
Sherina benar-benar tidak menyangka, bahwa gadis berusia 18 tahun di depannya ini mengaku telah mengandung anak dari ayahnya. Hal ini sungguh menjadi kabar besar baginya, dia pikir orang yang pernah merasa bangga menghasilkan banyak uang dengan menjadi selingkuhan tidak akan kebobolan. Rupanya pemikirannya itu salah.
Namun, Sherina tidak langsung mempercayai pengakuan ini mentah-mentah. Pikirnya, mungkin saja Kayla berbohong demi mendapatkan uang dengan cara yang lain. "Apa kau sungguh hamil? Bisakah kau berikan buktinya?"
"A-aku bisa buktikan!" Kayla kelabakan mencari sesuatu dari dalam tas miliknya. Lalu, dia mengeluarkan selembar foto USG untuk diberikan pada Sherina. "Ini Kak ... aku memeriksakan kandunganku baru kemarin lusa, dokter bilang usia janinnya sudah 7 minggu."
"Biar aku lihat!" Sherina memeriksa foto USG itu dengan saksama. Dia bisa memastikan tanggal dan nama rumah sakit yang tertera di foto tersebut. Rupanya hasil USG ini asli, ukuran janin Kayla tampak sangat mungil, dia mengira-ngira mungkin besarnya seukuran buah ceri.
Sherina mengela napas, lalu mengembalikan foto itu pada pemiliknya. "Sejak kapan kau menyadari kehamilan ini?" tanya Sherina penasaran.
"Sejak seminggu yang lalu. Awalnya, aku sama sekali tidak mengalami gejala kehamilan yang mudah dikenali, seperti muntah-muntah di pagi hari. Siklus menstruasiku sejak dulu memang tidak teratur, aku pikir tidak apa-apa karena aku sudah terbiasa telat datang bulan. Tapi, seminggu yang lalu, saat aku mengikuti upacara bendera di sekolah, tiba-tiba saja aku pingsan. Aku tak kunjung sadar, lalu pihak sekolah membawaku ke klinik."
"Akan tetapi, diagnosis pertama yang diberikan langsung menyimpulkan jika aku hamil. Pihak sekolah segera mengabari ibuku, aku dimarahi habis-habisan saat masih berada di klinik. Aku sendiri juga tidak menyangka ini akan terjadi padaku, padahal selama ini ... a-aku bermain dengan cara yang aman," jelas Kayla dengan muka tertunduk. Dia teramat malu untuk bertatap mata dengan Sherina.
"Apa kau yakin anak itu adalah anak ayahku?" tanya Sherina yang masih belum bisa sepenuhnya percaya.
"Sangat yakin! Aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain kecuali Om Panji," jawab Kayla secara spontan. Terlihat jelas ada keyakinan di dalam dirinya.
"Lantas? Kau menjadi simpanan ayahku dengan suka rela, bahkan dulunya kau juga terlihat bahagia. Saat menjalani hubungan seperti itu, tidakkah kau pernah memikirkan risiko yang akan kau dapatkan?" tanya Sherina tanpa sedikit pun merasa simpati.
Huh, dasar bocah naif! Jangan kira aku akan kasihan padamu. Kau sendiri yang sudah mengantarkan dirimu pada lubang yang dalam ini, kau harus menanggung risiko kalau sudah terjatuh di dalamnya. Kau pantas mendapatkan ini, karena kau sudah menjatuhkan harga dirimu sendiri sebagai perempuan. Bukannya sekolah dengan benar, kau justru mengecewakan orang tuamu dan menghancurkan masa depanmu sendiri.
Di satu sisi Kayla terdiam. Lalu dengan tangan yang gemetar, perlahan-lahan dia mengelus perutnya yang belum membuncit. "Aku sudah pernah memikirkannya, tapi aku benar-benar tidak mengira kalau ini akan terjadi. Aku memang tidak patut untuk dikasihani, semua ini adalah akibat dari kesalahanku sendiri ...."
Tubuh Kayla gemetar, bahkan dia juga mulai menitikkan air mata. "Hanya saja, aku tidak menyangka semuanya akan jadi sangat buruk seperti sekarang. Aku dipaksa untuk menggugurkan janin ini oleh ibuku, tapi aku tidak tega untuk membunuh calon anakku sendiri. Aku hanya punya ibu, dan dia marah besar padaku, jadi aku kabur dari rumah demi tidak membuatnya malu."
"Kehidupan sekolahku juga sudah usai. Aku dikeluarkan dari sekolah, padahal aku hanya perlu beberapa bulan lagi untuk mendapatkan ijazah. Hidup seorang diri ternyata sangat sulit, sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan hanya dengan berbekal ijazah terakhir SMP. Harapanku yang tersisa hanya Om Panji. Aku berharap dia mau bertanggung jawab atas anak ini. Akan tetapi, jangankan meminta pertanggungjawaban, belum sempat aku mengabari kehamilanku, dia malah memblokir nomorku. Seolah-olah sudah membuangku dari hidupnya. Orang yang aku kenal punya hubungan dengan Om Panji cuma kamu, Kak. Jika Kakak bersedia, tolong sampaikan kehamilanku padanya."
"...." Sherina terdiam, dia tidak sampai hati untuk memberitahu Kayla soal kejadian yang sebenarnya.
Ayahku sekarang sudah bangkrut. Tentu saja dia akan memutuskan hubungan dengan para simpanannya, karena dia sudah tak punya cukup uang untuk memelihara wanita di luar. Dan sekarang, dia pasti akan lebih syok lagi jika tahu selingkuhannya hamil. Tapi, mau dibilang bagaimanapun. Ayah tetap harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat.
"Kayla, tadi kau bilang saat ini kau sedang kabur dari rumah. Sekarang kau tinggal di mana?" tanya Sherina.
"Aku tinggal di losmen," jawab Kayla dengan spontan.
"Losmen ...." Sherina kembali termenung, rupanya kondisi Kayla sangat terjepit. Sampai-sampai harus membayar murah untuk tinggal di tempat yang hanya menyediakan kamar tidur, dan kamar mandi untuk umum.
"Lalu, bagaimana kau makan? Apa kau punya cukup uang untuk beli makanan?" tanya Sherina lagi
__ADS_1
"Sebenarnya aku masih ada perhiasan yang sebelumnya pernah dibelikan oleh Om Panji. Kemarin lusa aku menjual semuanya, supaya aku punya biaya untuk melakukan USG. Tapi ... sepulang dari rumah sakit, di jalan aku dirampok. Semua uang sisa hasil menjual perhiasan sudah dirampas. Untung saja aku masih ada sisa uang di kantong baju. Jadi aku bisa membeli beberapa bungkus biskuit untuk mengganjal perutku," jawab Kayla dengan nada canggung. Dia tidak munafik kalau sebenarnya merasa malu saat menceritakan kondisinya yang menyedihkan.
"...." Sherina diam seribu bahasa. Akhirnya dia memahami alasan mengapa Kayla membelikannya kopi espresso, yang bisa dibilang kopi yang paling murah di daftar menu. Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba saja Sherina mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Dia mengambil beberapa lembar uang tunai yang jumlahnya agak banyak.
"Ini, ambillah!" ucap Sherina sambil menyodorkan uang itu pada Kayla.
"Kakak mau membantuku?" tanya Kayla dengan tampang berharap.
"Jangan salah paham! Aku membantumu bukan karena aku peduli padamu! Tapi, aku membantumu atas dasar rasa kemanusiaan! Belilah makanan yang layak, juga carilah tempat penginapan yang lebih bersih! Kau itu sekarang ibu hamil, bayi di dalam perutmu tidak salah apa-apa. Jadi, jagalah kondisi tubuhmu dengan baik, supaya bayimu juga sehat!"
"Ah, begitu ya ... terima kasih banyak, kak," ucap Kayla seraya menerima uang dari tangan Sherina. Dia sangat bersyukur karena mendapatkan bantuan pada saat yang tepat. Lagi-lagi air matanya jatuh, dia sungguh berterima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati yang diberikan oleh Sherina.
"Sudahlah, jangan sedikit-sedikit menangis, orang akan berpikir kalau aku yang menyakitimu. Perbincangan kita hari ini cukup sampai di sini, aku harus kembali sekarang, adik iparku pasti sudah mencari-cariku!"
"I-iya, aku sungguh berterima kasih pada Kakak ...." Sekali lagi Kayla berterima kasih, dia juga tersenyum dan menyeka air matanya sendiri. Benar apa kata Sherina, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menangis.
Sherina segera keluar dari Green Cafe, lalu bergegas pergi ke Lilac Intercultural Academy untuk menjemput Velix. Untung saja dia tiba tepat waktu, Velix baru saja selesai berganti pakaian saat dia sampai di sana.
"Kakak ipar!!" Velix berlari sambil menenteng tas ranselnya.
"Haha, kau sudah selesai? Apa kita langsung pulang?" tanya Sherina dengan senyum lembut.
"Oh ya? Kau mau mengajakku berkeliling ke mana?"
"Tadi saat pawai, aku berjalan yang paling depan, lalu aku melihat banyak sekali pedagang yang berjualan di dekat area alun-alun! Sebagian besar makanan yang unik-unik itu belum pernah aku coba! Jadi, aku mau mengajak kakak ipar untuk wisata kuliner!"
"Boleh. Tapi, tidak boleh berlebihan, ya! Soalnya jajanan seperti itu kurang sehat, nanti beli secukupnya saja! Mengerti?"
"Aku mengerti! Kalau begitu ayo sekarang kita berangkat ke alun-alun lagi!"
"Haha, oke!" Sherina tertawa saat Velix menariknya pergi. Meskipun melelahkan, dia menikmati waktu yang dihabiskan bersama adik iparnya yang aktif ini.
***
Malam harinya di kediaman utama keluarga Bashara. Setelah makan malam, biasanya Sherina akan diminta datang ke kamar Velix untuk membantu mengerjakan PR, atau datang ke ruang baca Vicky untuk memberikan sedikit bantuan kalau diperlukan. Namun, malam ini Sherina hanya mengurung diri di kamar. Hal ini membuat Vicky agar dia mengunjungi kamar istrinya karena dia punya sebuah keperluan.
Saat ini Vicky masih berdiri di depan pintu kamar Sherina, dia juga tampak membawa beberapa buah dokumen di tangannya. "Sunyi sekali, apa Sherina sudah tidur?" gumam Vicky yang terus menerka-nerka. Dia takut akan mengganggu Sherina jika dia nekat meminta bertemu sekarang juga.
"Ah, sudahlah! Aku ketuk pintunya saja, kalau dijawab berarti dia belum tidur!"
__ADS_1
TOK TOK TOK!
"Siapa?" terdengar suara Sherina yang menyahut.
"Ini aku, bolehkah aku masuk?"
"Masuklah, pintunya tidak dikunci!"
Vicky langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar Sherina. Dia terkejut saat melihat pemandangan yang menyambut dirinya. Dia melihat istrinya ini mengenakan piama berbahan satin, bertali tipis di bagian pinggang, serta paha dan belahan dada yang sedikit kelihatan.
Tanpa sadar Vicky menggeleng kepala, dia berusaha membuang pikirannya yang macam-macam. Juga berusaha meyakinkan diri kalau Sherina berpakaian seperti ini hanya karena cuaca yang lebih panas dibanding biasanya, dan bukan untuk menggoda dirinya.
"Kau kenapa Vicky?" tanya Sherina dengan tatapan heran.
"Eh? Bukan apa-apa! Aku ke sini untuk mengantarkan dokumen ini padamu! Ini beberapa laporan keuangan dan rekapitulasi Dream Glow Cosmetics. Aku rasa kau berhak untuk mengetahuinya, jadi aku mengantarkan dokumen ini ke sini," jawab Vicky sambil menyodorkan dokumen itu.
"Oh, terima kasih. Akan kubaca nanti." Sherina menerima dokumen itu, dia langsung menaruh semuanya di atas lemari kecil yang berada di dekat ranjangnya.
"Sama-sama. Lagi pula itu juga sudah menjadi hakmu untuk tahu. Maaf kalau aku datang terlalu larut, aku kira kau sudah tidur."
Sherina menghela napas, lalu duduk di pinggir ranjangnya. "Entahlah Vicky, aku sulit tertidur, pikiranku terus memikirkan sesuatu."
"Sesuatu tentang apa?" tanya Vicky penasaran.
"Bayi."
"Ba-bayi?!" Vicky tergagap, dia salah mengartikan jawaban singkat dari Sherina. Dia pikir ini adalah sebuah kode dari Sherina yang sudah menginginkan seorang bayi darinya.
"Anu ... Sherina, sepertinya untuk saat ini masih terlalu cepat bagi kita untuk memiliki bayi. Kita berdua kan ... masih ... ba-bagaimana ya menjelaskannya .... Tapi, kalau kau benar-benar sangat menginginkan bayi. B-berikan sedikit waktu untukku mempersiapkan diri ... "
"Hah? Kau ini bicara apa? Aku cuma memikirkan kenalanku yang tiba-tiba hamil, tidak ada hubungannya denganmu," ucap Sherina dengan tatapan linglung.
Wajah Vicky seketika memerah, dia sangat malu karena rupanya dia telah salah paham. "Haha, ternyata itu. Emm ... selamat malam!"
Vicky langsung berlari secepat mungkin keluar dari kamar Sherina. Bahkan dia juga menutup pintu dengan keras. Saking malunya, dia sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.
Arghh ... aku ini kenapa, sih?! Kenapa aku bisa salah paham?! Kenapa tiba-tiba aku jadi bodoh?! Sekarang dia pasti menertawakan aku! Sial, sekarang aku harus bagaimana kalau bertemu dengan Sherina?! Apa sebaiknya aku pura-pura amnesia saja? Aku sungguh tidak mau dia mengingat kejadian ini.
"Sial," umpat Vicky dengan suara lirih. Di dalam batinnya, dia masih belum berhenti memaki dirinya sendiri.
__ADS_1