Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Amarah yang Memuncak


__ADS_3

BRUGH ...


Sherina langsung merebahkan diri di atas kasur begitu pulang ke kediaman, tubuhnya terasa lelah dan lesu. Sembari menatap langit-langit kamar berwarna biru muda yang sudah terkesan akrab, dia kembali memikirkan soal masalah yang saat ini harus dia hadapi.


"Mengambil alih saham ..." gumamnya dengan kedua alis yang saling mengait.


Jika aku ingin memiliki saham itu secara sah menurut hukum dengan aliran dana yang jelas, maka aku harus membelinya. Tetapi, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Semua aset yang aku miliki atas nama kak Satya, jadi tidak mungkin bagiku untuk menjualnya. Sial, benar-benar bodoh sekali aku saat itu.


"Tunggu sebentar!" ucap Sherina yang mendadak bangkit. Dia duduk dan berpikir, seolah telah menyadari sesuatu yang penting.


Aku ingat, Vicky pernah memberikan aku beberapa aset sebagai mahar. Satu unit apartemen, tiga unit mobil dan beberapa set perhiasan berlian. Semua barang-barang itu bernilai tinggi, tapi mana yang harus aku jual?


Apartemen, itu penting sebagai tempat tinggal cadangan. Soalnya aku bisa kapan saja ditendang keluar dari rumah ini. Dan perhiasan, itu juga penting untuk aku pakai ketika menghadiri acara kelas atas. Jika aku tidak memakai perhiasan saat mendampingi Vicky, maka aku akan dipandang rendah.


Sepertinya yang paling cocok untuk aku jual adalah mobil, lagi pula aku tidak bisa menyetir mobil, dan jika ingin pergi ke mana pun aku masih bisa pakai taksi. Vicky sudah menunjukkan padaku ketiga mobil itu, dan ketiga-tiganya sekelas mobil yang dipakai pejabat. Harganya pasti juga mahal, aku yakin harganya akan cukup untuk membeli saham yang berada di tangan Kayla!


"Baiklah, kalau begitu aku harus melakukan riset dan mencari tahu seputar otomotif dulu! Aku tak mau dibodohi ketika menjual mobil nanti!"


***

__ADS_1


"Astaga ..." keluh Vicky seraya memijat pangkal hidungnya sendiri. Dia teramat lesu ketika melihat tumpukan dokumen di meja kerjanya. Semuanya menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani olehnya.


"Menyebalkan!" celetuknya lagi yang mulai mengambil dokumen paling atas dan membacanya. Seumur hidupnya, dia sangat disiplin dan tak pernah menunda pekerjaan. Namun, hal itu kini tak berlaku lagi.


"Ck, dasar Cleo ... aku tahu dia marah dan cemburu pada Sherina. Aku sudah membujuk dan menghiburnya seperti yang dia minta. Tapi, aku rasa sekarang dia sudah kelewatan. Terus menempel padaku dan memintaku menemaninya selalu, memangnya dia pikir aku ini pengangguran? Biarpun aku bos, tetap saja aku punya tanggung jawab yang besar! Mana mungkin aku membiarkan karyawanku bekerja tanpa pengawasan!"


"Bahkan, yang tidak aku sangka. Dia terus menanyakan kapan kutukan itu bekerja pada Sherina. Mana mungkin aku tahu, sejak awal aku tidak percaya pada kutukan. Tapi Cleo malah merengek dan berharap Sherina cepat mati, padahal aku menikah dengan Sherina juga atas kemauannya sendiri. Segalanya yang dia mau sudah aku penuhi, tapi dia terus merepotkan aku!"


Vicky terus menggerutu untuk melampiaskan rasa kesalnya, sambil memeriksa satu per satu dokumen. Hingga di pertengahan, dia menyadari sesuatu yang berbeda dari dokumen yang lain. Benda itu adalah surat undangan pernikahan Satya dan Sofia.


"Apa ini?" Vicky membaca surat undangan itu. Dia lebih terkejut lagi ketika menyadari bahwa ini adalah pesta pernikahan mantan suami Sherina dengan adik tiri Sherina.


TOK TOK TOK!


"Permisi, Tuan."


"Masuklah, Paman!" jawab Vicky yang bisa tahu jika yang barusan mengetuk pintunya adalah Paman Will. Paman Will langsung masuk setelah dipersilakan. Lalu menyajikan secangkir teh yang sebelumnya telah Vicky minta.


Ketika Paman Will hendak pergi. Tiba-tiba Vicky berkata, "Tunggu sebentar! Aku ingin bertanya sesuatu!"

__ADS_1


"Silakan ..." jawab Paman Will sedikit membungkuk.


"Aku ingin bertanya soal surat undangan ini. Mempelai pria adalah mantan suami Sherina, sedangkan mempelai wanitanya adalah adik tirinya Sherina. Sherina adalah istriku, biarpun secara kasar bisa dibilang dia dijual, tapi hubungan kekerabatan ini tidak putus, bukan? Yang ingin aku tanyakan, apakah Sherina sudah mengetahui soal ini?"


"Nyonya Sherina belum tahu, Tuan. Saya meletakkan surat undangan itu di meja Tuan atas perintah dari Nyonya Besar. Nyonya Besar juga menyampaikan jika Tuan Vicky harus mengajak Nyonya Sherina untuk menghadiri undangan tersebut sebagai perwakilan keluarga Bashara," jawab Paman Will lagi. Dia masih menunduk, tak mau melihat ekspresi Vicky saat ini.


"Ck, lagi-lagi ibu memutuskan seenaknya!" sungut Vicky dengan ekspresi kesal. Hari ini rasanya benar-benar lengkap. Dibuat kesal oleh kedua wanita yang penting baginya. Baik kekasihnya ataupun ibunya, keduanya memang selalu kompak dalam segala hal. Tak terkecuali dalam hal membuat Vicky kerepotan.


"Oh ya, tolong sekalian panggilkan Sherina kemari!"


"Baik, Tuan ...."


Tak berselang lama setelah Paman Will pergi, Sherina datang ke ruang baca Vicky. Dia tampak bingung, memikirkan hal penting macam apa sampai membuat suaminya yang dingin ini memanggilnya.


"Ada apa Vicky?"


Sejenak Vicky terdiam, dia merasa ragu untuk memberikan kabar mengenai surat undangan tersebut. "Ehmm ... ada sebuah undangan. Sebetulnya aku tak memaksamu untuk hadir, tapi aku rasa kau berhak mengetahui tentang undangan ini."


"Undangan?" Sherina keheranan. Tetapi, setelah Vicky menunjukkan surat undangan itu padanya, kedua matanya membulat sempurna setelah tahu apa isi dari undangan itu.

__ADS_1


"I-ini ...." Tubuh Sherina gemetar, dia muak karena melihat orang yang dia benci terus merasakan kebahagiaan. Perlakuan buruk yang mereka lakukan masih teringat jelas, luka yang didapatkan masih terasa perih. Saat ini, Sherina terpaksa menyimpan dan menahan amarahnya yang memuncak.


__ADS_2