Pengantin Milik Raja

Pengantin Milik Raja
Bab 37 Aksi sang nenek


__ADS_3

Kabar tentang kehamilan Bulan ditengah acara pernikahannya yang akan digelar menjadi gonjang-ganjing semua orang di sini. Seluruh keluarga Bulan kaget bukan kepalang termasuk keluarga calon suami Bulan. Mereka tidak menyangka, Bulan yang tampak seperti gadis baik-baik ternyata bisa menciptakan sebuah aib dan bikin malu keluarga. Seketika nama Mark selaku ayah Bulan rusak sudah dimata khalayak kerena memiliki putri yang hamil diluar nikah.


Mereka semua bahkan berspekulasi kalau ayah dari anak yang dikandung Bulan hanyalah pria bejat biasa yang bisanya mempermainkan wanita polos seperti Bulan. Entah apa reaksi mereka semua bila pria yang menghamili Bulan adalah seorang artis papan atas yang menjadi idola para kaum hawa. Bisa jadi, beberapa wanta yang ada di sini adalah penggemar Raja.


Si pria tua cacat alias calon suami Bulan, tak ingin lagi meneruskan pernikahan ini. Ia murka karena merasa ditipu mentah-mentah oleh ayah Bulan. Baginya, pernikahan ini sebuah penghinaan besar. Rekan bisnis ayah Bulan itu menuntut ganti rugi dalam jumlah besar dan membatalkan kerja sama mereka termasuk pembagian saham secara cuma-cuma.


Kemurkaan calon suami Bulan menyulut api kemarahan tak terkira dalam diri seorang Mark. Ia menyalahkan Bulan atas tindakan memalukan yang dilakukan Bulan sampai ia hamil diluar nikah. Sungguh ia tak pernah mengira karena memiliki anak memalukan seperti Bulan.


"Kurang ajar kau Bulaaaan! Matii saja, kau!" teriak Mark menggelegar saking marahnya. Ia bahkan menyabet pedang samurainya yang terpajang rapi di dinding ruang keluarga Mark.


Aksi ayah Bulan yang kelewat batas itu mengagetkan semua orang karena Mark seperti orang kesurupan yang hendak membunuh anaknya sendiri dengan pedang. Ibu Bulan langsung berlari menghadang suami sirinya, memohon ampun atas nama Bulan. Semua orang tahu kalau usaha ibu Bulan, hanya akan sia-sia saja.


"Jangan suamiku ... jangan bunuh Bulan, bagaimanapun juga .. dia anakmu, darah dagingmu sendiri," isak Alta sampai berlutut di bawah kaki suaminya.


"Anak!" teriak Mark semakin marah. "Kalau dia anakku! Harusnya ia tak membuat aib yang bisa mencemarkan nama baik keluarga? Dia hamil dan aku tidak tahu? Oke, sekarang aku mengerti betapa hina dan murahnya putrimu sama seperti dirimu dulu!" Bentak Mark penuh emosi.


"Jangan bicara begitu suamiku, kiat dengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi, jangan bertindak gegabah begini! Kau akan menyesal nanti ...."


"Haaaaacchhh!" teriak Marka tak ingin dengar apapun dari istri sirinya. "Satu-satunya penyesalanku adalah, kenapa aku tak membunuh Bulan saat ia masih tumbuh di rahim kotormu itu! Itulah yang aku sesalkan seumur hidup!"

__ADS_1


Mark menendang ibu Bulan menyingkir dari kakinya dan berjalan cepat menghampiri Bulan yang sejak tadi duduk terdiam seakan pasrah akan nasib hidupnya saat ini. Kalaupun Bulan harus mati di tangan ayahnya, ia sudah siap. Mungkin dengan begitu, Bulan takkan menjadi beban siapapun.


Semua orang tegang dan juga panik kalau-kalau mereka semua bakal menyaksikan pembunuhan sadis yang dilakukan seorang ayah pada anaknya karena telah mencoreng nama baik keluarga. Hanya istri sah dan putri-putri Marklah yang tampak tenang setenang permukaan air kolam menyaksikan adegan pembunuhan yang bakal dilakukan oleh kepala keluarga di rumah ini.


Tak peduli dengan pandangan semua orang terhadap dirinya, ayah Bulan nekat bermaksud menghabisi nyawa anaknya sendiri di detik ini juga hanya karena putrinya sudah menghancurkan usaha keras yang dibangun Mark untuk mendapatkan peluang bisnis yang besar. Tapi sekarang, gara-gara Bulan, impiannya menjadi pengusaha sukses, kandas sudah karena reputasinya telah rusak parah. Mark berdiri tepat dihadapan Bulan dan siap menghunuskan pedangnya hendak menebas kepala putrinya sendiri.


Semua orang panik dan berteriak histeris, bahkan diantara mereka ada yang menutup wajah dan berlari keluar untuk meminta pertolongan. Mereka semua ketakutan dan sangat prihatin melihat nasib Bulan yang pasrah pada keadaan. Namun, mereka semua juga tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan melihat saja karena ini bukan urusan mereka. Ibu Bulan sudah pingsan duluan karena tak kuat membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya pada Bulan.


"Kehadiranmu benar-benar merusak kehidupanku! Matilah kau!" teriak ayah Bulan dan ia mengayunkan pedangnya tepat ke leher Bulan.


"Hentikan!" teriak seseorang menghentikan aksi Mark yang hendak memenggal kepala putrinya sendiri.


"Aku bilang hentikan! Atau kau ... kulenyapkan juga!" teriak wanita itu lagi lebih lantang dari sebelumnya.


Yah, wanita itu ... siapa lagi kalau bukan nenek Raja. Ia datang tepat waktu sebelum terjadi insiden sadis seorang ayah yang tega membunuh putrinya sendiri.


"Siapa kau? Apa hakmu mencampuri urusanku!" teriak Mark dengan mata merah menyala karena marah.


Ayah tidak tahu diri itu kembali mengayunkan pedangnya ke arah Bulan, tapi para bodyguard Kenzie mencegah aksi Mark dan menyelamatkan Bulan dengan menyingkirkan tubuh Bulan dari Mark sejauh mungkin. Kedua tangan ayah Bulan dicengkeram kuat oleh para bodyguard tersebut sementara Bulan diamankan.

__ADS_1


Kenzie menyuruh asistennya maju dan menyerahkan dua koper besar berisi uang tunai lalu memberikannya pada Mark. Sontak mata merah menyala Mark langsung berubah hijau begitu melihat betapa banyaknya uang yang disodorkan padanya.


"Itu adalah uang tunai berjumlah fantastis. Jika kau tertarik, mari kita buat kesepakatan." Nenek Raja menyerahkan selembar kertas berisi perjanjian antara dirinya dan ayah Bulan.


"Pertama, serahkan Bulan pada kami. Kedua, ini adalah uang pertama dan terakhir yang bisa kuberikan padamu dan keluargamu. Jika dikemudian hari kau masih meminta lagi, maka ... kau harus mengembalikan 2 kali lipat uang yang sudah kami berikan. Ketiga, mulai sekarang, kau dan Bulan tidak ada hubungan keluarga lagi. Bulan sudah resmi menjadi milik kami. Keempat, kalian harus menyembunyikan semua ini. Jika sampai bocor, kalian tanggung sendiri akibatnya."


Kenzie menjelaskan isi surat perjanjian dan tanpa pikir panjang lagi, Mark pun setuju dengan perjanjian tersebut. Bahkan tanpa ragu, Mark langsung menandatangani berkas sebagai hitam di atas dan mengambil semua uang yang ada di dalam koper besar pemberian nenek Raja.


Bulan yang masih shock, hanya bisa diam dan tak tahu apakah ia masih hidup ataukah sudah mati. Ia berjalan sambil dipapah oleh dua pengawal pribadi Kenzie meniggalkan kediamannya untuk selama-lamanya tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal pada Alta yang masih pingsan.


"Mau dibawa ke mana aku?" tanya Bulan lirih tanpa tenaga.


"Tenanglah, kau aman bersamaku. Mulai sekarang buang semua rasa sedih dan sakitmu. Sambutlah hari-hari kebahagiaanmu, bersama dengan cucuku," terang Kenzie saat keduanya kini sudah berada di dalam mobil limosin.


Bulan tidak menyahut, ia langsung pingsan karena sudah kehabisan tenaga. Ditambah lagi, Bulan sedang hamil muda, jadi mudah sekali pingsan kalau dalam keadaan tertekan


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


***


__ADS_2