
"Hujan ..." gumam Sherina sambil memandang keluar kaca mobil. Sekarang dia sedang berada di dalam mobil bersama dengan Vicky, berhenti di jalan karena lampu merah.
Pesta pernikahan Satya dan Sofia pasti berantakan, haha, rasakan! Sepertinya Tuhan memihak padaku! Salah sendiri kalian berbuat jahat padaku, pesta kalian jadi berantakan, ini karma yang pantas kalian dapatkan!
"Hm?" Vicky melirik sekilas ke arah Sherina, dia menyadari jika gaun yang dipakai Sherina memiliki lengan yang pendek. Pikirnya, kerena sekarang di luar sedang hujan, mungkin saja Sherina kedinginan. Jadi, Vicky berinisiatif untuk mengecilkan AC mobil.
Sherina menyadari tindakan Vicky, sontak saja membuatnya menoleh. Tatapan mata keduanya bertemu, mereka berdua hanya terdiam selama beberapa saat. "Anu ... terima kasih," ucap Sherina dengan senyuman.
"Ini bukan apa-apa, hanya mengecilkan AC saja. Bukan sesuatu hal yang besar," jawab Vicky yang salah tingkah.
"Tidak, bukan itu yang aku maksud. Aku berterima kasih soal yang kau lakukan di pesta tadi, terima kasih banyak sudah membelaku. Dengan adanya kau, itu jadi memudahkanku untuk membungkam mereka. Aku benar-benar berterima kasih."
"Oh, rupanya soal itu. Ehmm ... tidak usah berterima kasih berlebihan, lagi pula ini juga bagian dari kesepakatan kita. Aku sudah berjanji untuk membantumu, tentu saja aku akan menepatinya."
"Omong-omong ... kau cepat sekali menyusulku, bagaimana keadaan Cleo? Dia tidak mengalami cedera serius, kan?" tanya Sherina penasaran.
"Cih!" Vicky berdecih kesal, dia memalingkan wajahnya karena kembali teringat soal perkara yang membuatnya kesal karena dipermainkan. "Kecelakaan itu cuma bohongan, Cleo sangat sehat. Aku tak tahu alasan mengapa dia bertingkah begini, belakangan ini aku merasa kalau dia semakin menyebalkan!"
"...." Sherina diam seribu bahasa, dia paham kenapa Vicky sampai bersikap begini. Tentu saja setiap orang akan marah ketika dibohongi.
Ternyata dugaanku benar, Cleo tidak mengalami cedera seperti yang dikabarkan. Pantas saja ibu mertua terlihat tenang, dia pasti sudah tahu kebenarannya dan ikut andil di dalamnya. Pura-pura mengalami kecelakaan untuk membuat Vicky menjauh dariku. Tapi untung saja Vicky tak mudah dibohongi.
"Sherina," panggil Vicky yang langsung menyadarkan Sherina dari lamunan.
"Eh? Ada apa?"
"Aku ingin bertanya sesuatu. Tadi kau menghadiri acara pesta mantan suamimu, ehmm ... bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa sakit hati?"
"Pffttt ... kenapa bertanya soal itu?" Sherina terkekeh, juga menepuk jidatnya sendiri karena tak habis pikir dengan pertanyaan Vicky. "Merasa sakit hati untuk orang seperti dia cukup satu kali. Dulu, aku begitu mencintainya, tapi karena pengkhianatan yang dia lakukan, dia sendiri yang telah mengubah cintaku jadi benci. Jika kau bertanya soal perasaanku, aku lebih merasa tidak rela, tidak rela karena mereka bahagia."
"Begitu, ya ...." Vicky tersenyum kecil, entah kenapa dia merasa senang karena Sherina sudah tak lagi punya perasaan cinta yang tersisa untuk mantan suaminya.
"Vicky, kenapa kau bertanya soal itu?" tanya Sherina dengan tatapan heran.
"Bukan apa-apa, hanya penasaran saja." Vicky masih tersenyum bodoh. Lalu menginjak gas dan kembali melaju saat lampu sudah berubah warna jadi hijau.
"Apa sih?" gerutu Sherina, dia merasa kesal karena tingkah Vicky yang menurutnya tidak jelas.
__ADS_1
Karena hujan yang deras, Vicky mengemudi dengan kecepatan rendah. Akan tetapi, di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba saja dia berkata, "Apa kau mau mampir sebentar?"
"Mampir ke mana?" tanya Sherina dengan wajah bingung.
"Restoran, aku sedikit lapar karena belum makan siang. Dan di acara pesta tadi, aku juga tak sudi menyentuh hidangannya. Kau pasti juga sama, jadi kau setuju, kan?"
"Oke, aku mau. Tapi, bolehkah aku saja yang menentukan tempat kita makan?" tanya Sherina dengan sorot mata berharap.
"Ehmm ... boleh," jawab Vicky dengan senyum kecil. Dia menyetujui hanya karena satu alasan, karena dia ingin mengenal Sherina lebih dekat. Jadi, dia ingin tahu seperti apa selera yang Sherina punya.
Sherina pun menunjukkan jalan ke arah yang dia mau. Dia menuntun Vicky menuju ke sebuah tempat makan yang jadi favoritnya. Namun, begitu sampai di sana, Vicky hanya termangu. Dia kaget karena Sherina mengajaknya ke rumah makan yang berada di pinggir jalan.
"Hm?" Sherina mendelik, dia sadar kalau Vicky tampaknya enggan untuk masuk ke rumah makan sederhana dan kecil ini. "Apa kau keberatan? Kalau kau keberatan tidak masalah, kita bisa putar balik dan makan di tempat yang kau suka saja."
"Eh, tidak! Aku sama sekali tidak keberatan! Ayo makan di sini!" Vicky mengambil payung, dia keluar dari mobil lebih dulu dan kemudian memayungi Sherina hingga ke pintu masuk rumah makan.
Bagi Vicky, ini merupakan pengalaman baru baginya. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini dia melangkahkan kaki untuk singgah di tempat sederhana semacam ini. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu lama, jarak antar meja yang cukup berdempetan, serta dekorasi yang asal-asalan.
Jika ini toko milikku, sudah pasti akan aku rombak total! Semua dekorasi dan pajangan di sini sangat tidak serasi.
Karena sedang hujan, rumah makan ini jadi lebih ramai didatangi pengunjung. Beberapa memang berniat makan, dan beberapa di antaranya berniat berteduh sekalian makan. Sudah pasti Vicky dan Sherina adalah pengunjung yang paling mencolok. Karena baju mewah yang mereka pakai, mereka jadi bahan obrolan oleh pengunjung yang lain.
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya, dialah pemilik rumah makan ini yang turun tangan langsung untuk melayani setiap pembeli. "Permisi, mau pesan apa?" tanyanya dengan nada sopan.
"Aku mau pesan seperti biasa!" jawab Sherina.
"...?" Wanita ini kebingungan.
"Humph! Keterlaluan sekali, apa Bibi Sekar sudah melupakan aku?" keluh Sherina dengan tampang cemberut.
"Kamu Sherina! Astaga, kamu banyak berubah! Aku sampai tidak mengenalimu! Oh ya, kamu datang bersama siapa? Temanmu?" tanya Sekar dengan antusias. Dia senang sekali karena bisa berjumpa lagi dengan Sherina.
"Bukan, dia suamiku."
"Eh, b-bukannya waktu itu kamu menikah dengan Satya? Kalian berpisah?" tanya Sekar seakan tidak percaya.
"Iya, kami berpisah. Satya bukan orang yang baik dan cocok buatku," jawab Sherina dengan wajah datar.
__ADS_1
"B-begitu, ya ...." Sekar tersenyum canggung. Dia merasa telah menanyakan hal yang salah.
"Bibi bisa buatkan dulu pesananku, suamiku masih mau memilih menu."
Sekar hanya mengangguk dan pergi. Sedangkan Vicky, dia masih diam dan memperhatikan ekspresi Sherina. "Dia sepertinya mengenalmu dengan baik," ucapnya.
"Yaa ... karena tempat ini menjadi tempat langgananku dulu sewaktu masih kuliah. Kampusku dekat dari sini, dan mantan suamiku itu kerap menemaniku. Karena itu Bibi Sekar bisa mengenal kami. Tapi, aku mau ke sini bukan karena ingin mengenang masa lalu. Aku ingin ke sini memang karena hidangan di sini enak, itu saja."
"Ternyata begitu," ucap Vicky sambil mengangguk-angguk. Akhirnya dia paham kenapa Sherina mengajaknya kemari.
"Nah, jadi kau mau pesan apa? Aku beri tahu ya, di sini itu yang paling terkenal adalah soto nya! Tapi jika kau tidak suka soto, kau bisa pesan yang lain. Selain soto, di sini menjual makanan berkuah lain, seperti kare, tongseng, sop buntut. Sangat sesuai untuk dimakan saat hujan seperti sekarang!"
"Ehmm ... aku pesan yang sama denganmu saja," jawab Vicky yang sebenarnya bingung harus memilih apa.
"Baiklah!"
Tak berselang lama kemudian makanan pesanan Vicky dan Sherina sudah siap. Banyak hal yang terjadi setelah pesanan itu sampai di atas meja. Vicky awalnya ragu untuk menyantap, tapi pada akhirnya makan dengan lahap juga. Lalu Sherina juga menampakkan sisi kepribadiannya yang lain.
Jauh berbeda jika dibandingkan saat makan di kediaman, Sherina selalu makan dengan tenang dan tak banyak bicara. Tetapi sekarang, Sherina tak henti-hentinya berbicara dan menceritakan sesuatu yang menyenangkan dan menghibur pada Vicky.
Di sisi lain Vicky hanya tersenyum, dia terus mendengarkan dan menyimak apa saja yang Sherina katakan. Baginya, ini merupakan sesuatu yang baru di hidupnya. Berkat hujan yang turun hari ini, Vicky seakan-akan mendapatkan warna baru dalam hidupnya. Dan terlebih lagi, dia juga mendapatkan apa yang dia inginkan. Yaitu, dia semakin mengenal seperti apa diri Sherina.
***
Di sisi lain pada saat yang sama, Ariana kini hanya berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Dia seperti orang yang frustrasi, memikirkan rencana lain setelah rencana yang sebelumnya dia buat telah gagal.
"Sial, barusan Cleo mengabariku kalau dia ketahuan. Ck, lagi-lagi Vicky akan menghabiskan waktu dengan Sherina! Tidak bisa, aku tidak boleh membiarkan mereka terus bersama, bisa-bisa nanti perasaan Vicky berpaling!"
BUZZ BUZZ
BUZZ BUZZ ...
"Ck, sekarang apa lagi?!" Ariana berdecak kesal lantaran ponselnya berdering. Dia kemudian mendekat ke arah nakas tempat dia meletakkan ponsel, lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan nomor yang saat ini menghubunginya.
"Wali kelasnya Velix? Ada urusan apa dia meneleponku?" Dengan cepat Ariana mengangkat panggilan telepon itu. Dia menjawab dan mendengarkan setiap kata yang terucap oleh sang wali kelas.
Namun, ketika panggilan telepon itu berakhir, Ariana semakin bertambah emosi. "Velix! Anak itu kenapa tak puas-puas membuat masalah?! Menambah beban pikiranku saja!"
__ADS_1