Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Senyuman Tulus Malaikat


__ADS_3

Sherina hanya pasrah saja ketika Vicky menyeretnya pergi. Vicky mengendarai mobilnya untuk menuju ke sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Tempat itu adalah sebuah rumah singgah, di depan rumah singgah itu bertuliskan nama dari tempat ini. Yaitu, 'Yayasan Sehat Mulia'.


"Vicky, kenapa kita ke sini?" tanya Sherina yang masih ragu untuk turun dari mobil.


"Rumah singgah ini didirikan oleh keluargaku, gunanya untuk menampung pasien anak-anak penderita kanker. Terutama bagi pasien kurang mampu yang rumahnya jauh dari rumah sakit, mereka akan kesulitan kalau harus bolak-balik melakukan terapi. Dan untuk meringankan beban mereka, tinggal di sini sama sekali tidak dipungut biaya," jawab Vicky.


"Ahh ... rupanya ini adalah cara keluarga Bashara beramal. Aku paham mengapa kau tadi menyebut soal pahala. Tetapi, kau mengajakku ke sini untuk apa?" tanya Sherina lagi.


"Setiap sebulan sekali, setidaknya aku akan berkunjung kemari untuk mengawasi para relawan dan melihat kondisi anak-anak. Dan setiap seminggu sekali, akan ada pengiriman bahan-bahan pokok serta mainan. Hari itu bertepatan dengan hari ini. Karena aku tak punya jadwal yang padat, jadi aku menyempatkan diri dan mengajakmu kemari. Apa kau mau ikut turun denganku dan menemui anak-anak itu?"


"Baiklah, aku mau!" jawab Sherina spontan.


Vicky dan Sherina lantas turun dari mobil. Begitu Vicky melangkah masuk ke dalam Yayasan Sehat Mulia, dia langsung mendapatkan sambutan baik dan hangat dari setiap orang. Terlebih lagi dari para petugas dan para relawan, mereka sungguh senang dengan kedatangan Vicky yang tiba-tiba ini.


"Wah ... rupanya kunjungan mendadak!" ucap salah seorang relawan wanita yang sudah akrab dengan Vicky. Namanya Davi, usianya sudah hampir menginjak 40 tahun.


"Hm? Siapa ini?" tanya Davi yang sedikit merasa bingung dengan kehadiran Sherina. Yang dia tahu, Vicky yang selama ini dia kenal sangat jarang berjalan bersama dengan wanita, kecuali jika itu dengan kekasihnya.


"Kenalkan, dia Sherina. Istriku," jawab Vicky.


"I-istri?! Kapan kau menikah? Kenapa tidak bilang-bilang?!" tanya Davi dengan suara keras, membuat para relawan yang lain ikut terkejut dan akhirnya berkerumun untuk mendengarkan penjelasan dari Vicky.


"Ehmm ... kami menikah baru kemarin, maaf karena tidak mengabari kalian," ucap Vicky sambil memegang tengkuknya.


"Haiss ... ya sudah, tak apa. Setidaknya kau tidak lupa untuk mengenalkan istrimu pada kami." Tiba-tiba saja Davi melangkah lebih dekat dan menggenggam kedua tangan Sherina.


"Selamat, ya, atas pernikahanmu dengan Vicky! Meskipun Vicky kadang menyebalkan, tapi dia aslinya baik! Dan aku minta maaf karena tidak bisa memberikan kado pernikahan."


"Haha, tidak apa-apa," ucap Sherina dengan senyuman canggung.

__ADS_1


Aku bahkan sudah lupa soal hadiah pernikahan. Semua orang hanya menganggap kalau aku sebagai tumbal penerima kutukan, jangankan hadiah, yang mengucapkan selamat atas pernikahanku saja bisa dihitung dengan jari.


"Sherina," panggil Vicky yang seketika membuat Sherina menoleh ke arahnya. "Kenalkan, dia adalah Davi. Dia sudah menjadi relawan di rumah singgah ini selama 20 tahun, dia yang akan menjadi pemandu untuk mengenalkanmu pada tempat ini."


"Oke! Mohon bantuannya, ya, Davi!" ucap Sherina dengan senyuman ramah.


Dengan penuh senang hati, Davi langsung mengajak Sherina untuk memasuki rumah singgah itu dan mengajaknya berkeliling. Fasilitas di rumah singgah ini terbilang cukup lengkap. Antara lain terdapat dapur yang komplet dengan bahan-bahan makanan, internet dan televisi sebagai hiburan, masing-masing kamar yang maksimal diisi oleh empat tempat tidur, hingga peralatan medis seperti kursi roda dan ambulans juga disediakan.


"Pelan-pelan!" ucap Davi pada relawan lain yang sedang mengangkut barang-barang persediaan dari mobil box yang baru saja tiba.


"Baik, Kak Davi ..." jawab relawan yang diperingatkan itu.


"Hm? Sepertinya dia kewalahan, apa di sini kekurangan jumlah relawan?" tanya Sherina.


"Sebenarnya tidak kekurangan, hanya saja ... belakangan ini jumlah orang yang datang ke rumah singgah ini bertambah pesat. Bahkan, ada kalanya kami kehabisan ruang untuk mereka tidur. Kami hanya sedikit kewalahan," jawab Davi dengan kening yang mengerut.


"Kasihan sekali, sepertinya jumlah orang yang mengidap penyakit kanker terus bertambah," sahut Sherina yang turut merasa prihatin.


"Lalu, selain karena alasan itu, rumah singgah ini semakin lama kian menjadi terkenal, terkenal karena kemurahan hati Tuan Vicky. Dia tak cuma memberikan semua fasilitas ini dengan gratis, tetapi dia juga membantu biaya pengobatan yang tidak ditunjang oleh pemerintah. Memang hal bagus jika Tuan Vicky dermawan, bahkan teman-temannya pengusaha lain juga menjadi donatur tetap bagi yayasan ini. Satu-satunya masalah adalah ... kami kekurangan ruang dan kekurangan jumlah relawan yang siap membantu kapan saja."


"Ah, begitu ya ...." Sherina semakin merasa prihatin. Tiba-tiba saja dia mendekati seseorang relawan yang sedang membawa sebuah kotak kardus. Lalu merebut kardus itu darinya begitu saja. "Ini mau dibawa ke mana? Aku mau membantu!"


"Anu ... jangan Nyonya," ucap relawan yang kotak kardusnya direbut oleh Sherina. Dia merasa sungkan karena membuat istri dari tuan pemilik rumah singgah ini harus bekerja seperti dirinya.


"Tidak apa-apa, aku benar-benar mau membantu. Sebaiknya kau ambil barang yang lain, mari kita lakukan bersama supaya cepat selesai!" bujuk Sherina dengan senyuman.


Davi juga terkejut melihat tingkah tak terduga Sherina. Setelahnya dia menghela napas dan tersenyum tipis. "Sudah ... kau lakukan saja seperti yang Beliau minta."


"Baik, kak Davi ..." ucapnya yang kemudian segera pergi. Bergegas untuk mengambil barang yang lain.

__ADS_1


"Sepertinya ini tak terlalu berat," ucap Sherina dengan entengnya.


"Haha, tentu. Di sebelah sini tertulis kalau kotak ini berisi mainan boneka, tentu saja tidak berat! Mari ikuti aku, akan aku tunjukkan ke mana seharusnya kotak ini dibawa!" ajak Davi yang segera melangkah memimpin jalan.


"Baik, tapi omong-omong ... selain mainan, biasanya apa lagi yang diperlukan untuk anak-anak?"


"Untuk anak-anak usia balita, mereka jelas membutuhkan mainan untuk menghibur diri. Dan keperluan mereka yang paling utama, susu dan popok tidak boleh sampai kehabisan stok. Dan untuk anak-anak yang sudah usia sekolah, kami menyediakan apa yang menjadi minat mereka. Seperti buku cerita, buku bergambar, dan kami juga sering memberikan pelajaran edukasi bagi mereka. Soalnya ... banyak dari relawan yang punya latar pendidikan bagus, yang masih muda juga orang-orang yang baru lulus kuliah. Aku salut pada anak muda yang punya kepedulian seperti mereka."


"Terlebih lagi, aku sangat salut pada Tuan Vicky. Dia tak seperti orang kaya lain yang cuma tahu membelanjakan uangnya untuk mengoleksi mobil mewah, atau hanya untuk jalan-jalan dan menghamburkan uang. Semua anak-anak yang berada di sini, mereka berasal dari keluarga yang berada di garis kemiskinan. Selama ini, bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti bagi mereka."


"Haha, intinya aku cuma mau bilang kalau suamimu itu orang yang baik! Jadi, jangan hiraukan pendapat buruk orang lain, ya! Jangan percaya pada kutukan! Lihatlah anak-anak di sini, mereka semua dipenuhi oleh semangat hidup biarpun mereka tahu jika mereka sedang sakit parah! Aku harap, mereka semua akan mendapatkan kesembuhan dan menjalani hidup dengan bahagia."


"Iya ... kau benar," jawab Sherina dengan senyuman tipis. Dia benar-benar merasa malu jika dia terus merasa pesimis, semua yang dikatakan oleh Davi telah meneguhkan kepercayaan di dalam dirinya. Dia semakin percaya jika kutukan itu tidak akan pernah membuatnya celaka atau benasib sial.


Sherina terus berjalan mengikuti Davi, hingga mereka berdua tiba di sebuah ruangan khusus bermain. Terdapat banyak anak-anak yang menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Semua senyuman tulus dari malaikat-malaikat kecil ini telah menyentuh nurani Sherina. Pada akhirnya, Sherina ikut membagikan mainan itu dengan adil, bahkan juga bercerita dan bermain akrab dengan mereka semua.


Tak cuma mendampingi anak-anak bermain. Sherina juga memberikan semangat dan dukungan kepada para orang tua yang menemani anak mereka. Meskipun Sherina sesekali menangis ketika mendengarkan cerita perjuangan dan kesulitan para orang tua, dia tetap merangkul mereka untuk saling menguatkan.


"Tuan Vicky, ini laporan dan perincian soal barang yang hari ini diantar ke yayasan!" ucap seorang relawan yang memberikan sebuah dokumen pada Vicky.


"Baiklah, kau bisa pergi dan lanjutkan tugasmu!"


Setelah menerima dokumen itu, Vicky mencari tempat duduk yang tak jauh dari sana. Dia duduk dengan tenang sambil membaca dan membalik setiap halaman. Namun, tiba-tiba saja konsentrasi Vicky buyar. Hal itu tidak lain disebabkan karena suara tawa seseorang yang begitu keras.


"Ck, kenapa ribut sekali?" Vicky berdecak kesal, dia menutup dokumen laporan itu dan beranjak dari kursi untuk melihat penyebab suara berisik tadi.


"Eh, Sherina ...?!" Kekesalan Vicky seketika menghilang, dia hanya bisa ternganga ketika melihat istrinya yang tampak sangat akrab bermain dengan anak-anak penderita kanker.


Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba jadi berdegup lebih cepat. Dia terpesona, terpesona dengan setiap senyuman dan tawa yang keluar dari bibir orang-orang itu. Bertahun-tahun lamanya dia mengurus yayasan ini, baru pertama kali ini dia melihat sesuatu yang selama ini dia harapkan.

__ADS_1


"Sherina," gumamnya.


Aku tak menyangka jika Sherina adalah sosok yang seperti ini. Hal ini ... cukup berbeda dengan Cleo. Sherina bisa langsung akrab pada anak-anak, walaupun ini pertama kalinya aku ajak kemari. Sedangkan Cleo, jangankan bermain dengan anak-anak, dia bahkan tak pernah mau lagi aku ajak kemari.


__ADS_2