membawa wanita yang dulu sempat dijodohkan dengannya datang ke rumah ini. Padahal Ben jelas tahu, kalau ia tidak suka jika lokasi rahasianya ini diketahui oleh siapapun.


Bila Ben membawa Kiran, pasti asistennya itu punya alasan tersendiri mengapa ia mengajak orang asing menemui Raja. Raja memang sengaja membangun rumah ini untuk privasinya sendiri agar terhindar dari hiruk pikuknya dunia ditengah-tengah kesibukannya menjadi artis ternama. Tak disangka, Ben malah berani membawa orang lain kerumahnya tanpa izin darinya pula.


“Ada apa?” tanya Bulan sambil memeluk tubuh suaminya dari belakang saat Raja mengamati layar cctv.


“Ada yang datang,” jawab Raja. Ia berbalik badan dan menatap wajah merah merona Bulan.


“Siapa?” tanya Bulan lagi.


“Ben dan Kiran.”


“Ah … kebetulan sekali, aku belum berterimakasih pada nona Kiran karena ia membelaku saat di pesta. Dia baik sekali ternyata.”


Raja diam, ia langsung memeluk Bulan dalam dekapannya. “Maafkan aku Sayang, harusnya akulah yang melindungimu, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa padamu disaat ibuku mempermalukanmu dihadapan banyak orang. Sebagai suamimu, aku payah sekali.”


“Siapa bilang kau tak melindungiku,” sela Bulan. “Jika bukan karena kau dan tuan Ben, aku dan nona Kiran pasti sudah kena lemparan kue manis, tapi kalian berdua datang tepat waktu layaknya seorang pangeran berkuda putih. Apa kau tak sadar kalau kau itu keren sekali?” Bulan tersenyum untuk menghilangkan beban rasa bersalah Raja.


Kedatangan ibu Raja yang baru saja pergi amsih meninggalkan luka dalam dihati Bulan. Namun ia berusaha tegar agar suaminya tak ikut bersedih meski Bulan tahu, hati suaminya juag hancur karena ia terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.


“Aku memang keren, tapi ….”


“Ayo kita sambut kedatangan tuan Ben dan Nona Kiran,” sela Bulan lagi untuk menyembunyikan air matanya agar tidak tumpah. Ia langsung menggamit lengan suaminya lalu mengajaknya keluar kamar. Bulan tak ingin lagi mengingat apa yang ia alami seharian ini.

__ADS_1


Raja menuruti keinginan istrinya dan langsung mempersilakan Ben dan Kiran masuk dengan membuka pintu terlebih dulu sebelum mereka berdua mengetuk pintu rumah Raja. Ben sudah tidak kaget karena majikannya pasti sudah mengetahui kedatangannya melalui cctv. Ia tahu betul sang artis sangat teliti dan juga berhati-hati terutama soal kemananannya dan juga privasinya.


“Apa yang membawa kalian kemari?” tanya Raja langsung tanpa basa-basi, Ia juga menatap tajam mata Ben karena telah berani membawa orang asing datang ke kediamannya yang harusnya tak boleh diketahui oleh siapapun tanpa seizin Raja.


Tanpa di duga, Kiran berlari memeluk Bulan sehingga istri Raja itu langsung terkejut. Ia menatap wajah suaminya yang juga sama bingungnya dengan Bulan.


“Maafkan aku, Bulan. Semua ini salahku, aku sudah tahu semuanya, kau … dihamilii si berengseek itu karena aku menaruh obat perangssang ke dalam kopinya waktu itu. Kalian berdua meminumnya dan terjadilah malapetaka yang merenggut kesucianmu …”


“Hei hei … apa kau tak malu datang tiba-tiba begitu dan mengatakan hal yang tak seharusnya kau katakan? Dan juga beraninya kau mengataiku berengseek, ha!” protes Raja tak terima mendenngar dirinya dikatain Kiran dengan kata ‘menghaamili Bulan’ meski faktanya memang demikian.


“Diam kau! Kenyataannya kan, begitu!” Kiran beralih kembali menatap wajah bingung Bulan.


Tiba-tiba, suasana yang tadinya tegang, berubah drastis jadi canggung. Si Kiran ini blak-blakan juga kalau ngomong.


“Eeee … semua itu sudah berlalu nona Kiran.” Bulan mulai buka suara. “Kau tidak bersalah, ini semua terjadi begitu saja. Kau tak perlu minta maaf padaku. Harusnya akulah yang berterimakasih karena kau sempat membelaku saat di pesta. Terimakasih.”


Tentu saja Raja terkejut karena Kiran mengetahui semuanya, iapun langsung melirik Ben sebagai dalang dibalik tahunya Kiran dan semua yang ia alami bersama Bulan.


“Woy Ben, ikut aku!” cetus Raja dengan raut muka kesal. Ia membawa Ben ke ruangannya menjauh dari Bulan dan kiran.


“Jadi, kau sudah menceritakan semua rahasiaku pada Kiran, heh? Kau mengkhianatiku?” cecar Raja ketika mereka berdua sudah ada di dalam ruangan bersama.


“Tidak Tuan, saya tak pernah mengkhianati Anda.”


“Lalu kenapa kau beritahu semua hal yang terjadi padaku dan Bulan pada Kiran?” bentak Raja mulai marah.

__ADS_1


“Sebab … “


“Sebab apa?” teriak Raja sudah tidak sabar.


“Saya jatuh cinta pada nona Kiran, Tuan.” Ben mengaku.


“Apa hubungannya?” bentak Raja lagi.


“Saya rasa, ia berhak tahu karena semua kejadian ini, berawal darinya dan juga saya. Kalau saja waktu itu saya tak menerima taruhan dari Tuan, Anda takkan memanfaatkan nona Bulan untuk memenangkan taruhan itu, sehingga kopi berisi obat terangsang tak membuat anda menoodai nona Bulan.” Ben menunduk saat bicara dengan pria yang ada dihadapannya.


Raja menghela napas dalam-dalam. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada anak buah somplaknya ini.


“Astaga Ben … sekarang pikirkan baik-baik, jika saat itu kita tidak taruhan dan aku benar-benar meminum kopi berangsang itu tanpa Bulan, menurutmu … apa yang akan terjadi?” Raja balik bertanya pada Ben.


Ben tertegun, ia memikirkan pertanyaan tuannya. Jika kala itu Raja meminum kopi bersama dengan Kiran, maka posisi Bulan sekarang mungkin sudah diisi oleh wanita yang baru saja menjadi kekasihnya.


“Jawab aku Ben!” bentak Raja karena asistennya tak kunjung juga menjawab.


“Eee … mungkin saja … nona Kiranlah yang akan menjadi istri Anda,” jawab Ben gemetar, bukan karena takut akan bentakan majikannya, tapi karena tak sanggup membayangkan kalau wanita yang ia cintai menikah dengan majikannya sendiri.


“Nah, itu kau tahu! Artinya yang terjadi padaku dan Bulan bukan salahmu atau salah Kiran. Aku dan Bulan memang sudah ditakdirkan bersama apapun yang terjadi. Jika kau datang kemari hanya untuk menghalangi niatku, itu takkan terjadi. Tekadku sudah Bulat Ben, Aku akan mengadakan jumpa pers dan mengakui hubunganku dengan Bulan. Disaat itu pula, aku akan mundur sebagai artis dan hidup damai dengan Bulan sebagai manusia biasa. Itu adalah keputusan yang sudah kuambil dan tak bisa diganggu gugat lagi, Kau atau siapapun, tak bisa mengubah keputusan yang aku ambil ini.”


Usai berkata demikian, Raja pergi keluar ruangan dengan raut wajah semakin kesal. Ia berhenti berjalan saat Bulan berlari memeluknya sambil menangis dalam dekapannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2