Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Istri yang Perhatian


__ADS_3

DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


"Eh?!" Vicky tersadar dari lamunan. Dia segera berhenti memandangi Sherina, lalu mengambil ponselnya yang berdering dari dalam saku. Dia melihat jika seseorang yang meneleponnya adalah Ariana, sang ibu. Tanpa pikir panjang, Vicky langsung berjalan sedikit menepi dan mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Ibu?"


"Vicky, kau di mana? Apa kau sibuk?" tanya Ariana.


"Aku sedang berada di yayasan bersama dengan Sherina, dan aku tidak terlalu sibuk. Memangnya ada apa?"


"Kalau begitu pulanglah, asistenmu Oliver datang ke rumah untuk menemuimu. Dia bilang ada beberapa dokumen penting yang harus kau tandatangani. Tak perlu berlama-lama di yayasan, lagi pula sudah ada para relawan yang mengurus anak-anak yang sakit itu. Jadi, cepatlah pulang, oke?" pinta Ariana yang terkesan memaksa.


"Baik, Ibu ..." jawab Vicky dengan nada pasrah.


TUT TUT


Panggilan telepon diakhiri oleh Ariana. Vicky hanya menghela napas lalu menyimpan ponselnya kembali. Dia melangkah memasuki ruang bermain untuk menghampiri Sherina yang masih asyik bermain dengan anak-anak.


"Sherina," panggil Vicky.


"Ya?" Sherina menoleh, dia tak kunjung bangun, masih nyaman duduk di tengah karpet permadani dan dikelilingi oleh anak-anak.


"Ayo, waktunya kita pulang!" ajak Vicky dengan senyum tipis, dia tak menampakkan wajah dingin dan sok memerintahnya karena enggan dilihat oleh anak-anak yang lugu ini.


"Sekarang?" tanya Sherina lagi, dia tidak rela dan masih ingin berada di sini lebih lama.


"Iya, istriku! Kita pulang sekarang!" ucap Vicky masih dengan senyuman, tetapi terkesan menekan.


"Baiklah," jawab Sherina dengan pasrah, memilih untuk bersikap patuh pada suami barunya. Sebelum pergi dan berpisah, Sherina berpamitan pada anak-anak, orang tua, Davi serta para relawan lain. Kemudian dia mengikuti Vicky, bersama-sama menaiki mobil yang diparkirkan di halaman.

__ADS_1


"Tadi kau bilang kalau kau tak punya jadwal yang padat. Kenapa buru-buru pergi, apakah ada sesuatu yang mendesak?" tanya Sherina begitu memasuki mobil.


"Iya, ada hal penting yang harus segera aku tangani," jawab Vicky dengan nada datar. Dia memasukkan kunci mobil dan menghidupkan mesin. Tetapi, sekali lagi Vicky menyadari ekspresi Sherina yang terlihat masam. Mirip seperti anak kecil yang merajuk ketika tidak dibelikan mainan.


"Apa kau suka anak-anak itu?" tanya Vicky penasaran.


"Eh? Tentu saja aku suka, lagi pula aku tidak punya alasan untuk tidak menyukai mereka!" jawab Sherina spontan.


"Kenapa kau suka pada mereka? Apa karena kau merasa kasihan?"


"Ehmm ...." Mendadak Sherina menundukkan kepala, dia sedikit merasa ragu jika jawabannya bukan sesuatu yang ingin didengar Vicky.


"Kau benar, tentu saja aku merasa kasihan. Anak-anak pengidap kanker itu, mereka tergolong tidak beruntung. Tetapi ... tak peduli mereka beruntung atau tidak, mereka tetap sama seperti anak-anak lain yang berhak bahagia. Alasan aku suka mereka, itu karena semangat yang mereka punya. Itulah mengapa aku ingin menghibur mereka, supaya mereka bisa lebih banyak tersenyum bahagia, supaya lebih banyak energi positif untuk kesembuhan mereka!"


Vicky tersenyum kecil, dia cukup puas dengan jawaban yang Sherina berikan. "Baguslah, kalau kau memang suka pada mereka. Kau bisa mengunjungi yayasan ini kapan pun kau mau."


"Sungguh?" tanya Sherina dengan tatapan berharap, berharap jika barusan yang dia dengar tidak salah.


Sekitar setengah jam kemudian Vicky dan Sherina tiba di kediaman utama keluarga Bashara. Setelah diberitahu oleh Paman Will jika Oliver telah menunggunya di ruang tamu, Vicky langsung bergegas menemui asistennya itu. Sedangkan Sherina, dia tak tahu harus melakukan apa, alhasil dia kembali masuk ke kamarnya.


"Hahh ... bosan sekali," keluh Sherina yang begitu jenuh. Dia merasa bosan, meskipun kamarnya ini punya fasilitas lengkap, dia masih tak tahu harus melakukan apa untuk menikmati kemewahan ini semua. Ingin menonton televisi juga percuma, karena sejak dulu Sherina memang tak terlalu suka menonton program acara televisi.


Sherina melirik ke samping, dia baru sadar kalau di kamarnya ini terdapat sebuah balkon. Dia berjalan mendekat, menggeser pintu kaca itu dan melangkah maju. Sungguh balkon kamar yang sempurna, dari sini Sherina bisa melihat taman halaman samping yang tampak hijau dan asri.


"Hemm ... benar-benar tempat yang bagus. Tempat ini sesuai untuk menghirup udara segar saat aku bosan. Dan aku juga bisa membaca buku sambil duduk di kursi yang ada di sini." Sherina tersenyum karena puas dengan kamar yang diberikan oleh keluarga Bashara. Namun, senyumannya itu tak bertahan lama.


Sherina kembali teringat soal kamarnya yang nyaman, kamar miliknya dengan Satya yang berada di rumah impian milik mereka. Batin Sherina kembali terasa panas begitu mengingat jika rumah yang dibeli bersama-sama itu, saat ini masih ditempati oleh Satya si mantan suami yang tidak tahu diri.


Meskipun di kediaman Bashara ini Sherina mendapatkan segalanya dan kebutuhannya terjamin, dia tetap tidak bisa merelakan apa yang berhak jadi miliknya direbut orang lain. Dia juga memaki dirinya sendiri atas kebodohan yang dia lakukan di masa lalu. Sherina mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk membeli rumah itu, tetapi di sertifikat kepemilikannya tertulis nama Satya.


"Sial, bodoh sekali aku yang dulu. Bisa-bisanya aku terlena dan begitu percaya pada sikap baik kak Satya selama ini. Jika saja saat itu aku tidak ke rumah, mungkin sampai sekarang dia masih akan berselingkuh diam-diam dengan Sofia."

__ADS_1


"Sial, benar-benar sial sekali kenapa aku harus mengenal dua orang itu dalam hidupku. Adik tiri yang tidak tahu diri, serta suami yang aku cintai rupanya mengkhianati semua cinta yang selama ini aku berikan padanya."


"Tuhan telah memberikan aku kesempatan, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pasti akan berjuang untuk mendapatkan keadilanku sendiri. Semua yang pernah menyakitiku, akan aku balas satu per satu! Dan semua yang telah direbut dariku, pasti akan aku ambil kembali!"


Perasaan Sherina begitu meluap ketika mengingat setiap hal yang telah membuat hidupnya tersiksa. Bahkan, tanpa sadar tangannya sampai gemetar ketika mencengkeram pagar pembatas. Perjalanannya masih panjang, hari ini baru hari pertama pada lembaran kehidupannya yang baru.


Sherina berusaha menenangkan diri dengan mengatur napasnya. Dia mencoba berpikir lebih tenang, supaya dia punya cukup tenaga untuk menghadapi masalah macam apa yang harus dia hadapi nanti.


"Eh?! Rupanya bunga ini layu." Perhatian Sherina teralihkan pada sebuah tanaman hias yang berada di pojok balkon. Tanaman bunga lavender yang bermanfaat mengusir nyamuk ini tampak layu.


"Hmm ... tidak mungkin pengurus rumah teledor dan lupa menyiram. Ini pasti karena cuaca hari ini yang lebih panas dari biasanya. Lebih baik aku tanya pada pengurus rumah di mana penyiram tanaman dan pupuk disimpan."


Sherina lantas pergi dari balkon dan keluar kamar. Namun, baru beberapa langkah yang dia ambil, dia tak sengaja berpapasan dengan Vicky yang tampak terburu-buru.


"Kau mau ke mana?" tanya Sherina.


"Aku ada pertemuan mendadak dengan investor. Jadwalnya tiba-tiba dimajukan jadi hari ini," jawab Vicky yang masih berjalan tergesa-gesa.


"Tunggu sebentar!" teriak Sherina yang mencegat jalannya Vicky.


"Ada apa? Tolong jangan halangi aku, aku sedang sibuk!" bentak Vicky dengan tidak sabar.


"...." Sherina tak menjawab. Namun, dia justru tiba-tiba mendekat. Meraih dasi yang Vicky pakai lalu dengan telaten membetulkan dasi yang semula berantakan itu. "Nah, sudah siap! Tadi kau bilang ingin bertemu dengan investor. Jadi, penting untuk berpenampilan rapi!"


"Aku tidak akan menghalangimu lagi, silakan lewat!" ucap Sherina yang langsung pergi berlainan arah dengan Vicky. Dia berlalu begitu saja untuk segera menemui pengurus rumah dan bertanya soal perawatan bunga lavendernya.


Di satu sisi Vicky yang seharusnya buru-buru malah mematung. Memandangi panggung Sherina yang kian lama menghilang dari pandangan. Dia menyentuh dasi yang berada di kerah lehernya seraya bergumam, "Sherina ...."


Lagi-lagi kau membuatku terkejut. Aku bahkan tidak sadar kalau dasiku berantakan. Justru kau yang berpapasan sekilas saja bisa menyadarinya. Sepertinya, kau ini istri yang perhatian. Aku justru makin penasaran kenapa mantan suamimu mencampakkan dirimu.


"Ah, sial! Aku bisa terlambat!" umpat Vicky yang mendadak tersadar, dia kembali berjalan lebih cepat dibanding sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2