Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 25 Tekad Bulan


__ADS_3

Bagai kejatuhan gunung besar dari atas langit-langit, Bulan benar-benar tak pernah menyangka kalau ia ternyata tengah berbada dua. Rasanya Gadis itu tidak bisa memercayainya. Sungguh ia sangat shock berat sampai tak tahu harus berbuat apa. Bahkan Bulan tidak berani pulang, ia takut ketahuan keluarganya. Bulan juga merasa kalau ia juga tidak bisa berlama-lama ada di sini. Tidak enak dengan dokter dan orang-orang yang ada di rumah sakit ini.


Sebisa mungkin, Bulan menyembunyikan air matanya. Tangisnya langsung pecah ketika ia sampai di pinggir jalan dan gadis itupun terduduk lunglai untuk mengumpulkan kembali tenaganya sebelum ia melanjutkan perjalanannya.


Dengan langkah gontai, Bulan berjalan menyusuri jalan sambil terus memegangi foto USG yang memperlihatkan kalau ada janin di dalam rahim Bulan. Ia menangis dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Bulan hanya melakukan satu kesalahan dan itupun tak disengaja, tapi kenapa malah ada makhluk ciptaan Tuhan tak berdosa dirahimnya hasil dari kesalahan satu malam itu.


Sempat terpikir untuk menggugurkan kandungannya, tapi hati nurani Bulan melarang keras niat itu. Bagaimanapun juga, calon anaknya ini punya hak hidup, Bulan sama sekali tak punya hak melenyapkannya hanya untuk menutupi kesalahannya.


Rasa stres berat langsung menyerang Bulan, ia bahkan tidak sadar kalau dirinya sudah berjalan terlalu jauh dan tidak tahu ada di mana ia sekarang. Hari juga sudah malam dan Bulan kini semakin tersesat di tengah hiruk pikuknya perkotaan. Pikirannya buntu dan tidak tahu, arah mana yang bisa Bulan ambil agar ia bisa pulang meskipun ia ragu apakah benar ingin pulang atau tidak.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana bisa aku hamil? Dan anak ini ... bagaimana dengan anak ini?" Bulan memegangi perut ratanya sambil berlinang air mata.


Yang melakukan kesalahan adalah dirinya dan artis sombong itu, mana mungkin ia tega melampiaskan pada calon anaknya sendiri? Disisi lain, Bulan bisa membayangkan bagaimana nasib anak yang ada dikandungannya bila nanti ia lahir ke dunia fana ini. Dirinya saja merupakan anak yang dibuang, apalagi janin yang dikandungnya ini? Nasibnya bakal lebih mengenaskan bila diandingkan dengan Bulan sekarang.


Karena banyak pikiran, tanpa sadar, Bulan sudah ada di depan sebuah kafe. Ia melihat ada banyak sekali kaum hawa sedang bergerombol dan berkerumun di halaman depan kafe sampai hampir memenuhi lahan luas itu. Sebagian besar dari mereka membawa papan nama dan pamflet serta brosur bertuliskan nama artis yang sepertinya sedang mereka semua tunggu-tunggu kedatangannya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Bulan saat mengetahui siapakah nama artis yang sedang para fans itu tunggu. Dia adalah Raja. Orang yang merenggut kesuciannya sekaligus ayah dari calon bayi yang dikandungnya sekarang.


Tiba-tiba saja, sebuah mobil Alphard hitam dan beberapa mobil sedan hitam lainnya, melintas di pinggir Bulan yang sejak tadi terpaku karena terkejut melihat semua fans fanatik Raja ada di depan kafe dan langsung menyambut kedatangan sang artis yang baru saja tiba. Dari kejauhan, Bulan sempat melihat Raja keluar dari dalam mobilnya. Karena ia memakai kacamata hitam, gadis malang itu tidak tahu apakah Raja menyadari kehadirannya atau tidak. Bulan hanya menangis dalam diam sembari memegang perut ratanya.


"Aku harus pergi," gumam Bulan, ia memutuskan balik badan, tapi ia ragu. Bulan menghentikan langkahnya karena hatinya bergetar dengan sangat kuat. "Tidak, bagaimanapun juga, orang itu harus tahu kehadiran anak ini. Tapi aku tidak yakin ... orang itu pasti menghinaku lagi." Bulan maju berjalan pergi, tapi baru beberapa langkah. Ia berhenti kembali. Hati nurani Bulan mengatakan kalau Raja harus tahu kalau ia hamil anaknya.


Setelah mengalami perang batin yang begitu kuat, akhirnya hati nurani Bulanlah yang keluar sebagai pemenangnya. Ia berbalik badan dan kembali ke kafe tempat Raja kini berada. Sepertinya, sang artis itu sedang mengisi acara di situ dan menjadi bintang tamu spesial. Bulanpun memberanikan diri dengan membuang semua harga diri yang ia punya hanya untuk memberitahu Raja kalau ia tengah hamil anaknya.


Selebihnya, Bulan tak menginginkan apapun lagi. Mau Raja percaya atau tidak padanya, Bulan tidak peduli, sebab ia yakin, Raja takkan pernah mengakui hasil perbuatannya karena saat itu, mereka sama-sama tidak melakukannya secara sukarela.


Bulan agak canggung juga masuk ke kafe yang penuh dengan orang, lampu remang-remang langsung menyapa Bulan tanpa henti. Hatinya kembali ragu, tapi ia sudah mengambil keputusan, setelah memberitahu Raja, ia akan pergi dan menghilang dari hidup Raja selamanya. Itulah niat Bulan datang kemari.


"Itu nona Bulan Tuan," jawab Ben yang langsung tahu maksud Raja, sebab ia juga melihat Bulan datang.


"Untuk apa dia kemari? Apa dia mencariku? Tapi ... dia bilang dia tidak ingin melihat wajahku!" tanyanya. "Kau tahu kan Ben, nenek menghajarku habis-habisan malam itu." Raja bicara pada asisten kepercayaannya tapi matanya terus mengamati pergerakan wanita yang sempat menghiasi ranjangnya meski hanya satu malam.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, Tuan. Mungkin ada hal penting yang harus ia sampaikan sehingga Nona Bulan nekat datang ke kafe ini. Akhirnya dia muncul juga setelah sebulan menghilang. Anda juga sudah saya beritahu kalau kejadian malam itu, bukan salah nona Bulan. Harusnya anda minta maaf padanya mumpung ...."


"Iya, iya ... aku tahu ... kau ini seperti ayahku saja!" sela Raja keki juga pada Ben karena asistennya itu lagi-lagi mengomelinya.


Tatapan mata Raja, tak pernah lepas dari sosok gadis cantik yang sedang kebingungan di tengah banyak orang. Saat ini, semua orang sedang sibuk melihat pertunjukan yang diadakan di Kafe ini. Jadi, Raja bisa leluasa mengamati Bulan dari atas tanpa kentara. Namun, sang artis langsung memicingkan mata ketika melihat Bulan, tiba-tiba didatangi sekelompok pemuda dan mulai mendekati Bulan.


Mereka bahkan meminta Bulan berdansa dan menari bersama. Tentu saja Bulan menolak ajakan mereka semua secara halus karena tujuannya datang ke kafe ini bukan untuk bersenang-senang dengan mereka, melainkan karen ada urusan dengan Raja. Penolakan Bulan ternyata malah semakin membuat pemuda itu tertarik pada Bulan dan terus menempeli Bulan kemanapun Bulan pergi.


Mengetahui hal itu, Raja tak mau tinggal diam dan berdiri saja di sini. Iapun hendak menjauhkan Bulan dari para gerombolan pria-pria pecinta wanita yang sedang mencoba menggoda Bulan.


"Ben, ayo turun! Bereskan kecoak-kecoak itu ... bisa-bisanya mereka mengganggu wanita bodoh dan polos seperti Bulan! Dasar kecoak," geram Raja.


"Anda tunggu di sini saja, Tuan. Jaga image anda. Biar saya saja yang bertindak. Ada banyak tamu penting dan paparazi di sini." Ben mengingatkan.


"Persetan dengan image. Aku kesal sekali dengan orang-orang itu." Terdengar api kemarahan di suara Raja dan Ben hanya tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2