
TIK TIK TIK ...
Suara jarum jam berdenting, waktu hampir menunjukkan pukul 08:30 pagi. Sebagai seorang Direktur Utama dari perusahaan, Sherina selalu datang di jam seperti ini. Berangkat pukul 8 tepat dengan diantar oleh sopir kediaman, dan karena jarak kantor yang cukup jauh, alhasil memakan waktu hingga 30 menit di perjalanan. Hal ini sudah jadi rutinitas Sherina selama hampir satu bulan terakhir.
"Silakan Nyonya," ucap sang sopir seraya membukakan pintu dan mempersilakan Sherina untuk turun.
"Terima kasih. Oh ya, hari ini aku pulang 1 jam lebih awal dari biasanya. Nanti kau yang jemput aku, ya!" pinta Sherina dengan nada ramah. Suasana hatinya masih dalam keadaan bagus pagi ini.
"Baik, Nyonya," jawab sopir dengan nada hormat. Sekarang dia sudah tidak berani bertingkah macam-macam ataupun kurang ajar pada Sherina. Biarpun Ariana menyuruhnya berbuat tidak sopan, namun dia tahu kalau posisi Sherina saat ini di kediaman tak bisa diremehkan.
Kendaraan itu langsung melaju pergi setelah Sherina menaiki anak tangga yang menuju pintu masuk. Namun, belum sempat dia melangkah masuk, tiba-tiba saja dia mendapatkan kejutan yang tidak biasa.
"Datang juga akhirnya si jal*ng ini!" teriak Sofia dengan langkah yang terburu-buru mencegat Sherina di depan pintu masuk. Dia sudah menunggu sejak tadi, bahkan sampai merasa keram karena terlalu lama duduk di ruang tunggu. Saat melihat kedatangan kakak tirinya ini, tanpa ragu dia menerjang untuk menghalanginya.
"Apa-apaan kau?! Kenapa kau di sini?!" protes Sherina yang sungguh tidak sudi menerima sambutan tidak mengenakkan dari adik tirinya ini.
"Aku ke sini untuk menyuruhmu turun jabatan sekarang juga! Kembalikan perusahaan ini pada ayah! Biarkan ayah menggantikan posisimu!" pekik Sofia tanpa rasa sungkan.
"Dasar gila! Aku tidak peduli siapa yang menyuruhmu ke sini. Tapi, apa-apaan permintaan konyol itu?! Ayah sudah tidak berhak sedikit pun atas perusahaan ini! Dan lagi, ayah yang kau bela itu telah membuat perusahaan ini hampir bangkrut! Akulah yang menyelamatkan perusahaan ini dari masa krisis! Kau itu ke sini cuma menunjukkan kebodohanmu. Otak itu barang yang bagus, aku harap kau punya itu!"
"Apa?! Kau menghinaku kalau aku tidak punya otak?!" tanya Sofia yang semakin emosi.
"Benar, baguslah kalau kau paham!" tandas Sherina.
"Sial, ternyata kau cari masalah denganku! Akan aku ladeni!"
"Huh! Aku tidak takut!"
Terjadi perkelahian antara saudara tiri ini, mereka saling dorong dan berteriak dengan kata-kata yang kotor. Hal yang heboh ini tentu saja disadari oleh orang lain. Akan tetapi, belum sempat security yang bertugas memisahkan mereka, tiba-tiba saja ada orang asing yang berpakaian serba hitam ikut menerjang maju entah dari mana.
"Mampuss kau!" teriaknya sambil melemparkan cairan yang ada dia bawa dalam botol plastik.
"Ahhh!" Sherina jatuh tergelincir, dia kehilangan keseimbangan karena dorongan Sofia ditambah dengan sepatu hak tinggi miliknya.
PYASSS ...
Cairan itu salah sasaran, justru malah tumpah mengenai Sofia. Menyadari hal itu, seseorang yang berpakaian serba hitam ini segera melarikan diri.
"Akhhh! Wajahku ...! Panas ...! Perih ....!" teriak Sofia kesakitan, dia langsung tumbang dan terus mengusap-usap kulit wajahnya yang terkena cairan barusan.
"Bu Direktur tidak apa-apa?" tanya Security itu yang mulai panik. Dia juga membantu Sherina untuk berdiri.
"A-aku tidak apa-apa. C-cepat kejar orang itu! Jangan biarkan dia kabur!" pinta Sherina yang keadaannya juga masih terguncang, semua hal ini terjadi begitu cepat.
"Baik, Bu Direktur!" jawab security ini yang kemudian segera berlari mengejar orang asing tadi.
"Ada apa ini?" tanya Karyawan lain yang berbondong-bondong keluar dari gedung.
"Cepat telepon ambulans!" teriak Sherina yang makin khawatir karena Sofia sudah tak sadarkan diri.
Sungguh musibah di pagi hari yang sama sekali tak terduga. Begitu ambulans sampai, Sofia segera dilarikan ke rumah sakit untuk secepatnya mendapatkan pertolongan. Karena statusnya sebagai kakak tiri dan saksi di tempat kejadian, Sherina ikut menaiki mobil ambulans tersebut.
Selagi Sofia mendapatkan pertolongan, Sherina menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Dia juga sudah menghubungi siapa saja harus tahu soal kejadian ini. Alhasil, terpaksa dia menghubungi Satya untuk segera datang ke rumah sakit.
"Ck, sial ... sebenarnya ada apa ini?" gerutu Sherina yang masih belum berhenti panik.
__ADS_1
Siapa orang itu tadi? Dia memakai topi dan masker, aku sama sekali tidak bisa menebak dia siapa. Dan cairan apa yang dia bawa sampai-sampai bisa menyakitkan seperti itu? Tapi sepertinya, target orang itu adalah aku. Buktinya dia datang ke kantorku. Nasib baik tadi aku terjatuh dan bisa menghindar. Tapi sekarang, bagaimana dengan keadaan Sofia? Dia selamat atau tidak?
DRAP DRAP DRAP ...
Terdengar suara derap langkah kaki mendekat. Seketika Sherina menoleh ke sumber suara, lalu tampak Satya yang datang dengan berlari tergesa-gesa.
"Satya ..." gumam Sherina dengan kedua alis yang saling mengait. Emosinya menjadi campur aduk ketika melihat Satya secara langsung. Orang yang dulunya sangat dia cintai dengan sepenuh hati, kini menjadi orang yang dibenci dan yang paling ingin dijauhi.
"Sherina ...?" Sejenak Satya terdiam begitu melihat mantan istrinya ini. Sosok yang tampak sudah berubah 180 derajat ketika masih menjadi istrinya. Entah kenapa, saat ini Satya merasakan sesuatu yang sulit untuk diutarakan. Bahkan, dia sampai melupakan tujuan kedatangannya kemari.
KLAK!
Mendadak pintu terbuka, lalu keluarlah seorang dokter perempuan yang baru saja selesai menangani Sofia.
"Apakah ada keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"Saya, Dok! Saya suaminya! Bagaimana keadaan Sofia?" tanya Satya yang segera mendekat ke arah dokter.
"Maaf, ibu Sofia tidak bisa saya selamatkan dari cairan berbahaya itu," ucap dokter dengan nada menyesal.
"Apa?! Maksudnya Sofia meninggal?!" tanya Satya seakan tidak percaya.
"Tidak, Pak. Ibu Sofia tidak tewas, beliau hanya terlambat menerima pertolongan sehingga cairan itu sudah terlanjur merusak tubuhnya. Lukanya cukup parah, maka ibu Sofia perlu dirawat inap."
"Dokter, sebenarnya cairan apa itu? Apakah sangat berbahaya? Soalnya tadi dia sampai pingsan karenanya," tanya Sherina penasaran.
"Betul, cairan itu memang sangat berbahaya. Namanya asam klorida, jika terkena kulit, maka akan membuat kulit melepuh seperti luka bakar. Ibu Sofia bisa pingsan karena efek dari mencium bau dari cairan ini. Bahkan yang terburuk, bisa membuat sesak napas, merusak saluran pernapasan dan bisa berujung kematian. Sukurlah tadi segera diberikan oksigen di ambulans."
"Dokter, tadi Anda bilang Sofia terlambat mendapatkan pertolongan. Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Satya harap-harap cemas.
"Cairan itu mengenai kulit leher dan separuh wajahnya. Nasib baik tidak terkena mata, karena itu bisa berakibat kebutaan. Pertolongan pertama setelah terkena cairan asam adalah membasahi kulit yang terkena dengan air mengalir secara terus-menerus. Namun, hal itu tidak dilakukan pada ibu Sofia. Kondisinya memang sudah aman, tidak mengancam nyawa. Tapi, cairan asam klorida itu sudah merusak hingga ke lapisan kulit dermis. Jika hanya sampai ke lapisan epidermis, lukanya hanya lecet saja, lama-kelamaan bisa hilang sendiri dengan salep luka bakar. Untuk kasus ibu Sofia, untuk menghilangkan luka bakar harus melakukan pembedahan seperti operasi plastik."
"Kiranya, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Tidak ada, Dokter," jawab Sherina.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
Setelah dokter itu pergi, bukannya segera masuk untuk melihat keadaan Sofia, Satya justru menatap tajam pada Sherina. "Ini gara-gara ulahmu! Kau pasti mau balas dendam dengan cara ini! Sofia bisa terluka pasti karena kau!"
"Apa?! Berpikirlah dengan jernih! Jangan terburu-buru menyalahkan orang! Justru harusnya kau berterima kasih padaku! Jika tidak ada aku, kau pikir siapa yang akan peduli dan membawa istrimu ke rumah sakit?! Orang yang mau dicelakai itu aku! Dan Sofia bisa ada di kantorku itu atas kemauannya sendiri! Aku tak pernah memintanya untuk datang dan terkena cairan asam klorida menggantikan aku!"
"Humph!" Sherina mendengus kesal. Dia lantas berpaling dan berjalan menjauh dari Satya.
"Hei, kau mau pergi ke mana?!" cegah Satya yang berusaha menahan tangan Sherina. Namun, seketika tangannya ditepis oleh Sherina.
"Ke kantor polisi! Aku mau mengurus pelaku yang sudah tertangkap! Kalau kau peduli, silakan datang atau suruh pengacaramu yang datang! Jangan bisanya cuma menyalahkan orang lain tanpa tahu apa-apa!" jawab Sherina dengan nada ketus. Bahkan dia tidak menoleh untuk menatap Satya.
"...." Satya membisu, dia terus melihat punggung Sherina hingga bayangannya tak terlihat lagi. Lalu, setelah mengumpulkan keberanian diri yang cukup. Pelan-pelan dia membuka pintu itu untuk memeriksa bagaimana kondisi istrinya.
"Kak Satya ..." ucap Sofia dengan nada gemetar. Separuh wajahnya benar-benar hancur, penuh dengan luka bakar. Kecantikan yang selalu dia banggakan, kini telah menghilang.
"Sofia ... kau ..." ucap Satya yang masih mencoba menerima. Perlahan dia mencoba mendekat meskipun ragu. Istri yang biasanya selalu tampil cantik dan modis, penampilannya kini sungguh seperti monster.
"Kak! Wajahku hancur! Aku mohon kembalikan wajahku seperti sedia kala! Melakukan operasi plastik pun aku rela! Kak Satya tolong bantu aku!" pinta Sofia sambil mengguncangkan tubuh suaminya ini.
__ADS_1
"Sofia ... bersabarlah," bujuk Satya yang sebenarnya tidak tega. Dia sungguh dalam kondisi yang tidak begitu baik sekarang, dan dia tahu betul bahwa melakukan operasi plastik butuh dompet yang tebal.
"Bersabar? A-aku sudah seperti ini ... Kak Satya tidak mau keluar uang demi aku?"
"Sofia, mengertilah, oke? Sekarang keringkan dulu luka di wajahmu. A-aku janji, aku pasti akan membiayaimu supaya kau jadi cantik lagi! Sekarang lebih baik tenangkan dirimu dulu," ucap Satya seraya menepuk bahu istrinya. Tidak munafik bisa Satya merasa takut, karena luka bakar di wajah Sofia benar-benar mengerikan.
"Kak Satya ...." Sofia tak mampu untuk berkata-kata lagi. Di saat wajahnya hancur, perlakuan Satya pun ternyata ikut berubah. Dia yang biasanya selalu ingin menempel padanya, sekarang memeluk untuk menenangkan dirinya pun tidak sudi.
Sofia seakan-akan hampir hilang akal, tangisnya pecah. Sungguh sebuah tragedi besar baginya. Dengan wajah yang cantik ini, dulunya dia gunakan untuk merebut dan mendapatkan Satya. Namun sekarang, dia dijauhi karena jadi buruk rupa. Benar-benar sebuah akhir yang tidak pernah dia harapkan.
***
Di sisi lain pada saat yang sama. Sherina sudah berada ke area parkir rumah sakit, di sana ada Pasha yang menunggunya di dalam mobil. "Bu Direktur, bagaimana kondisi adik tiri Anda?"
"Huft ... ternyata dia terkena cairan asam klorida, dokter bilang luka bakarnya cukup serius, tapi untunglah tidak sampai membahayakan nyawa. Sudahlah, sekarang mari kita ke kantor polisi!"
"Baik," jawab Pasha sambil mengangguk.
Jarak antara kantor polisi dan rumah sakit tak terlalu jauh. Cukup hanya dengan menempuh perjalanan sekitar 10 menit. Dan sesampainya di sana, Sherina dibuat terkejut dengan hadirnya Vicky.
"Kau di sini?" tanya Sherina.
"Syukurlah kau tidak apa-apa!" ucap Vicky yang mendadak maju dan memeluk Sherina. Dia sungguh khawatir terjadi apa-apa pada istrinya ini saat dikabari oleh orang kantor soal peristiwa buruk yang terjadi pagi ini.
"Ehem! Tuan, ini di kantor polisi," ucap seseorang pria, dia adalah seorang pengacara yang Vicky bawa untuk berjaga-jaga.
"Eh?!" Vicky tersadar, sontak saja dia melepaskan pelukan dari Sherina.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Sherina dengan wajah sedikit merona. Mendapatkan pelukan di saat seperti ini sungguh tak terduga baginya.
"Asistenmu, Ruby yang meneleponku. Dia bilang kau mendapatkan serangan mendadak saat hendak memasuki kantor."
"Astaga, ternyata Ruby. Padahal ini masalah kecil, tidak seharusnya mengganggu waktumu."
"Ini bukan masalah kecil! Ini menyangkut keselamatanmu! Sudah jelas kalau aku berhak tahu! Kau tidak boleh merahasiakan hal ini dariku!"
"Ah, o-oke ... maafkan aku," jawab Sherina canggung.
Dengan arahan dari seorang petugas. Sherina, Vicky berserta pengacara itu dibimbing untuk memasuki sebuah ruangan. Di sana, mereka dihadapkan oleh beberapa barang bukti yang sudah diamankan oleh polisi.
"Tuan, Nyonya dan Pak Pengacara. Di hadapan kalian saat ini sudah ada beberapa barang bukti yang kami dapatkan dari pelaku. Barang bukti pertama adalah botol plastik ini, di dalamnya masih tersisa sedikit cairan asam klorida. Lalu barang bukti kedua, adalah ponsel pelaku. Dan kami menemukan sebuah aktivitas mencurigakan, yaitu percakapan pelaku dengan seseorang," jelas salah seorang polisi.
"Boleh aku lihat isi pesannya?" tanya Sherina.
"Silakan, Nyonya." Polisi itu lantas mengeluarkan ponsel milik pelaku dari kantong plastik dan menyerahkannya kepada Sherina.
"Astaga ..." Sherina mengelus dada saat membaca riwayat percakapan tersebut, isi pesan itu sungguh seperti perencanaan untuk mencelakai dirinya.
"Hm? Sebentar!" Vicky yang mengintip isi pesan itu merasakan ada sebuah kejanggalan.
"Ada apa Tuan? Orang itulah yang menjadi dalang di balik kejahatan berencana ini. Kami sudah mencoba melacak nomor ponsel tersebut, informasi dan lokasinya juga sudah kami dapatkan. Tapi, setibanya tim kami di lokasi, kami tidak menemukan apa-apa. Sepertinya orang ini cerdas, dia membuang ponselnya," jelas sang polisi.
"Sebentar!" Tiba-tiba saja Vicky mengambil ponselnya dari dalam saku. Dia mencari riwayat panggilan telepon yang sudah tertimbun. "Ini dia! Dugaanku benar! Nomor ini tidak asing!"
"Benarkah?!" Sherina yang penasaran pun ikut mengintip layar ponsel Vicky.
__ADS_1
"Lihat ini, nomornya sama! Dan nomor ini pernah digunakan oleh manajernya Cleo untuk menghubungiku!"
"Manajernya Cleo?!" Sherina terperanjat.