
Tak ada reaksi apapun dari Raja setelah Bulan memberitahunya bahwa Bulan kini tengah berbadan dua akibat hubungan terlarang yang tak sengaja mereka lakukan. Air mata Bulan terus mengalir dan jatuh membasahi pipi lembutnya. Bulan sudah hancur sekarang, dan tugasnya memberitahu Raja juga sudah usai. Ia tahu betul tak ada yang bisa diharapkan dari seorang Raja terlebih statusnya sebagai artis papan atas yang digandrungi banyak wanita hampir diseluruh belahan dunia.
Kehamilan Bulan bagi Raja adalah suatu aib yang sewaktu-waktu bisa meledak bagai bom atom dan meluluhlantakkan dunia keartisan yang sudah Raja bangun dengan susah payah. Tentu bukan itu yang diinginkan baik Raja ataupun Bulan. Sebab itulah, Bulan mengatakan kalau ia takkan meminta pertanggungjawaban Raja atas apa yang terjadi padanya.
Lagipula, Bulan akan menikah sebentar lagi walau ia sanksi apakah pernikahannya bisa tetap belanjut atau tidak bila keluarganya tahu kalau Bulan sudah hamil diluar nikah. Apapun yang terjadi pada diri Bulan setelah ini, ia memutuskan untuk melahirkan anak yang dikandungnya dan akan hidup bersamanya suatu hari nanti bagaimanapun caranya. Itulah tekad Bulan sekarang.
Dengan memantapkan hati yang sudah Bulan siapkan sebelumnya, gadis itu mulai meraih gagang pintu dan bermaksud keluar bilik meninggalkan Raja yang terus terpaku tanpa bicara sepatah katapun. Begitu daun pintu terbuka, Bulan melangkah keluar dalam keadaan hancur sehancur-hancurnya.
Tak disangka, satu lengannya dicekal kuat oleh Raja dan pria itu menarik tubuh gadis tersebut ke dalam pelukannya. Tangan Raja yang lainnya menutup kembali daun pintu yang sempat terbuka agar tak ada orang lain yang melihat Raja sang artis ternama memeluk seorang wanita.
"Aku takkan membiarkanmu pergi lagi seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu. Sudah kuduga kau hamil, setiap hari aku sudah memikirkan ini," ujar Raja lirih sambil mengeratkan pelukannya pada Bulan.
Tangis gadis itu langsung pecah kala mendengar Raja bicara seperti itu padanya. Sungguh, ini diluar dugaan Bulan, ia sama sekali tidak menyangka kalau Raja bakal bersikap lebih dari apa yang Bulan pikirkan.
Tadinya Bulan kira, Raja akan menyangkal kehamilannya dan takkan pernah mau mengakui jika anak ini memang anaknya. Karena itulah Bulan tak menuntut apapun dari sang artis dan berniat menghilang dari kehidupan Raja. Sebab ia tak ingin terluka untuk kesekian kalinya. Tapi ternyata, Raja ... malah menahannya di sini bersamanya bahkan memeluknya. Benar-benar sulit dipercaya tapi ini nyata. Pelukan Raja terasa hangat dan menenangkan sampai Bulan tak tahu harus berkata apa.
"Kapan kau tahu kalau kau hamil?" tanya Raja lagi sambil menatap wajah Bulan. Ia membantu menyeka air mata wanita yang kini mengandung anaknya.
Ada perasaan aneh tiba-tiba dirasakan Raja kala melihat Bulan menangis sesenggukan didepannya. Perasaan ingin melindungi, menjaga bahkan menyayangi Bulan, mulai timbul di hati sang artis.
__ADS_1
"Baru tadi siang," isak Bulan, ia agak malu sebenarnya. Tangannya bahkan sampai gemetar saking groginya dipeluk seorang artis.
Baru pertama kali ini, Bulan merasakan suatu kehangatan yang tak pernah ia dapatkan selama ia menjalani kehidupan di dunia fana ini. Namun sekali lagi, Bulan sadar diri akan siapa Bulan yang terlahir sebagai anak yang terbuang. Ia juga tak lupa pada apa yang tengah ia hadapi sekarang. Perlahan, Bulan melepas pelukan Raja dan berdiri agak jauh darinya.
"Biarkan aku pergi. Kau sudah tahu sekarang, artinya tugasku sudah selesai. Aku tak butuh apa-apa lagi. Jangan pikirkan aku dan juga bayi ini. Aku bersumpah akan menjaga bayi ini dengan baik walau apapun yang terjadi." Sambil mengusap air matanya, Bulan mencoba tersenyum.
"Kau ini bicara apa? Tentu saja aku harus memikirkanmu dan calon anakku. Kau pikir aku binatang yang tak peduli pada apa yang telah kuperbuat meskipun kejadian malam itu tak sengaja kulakukan?" nada suara Raja agak keras. Mungkin ia tak terima bila Bulan lagi-lagi bicara seolah Bulan tak membutuhkannya.
"Masalahnya adalah, aku akan menikah dengan pria pilihan keluargaku. Ini sudah malam dan aku harus pulang sekarang. Kau bisa melanjutkan hidupmu sebagai artis dan anggap aku tak pernah ada. Aku tak menyalahkanmu karena sejak aku dilahirkan, nasibku memang sudah sial. Aku tidak mau karir dan hidupmu hancur hanya karena orang sepertiku. Kau dan aku akan menjalani kehidupan kita sendiri-sendiri dan di jalan kita masing-masing." Air mata Bulan kembali mengalir kala ia mengungkapkan apa yang ia rasakan dan fakta menyedihkan ini.
Hening, Raja tak berkomentar apa-apa lagi dan hanya melihat Bulan menangis. Ia baru tahu betapa menyedihkannya hidup wanita yang sedang hamil anaknya ini. Semakin bersalahlah Raja karena dulu sempat mengira Bulan bukanlah wanita baik-baik.
"Kapan kau menikah?" tanya Raja tenang setenang permukaan air. Seketika tangis Bulan berhenti karena bingung dengan sikap Raja yang menggampangkan masalahnya.
"Apa kau sudah makan? Makanlah sesuatu, kau kurus sekali. Aku tak ingin ada apa-apa dengan anak ini kalau kau sampai jatuh sakit," ujar Raja penuh perhatian dan semakin bingunglah Bulan karena yang Raja ucapkan melenceng dari topik utama mereka.
"Apa kau tidak dengar yang aku katakan tadi? Aku harus pulang, keluargaku akan mencariku dan lusa, aku akan menikah dengan pria pilihan keluargaku. Apa menurutmu ini waktu yang tepat untuk makan?" tanya Bulan sedikit emosi juga.
"Aku tahu, kau sudah memberitahuku kalau kau mau menikah. Aku akan mengantarmu pulang setelah kau makan. Aku tidak mau kau pingsan. Jika kau tidak makan, jangan harap aku akan membiarkanmu keluar dari ruangan ini." Raja mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Ben yang sedang sibuk membereskan para pria hidung belang karena sudah berani mengganggu Bulan.
__ADS_1
Kedua pria penggoda malang itu dibikin babak belur hingga patah tulang dan kaki oleh para anak buah Ben. Mereka berdua bahkan dibawa masuk ke dalam mobil dan dikirim jauh ke pulau terpencil sehingga dua pria itu tak akan bisa berbuat jahat lagi pada wanita.
"Iya Tuan, saya baru selesai membereskan para kecoak itu ... oh ... begitu ... baik ... segera saya laksanakan." Ben menutup panggilannya dan langsung pergi melaksanakan tugas dari Raja.
"Ayo pergi, pakai kacamata hitam dan topi ini, Ben akan menjemputmu dari pintu belakang sementara aku akan keluar melalui pintu depan."
"Apa maksudnya ini?" tanya Bulan masih belum mengerti.
"Aku mengajakmu berkencan, anggap saja begitu, tapi aku tak mau kau kena masalah dan jadi perhatian para fansku, makanya kita kencan diam-diam. Ben sudah siap siaga di belakang. Kita akan ketemu lagi setelah ini, oke! Hapus air matamu itu dan tersenyumlah. Kau lumayan cantik kalau tersenyum." Lagi-lagi Raja membantu menghapus air mata Bulan dengan jari jemarinya.
Mata Bulan semakin mengernyit dengan perubahan sikap Raja padanya. Sungguh ini serasa mimpi bagi Bulan. Ia sampai tak bisa berkomentar apa-apa mendengar Raja sungguh mengajaknya berkencan.
Gila! Ini mimpi nggak sih? Kayaknya ini mimpi. Mana mungkin artis songong ini mengajakku berkencan? Pacaran aja nggak? batin Bulan dan ia berusaha tetap sadar.
"Tapi ... aku harus pulang, aku bisa dalam masalah besar bila aku tidak pulang malam ini," ujar Bulan lagi.
"Aku akan mengantarmu pulang, tepat setelah kita selesai makan malam. Aku janji."
Raja melepas kacama hitamnya dan memakaikannya pada Bulan, tak lupa Raja juga memakaikan topi pada gadis itu dan menyuruhnya pergi. Keduanya terpisah untuk sementara sebelum akhirnya bertemu kembali ditempat yang sudah disiapkan Raja.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***