
Di rumah Raja, si artis tenama itu sedang menyusun rencana besar dengan Ben agar bisa melarikan diri. Mereka berupaya membuat tali dari kain gorden yang ditautkan satu sama lain. Selagi Ben sibuk mengikat tali, Raja mengamati keadaan sekitar rumahnya. Ternyata, neneknya ini tak hanya menyuruh bodyguardnya berjaga di luar kamar Raja, tapi juga di setiap sudut rumahnya. Hampir tidak ada celah bagi sang artis untuk melarikan diri dari kediamannya sendiri.
Raja mondar-mandir kesana-kemari mencemaskan apa yang terjadi pada Bulan sekarang. Berkali-kali sang artis melihat arloji dan jika tahu kalau jamnya sudah melewati waktu pernikahan Bulan, Raja langsung berteriak kesal.
"Sial, sial, sial!" Haaaarrggh! Kau bisa lebih cepat nggak sih, Ben? Lama amat!" bentak Raja penuh emosi.
"Bantuin dong, Tuan ... daripada anda mondar-mandir nggak jelas begitu!" sewot Ben. Ia juga ikutan kesal melihat sikap Raja.
Padahal, Ben sudah berusaha keras menolongnya, tapi amsih dibentak juga. Yang mau nikah siapa yang repot dan yang kalang kabut siapa.
Raja mendengus kesal, iapun sudah tidak serantan dan memutuskan membantu mengaitkan kain-kain yang sudah disiapkan Ben untuk disambung jadi satu. Begitu selesai, mereka menurunkan sambungan kain tersebut dari atas balkon kamar Raja.
"Silahkan turun duluan Tuan," ujar Ben mempersilahkan Raja. "Anggap saja, ini reality show seperti yang pernah anda ikuti."
"Ini merepotkan sekali, kenapa aku harus melakukan semua ini demi seorang wanita," gumam Raja dan iapun perlahan menuruni kain gorden tersebut.
Ben cuma tersenyum simpul melihat tuannya ngedumel, tapi tetap dilaksanakan juga. Orang kalau sudah jatuh cinta, memang lupa segalanya dan bisa nekat melakukan apa saja.
Begitu Raja sudah aman sampai ke bawah, barulah Ben ikut menyusul turun. Mereka berdua mengendap-endap di semak-semak menuju pintu belakang rumah Raja dengan penuh waspada. Jangan sampai mereka ketahuan. Untuk sementara ini mereka aman. Para bodyguard Kenzie tidak tahu kalau sandera mereka telah berhasil lolos dari kurungannya. Raja dan Ben bermaksud melarikan diri lewat pintu belakang. Sebab, di pintu gerbang utama rumah Raja, lagi di jaga sangat ketat.
Namun sepertinya, dewi fortuna tidak berpihak pada Raja. Disaat mereka berdua hampir mencapai pintu gerbang halaman belakang, baik Ben dan Raja yang berjalan mengendap-endap tak sengaja menabrak tubuh kekar salah satu pengawal Kenzie. Dengan kata lain, mereka berdua tertangkap basah sebelum benar-benar berhasil melarikan diri.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya sang pengawal itu dari balik punggung Raja dan Ben.
__ADS_1
"Sial, kita ketahuan!" geram Raja.
"Tuan Raja, saya akan hitung sampai 3. Dihitungan ketiga ... anda harus segera melarikan diri dari sini, biar saya yang menghalangi orang besar berkepala plontos itu," gumam Ben pelan sambil membuat ancang-ancang.
Raja pun setuju dan ikutan bersiap lari sekencang-kencangnya.
"3 ... 2 ... 1!" seru Ben langsung memeluk tubuh kekar sang bodyguard sementara Raja berlari tunggang langgang mendekati pintu gerbang belakang.
"Lari Tuan! Semangat! Dapatkan nona Bulan!" teriak Ben menyemangati Raja sementara ia menahan tubuh sang bodyguard agar tidak mengejar Raja.
Sebenarnya, sia-sia saja usaha Ben menghalangi aksi pengawal Kenzie tersebut, sebab pria bertubuh kekar dan berkepala pelontos itu tak bergeming dari tempatnya. Sebaliknya, ia menatap lurus wajah Ben yang jauh lebih pendek darinya. Padahal, Ben ini tergolong tinggi juga. Tapi para bodyguard nenek Raja jauh lebih tinggi mencapai di atas rata-rata.
"Hei bocah!" ujar bodyguard tersebut sambil menatap Ben.
Begitu asisten Raja itu mendongak, sebuah bogem mentah langsung mendarat mulus di wajah Ben. Seketika pria itu pingsan dan terkapar tak berdaya. Sedangkan Raja, ia berhasil mencapai pintu gerbang belakang rumahnya dan bersiap membuka pintu tersebut. Saat pintu terbuka, ia terkejut karena neneknya sudah ada dihadapannya.
"Nenek, tolong ... izinkan aku pergi! Aku sudah terlambat, Nek." Raja memohon pada neneknya. "Jika Nenek menghalangi jalanku, maka Nenek akan kehilangan cicit Nenek." ada sedikit ancaman dalam ucapan Raja barusan.
"Hoo ... jadi kau mengancamku, ha?"
"Tidak Nek, aku memberitahu Nenek. Bukan mengancam."
"Bawa anak ingusan itu kembali ke kamarnya dan pastikan ia tidak bisa keluar sampai nanti malam," perintah nenek Raja pada kedua bodyguard yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Tidak, Nek! Nenek! Lepaskan aku!" Teriak Raja tapi sang nenek tidak peduli dengan teriakan cucunya.
Kedua tangan Raja dicekal kuat oleh kedua bodyguard Kenzie sampai Raja tak bisa bergerak ataupun berkutik sedetikpun. Tubuhnya diseret paksa kembali ke kamarnya. Raja terus memberontak, tapi seketika ia diam kala melihat Ben pingsan.
Mata Raja melotot mendapati asisten kepercayaannya terkapar tak berdaya di lantai. Sepertinya, para pengawal setia neneknya ini benar-benar sangat kuat dan tak terkalahkan. Bahkan Ben sang pemegang sabuk hitam saja kalah kuat dengan orang-orang besar pilihan Kenzie.
Tak ada yang bisa dilakukan Raja selain pasrah. Neneknya terlalu kuat untuk dilawan. Pikiran Raja tak bisa berhenti memikirkan Bulan yang mungkin kini tengah bersanding dengan pria lain dan jelas sangat tidak pantas untuknya. Raja terus saja berteriak tapi tak satupun dari orang yang ada di dalam rumah ini peduli pada teriakannya.
Mereka semua seakan menutup mata dan telinga serta hati nurani mereka dan itulah yang membuat Raja semakin kesal juga marah. Ia tak pernah menyangka, bahkan dirumahnya sendiripun, Raja tak bisa bebas melakukan apapun yang ia suka.
Akhirnya, si artis ngenez itu dibawa kembali ke kamarnya dan langsung di kunci dari luar. Bila sebelumnya ia terkurung bersama dengan Ben, kali ini ia dikurung seorang diri. Dengan langkah gontai, Raja hendak merebahkan dirinya di atas tempat tidur, tapi langkahnya terhenti. Sontak Raja berdiri mematung kala melihat ada seseorang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Seketika Raja berlari mendekat ke ranjangnya untuk memastikan bahwa penglihatannya itu tidak salah. Dan ternyata benar, orang yang terbaring di atas ranjangnya ini ternyata adalah Bulan. Ia terkejut karena keadaan Bulan sangat berantakan, wajahnya pucat dan rambutnya acak-acakan. Gadis itu juga masih memakai pakaian pengantin.
"Bulan, kau dengar aku? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa berantakan begini?" tanya Raja, tapi Bulan masih belum sadar juga.
Melihat kondisi Bulan. Raja jadi panik dan hendak memanggilkan dokter untuk Bulan, tapi belum sempat ia menelepon dokter, tiba-tiba saja, pintu kamar Raja terbuka dan nenek Raja masuk ke dalam.
"Apa dia belum sadar?" tanya Nenek Raja.
"Bagaimana bisa Bulan ada di sini, Nek? Apa yang terjadi?" tanya Raja bingung, meski tak dapat dipungkiri kalau dalam hatinya ia berjingkrak-jingkrak senang.
"Bersiaplah untuk nanti malam, kalian berdua akan menikah!" ujar Nenek tanpa ekspresi lalu pergi begitu saja dan sengaja tak memberikan penjelasan apapun lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***