Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Kebohongan Terbongkar


__ADS_3

Vicky berlari tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Setelah menelepon manajernya Cleo secara langsung, dia memastikan jika Cleo dirawat di rumah sakit ini. Kini dia telah sampai di ruang IGD, dia melihat keberadaan seorang laki-laki yang tidak asing. Vicky mengenalinya, karena dialah manajernya Cleo.


Vicky menghampiri laki-laki itu dan berkata, "Bagaimana kondisinya Cleo? Apa dia terluka parah? Apa sekarang dia sudah sadar?"


Manajernya Cleo ini gugup karena Vicky langsung membombardir pertanyaan padanya. Dia sedikit bingung harus mulai menjelaskan dari mana. "Nona Cleopatra ... tidak terluka parah. Dia tadi memang sempat pingsan, tetapi sekarang dia sudah siuman."


"Syukurlah ...." Vicky menghela napas laga, bersyukur karena hal buruk yang dia khawatirkan rupanya tidak terjadi.


"Oh ya, kau bilang di telepon tadi kalau Cleo begini karena kecelakaan di lokasi syuting. Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana kejadian lengkapnya? Dan sebenarnya adegan macam apa yang Cleo lakukan hingga dia kecelakaan?" tanya Vicky lagi.


Lagi-lagi manajernya Cleo tak langsung menjawab. Dia tampak terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu hal yang berat. "Ehmm ... Nona Cleopatra terluka karena melakukan adegan bermain di papan skateboard. Dia terjatuh, kepalanya terantuk tanah sehingga dia pingsan. Dan kakinya juga terluka."


"Hah?" Vicky mengernyit, dia mulai merasa ragu terhadap penjelasan yang manajernya Cleo berikan. "Kau bilang Cleo bermain skateboard, sebenarnya dia ini melakukan syuting acara apa?"


"Syuting untuk iklan parfum, di skenario tertulis harus melakukan adegan bermain seperti olahraga. Karena parfum ini lebih menonjolkan keunggulan wangi tahan lama biarpun di luar ruangan. Lalu, adegan bermain papan skateboard yang dipilih."


"Astaga," keluh Vicky seraya menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. Dia tidak habis pikir dengan alasan di balik terjadinya hal ceroboh ini bisa terjadi. "Cleo itu jelas-jelas tidak cocok dengan hal semacam ini. Lagi pula kenapa tidak pakai stuntman untuk menggantikannya memainkan adegan yang sulit ini?"


"Kami sudah menyarankan itu, tapi Nona Cleopatra bersikeras untuk melakukannya sendiri. Dia bilang jika dia harus mengambil tantangan supaya dia semakin berkembang," jelas sang manajer dengan kepala tertunduk.


Dia sudah menyadari jika Vicky tak puas dengan penjelasan yang dia katakan. Namun, dia sadar jika dia tak punya pilihan. Karena jika dia masih ingin pekerjaannya ini, dia harus mengikuti perintah dari Cleo. Hubungannya dengan Cleo tak seperti hubungan antara manajer dengan artis biasanya. Karena Cleo menganggap manajernya hanya sebatas pesuruh, bukan sebagai rekan.


"Haishh ...." Vicky membuang muka. Dia beralih menyibakkan tirai IGD dan masuk untuk melihat bagaimana kondisi kekasihnya saat ini.


"Vicky?!" Cleo berlagak kaget, saat ini dia tampak duduk di atas brankar, salah satu pergelangan kakinya juga dibalut oleh perban elastis.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Vicky seraya mengelus kepala Cleo dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa .... Aku cuma sedikit tidak berhati-hati sehingga kakiku terkilir," jawab Cleo dengan nada lemah, dia juga bersandar pada Vicky seolah dia tak berdaya.


"Syukurlah jika kau tak terluka parah. Lain kali kau harus lebih berhati-hati, jangan memaksakan dirimu sendiri jika kau belum mampu."


"Iya, aku tahu, aku akan menjadikan hal ini sebagai pelajaran. Dan ... terima kasih, kau sudah menyempatkan diri untuk menjengukku. Aku bahagia karena kau ada di sini." Cleo tersenyum puas, akhirnya dia bisa bermanja-manja lagi pada Vicky setelah belakangan ini sedikit diabaikan. Bahkan dia memeluk Vicky dengan kedua tangannya dengan mesra.


Mama Ariana benar, Vicky paling mencintaiku. Dia jadi perhatian lagi ketika tahu aku terluka. Jika seperti ini, lebih baik lain kali aku akan berpura-pura sakit lagi.


Namun, sayangnya pelukan Cleo tak berlangsung lama. Karena Vicky tiba-tiba menyingkirkan rangkulan tangannya. "Baguslah, rupanya kau terluka ringan. Kalau begitu aku akan pergi sekarang."


"Tunggu! Kenapa kau buru-buru pergi?!" cegah Cleo seraya menahan tangan Vicky.


"Hari ini aku sudah berjanji pada Sherina, kalau aku akan menemaninya datang ke sebuah acara. Sherina sudah ke sana lebih dulu, jadi aku harus segera menyusulnya." Vicky mencoba melepaskan genggaman tangan Cleo darinya, tetapi Cleo justru mencengkeramnya lebih erat.


"Tidak bisakah kau tetap di sini dan menemaniku?! Aku sedang terluka, Vicky! Aku mau kau di sini dan bersamaku! Biarkan saja Sherina sendiri!"


Bibir Cleo bergetar, dia tak kuasa lagi menahan amarahnya. "Sherina lagi, Sherina lagi! Kau terus saja lebih mementingkan dia daripada aku! Aku ini kekasihmu! Dan Sherina hanyalah penggantiku! Apa jangan-jangan, kau sudah tidak mencintaiku lagi?!"


"Cleo, dengarkan aku!" bentak Vicky seraya menahan kedua bahu Cleo. "Aku mencintaimu, karena itulah aku ada di sini. Dan sekarang, aku harus pergi demi memenuhi tanggung jawabku! Biarpun Sherina cuma pengganti seperti yang kau katakan, tetap saja dia sudah jadi anggota keluarga Bashara! Aku tidak bisa membiarkan reputasi keluargaku terancam!"


"Sekarang aku balik bertanya. Apa kau juga mencintaiku?" tanya Vicky dengan tatapan tajam.


"Tentu saja, aku mencintaimu!" jawab Cleo spontan.


"Kalau kau mencintaiku, harusnya kau mau mengerti. Kau pikir cuma aku yang harus mengerti dan menuruti semua keinginanmu?! Kau egois!"


"...." Cleo terdiam, baru kali ini Vicky membentak dan mengeluh soal dirinya.

__ADS_1


Hening, baik Vicky maupun Cleo sama-sama tak mengatakan sepatah kata lagi. Kemesraan di awal tadi sudah menghilang karena pertengkaran ini. Sekarang mereka berdua sama-sama membuang muka, merasa jika masing-masing sudah paling benar.


Vicky melirik sekilas, dan tiba-tiba saja dia berkata, "Awas, kecoak!"


"AAHHH! KECOAK! DI MANA?!" Cleo berteriak histeris, dia teramat takut dan kaget hingga tidak bisa mengendalikan diri lagi. Tanpa sadar dia melompat turun dari brankar dan berdiri di belakang Vicky, untuk berlindung dari kecoak yang bisa terbang ke arahnya kapan saja.


"Di mana?! Di mana kecoak nya?!"


"Tidak ada kecoak, aku hanya bercanda!" Sorot mata Vicky seketika berubah sinis. Pikirnya, bukannya kaki Cleo terkilir, mengapa sekarang dia bisa bergerak dengan lincah? Dia sadar jika dia jelas-jelas sudah ditipu.


"A-apa?" Cleo melongo, dia baru sadar jika dirinya telah terjebak. Sekarang kebohongannya sudah terbongkar.


"Kenapa, Cleo?! Kenapa kau berbohong padaku?!" gertak Vicky.


"A-aku ...." Cleo tergagap.


Bagaimana ini? Aku sudah ketahuan berbohong. Aku tidak mungkin bilang kalau aku disuruh oleh mama Ariana, jika aku bilang begitu maka aku akan mendapatkan masalah lagi karena menyeret dirinya. Ah sudahlah, lebih baik aku jadikan Sherina sebagai kambing hitam.


"Aku melakukan ini karena cemburu! Gara-gara Sherina si wanita licik itu yang mempengaruhimu! Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu! Tidak ada salahnya dengan itu! Cemburu pada pasangan itu hal normal!"


"Jelas-jelas ini salah, Cleo! Kau berbohong padaku! Fakta ini tidak berubah! Biarpun kau cemburu, tapi caramu ini salah! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku di sepanjang perjalanan kemari! Tapi nyatanya semua ini adalah kebohonganmu semata! Kau sama saja memanfaatkan perasaanku! Aku kecewa padamu!"


Vicky teramat kecewa, dia memalingkan wajahnya dan tak mau mendengar penjelasan dari Cleo lagi. Dia lantas bergegas pergi dari ruangan IGD ini dengan langkah yang cepat. Karena dia sudah muak dengan sikap Cleo yang telah membohongi dirinya.


"Vicky! Tunggu!" teriak Cleo sekencang mungkin, namun Vicky masih tak berbalik dan semakin menjauh.


"Sial, kenapa malah jadi begini?"

__ADS_1


Ini semua gara-gara Sherina! Aku yakin dia pasti telah menggoda Vicky sampai aku diabaikan seperti ini! Awas kau, aku tidak akan membiarkanmu merebut Vicky dariku! Di dunia ini, cuma aku yang boleh memiliki Vicky!


__ADS_2