Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 30 Diam-diam


__ADS_3

Raja terus memerhatikan kepergian Bulan sampai gadis itu masuk ke dalam rumahnya. Ia mengamati beberapa berkas yang diberikan Ben padanya. Berkas-berkas itu berisi tentang data diri seluruh keluarga Bulan yang bila dilihat dari luar, tampak sempurna dan harmonis, tapi keropos di dalam. Ayah Bulan adalah seorang pengusaha sukses dengan dua istri. Satu adalah istri sah yang ia cintai, satunya lagi istri siri yang terpaksa ia nikahi karena desakan keluarga.


Ayah Bulan tak sengaja menghamili ibu Bulan sehingga keluarganya memintanya bertanggung jawab. Kalau dipikir-pikir, kisah ayah dan ibu Bulan hampir sama dengan apa yang terjadi pada Raja dan Bulan, bedanya Raja masih lajang dan seorang artis tenar.


Bulan memiliki dua kakak perempuan dari istri sah ayahnya. Mereka semua tak pernah memperlakukan Bulan dengan baik dan selalu saja membuat hidup Bulan menderita. Rumah itu, bagai neraka bagi seorang Bulan yang memang tak pernah dianggap ada akibat hubungan terlarang yang pernah dilakukan oleh ayah dan ibu Bulan. Raja tersenyum getir melihat betapa ironisnya hidup wanita yang kini sedang mengandung anaknya. Sang artis tak pernah menyangka, ada ya kepala keluarga seperti ayah Bulan.


Alasan kenapa Raja langsung mengakui anak yang dikandung Bulan, itu karena Ben sudah memberitahunya seluk beluk kehidupan gadis malang itu tepat setelah ia tahu yang membuat Raja dan Bulan mengalami insiden malam kelam itu adalah Kiran. Sejak saat itu, diam-diam Ben mengorek infomasi tentang Bulan dari Tari. Tari menceritakan semua yang ia tahu tentang Bulan tanpa ada yang ditutupi.


Awalnya Raja tidak percaya, tapi bukti-bukti yang diberikan Ben sangat akurat sehingga sang artis mulai berempati dan merasa bersalah pada Bulan. Namun, ia tak ingin menemui Bulan karena gadis itu pernah mengatakan kalau Bulan tak mau melihat wajah Raja lagi sampai akhirnya, Bulan muncul sendiri didepannya tanpa ia minta dengan memberikan kabar yang sudah ia duga. Bulan, tengah mengandung anaknya.


Keputusan Raja untuk menjadikan Bulan miliknya semakin kuat kala gadis itu tak ingin dinikahi olehnya dan malah memilih menuruti keinginan keluarganya walau ia harus hidup menderita. Hal itu membuktikan bahwa Bulan adalah gadis baik-baik yang tidak gila harta meskipun Bulan terlihat sangat membutuhkan banyak uang.


Hidup Raja dan Bulan sangat berbanding terbalik. Entah mengapa, Raja malah jadi kesal sendiri setiap membuka lembaran-lembaran berkas berisi catatan setiap hal yang pernah dilakukan keluarga Bulan pada gadis malang itu. Raja bahkan sampai melempar berkas itu ke hadapan Ben dan membuat asistennya itu kaget.


"Apa kita pergi sekarang, Tuan?" tanya Ben sambil memungut kembali berkas yang sempat dilempar Raja kearahnya.


Asisten kepercayaan Raja itu tahu kalau tuannya sedang kesal setelah mengetahui apa yang dialami Bulan selama ini. Tak sia-sia Ben menjadi detektif dadakan setiap malam untuk mengumpulkan informasi tentang seperti apa keluarga Bulan sebenarnya serta perlakukan mereka terhadap Bulan selama ini. Dan hasilnya, sangatlah buruk, siapapun yang tahu pasti kesal dan marah juga. Bulan tak pernah dimanusiakan dirumahnya sendiri.


"Cari tempat yang bisa kita gunakan untuk mengetahui apa yang terjadi di rumah Bulan sekarang, Ben. Aku khawatir ayahnya menghajarnya seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Aku heran, ada ya ... ayah model begitu?" Raja berdecak kesal.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Ben tak ingin berkomentar daripada ia kena amuk juga. Ia menyalakan mesin mobilnya dan langsung masuk ke pekarangan rumah orang. Rumah tersebut tepat ada di samping rumah Bulan.


Ben turun dari mobil, lalu masuk untuk menemui sang pemilik Rumah. Sementara Raja, menunggu dengan cemas di dalam mobil dan mengamati bangunan besar berlantai 2 itu.


Entah apa yang sedang Ben lakukan di dalam. Untuk urusan seperti ini, berdiskusi dan bernegoisasi adalah keahlian Ben. Tak berselang lama, pemilik Rumah dan seluruh keluarganya pergi keluar sambil membawa koper besar dan mereka semua masuk ke dalam mobil mereka.


"Silahkan nikmati waktu anda selagi ada di sini Tuan." ujar pemilik Rumah dari luar kaca mobil Raja sebelum akhirnya si pemilik rumah tersebut pergi meninggalkan rumahnya sendiri bersama seluruh anggota keluarganya entah ke mana. Sedangkan Raja hanya diam karena ia tak ingin identitasnya sebagai artis diketahui banyak orang.


"Mari masuk, Tuan!" ujar Ben membukakan pintu mobil untuk Raja dan mengamati keadaan sekitar apakah ada yang mengamati pergerakan mereka atau tidak.


Untuk sementara ini aman. Tak ada yang tahu kehadiran Raja di kompleks perumahan ini. Apalagi suasananya sedang sepi karena hari semakin larut saja.


Sang artispun keluar dan langsung menuju lantai atas. Karena rumah ini berdampingan dengan rumah Bulan, apa yang terjadi di dalam rumah itu bisa terlihat jelas dari sini. Raja mengambil teropong dan melihat Bulan ada di ruang tamu sedang dikelilingi seluruh anggota keluarganya yang lain.


Tak hanya itu, dua kakak perempuannya bahkan menuduh Bulan yang bukan-bukan sehingga membuat emosi ayah Bulan semakin meningkat. Ia hendak mencambuk Bulan dengan sabuknya, tapi Bulan langsung menjerit agar ayahnya tak lagi memukulinya.


"Ayah, tolong ... jangan lakukan itu padaku! Lusa aku akan menikah ... jangan tinggalkan bekas penyiksaanmu padaku. Aku sudah menuruti keinginan, Ayah. Tolong jangan siksa aku lagi Ayah," isak Bulan. Ia ingin melindungi calon buah hatinya dengan memeluk perut Bulan sambil berlutut dihadapan ayahnya.


Kata-kata Bulan membuat ayahnya mengurungkan niatnya. Pria paruh baya itu melempar sabuknya jauh-jauh dan menatap marah wajah putrinya sendiri. Keluarganya masih belum tahu soal kehamilan Bulan. Seandainya mereka tahu,, mungkin Bulan sudah dicincang.

__ADS_1


"Mulai sekarang, jangan harap kau bisa keluar lagi dari rumah ini sampai hari pernikahanmu tiba. Cepat masuk ke dalam kamarmu!" bentak ayah Bulan dan gadis malang itu langsung berdiri.


Bulan berjalan cepat masuk ke dalam kamar sebelum ayahnya berubah pikiran. Kebetulan, letak kamar Bulan ada dilantai 2 tepat berseberangan dengan tempat Raja kini berada.


"Dasar wanita murahan! Tidak tahu diri, bisanya cuma bikin masalah keluarga saja!" bentak salah satu kakak tiri Bulan yang bernama Belisa.


"Ayah, kenapa ayah masih mengizinkan si Bulan itu tinggal di rumah ini sih, Yah. Betty malu punya saudara nggak jelas kayak dia, Yah. Kenapa ayah nggak usir Bulan saja tadi?" seru saudara tiri Bulan yang lain.


"Betty, adikmu itu akan menikah lusa, tanpa ayah usirpun sebentar lagi ia juga akan pergi dari sini dengan sendirinya karena ia akan tinggal dengan suaminya. Kalian semua tahu sendiri, kakekmu berpesan untuk tetap menjaga Bulan sampai warisan kakek kalian jatuh ke tangan ayah. Jika tidak, maka ayah takkan dapat warisan apapun. Kalian semua harus bersabar oke, begitu ayah mendapat warisan kakek, ayah takkan pernah mengizinkan Bulan dan ibunya menginjakkan kakinya di rumah ini. Dan kita semua ... bisa hidup bahagia selamanya." Ayah Bulan memeluk kedua putrinya dengan penuh kasih sayang tanpa tahu ada sesosok wanita sedang menangis dibalik dinding ruangan.


Yah wanita itu ... siapa lagi kalau bukan ibu kandung Bulan. Sedangkan Bulan langsung menutup pintu kamar lalu menangis sesenggukan di atas tempat tidurnya.


"Ben!" panggil Raja pada asistennya.


"Iya, Tuan." Ben membungkukkan tubuhnya tanda siap menerima perintah.


"Carikan aku tangga, dan tunggu aku di sini sampai aku kembali."


"Baik Tuan." tanpa banyak bertanya, Ben langsung melaksanakan apa yang diinginkan Raja. Ia tahu kalau tuannya itu pasti mau menemui Bulan secara diam-diam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2