
Keesokan paginya, Ben selaku asisten pribadi Raja yang mengatur semua jadwal sang artis mulai dari pagi hingga selesai, sudah bersiap hendak menunggu tuannya keluar sendiri dari kamarnya. Pria jakung itu sengaja tak membangunkan Raja seperti biasanya karena ia tahu, Raja sedang menikmati momen malam pertamanya bersama Bulan.
Pikir Ben, karena sekarang Raja sudah beristri, maka ia tak perlu repot-repot datang ke kamar tuannya lagi. Tidak hanya sekarang, tapi juga seterusnya. Lagian, Ben juga tidak enak mengganggu suasana romantis pasangan suami istri yang lagi hangat-hangatnya. Bisa-bisa, Ben jadi kagok sendiri menghadapi Raja dan Bulan karena ia masih lajang dan belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun.
Selama bekerja dengan Raja, Ben tak pernah sekalipun memikirkan kehidupan percintaannya dan hanya fokus pada kehidupan tuannya. Ia sibuk membatasi para fans yang mencoba mendekati Raja dan sebisa mungkin, menjauhkan Raja dari skandal buruk agar populariats tuannya sebagai artis tetap aman terjaga. Jerih payah Ben membuahkan hasil hingga Raja kini ada dipuncak popularitas sebagai salah satu artis ternama yang digandrungi dan dipuja khalayak ramai.
Meski saat kini, tak dapat dipungkiri, sang artis sedang menghadapi manis pahitnya prahara kehidupan akibat kesalahan kecil dari seseorang. Dan orang itu, siapa lagi kalau bukan Kiran, model cantik pendatang baru yang baru saja naik daun. Ben bahkan sempat dibuat repot oleh wanita yang hampir saja menjadi istri Raja.
Tak ada hidup yang sempurna. Sebaik dan setekun apapun Ben menjauhkan Raja dari masalah, tetap saja ia tak bisa melawan takdir. Mungkin Bulan memang sudah ditakdirkan untuk Raja dan sekarang mereka sudah bersama sebagai pasangan suami istri. Tinggal bagaimana mereka menjalani kehidupan behtera rumah tangga mereka terlepas dari banyaknya perbedaan diantara keduanya.
"Semoga pernikahan tuan Raja bisa langgeng sampai ia tua." Ben bercermin untuk merapikan dasi dan jas hitamnya lalu beranjak pergi keluar.
Namun, baru juga Ben membuka pintu kamarnya, ia sudah dikagetkan dengan kehadiran Raja yang tiba-tiba saja sudah ada di depan pitu kamarnya. Sontak saja Ben terkejut karena ini pertama kali dalam hidup seorang Ben, Raja bangun lebih dulu dibandingkan dirinya. Bahkan penampilan tuannya terlihat sangat rapi dan tidak berantakan seperti biasanya.
"Astaga Tuan! Bagaimana bisa anda ada di sini? Bikin jantungan saja," ujar Ben benar-benar terkejut. Ia memerhatikan Raja mulai dari atas hingga bawah.
Selama Ben menjabat sebagai asisten, ia tak pernah melihat Raja serapi ini saat di pagi hari. Biasanya tuannya sangat susah dibangunkan dan keadaannya juga acak kadul berantakan. Namun, berbeda dengan sekarang. Raja sudah kinclong dan wangi habis. Bahkan rambutnya masih klimis karena basah habis keramas.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Raja santai. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Sekali lihat saja, Ben tahu kalau malam pertama tuan mudanya ini pasti sukses besar. Sungguh, Ben tak pernah melihat Raja sebahagia ini sehingga tanpa sadar, Ben ikutan bahagia.
"Tidak banyak Tuan, hanya wawancara sedikit seputar syuting reality show yang akan anda lakukan dan beberapa pemotretan produk iklan. Tapi, Tuan ... ini masih sangat pagi. Acara wawancara anda baru akan dimulai beberapa jam lagi. Apa ... anda mau ke studio terlebih dulu atau ke salon seperti biasa?" tanya Ben hati-hati. Entah obat apa yang diminum Raja hingga ia sudah siap bekerja sepagi ini.
"Ya sudah, ayo kita ke mall mumpung masih pagi. Oh iya, jangan biarkan siapapun membangunkan Bulan. Biarkan dia bangun sendiri, mungkin ia kelelahan." Raja senyam-senyum sendiri mengingat apa yang ia lakukan bersama Bulan semalam.
Malam pertama mereka begitu indah dan sempurna hingga Raja jadi bersemangat 45. Sebenarnya, Raja belum tidur sama sekali, Ia terlalu terkesima menatap wajah cantik istrinya sampai tak sadar kalau matahari mulai memunculkan sinarnya. Menyadari hal itu, barulah Raja mandi dan membersihkan diri lalu langsung datang ke kamar pribadi Ben.
"Sebentar-sebentar," ujar Ben memeriksa kembali jadwal kegiatan Raja melalui tabletnya. Tidak ada jadwal yang mengharuskan kita datang ke mall? Untuk apa kita ke sana sepagi ini, Tuan? Lagipula, jam segini mana ada mall buka? Jam 10 siang nanti anda akan diwawancara, setelah itu pemotretan beberapa produk iklan dan juga jumpa fans sebentar. Di studio juga ada sedikit pekerjaan yang tertunda." Ben menjelaskan rentetan aktivitas Raja hari ini. Tapi ia langsung bingung dengan ajakan Raja yang meminta pergi ke mall yang jelas takkan ada mall buka pagi-pagi.
"Ben! Tak perlu banyak bacot! Ikuti saja aku!" tegas Raja menatap marah asistennya yang sejak tadi ngomel terus. Iapun pergi meninggalkan Ben yang langsung diam dan mengikuti langkahnya.
***
Berkat bantuan teman Raja selaku pemilik mall ternama, artis yang kini sudah menjadi suami Bulan itu bisa leluasa masuk ke dalam mall dan membeli barang-barang yang ia inginkan tanpa khawatir terganggu oleh fans fanatiknya. Walau Ben tak mengerti atas tindakan nekat tuannya, iapun tetap mengikuti Raja dari belakang untuk berjaga dari hal-hal yang tak dinginkan.
Untungnya, suasana mall sangat sepi dan tak ada pengunjung sama sekali. Raja bisa bebas mengambil beberapa barang-barang bermerek. Seperti pakaian wanita, sepatu, sandal, tas dan juga beberapa barang lain yang dibutuhkan seorang wanita.
Dengan kata lain, Raja tidak belanja untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Siapa lagi kalau bukan untuk Bulan. Yah, Raja melakukan semua ini demi Bulan. Ia mengambil resiko yang bisa menyusahkannya jika sampai ada fans yang tahu, ia berbelanja barang-barang mewah untuk wanita.
__ADS_1
"Tuan Raja, apa yang anda lakukan? Kenapa anda tidak menyuruh orang lain saja untuk membelikan barang keperluan nona Bulan? Berada di tempat seperti ini, sangat beresiko tinggi," bisik Ben karena semua pegawai distro sepertinya mulai menyadari siapa Raja.
Meski mall-nya sepi, pegawai distro tetap harus standby dari pagi. Padahal Ben juga memakai masker dan kaca mata hitam sama seperti Raja agar identitas keduanya tak diketahui oleh siapapun.
Namun sepertinya, penyamaran mereka sudah mulai terbongkar. Entah karena Raja yang terlalu tenar atau karena mereka berdua ini memang tak pandai menyamar.
"Aku sudah pernah melakukannya pada seseorang. Alhasil barang yang kuminta tenyata tak sesuai untuk Bulan. Sebagai suami, aku benar-benar malu didepannya karena tak mampu membelikan istriku barang yang ia butuhkan!" sindir Raja sehingga Ben langsung kena mental.
"Eeee ... maaf soal itu, Tuan. Tidak ada toko buka di tengah malam, jadi saya asal beli pada kenalan. Yang penting nona Bulan punya pakaian ganti." Ben menjelaskan.
"Pakaian ganti kepalamu? Kau pikir tubuh istriku itu gentong apa? Bisa-bisanya kau membelikan baju bekas orang lain yang ukuran tubuhnya 5 kali lipat dari tubuh istriku? Untung aku lagi bahagia sekarang, kalau tidak, mungkin aku sudah menjadikanmu pepes ikan!"
"Bukan begitu, Tuan ... saya cuma berpikir, kalau nona Bulan membutuhkan pakaian lebih longgar, karena dia ... sedang hamil," bisik Ben hati-hati agar tak ada siapapun mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Waauw ... ada siapa di sini?" ujar seseorang tiba dari balik punggung Raja dan Ben.
Sontak dua pria yang sedang menyamar itu kaget. Suara orang itu sangat familiar di telinga Raja dan Ben sehingga mereka langsung saling pandang ketika mendengar suara tersebut.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***