Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Menyesal


__ADS_3

Ariana batuk berdarah dan bahkan pingsan. Sontak saja kabar ini mengagetkan Vicky dan Sherina. Mungkin, jika bukan Paman Will yang memberikan kabar ini, mereka akan curiga kalau ini hanya tipuan dari Ariana. Akan tetapi, nyatanya Paman Will yang mengabari mereka, bisa dipastikan kalau berita ini bukan berita bohongan.


"Aku akan segera ke sana!" seru Vicky yang wajahnya panik.


"B-baik, Tuan ..." jawab Paman Will.


Panggilan telepon itu berakhir, Vicky segera menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Akan tetapi, mendadak dia terhenti ketika menyadari Sherina yang masih berdiam diri di tempat.


"Ayo, Sherina!" ajak Vicky, namun Sherina malah melengos.


"Maaf, tapi sepertinya aku tidak ikut. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Ibumu sudah mengusirku dan melarangku untuk menginjakkan kaki lagi di kediaman Bashara. Aku tidak mau membuat ibumu marah dan kondisinya semakin memburuk. Pergilah Vicky, lihatlah keadaan ibumu."


"Masa bodoh dengan itu! Ikut aku! Toh cuma ibu yang melarangmu! Aku masih lebih berhak atas rumah itu! Dan aku mengizinkanmu untuk masuk! Pokoknya ikut aku! Kita pastikan kondisi ibu sama-sama!" protes Vicky. Dia lantas menarik tangan istrinya ini dan terus meyakinkan bila bukan masalah kalau Sherina ikut ke kediaman.


Vicky mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meskipun untuk saat ini dia sedang marah pada Ariana, namun dia tetap tidak bisa mengabaikan kondisinya. Karena mau bagaimanapun, Ariana adalah ibu sekaligus orang tua satu-satunya yang tersisa. Selama di perjalanan, dia terus khawatir dan harap-harap cemas tentang keadaan ibunya yang katanya pingsan.


Untung saja jarak antara apartemen dengan kediaman tak terlampau jauh, kurang dari 15 menit mereka berdua sudah tiba. Vicky dan Sherina yang hanya memakai piama dan sandal rumahan, mereka langsung turun dari mobil dan segera berlari memasuki kediaman. Vicky yang berada di depan langsung mengajak Sherina untuk menuju ke kamar pribadi Ariana.


"Ibu!!!" teriak Vicky begitu dia membuka pintu kamar. Sesampainya di sana, dia melihat Paman Will dan 2 orang pelayan wanita yang berdiri di dekat ranjang Ariana.


"Vi-Vicky ...." ucap Ariana dengan nada lirih. Dia terlihat masih sangat lemas, bahkan untuk menyambut kedatangan putranya saja tak punya cukup tenaga.


Vicky berlari mendekat dan diikuti oleh Sherina. Dia lalu duduk di pinggir ranjang, memastikan kondisi ibunya yang wajahnya sudah pucat pasi. "Ibu, bagaimana kondisi Ibu sekarang?"


"Uhuk-uhuk ...." Ariana terbatuk, dia menutupi mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Akan tetapi, kali ini dia tidak batuk berdarah. Hanya ada noda merah yang tadinya sudah menempel di tangannya.


"Di mana dokter, kapan dia sampai?!" tanya Vicky yang kemudian beralih menatap ke arah Paman Will.


"Maafkan saya, Tuan. Saya memang hendak menghubungi dokter, tapi Nyonya Besar bersikeras menolak," jawab Paman Will dengan pandangan tertunduk.


"Uhuuk ... tidak perlu, karena aku memang tidak perlu diperiksa dokter. Sekarang aku baik-baik saja," ucap Ariana dengan nada lemah.


"Baik-baik saja bagaimana? Jelas sekali kalau Ibu sakit! Bahkan Ibu sampai batuk berdarah! Kondisi separah ini harus diperiksa!" protes Vicky penuh penekanan. Dia semakin dibuat cemas ketika menyadari jika di lantai ada banyak tisu bekas, kotor dengan darah yang berserakan.


Mendadak Ariana tersenyum, dia juga menyentuh tangan Vicky dengan lembut. "Ibu benar-benar sudah tidak apa-apa. Ibu sakit karena terlalu banyak pikiran. Ibu sungguh tertekan saat kau pergi dari rumah. Setiap hari ibu memikirkanmu, Vicky. Tapi sekarang, karena kau sudah ada di sini. Ibu sudah baik-baik saja."

__ADS_1


"I-Ibu ..." ucap Vicky dengan nada gemetar. Dia tiba-tiba merasa bersalah atas sikapnya selama ini. Pikirnya, bukan masalah besar jika selama ini dia tak menghiraukan telepon dari ibunya. Dan sekarang, akhirnya dia tahu kalau ibunya sampai seperti ini karena memikirkan dirinya.


"Vicky ... jangan tinggalkan ibu lagi, oke?" pinta Ariana seraya memeluk Vicky dengan rangkulan tangannya yang lemah.


"Baik, aku akan di sini bersama Ibu ...."


Paman Will beserta kedua pelayan yang lain hanya terdiam. Selama mereka bekerja di kediaman ini, baru kali ini mereka melihat sosok Ariana yang begitu lemah. Namun, di satu sisi ada sesuatu yang berbeda.


Sherina yang sejak tadi mengamati dari samping, entah kenapa dia merasa ada sedikit kejanggalan. Dia masih ragu apakah stress mampu membuat orang batuk berdarah. Karena yang dia tahu, batuk berdarah akan terjadi jika ada masalah kesehatan yang berkaitan dengan sistem pernapasan.


Diam-diam tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang lain. Sherina mengendap-endap secara natural untuk mendekati meja rias milik ibu mertuanya. Ada sebuah benda yang sangat menarik perhatiannya, yakni sebotol lip cream yang berwarna merah terang. Persis seperti pewarna bibir yang selama ini selalu Ariana gunakan.


Sherina menengok ke belakang, dia merasa situasi di sana masih cukup aman. Lalu, diam-diam dia membuka tutup dari produk kosmetik yang satu ini, dia melihat tongkat lipstik yang masih kotor, namun isinya sudah hampir habis.


Apa ini? Jangan-jangan ibu mertua menggunakan lipstik merah ini sebagai darah palsu. Tapi, warnanya tidak cocok kalau dibandingkan dengan darah di tisu tadi.


"Hm?!" Sherina terkejut, dia melihat ada setetes tinta cair merah yang berada di dekat lantai tempatnya berpijak. Sherina penasaran, alhasil dia menarik kursi di depan meja rias itu untuk memeriksa apa yang ada di bawah sana.


"I-ini ...." Sherina terbata-bata. Dia lantas mengambil sebuah benda lagi yang dia temukan di bawah meja rias. Lalu, tiba-tiba saja dia kembali dan menarik tubuh Vicky supaya lepas dari pelukan Ariana.


"Sherina, apa yang kau—"


"A-apa?!" Sontak saja semuanya terkejut, bahkan tak terkecuali dengan Paman Will dan kedua pelayan itu.


"H-hei, aku tahu kalau kau tidak suka padaku. Tapi kenapa kau harus menuduhku berbohong? Apa kau masih mau mencari gara-gara, tak peduli sekalipun aku sedang sakit?" protes Ariana.


"Aku tidak menuduh! Lihat apa yang aku temukan!" Sherina langsung memperlihatkan benda yang dia temukan, yang satu adalah lipstik milik Ariana dan yang satunya adalah sebotol sirup cokelat.


"Apa maksudmu, Sherina? Apa hubungannya ibuku berbohong dengan kedua benda itu?" tanya Vicky yang masih belum mengerti.


"Baiklah, akan aku jelaskan!" Tiba-tiba saja Sherina memungut sebuah tisu bekas dengan tangan kosong. Sontak saja Vicky dan Paman Will menatapnya dengan tatapan jijik karena menganggap tindakannya kurang higienis.


"Ibu mengaku dan bertingkah seolah-olah dia batuk darah! Tapi aku rasa itu tidak benar! Darah yang ada di tisu ini bukan darah sungguhan! Ini adalah darah palsu!"


"S-sembarangan! Aku benar-benar sakit! Kau saja yang terlalu membenciku sampai-sampai menuduhku! Ada sirup cokelat di kamarku memang karena aku menggunakannya untuk dicampur ke dalam susu! Jadi, hentikan omong kosongmu sekarang juga!" teriak Ariana sambil berusaha merampas kedua beda itu dari tangan Sherina. Namun, dia gagal karena Sherina dengan cekatan menghindar.

__ADS_1


"Ini bukan omong kosong! Lihat ini baik-baik!" Sherina meneteskan beberapa tetes sirup cokelat itu ke telapak tangannya. Lalu, dia mencampurkan lipstik cair tersebut. Dan seketika tampak warna yang dihasilkan sama persis seperti darah yang berada di tisu.


"Kalian semua lihatlah, warnanya sama! Lip cream ini merah terang, dicampur dengan sirup cokelat supaya warnanya lebih gelap. Darah palsu ini jadi lebih terlihat realistis! Kedua bahan ini aman jika tertelan, makannya ibu memakai bahan ini untuk pura-pura mengalami batuk berdarah! Ini trik yang sederhana, cara ini sudah umum digunakan dalam riasan dan kostum saat halloween!"


"K-kau ...." Ariana gelagapan. Sekarang dia sungguh tidak bisa mengelak lagi ketika Sherina telah membongkar rencananya.


Tentu saja semua orang percaya, Sherina adalah direktur sekaligus orang yang sudah ahli di bidang kosmetik. Jika Sherina tidak melakukan ini, mereka semua sudah teperdaya oleh tipuan Ariana.


"Aku kecewa pada Ibu!" bentak Vicky yang mendadak menjauhkan diri dari Ariana. Marah, jelas dia sangat marah. Dia merasa dipermainkan, dia sungguh tidak terima saat rasa pedulinya justru dimanfaatkan.


"Aku datang kemari dan cemas sepanjang perjalanan karena memikirkan keadaan Ibu! Tapi nyatanya, Ibu malah menipuku! Aku menyesal telah datang ke sini! Ayo Sherina, lebih baik kita pergi!"


"Tunggu Vicky!!!" Seketika Ariana beranjak dari ranjang, dia memegangi tangan Vicky dengan erat. Sungguh gerakan yang lincah, berbeda jauh dengan dirinya tadi yang berpura-pura lemah tak berdaya.


"Lepas! Jangan halangi aku! Aku mau pergi! Aku tidak mau serumah dengan Ibu yang seperti ini!" Vicky meronta, namun dia tak menggunakan seluruh tenaganya supaya Ariana tak terjengkang.


"Tidak, Vicky! Ibu mohon jangan pergi! Ibu melakukan semua ini demi dirimu! Mau bagaimanapun, kau selamanya tetap anak ibu! Ibu tidak rela kalau kau pergi! Ini mohon tetaplah bersama ibu!" Ariana memohon dengan sangat. Pikirnya, jika kali ini dia melepaskan Vicky, maka tidak akan ada kesempatan lagi di lain hari.


"Untuk apa aku bersama Ibu kalau Ibu tidak bisa menerima kehadiran istriku?! Untuk apa aku di sini kalau sikap Ibu selamanya akan seperti ini?!"


"Vicky ... i-ibu janji akan berubah! Ibu menyesal, harusnya ibu memang tidak melakukan ini. T-tapi ... Ibu tidak punya pilihan lain untuk membuatmu pulang. Ibu mohon, Vicky ... tetaplah di sini. Sebentar lagi Velix juga akan kembali dari summer camp, saat itu ibu harus bilang apa padanya kalau kau tidak ada di rumah ...."


"Jangan memperalat Velix untuk membujukku!" gertak Vicky yang emosinya semakin meluap.


"T-tidak, bukan begitu ... Ibu tidak bermaksud memperalat Velix. Itu hanya salah satu alasan ibu. Tetaplah di sini Vicky, ibu janji ... mulai sekarang ibu akan menerima Sherina sebagai menantu ibu. Ibu akan memperlakukan dia dengan baik. Percayalah Vicky, ibu sudah tidak berhubungan lagi dengan Cleo. I-ibu mohon ... ibu bersedia melakukan apa saja asal kau tetap di sini ...."


"Apa Ibu sungguh-sungguh? Ibu yakin tidak akan mempersulit Sherina lagi?" tanya Vicky dengan tatapan menusuk.


"Iya, ibu sungguh akan menepati janji!" Ariana lantas beralih menatap ke arah menantunya. "Sherina ... aku minta maaf atas perbuatanku padamu selama ini. Aku sadar kalau aku salah, dan sekarang aku menyesal ... kau mau 'kan tinggal di sini lagi?" tanya Ariana dengan tampang memelas.


"...." Sherina membisu, jika dia mau jujur, dia sangat enggan mengambil risiko untuk kembali tinggal di kediaman Bashara. Terlebih lagi, dia masih belum sepenuhnya percaya kalau Ariana benar-benar menyesali perbuatannya.


"Sherina, katakan saja tidak apa-apa. Kalau kau tidak mau tinggal di sini, aku juga akan menemanimu," ucap Vicky.


"Baiklah, aku harap ibu menepati janji," jawab Sherina dengan senyuman palsu. Kali ini dia memutuskan untuk mengalah. Jauh di lubuk hatinya, ada rasa tidak tega saat dia harus menjadi alasan Vicky berpisah dari ibunya.

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Sherina! Aku pasti akan menepati janjiku padamu!" ungkap Ariana yang mendadak mendekat dan juga memegang tangan Sherina. Bermaksud untuk menunjukkan jika niat baiknya ini benar-benar tulus.


Syukurlah mereka percaya kalau aku benar-benar menyesal. Untuk saat ini hanya ini yang bisa aku lakukan. Yang terpenting aku tidak kehilangan Vicky. Dan sekarang, Cleo sudah tidak berguna lagi bagiku. Kalau begitu untuk sementara waktu aku akan bersikap baik pada Sherina. Soal rencana untuk menyingkirkannya, itu bisa dilakukan pelan-pelan.


__ADS_2