Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 32 Perhatian Raja


__ADS_3

Keesokan paginya, acara persiapan pernikahan Bulan sudah mulai digelar. Tak seperti acara pernikahan pada umumnya, acara pernikahan Bulan dan pria tua cacat pilihan Mark selaku ayah Bulan hanya digelar ala kadarnya. Bahkan ayah Bulan tak mengeluarkan biaya sepersenpun untuk acara pernikahan putrinya. Entah terbuat dari apa hati orang yang bernama Mark samapi setega itu pada Bulan.


Sebagai gantinya, orang-orang suruhan calon suami Bulanlah yang mendekor rumah dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara besok. Tak banyak tamu yang diundang, mengingat Mark menikahkan putrinya karena sebuah perjanjian saham. Bukan karena punya hajatan.


Mark menerima tawaran menguntungkan dari pria tua cacat sebagai rekan bisnisnya. Viky, si tua bangka yang sudah tak bisa berjalan itu berjanji memberikan sebagian sahamnya pada Mark secara percuma dengan catatan, Mark harus menikahkan salah satu putrinya dengan Viky. Tentu saja tawaran menggiurkan itu tak bisa ditolak Mark yang gila akan harta dan kekuasaan. Dan yang jadi korban barter itu, siapa lagi kalau bukan Bulan.


Malam sebelum hari H pernikahan, Mark datang ke kamar Bulan untuk melihat kesiapan putrinya yang akan menikah dengan rekan bisnisnya.


"Besok kau akan menikah, bersikaplah baik pada rekan bisnis ayah. Jika tidak, aku takkan pernah mengakuimu sebagai putriku," ujar Mark.


"Sejak kapan ayah mengakuiku jadi putri Ayah? Jika Ayah menganggapku anak, Ayah takkan pernah menikahkanku dengan pria tua yang jauh lebih pantas jadi ayahku ketimbang suamiku," cetus Bulan kasar dan tak mau menatap wajah ayahnya.


"Jaga bicaramu. Masih untung kau bisa hidup enak di rumah ini! Segala fasilitas yang kau butuhkan aku penuhi! Inikah caramu berterimakasih padaku?" bentak ayah Bulan.


"Aku tak minta dilahirkan kedunia ini hanya untuk berterimakasih padamu, Ayah. Jika Ayah tak menginginkanku sejak awal? Kenapa Ayah tidak membunuhku?" tangis Bulan mulai pecah saat mengatakan kalimat menyedihkan itu pada ayahnya. Sudah cukup baginya diperlakukan tidak adil di rumah ini.


"Kau harus banyak makan. Aku dengar seharian ini kau tidak makan." Ayah Bulan sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin berdebat dengan putrinya yang bisa berakibat fatal untuk acara pernikahan besok.


"Untuk apa Ayah peduli padaku, mau aku makan atau tidak itu bukan urusan, Ayah."

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu belakangan ini. Bibi bilang kau muntah-muntah setiap pagi. Aku tak mau kau sakit disaat kau akan menikah dengan calon suamimu. Makan saja hidangan yang disuguhkan dan minumlah obatnya. Jangan sampai kau mengacaukan acara pesta pernikahanmu, besok!" ucapan Mark membuat hati Bulan langsung ketar-ketir sekaligus sedih.


Yang ada dipikiran ayah Bulan hanyalah kebaikan citranya sendiri tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan dan kondisi yang dialami Bulan saat ini. Tak mungkin juga Bulan memberitahu ayahnya kalau dirinya kini tengah hamil. Entah apa yang akan terjadi jika ayahnya ini sampai tahu.


Seketika wajah Bulan menjadi tegang dan berkeringat dingin. Cepat atau lambat, seluruh keluarganya pasti tahu apa yang terjadi padanya sekarang. Untunglah ayah Bulan tidak curiga dan pergi meninggalkan Bulan sendirian di dalam kamar. Bulan juga berpesan agar tak ada yang mengganggunya malam ini karena ia ingin sendiri. Maksudnya, ia tak ingin orang lain tahu kalau ia akan langsung mual dan muntah ketika ia mencium bau-bau yang menyengat.


Hari semakin larut, tapi mata Bulan tak juga terpejam. Ia sungguh tak bisa tidur malam ini. Rasa lapar yang begitu hebat menyerang Bulan. Namun ia tak ingin memakan makanan yang dihidangkan di sini. Bulan ingin sekali makan sesuatu yang masam dan pedas.


"Ada apa denganku? Kenapa aku ingin sekali makan mangga muda?" gumam Bulan dan tak berselang lama, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu balkonnya.


Tok tok tok!


Bulan mengamati siapakah orang yang dengan beraninya mengetuk pintu balkon kamarnya malam-malam. Dan betapa terkejutnya ia karena orang itu adalah Raja.


"Aku sudah bilang kalau aku akan datang lagi. Kali ini aku tidak datang dengan tangan kosong. Aku bawa makanan untukmu. Sejak kemarin aku lihat, kau sama sekali tak menyentuh makanan yang disediakan di rumah ini. Aku pikir kau pasti ingin sekali makan ini." Raja menyodorkan sebuah bungkusan berisi makanan kesukaan Bulan. "Buka dan makanlah, kau mau aku suapi?" tawar Raja.


"Tidak terimakasih." Meski bingung dan agak canggung, Bulan menghargai niat baik Raja yang susah payah membawakannya makanan.


Sejujurnya, Bulan hampir tida percaya kalau pria yang menyelinap ke kamarnya ini adalah Raja, si artis tenar ternama yang digilai banyak kaum hawa diluaran sana.

__ADS_1


Jangan-jangan ... artis ini punya kembaran, satunya bertingkah aneh seperti orang yang ada dihadapanku ini, satunya lagi si sombong yang arogan dan sok kecakepan, batin Bulan sambil terus menatap Raja.


"Apa ... wajahku terlalu tampan? Sampai kau menatapku seperti itu? Iya sih ... aku memang tampan, kalau tidak, mana mungkin aku punya banyak fans." Raja mulai narsis dan membuat Bulan nyengir kuda sendiri dan menganggap Raja kena sindrom ngartis.


"Aku sudah terima makanan yang kau bawakan, sekarang pergilah sebelum ada paparazi atau wartawan yang melihat kalau artis idola yang digilai banyak wanita seluruh jagad raya ketahuan menyelinap masuk ke dalam kamar wanita yang hendak menikah," usir Bulan sekaligus menyindir Raja.


"Aku tidak akan pergi sebelum kau memakan semua makanan yang kubawakan." Raja mulai memasang wajah seriusnya.


"Apa kau sudah gila! Kita bisa dalam masalah kalau kau ada di sini lama-lama ..."


"Sssssttt! pelankan suaramu, nanti ada yang dengar." Raja menempelkan jari telunjuknya di bibir lembut Bulan sehingga gadis itu terdiam. Mata keduanya saling bertatapan. "Pernikahanmu besok bisa batal kalau sampai ada yang melihat kita berdua di sini. Aku datang hanya ingin memastikan kau dan bayi ini baik-baik saja. Jangan siksa dirimu karena bayi kita tidak bersalah. Kalau kau marah, marahlah padaku, tapi jangan lampiaskan kemarahanmu pada makhluk tak berdosa yang ada diperutmu ini." Raja menyentuh pelan perut Bulan dengan lembut untuk merasakan kehadiran buah hatinya.


Sungguh, Bulan tak bisa berkata-kata lagi. Ia salut pada pria yang berdiri didepannya. Sepertinya, Raja sangat menyayangi calon anaknya dan itu membuat Bulan jadi iri. Iri karena ia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari sang ayah seperti yang dilakukan Raja pada bayi yang dikandungnya sekarang. Jangankan kasih sayang, Ayah Bulan bahkan tak pernah menyentuh Bulan seperti yang dilakukan seorang ayah pada anak-anaknya yang lain.


Kali ini, Bulan sudah tak bisa membendung lagi air mata yang mati-matian ia tahan. Raja langsung memeluk gadis itu dengan erat seakan tahu apa yang dialami wanita yang tengah mengandung anaknya. Sebab, Raja mengetahui seperti apa perlakuan ayah Bulan karena dirinya, sudah ada di sini sejak tadi.


"Kau yakin tak ingin membuka makanan yang kubawakan? Percayalah padaku, kau pasti akan suka. Aku juga sudah menyuruh Ben untuk mencarikan mangga muda untukmu. Bersabarlah menunggu karena ini sudah malam dan tak banyak toko buah yang buka," ujar Raja sambil menenangkan Bulan dalam pelukannya. Ia mengelus lembut rambut hitam Bulan.


Bukannya menyahut ucapan Raja, Bulan malah semakin sesenggukan dipelukan pria asing yang tiba-tiba saja hadir dalam hidupnya. Gadis itu tak tahu harus bersandar pada siapa. Kehadiran Raja benar-benar membuat emosi Bulan semakin meningkat sehingga ia bisa mengeluarkan seluruh amarah yang ia pendam selama ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2