Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
episode 62 Perasaan Ben


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Ben menurunkan Kiran tepat di depan rumahnya. Ia tak banyak bicara setelah tahu keputusan besar yang diambil majikannya. Keputusan tersebut, pastinya akan berimbas buruk pada karir Raja, tapi sang artis rupanya sudah tak ingin mempertahankan popularitasnya lagi demi membahagiakan Bulan. Sudah cukup penderitaan yang dialami istri tercintanya selama ini dan Raja tidak ingin menambah derita wanita yang Raja cinta.


Ben langsung tertegun ketika Raja mengiriminya sebuah pesan di mana dirinya diminta untuk menyiapkan sebuah konferensi pers. Sang artis ternama itu akan mengumumkan pernikahannya dengan Bulan tanpa peduli pada konsekuensi yang bakal Raja terima bila semua orang di seluruh penjuru dunia tahu statusnya yang sudah bukan artis lajang lagi. Hal itulah yang mengganggu pikiran Ben sehingga ia tak begitu fokus pada keberadaan Kiran disisinya.


Kiran memang tidak banyak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Raja dan Bulan. Yang ia tahu, kedua pasangan kekasih berbeda kasta itu sedang ditimpa masalah besar. Namun semua itu bukanlah urusan Kiran. Hanya saja, entah mengapa, melihat pria tampan yang duduk disampingnya murung dan gelisah, Kiran jadi ikutan sedih juga.


Kenapa aku bisa merasakan apa yang dia rasakan? Apa yang harus kulakukan? Batin Kiran dalam diam. Ia sengaja tak ingin membuka suara terlebih dulu sampai suasana hati Ben membaik. Padahal mereka berdua, lumayan lama juga duduk bersama di dalam mobil.


“Nona Kiran, sudah sampai. Silahkan turun,” ujar Ben yang baru sadar kalau Kiran sejak tadi menemaninya termenung.


Kiran tak menyahut, ia malah memutar otak agar bisa lebih lama dengan pria yang telah berhasil mencuri hati dan pikirannya di hari pertama mereka bertemu. Awalnya, Kiran sangat membenci Ben karena dia adalah asisten dari Raja yang memiliki sifat sama-sama menyebalkan, tapi Kiran menyadari kalau ada yang berbeda dalam diri seorang Ben. Sekesal apapun Kiran pada pria tampan ini, ia tak bisa benar-benar membencinya dan malah terus memikirkannya. Aneh memang, tapi mungkin itulah yang dinamakan benci jadi cinta.


“Bisa antar aku ke suatu tempat? Aku tidak ingin pulang sekarang, nanti aku bakal kena petasan renteng dari ibuku karena aku meninggalkan pesta begitu saja berkat seseorang,” sindir Kiran sehingga Ben jadi merasa tidak enak juga.


“Maaf karena sudah mengacaukan pesta Anda, dan terimakasih karena sudah membela nona Bulan. Anda baik juga orangnya,” puji Ben tiba-tiba.


“Nona? Kau panggil wanita itu dengan sebutan ‘Nona’? Kau lebih tua darinya dan kau memanggilnya Nona? Huh, aku tidak percaya ini. Dengarkan aku ya Mister Ben, kau jangan salah paham, aku tidak membela wanita yang kau panggil ‘nona’ itu. Aku hanya tidak suka dengan cara ibu Raja memperlakukan wanita yang dicintai putranya. Kalau aku jadi seorang ibu, aku takkan memperlakukan pacar anakku seperti itu. Itu sangat kekanak-kanakan,” Kiran jadi kesal karena Ben bersikap jauh lebih sopan pada Bulan ketimbang pada dirinya.

__ADS_1


Tanpa sadar, Kiran malah bicara ngelantur bukan-bukan dan mengatakan isi hati yang ia rasakan sehingga membuat Ben tersenyum simpul. Belum apa-apa, Kiran sudah membicarakan kekasih anaknya bila akan jadi mertua, padahal menikah saja belum. Jangankan menikah, pacar saja Kiran juga tidak punya. Bukan kerena ia tidak laku, tapi sebagai model pendatang baru yang tengah naik daun, ia harus jaga image dan tak sembarangan memilih pasangan ataupun menjalin hubungan dengan siapapun.


“Bukankah saya juga memanggil Anda dengan sebutan ‘Nona’?” tanya Ben bingung, apa yang salah dengan ucapannya saat memanggil istri majikannya dan memperlakukan Bulan dengan sopan meski usia Ben jauh lebih tua ketimbang usia Bulan.


“Ah, sudahlah! Lupakan!” cetus Kiran kesal karena pria tampan yang duduk disampingnya ini tidak peka sama sekali.


"Anda ingin ke mana?” Ben mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia mulai menyalakan mesin mobil.


“Jalan saja, kalau aku suruh berhenti, berhenti saja,” cetus Kiran. Sebenarnya ia juga tidak tahu mau ke mana, yang Kiran inginkan hanya ingin sedikit lebih lama dengan Ben.


Jika biasanya Ben tak punya waktu bersantai dan selalu disibukkan dengan segudang jadwal aktivitas Raja, kali ini ia malah merasa aneh jika tak melakukan apa-apa. Untunglah ada Kiran yang terus membawanya ke tempat-tempat indah, di mana tempat yang Ben kunjungi bisa membuat fresh hati dan pikiran setiap orang yang sedang dilanda stress akut.


Bukan tanpa alasan kenapa Ben butuh hiburan, ia terlalu mengkhawatirkan akibat dari pers confers yang akan dilakukan Raja diluar jadwalnya yang super duper padat merayap. Kemungkinan terburuknya jika jumpa pers itu benar-benar dilakukan adalah, Raja akan kehilangan banyak fans fanatiknya dan bisa jadi karir Raja sebagai artis ternama hancur tak bersisa begitu seluruh dunia tahu tentang status pernikahannya dengan Bulan.


“Mungkin kau tak perlu bekerja lagi padaku Ben, karena aku tak butuh asisten lagi. Ini adalah permintaan terakhirku. Siapkan jumpa pers secepatnya, aku akan umumkan pernikahanku dengan Bulan sekaligus mundur sebagai artis. Terimakasih karena sudah mendampingiku selama ini. Kau bisa bekerja dengan artis lain jika kau mau. Kiran lebih cocok denganmu, jadilah asistennya dan buat dia sukses seperti yang kau lakukan padaku.” Itulah kata penutup yang dikatakan Raja melalui sambungan telepon.


Hati Ben serasa ikut sedih mendengar majikannya telah mengambil keputuan terbaik untuknya dan juga untuk Bulan. Ben tak bisa mencegah ataupun menentang keputusan Raja walau hatinya sangat berat. Puluhan tahun hidup bersama Raja, rasanya terasa ada yang hilang bila kini ia tak harus mengurus majikannya seperti dulu lagi. Berulang-ulang Ben menghela napas panjang seolah berat melepas apa yang terjadi sekarang. Situasinya sungguh sudah tidak terkendali dan Ben tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

__ADS_1


“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau seperti patah hati saja? Apa pacarmu memutuskan hubungan denganmu karena ketahuan jalan denganku?” canda Kiran, padahal ia tahu kalau Ben tak punya waktu untuk pacaran ataupun dekat dengan wanita karena kesibukannya mengatur jadwal keartisan Raja.


“Kalau saya punya pacar, saya takkan duduk di sini dengan model cantik seperti Anda, nona Kiran.” Ben tersenyum dan tiba-tiba saja ia mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Kiran tertegun. “Apa Anda menyukai saya?” tanyanya.


“Hah?” Kiran langsung salah tingkah, bukan hanya sekedar suka, tapi udah terlanjur jatuh cinta, tapi Kiran gengsi, masa iya dia yang ngaku duluan. “Mister Ben, jangan salah paham lagi, aku mengajakmu kemari, karena kulihat kau seperti orang mau bunuh diri bila kutinggalkan sendiri, bukan berarti aku menyukaimu, sok PeDe sekali kau!” cetus Kiran gugup padahal ia memang sangat mencintai Ben.


Lagi-lagi, Ben menghela napas panjang dan pandangannya menatap lurus ke sebuah danau indah terhampar luas di depan matanya. “Aku pikir kau menyukaiku, ternyata aku salah. Padahal jika tadi kau bilang kalau kau menyukaiku, maka aku akan memintamu menjadi kekasihku,” ujar Ben lirih dan sedih.


Kiran jadi bingung, ini maksudnya apa sih? Ben ini nembak atau apa? tanya Kiran dalam hati.


“Ben, sebenarnya ada apa? Kau … menyukaiku? Ah … bukan … apaaa … kau … mencintaiku?” tanya Kiran memastikan maksud dari ucapan asisten Raja.


“Jawab dulu pertanyaanku, kau menyukaiku?” Ben menatap mata Kiran lekat-lekat sehingga jantung gadis itu semakin berdetak sangat kencang.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2