
Karena Bulan sedang banyak pikiran, dan tenaganya terkuras habis, Bulan memilih mengindahkan dan mengabaikan saja peringatan ibu mertuanya. Sejujurnya, Bulan masih belum percaya kalau sekarang ia sudah menikah. Kesedihan yang ia rasakan lebih besar dari kebahagiaan yang Bulan dapatkan sekarang. Mungkin karena Bulan masih belum sepenuh hati menerima Raja sebagai suaminya.
Secara fisik, Raja adalah pria sempurna, seorang artis ternama yang memiliki banyak segudang fans fanatik pula. Entah mengapa Bulan merasa pernikahan ini tetap tak membuatnya bahagia. Bumil itupun masuk ke kamar pengantin lalu menutup pintunya.
Kamar ini sangat sunyi, sepi, dan Bulan sedang menikmati kesendiriannya. Entah ada di mana Raja sekarang, sepertinya sang artis masih sibuk bekumpul dengan keluarganya. Bulan merebahkan dirinya di atas kasur. Semua kejadian hari ini membuatnya tertekan. Bayangan akan kemarahan ayahnya hingga ayah kandungnya sampai tega menghunuskan pedang padanya membuat Bulan merasa bahwa tak ada artinya lagi ia hidup di dunia fana ini bila hanya dianggap sebagai aib keluarga.
Tidak ada yang mau memilih hidup dipenuhi dengan tekanan seperti ini. Semua orang ingin hidup bahagia, dan biasanya orang-orang yang membuat hidup kita lebih berharga adalah keluarga dan orang-orang terdekat serta orang yang kita cintai. Sayangnya, Bulan tidak punya keluarga yang menyayanginya dan menerima kehadirannya. Hidupnya serasa hampa karena Bulan di cap sebagai anak haram hasil dari hubungan terlarang di luar nikah yang dilakukan ayah dan ibunya. Sama seperti yang terjadi pada Bulan dan Raja.
Tentunya hal itu membuat Bulan bertekad untuk melindungi anak yang dikandungnya agar tak bernasib sama seperti dirinya. Demi sang jabang bayi, Bulan harus bangkit kembali, berdiri di atas kakinya sendiri meski ia tahu, dirinya telah jatuh sejatuh-jatuhnya. Bulan menangis, tapi ia buru-buru menghapus air matanya begitu pintu kamar terbuka.
"Apa kau sudah tidur?" tanya seseorang yang baru saja datang dan menutup pintu serta menguncinya.
Bulan agak sedikit gugup dan terus mengusap sisa bulir air matanya lalu bangun berdiri dari tempat tidur. "Belum," ujar Bulan lirih. Ia tahu suara orang yang baru saja masuk itu adalah suara suaminya, si artis tenar Raja.
Raja berjalan ke dekat Bulan dan membantu mengusap sisa bulir air mata wanita yang kini sudah menjadi istrinya, Bulan menunduk tapi Raja terus saja menatapnya.
"Huh, ini canggung sekali. Rasanya aneh ... apa kau juga begitu? Makanya kau menangis?" tanya Raja. Ia merasa panas dan mulai melepas pakaiannya satu persatu dihadapan Bulan. Sepertinya ia tak merasa malu sama sekali.
"A-apaa ... yang kau ... lakukan?" tanya Bulan semakin gugup dan memalingkan wajahnya agar tak melihat Raja bertelanjang dada.
"Ganti baju, mana mungkin aku tidur dengan menggunakan pakaian pengantin begini? Apa kau mau ganti baju juga? Aku bisa membantumu melepasnya, sepertinya gaunmu itu ribet sekali. Apa kau tidak kepanasan? AC nya ini nyala loh, tapi aku aja gerah." Raja berhasil melepas pakaiannya dan menggantinya dengan piyama di depan Bulan. Ia sengaja melakukan itu untuk mengusir kecanggungan diantara mereka berdua meski Bulan masih enggan melihatnya.
__ADS_1
"Tidak terimakasih, aku bisa ganti baju sendiri," ujar Bulan.
Tapi Bulan bingung, ia tak punya pakaian ganti. Gadis itu menoleh ke sekeliling ruangan, tak satupun pakaian wanita tersedia di kamar ini. Bulan jadi kikuk sendiri sekarang. Tidak mungkin ia minta Raja meminjamkan pakaiannya lagi seperti tadi. Mau sampai kapan Bulan terus memakai pakaian Raja. Di ruangan yang Ben tunjukkan tadi hanya ada pakaian dan gaun pesta yang disiapkan nenek Raja untuk Bulan. Sama sekali tidak ada pakaian santai. Bahkan Bulan juga butuh mengganti pakaian dalamnya.
Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku minta Raja, batin Bulan. Ia memijit-mijit keningnya sendiri.
Seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya, Raja tersenyum simpul dan langsung menelepon Ben untuk membawakan barang-barang yang dibutuhkan Bulan sebagai wanita. Ben pun bergegas keluar untuk mencarikan barang-barang yang diminta tuannya. Karena ini sudah malam, banyak toko dan mall tutup. Tidak mungkin Ben kembali dengan tangan kosong. Bisa-bisa, Raja marah besar. Namun, Ben tak kekurangan akal, ia menelepon temannya untuk meminjam beberapa set pakaian santai beserta pakaian dalamnya.
Begitu dapat, Ben langsung kembali ke rumah majikannya dan menyerahkan semua barang yang diminta Raja. Sang artis membukakan pintu lalu mengambil barang-barang yang dibawakan Ben.
"Ketempelan setan apa kau ketawa ketiwi begitu, ha?" tanya Raja sembelum ia menutup pintu kamarnya di mana malam ini, telah menjadi malam pertama Raja dan Bulan.
"Diam kau! Pergi sana!" usir Raja, tapi yang diusir masih enggan meninggalkan posisinya. "Kenapa lagi?" tanya Raja semakin dongkol dengan Ben.
"Saya cuma mau bilang, Tuan. Besok saya tidak akan datang lagi kemari untuk membangunkan anda. Sebagai gantinya, saya akan menunggu anda di bawah sampai anda bangun sendiri ... haaaaa ... akhirnya, malam ini aku bisa tidur nyenyak juga. Permisi Tuan, dan sekali lagi selamat atas pernikahan anda. Selamat menikmati malam pertama kalian!" Ben menundukkan kepala dan sambil bersenandung ria, Ben meninggalkan kamar Raja.
"Dasar aneh!" gumam Raja dan menutup pintu kamarnya.
Raja mengeluarkan tas besar berisi beberapa set pakaian wanita yang tanpa Raja tahu, Ben meminjamnya dari teman Ben. "Pakai ini!" Raja menyodorkan tas besar itu pada Bulan.
Awalnya, Bulan canggung dan gugup. Ini pertama kalinya dalam hidup Bulan, ia dibelikan baju oleh orang lain, seorang pria pula. Bahkan yang membuat Bulan tercengang adalah, Ben membelikan gaun tembus pandang berenda dan jika Bulan memakainya, seluruh bagian tubuhnya bakal kelihatan.
__ADS_1
Tidak hanya itu, Bulan semakin shock ketika melihat ukuran pakaian dalam wanita yang ada di dalam tas besar tersebut, semuanya berukuran terlalu besar untuk Bulan. Baik yang bagian bawah, maupun yang bagian atas.
Bulan jelas terkaget-kaget melihat seperti apa isi dalm tas besar pemberian Ben. Namun, yang lebih kaget lagi adalah Raja.
"Awas kau, Ben! Lihat saja besok! Habislah kau!" gumam Raja kesal sekesal-kesalnya. Baik Raja dan Bulan, malah jadi sama-sama canggung sendiri.
Entah Ben ini sengaja atau tidak, yang jelas Raja jadi merasa tidak enak dengan Bulan. Karena itu, Raja berniat untuk membuat istrinya ini nyaman dulu dengannya.
"Ehm ... sepertinya ... pakaian itu tidak cocok untukmu, tidak usah dipakai." Raja memberikan kalimat komentar.
Bulan diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua ini baru bagi Bulan dan Raja, menjadi suami istri secara dadakan begini, tentu banyak hal yang perlu mereka siapkan untuk saling beradaptasi termasuk hal-hal yang bersifat intim dan pribadi.
"Maafkan aku Bulan, tak seharusnya aku menyuruh si bodoh Ben membelikan ini untukmu. Semua salahku, yang jadi suamimu adalah aku, bukan Ben. Harusnya akulah yang membelikanmu pakaian. Jangan marah ya," ujar Raja lembut. Ia ingin sekali Bulan juga menatapnya.
Istri Raja ini terus saja menunduk sehingga terpaksa sang artis ikut menundukkan kepalanya juga agar bisa melihat wajah cantik Bulan. Aksi Raja sukses membuat malu Bulan sehingga gadis itu membalikkan badannya agar Raja tak bisa melihat wajah merah meronanya lagi.
"Ayo, kita bersenang-senang," bisik Raja ditelinga Bulan dengan lembut.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1