Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 16 Tawaran Nenek


__ADS_3

Bulan tak bisa berkata-kata setelah tahu siapa nenek yang ia tolong sebenarnya. Dibalik pakaiannya yang compang-camping itu, rupanya nenek adalah seorang direktur perusahaan restoran ternama. Sadar akan kesalahan yang Bulan lakukan karena ia tak langsung percaya pada ucapan sang nenek, Bulanpun langsung meminta maaf.


"Maafkan saya. Nek. Saya sungguh tidak tahu kalau Nenek adalah orang penting di sini," ujar Bulan lirih.


"Kau tidak perlu minta maaf. Justru akulah yang harusnya berterimakasih karena di hotel mewah itu ... kaulah satu-satunya orang yang tak menganggap rendah diriku. Di zaman modern seperti sekarang ini, sulit menemukan wanita sebaik dirimu. Aku menyukaimu, jadilah cucuku." Nenek itu sungguh sangat to the poin pada Bulan, padahal mereka baru saja bertemu.


Pujian yang diucapkan sang nenek sama sekali tak membuat Bulan senang dan malah sebaliknya, ia terlihat sedih karena untuk pertama kali dalam hidupnya, ada orang yang mengatakan kalau dirinya adalah wanita yang baik. Di mata keluarga kayanya, Bulan hanyalah anak pembawa sial dan biang kerok masalah. Karena itulah ia terasingkan oleh keluarganya sendiri. Hanya demi ibunya, Bulan bertahan hidup hingga sekarang. Jika tidak, mungkin Bulan lebih memilih bunuh diri sejak lama. Tanpa sadar, Bulan meneteskan air mata meratapi betapa ironisnya hidup yang harus dijalani oleh seorang Bulan.


"Kenapa kau menangis?" tanya sang nenek yang heran karena tiba-tiba gadis yang menolongnya ini menangis tanpa sebab.


"Tidak apa-apa, Nek. Aku hanya sedang banyak masalah saja," isak Bulan memalingkan wajahnya sambil mengusap sisa bulir air mata yang terus mengalir membasahi pipi lembutnya.


"Oh, kau dipecat dari hotel itu karena aku. Maafkan aku."


"Tidak Nek, bukan karena itu. Aku sendiri juga sudah tidak betah bekerja di sana. Jadi, Nenek tidak perlu minta maaf."


"Siapa namamu?"


"Bulan, Nek. Panggil saja Bulan."


"Kau punya keluarga?" tanya nenek itu.


Pertanyaan yang membuat Bulan tertawa ketir. Ia punya keluarga tapi tak pernah menganggapnya ada. Bahkan Bulan tidak tahu apakah keluarganya itu mau mengakuinya sebagai anggota keluarga atau tidak.

__ADS_1


"Di mana keluargamu?" Nenek kembali bertanya karena Bulan tak kunjung menjawab pertanyaanya.


"Punya, tapi ... tolong jangan bahas mereka kali ini. Aku mohon, Nek." wajah Bulan kembali terlihat sedih dan sang nenek langsung mengerti. "Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku meninggalkan Nenek begitu saja, tapi ... masih banyak hal yang harus aku urus sekarang. Jadi aku harus pergi? Senang bisa melihat Nenek."


Bulan berdiri dan membungkukkan tubuhnya untuk izin pamit undur diri. Ia pun balik badan tanpa menunggu jawaban dari si nenek yang duduk santai didepannya. Namun langkah Bulan terhenti karena beberapa pengawal berjas hitam dan bertubuh kekar menghadang jalannya.


"Kenapa kau buru-buru pergi? Nona Bulan Sergey Permata? Ikutlah denganku ke pesta. Akan aku jadikan kau Cinderella zaman now," seru sang nenek yang langsung membuat Bulan terkejut.


Gadis itu jadi betanya-tanya, siapakah nenek ini dan apa yang ia rencanakan. Bagaimana ia bisa tahu nama lengkap Bulan.


Bahkan hingga detik ini, gadis itu sama sekali tidak mengerti, kenapa direktur ini menyamar sebagai orang miskin dan datang ke hotel tempatnya bekerja sehingga ia harus kehilangan pekerjaan disaat ia sangat membutuhkan banyak uang. Ditambah lagi, sepertinya si nenek sedang merencanakan sesuatu dan melibatkan Bulan ke dalam urusannya. Bukan ini yang Bulan inginkan, sebenarnya ia tidak mau ikut campur urusan orang lain karena masalahnya sendiri saja sudah sangat banyak.


"Maafkan aku, Nek. Aku tidak suka pesta dan juga tidak pernah pergi berpesta. Terimakasih tawarannya dan aku tak ingin jadi Cinderella atau siapapun. Terimakasih banyak, Nek. Tolong izinkan aku pergi." Bulan kukuh pada pendiriannya. Saat ia tak ingin menambah masalah lagi dalam hidupnya.


"Bawa dia pergi," ujar nenek itu tanpa menggubris penjelasan Bulan.


Tadinya gadis malang itu mengira bakal diantar kerumahnya, tapi ternyata ia malah dibawa ke salon dan dipermak habis-habisan oleh orang-orang kepercayaan si nenek.


***


"Nona Bulan telah dipecat dari hotel ini Tuan muda," lapor Ben pada Raja begitu ia mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi pada Bulan.


"Apa maksudmu?" tanya Raja yang baru saja bangun tidur. Ia berdiri menatap kamar jendela hotel sambil memikirkan banyak hal.

__ADS_1


"Terjadi insiden kecil sehingga atasan nona Bulan memecatnya."


Raja tak langsung menyahut, ia terus menatap pemandangan hotel sambil meminum minumannya. "Apa keluargaku sudah tiba?"


"Belum Tuan," jawab Ben.


"Kalau begitu, cepat cari gadis itu dan bawa padaku bagaimapun caranya. Aku harus membuatnya tutup mulut sebelum berita ini menyebar kemana-mana. Cepat lakukan sebelum acara makan malam dimulai!" perintah Raja pada Ben. "Kau benar Ben, aku harus bicara baik-baik dengannya. Kejadian malam itu terjadi begitu saja, aku juga ingin tahu bagaimana bisa dia ada di atas ranjangku."


Tanpa banyak bicara, Ben melaksanakan apa yang diinginkan Raja. Namun, setelah dicari kemana-mana, Ben tak dapat menemukan Bulan. Seluruh pasukan pelacak juga sudah pria dingin itu lakukan tapi tak kunjung menemukan wanita yang dicari atasannya. Ya gimana mau ketemu? Orang Bulannya sudah diculik dan dibawa pergi oleh anak buah nenek asing tak dikenal.


"Kami tidak bisa menemukan wanita itu dimana-mana Tuan Ben," lapor salah satu orang suruhan asisten Raja. Saat ini Ben sedang ada di pinggir jalan sambil memerhatikan sekeliling. harusnya Bulan tak berada jauh disekitar sini setealh ia sempat memantau cctv.


"Aneh, hilang ke mana wanita itu. Periksa seluruh terminal dan stasiun serta data daftar penumpang bis antar kota. Temukan dia bagaimanapun caranya! Cepat!" seru Ben tak ingin membuat Raja marah.


"Baik!" seluruh orang-orang Ben langsung bergerak cepat melaksanakan tugas mereka.


Sementara itu, secara tak sengaja, dari kejauhan Ben melihat ada seorang wanita cantik sedang dikerubungi banyak pria. Wanita itu terus berjalan mundur dan ketakutan. Sepertinya para pria yang sedang mengepungnya hendak berbuat jahat pada wanita yang ternyata adalah Kiran.


"Kenapa wanita itu ada di sini?" gumam Ben dan ia hendak pergi begitu saja, tapi entah kenapa hatinya merasa tidak enak sendiri bila meninggalkan Kiran sedang dalam masalah seperti itu.


Ben berperang dengan batinnya antara melaksanakan tugas dan menolong wanita yang menjadi penyebab masalah antara Raja dan juga Bulan. Ternyata ... hati nurani Ben lah yang menang karena ia adalah laki-laki sejati.


"Orang ini benar-benar merepotkan, kenapa juga aku harus bertemu dengan wanita itu di sini." Ben terlihat kesal.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2