Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Sekolah Bangsawan


__ADS_3

TRAK!


Ariana menaruh garpu dan sendoknya di atas piring. Baru setengah dia menyantap makanannya, dia merasa seperti enggan melanjutkan makan lagi. Satu hal yang membuatnya merasa seperti ini, karena dia berada di meja makan seorang diri.


Dari kejauhan, Paman Will memperhatikan jika ada sesuatu yang salah. Dia kemudian mendekat ke arah Ariana dan berkata, "Ada apa, Nyonya Besar? Apakah makanannya tidak sesuai selera?"


"Tidak, hanya saja ada yang mengganggu pikiranku. Tadinya aku ingin bicara dengan Vicky, tapi dia belum pulang sampai melewatkan waktu makan malam. Padahal tidak biasanya dia begini," jawab Ariana dengan nada cemas dan kening yang mengerut.


"Ah, sebenarnya Tuan Vicky sudah kembali. Beliau bilang sudah makan di luar bersama dengan nyonya Sherina, jadi beliau tidak ikut makan malam bersama Anda."


"Apa?! Di mana dia sekarang?!" tanya Ariana dengan nada tinggi. Dia merasa tersinggung karena Vicky bersikap seperti ini kepadanya. Sudah pulang tapi tidak mengabarinya.


"Tuan Vicky ada di ruang bacanya seperti biasa," jawab Paman Will dengan kepala tertunduk. Dia tahu bahwa jawaban yang dia berikan akan membuat Ariana marah.


"Vicky! Ternyata dia di sana!" Ariana beranjak dari kursinya, kemudian dengan langkah yang terburu-buru menuju ke ruang baca putranya.


"Hahh ...." Paman Will menghela napas pelan, dia menatap ke arah meja makan yang terdapat banyak makanan yang masih utuh. "Lagi-lagi tidak dihabiskan, orang seperti nyonya sungguh tidak menghargai makanan. Dan sepertinya, makanan ini akan disantap oleh para pelayan lagi. Entah aku harus bersyukur atau apa ...."


Di sisi lain Ariana sudah sampai di depan pintu ruang baca Vicky, bukannya mengetuk pintu ataupun mengucapkan kata permisi, dia langsung menerobos masuk begitu saja. "Vicky, ibu mau bicara!" teriaknya.


Namun, lagi-lagi Ariana dibuat kaget. Karena dia melihat jika saat ini Vicky sedang duduk bersebelahan dengan Sherina. Dia semakin merasa terbakar, sungguh tidak rela melihat kedekatan mereka berdua. Padahal mau sedekat apa pun itu hak mereka sendiri sebagai suami istri.


"Ada apa Ibu? Kenapa teriak-teriak?" tanya Vicky dengan nada ketus. Dia kurang suka dengan sikap ibunya yang seenaknya ini.


"Apa yang Sherina lakukan di sini denganmu?!" tanya Ariana balik.


"Aku yang meminta Sherina untuk berada di sini. Dan Ibu tolong katakan apa maksud Ibu mencariku, tadi Ibu bilang ingin bicara, Ibu ingin bicara soal apa?" tanya Vicky yang mulai malas meladeni ibunya.


"Astaga ...," Ariana tersadar kalau urusannya saat ini lebih penting dibanding mencaci Sherina. Dia kemudian melangkah lebih dekat untuk lebih nyaman berbicara dengan Vicky. "Ibu ingin membalas sesuatu denganmu, ini soal Velix."

__ADS_1


"Velix? Memangnya dia kenapa?"


"Tadi sore ibu mendapat telepon dari wali kelasnya Velix. Dia bilang Velix terlibat masalah, dia berkelahi dengan teman sekelasnya. Dan lagi, anak yang berkelahi dengan Velix ternyata anak dari anggota dewan parlemen. Lalu wali kelas bilang kalau ibu harus datang memenuhi panggilan wali murid. Tapi, berurusan dengan pejabat tinggi negara itu merepotkan. Jadi Vicky, kau saja yang ke sekolah untuk mewakilkan ibu. Tolong bereskan masalah yang dibuat oleh adikmu, ya!" pinta Ariana dengan nada memaksa.


Vicky terdiam sejenak, dia berpikir jika masalah ini cukup serius. Dia lalu menghela napas panjang seraya berkata, "Baiklah, aku yang akan menggantikan Ibu memenuhi panggilan wali murid."


"Bagus! Kau memang anak ibu yang bisa diandalkan!" ucap Ariana dengan senyum kepuasan. Dia merasa salah satu beban pikirannya telah berkurang.


Akan tetapi, Ariana tak kunjung pergi walaupun keperluannya sudah usai. Dia masih berdiri di tempat dan menatap sinis pada Sherina. "Cih, untuk apa kau di sini? Lebih baik kau pergilah! Jangan ganggu Vicky melakukan perkerjaannya!"


"Kenapa aku harus pergi? Aku di sini untuk membantu Vicky merapikan dan mengurus beberapa dokumen. Setidaknya keberadaanku di sini ada gunanya. Aku bukan orang yang suka membebani orang lain!" jawab Sherina dengan nada menusuk.


"K-kau ...!!" Ariana kehilangan kata-kata. Dia kaget sekaligus tak habis pikir jika Sherina berani menjawab dan bahkan balas menyindir dirinya. "Apa maksudmu bilang begitu, hah?! Kau bilang aku membebani Vicky?! Aku ini ibunya!"


"Aku tak pernah bilang begitu, Anda sendiri yang baru saja mengatakannya," ucap Sherina dengan seringai sinis, seolah-olah dia siap menantang Ariana beradu mulut.


"Kau! Berani-beraninya kau menjawabku! Kau mau melawanku, hah?!" bentak Ariana yang urat lehernya sampai terlihat. Dia benar-benar dibuat naik pitam oleh Sherina.


"Humph! Baiklah, ibu pergi!" Ariana pun segera pergi dengan perasaan penuh kekesalan. Dia sangat kesal karena Sherina sudah berani melawannya, sekalipun itu di hadapan Vicky. Tetapi, dia lebih kesal lagi karena putranya itu malah membela menantu yang dia benci. Dia hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan menutup pintu dengan keras.


BRAAKK!


"Haissh ...," Vicky menekan pangkal hidungnya sendiri. Dia merasa pening dengan tingkah ibunya yang suka membuat keributan. "Sherina, tolong jangan diambil hati kata-kata ibuku barusan."


"Iya, aku mengerti. Tidak apa-apa, aku paham kenapa ibumu emosi. Dia kan sejak awal tak suka padaku, aku tahu jika dia lebih mengharapkan Cleo menjadi menantunya," jawab Sherina dengan senyum tipis.


"Terima kasih atas pengertianmu. Tapi ... tetap saja ibuku salah, kata-kata ibuku terlalu tajam. Jika kau merasa sakit hati dengan perkataannya, aku meminta maaf mewakilinya ..." ucap Vicky dengan nada merendah. Dia benar-benar merasa malu dengan sikap ibunya. Padahal Sherina ini adalah orang yang baik, dia heran kenapa ibunya bersikap begitu pada orang sebaik Sherina.


Sherina terkekeh, dia tak menyangka jika orang semacam Vicky bisa menunjukkan sikap merendah seperti ini. "Haha, astaga Vicky. Hanya seperti itu tak akan membuatku sakit hati. Lupakan saja. Omong-omong ... aku penasaran soal masalah Velix. Apa kau akan benar-benar menggantikan ibumu?"

__ADS_1


"Iya, dan ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya aku juga yang datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan wali murid. Masalahnya juga sama, Velix terlibat masalah dengan teman sekelasnya. Dan kali ini, entah teman yang mana lagi yang berseteru dengannya."


"Ohh ... begitu, ya. Jika besok kau ke sekolah, bolehkah aku ikut bersamamu?" pinta Sherina.


"Hm? Kenapa kau mau ikut?" tanya Vicky terheran-heran.


"Bukan apa-apa, aku cuma ingin menyapa Velix. Aku ingin mengenal dia itu seperti apa, soalnya ... jika dibandingkan denganmu, sepertinya banyak perbedaan di antara kalian," jawab Sherina dengan senyum canggung.


"Pfftt ... ternyata begitu. Baiklah, silakan ikut jika kau mau. Tapi, nanti kau jangan menyesal, ya!"


"Menyesal? Menyesal kenapa?"


"Haha, nanti kau juga akan tahu sendiri!" Vicky tersenyum kecil, lalu memalingkan muka dari Sherina dan kembali menatap fokus dokumennya.


***


Keesokan harinya Vicky dan Sherina datang bersama-sama ke sekolah tempat Velix berada. Lilac Intercultural Academy, itulah nama dari sekolah internasional ini. Sekolah ini adalah lembaga pendidikan yang sangat mewah dengan segala hal, dimulai dari jenjang prasekolah sampai sekolah lanjutan tingkat atas.


Biarpun Lilac Intercultural Academy adalah sekolah internasional, 40 persen lebih siswanya adalah orang dalam negeri. Karena biaya sekolahnya yang sangat mahal, jarang sekali ada siswa yang keluar ataupun pindah. Sekolah ini akrab disebut sebagai 'Sekolah Bangsawan', tempat anak-anak dari orang-orang kaya disekolahkan.


Oleh karena itu, semua murid yang bersekolah di sini mempunyai latar belakang yang tidak bisa diremehkan. Entah itu anak dari pengusaha ataupun pejabat, semuanya memiliki keistimewaan tersendiri.


Dan sekarang, di sebuah ruangan pribadi seorang pengajar di Lilac Intercultural Academy. Vicky dan Sherina berada di dalam sana, mereka berdua menjalankan peran sebagai wali murid dari Velix. Sedangkan anak yang terlibat masalah dengan Velix, dia bernama Mario. Saat ini Mario juga sedang bersama dengan sang ayah, yang merupakan seorang pejabat dewan parlemen yang berpengaruh.


Setelah melakukan perbincangan yang panjang dengan wali kelas sebagai penengah, ayah dari Mario pun berkata, "Ya sudah, mari segera kita selesaikan ini! Biarpun anakku dihajar sampai giginya copot, aku tidak akan menuntut lebih jauh. Aku akan menganggap hal ini sebagai perkelahian anak kecil biasa, tapi dengan satu syarat. Velix harus meminta maaf pada putraku! Aku mau melakukan ini karena memandang muka Tuan Vicky!"


"Velix, ayo minta maaf. Mari kita selesaikan ini!" pinta Vicky pada adik kecilnya. Namun, Velix justru melengos begitu saja.


"Hei, kakakmu menyuruhmu minta maaf padaku!" celetuk Mario dengan nada angkuh. Dia masih belum kapok atau takut, meskipun di pipinya masih terdapat luka memar.

__ADS_1


"Tidak mau! Aku tidak salah! Aku tidak sudi meminta maaf!" teriak Velix sekencang mungkin. Bahkan tanpa peringatan apa pun, dia tiba-tiba berlari keluar dari ruangan guru wali kelas itu.


"Velix!!! Kembali!!!" teriak Vicky dan wali kelas bersamaan. Mereka berdua sama-sama makin pening, sepertinya pertemuan wali murid ini tidak berjalan mulus.


__ADS_2