
Tanpa terasa, hari yang dinantikan Sherina telah tiba. Hari ini dia resmi menjadi Direktur Utama Dream Glow Cosmetics. Sungguh sebuah pencapaian yang manis, dengan bantuan dari suaminya ini, pada akhirnya dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.
"Huff ... tadi itu aku gugup sekali," gumam Sherina dengan napas lega. Saat ini dia sudah berada di dalam ruangan Direktur Utama bersama dengan Vicky.
"Haha, lalu bagaimana sekarang?" tanya Vicky penasaran.
"Masih belum sepenuhnya tenang. Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka semua begitu antusias saat aku memberikan kata sambutan. Ehmm ... Vicky, omong-omong bagaimana denganmu? Tadi itu, kau dengar sendiri bukan kalau ada beberapa orang yang bergosip tentang kita."
"Hm? Gosip yang mana?"
"Ish, kau ini jangan pura-pura tidak tahu! Ramai yang bergosip kalau kau mendukungku sampai seperti ini karena kau sayang padaku! Ada juga yang mengatakan kalau kita ini pasangan yang mesra! Apa kau tidak membantahnya?"
"Kenapa harus dibantah? Itu kan kenyataan," jawab Vicky yang seketika membuat Sherina tersipu malu dan kehilangan kata-kata.
"K-kau ... jangan menggodaku!!" teriak Sherina yang kemudian membuang muka.
Vicky ini, semakin lama aku semakin tidak paham. Dia tidak membantah gosip kedekatanku dengannya. Orang-orang bisa menyimpulkan seperti itu, mungkin karena melihat baju yang kami pakai serasi. Dan lagi, hari ini dia juga pakai dasi yang aku hadiahkan kemarin lusa.
Ada pun gosip lain, dia juga tidak membantah gosip yang mengatakan hubungannya dengan Cleo jadi renggang. Sebenarnya aku ingin bertanya, apa jangan-jangan Vicky sudah memiliki niatan untuk pisah dengan Cleo, tapi aku ragu kalau dia akan tersinggung.
"Ruanganmu cukup bagus, tapi aku rasa masih perlu sedikit renovasi," ucap Vicky yang seketika menyadarkan Sherina dari lamunan.
"Renovasi? Itu bisa dipikirkan nanti. Ruangan ini masih cukup layak untukku bekerja," jawab Sherina.
"Hei, memangnya siapa yang minta pendapatmu? Saat ini akulah pemilik asli perusahaan ini. Mau renovasi atau tidak, itu terserah aku!" balas Vicky dengan seringai licik.
"Humph! Sudah cukup untuk hari ini! Silakan keluar! Aku mau bekerja!" sungut Sherina seraya mendorong Vicky untuk keluar dari ruangannya.
"Kau sungguh berani mengusirku? Apa kau tidak takut dipecat? Aku ini atasanmu, lho!" protes Vicky, namun dia masih tak melawan dorongan Sherina kepadanya.
"Masa bodoh! Aku tidak takut! Pecat saja aku di hari pertama kerja! Sampai jumpa!" jawab Sherina yang meladeni tantangan konyol Vicky.
Kini, akhirnya dia sendiri. Kedua mata Sherina melihat sekeliling, setiap sudut dia awasi hingga tak ada setitik pun yang terlewat. Sungguh sebuah ruangan yang mampu membuatnya bernostalgia. Dia teringat peristiwa masa lalu saat ibunya masih sangat sehat dan duduk di balik meja Direktur Utama tersebut. Dan sekarang, setelah sekian lama, akhirnya dia secara mutlak mewarisi kursi ini.
"Huff ..." Sherina menghela napas, dia berusaha supaya tidak menangis dan terlalu hanyut dalam kenangan masa lalu.
"Ayo, fokus! Sekarang waktunya untuk bekerja!" Sherina menepuk pipinya, dia memberikan semangat kepada diri sendiri supaya mampu menjalankan tugasnya sebagai Direktur Utama yang baru.
Karena sehari sebelumnya Sherina sudah membaca beberapa dokumen laporan, dia sudah cukup memahami bagaimana kondisi perusahaan terkini. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraih gagang telepon kantor.
"Panggilkan Ruby dan Pasha ke ruanganku sekarang juga!" pinta Sherina.
"Baik, Bu Direktur ..." jawab seorang resepsionis yang merespons panggilan telepon Sherina.
Tak berselang lama kemudian datanglah kedua orang yang diharapkan oleh Sherina. Keduanya sama-sama sudah berumur hampir 40 tahun, sama-sama pegawai yang sudah lama bekerja di Dream Glow Cosmetics.
__ADS_1
"Akhirnya kalian datang!" sambut Sherina dengan senyuman.
"N-Nona Sherina?!" keduanya tampak bersemangat. Begitu melihat Sherina, seketika mereka berdua melihat bayangan Sukma di dalam dirinya. Sungguh ibu dan anak yang begitu mirip, baik dari segi fisik ataupun dari aura wibawa yang mereka punya.
"Astaga, jangan panggil aku Nona lagi ... aku ini sudah menikah. Tapi, jangan panggil aku Nyonya juga. Tolong panggil aku sesuai jabatanku saja, ya!" pinta Sherina sambil meringis.
"Baik, Bu Direktur ..." jawab Ruby dengan senyuman yang gemetar. Dia sungguh tidak menyangka, bahwa bocah yang dulunya harus disuapi, dan ditemani bermain olehnya ketika Direktur Sukma masih ada, ternyata sudah sebesar ini.
"Saya mengerti, Bu Direktur," ucap Pasha dengan senyuman tipis. Sama seperti Ruby, dia juga merasa tidak menyangka. Bahwa, anak yang dulunya suka merengek meminta diantar ke mana saja olehnya, rupanya sudah menjadi seperti sekarang.
"Ayo, duduklah! Aku ingin bicara serius dengan kalian!" titah Sherina yang masih dengan senyuman, suasana hatinya benar-benar sedang dalam keadaan yang baik.
Ruby dan Pasha mengangguk, lalu duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Sherina.
"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada kalian berdua! Kalian sudah mengabdi di perusahaan ini semenjak ibuku masih ada. Dan kalian berdua juga masih bertahan sekalipun terjebak di masa-masa sulit. Saat ayahku yang memegang perusahaan, dia berlaku semena-mena dan tak henti-hentinya menekan kalian. Aku sungguh berterima kasih karena kalian sudah bertahan sampai sekarang. Kontribusi kalian untuk Dream Glow Cosmetics sangat besar. Oleh karena itu, aku mau memberikan kenaikan jabatan pada kalian!"
"Kenaikan jabatan?!" tanya Ruby dan Pasha serempak.
"Iya, karena aku pikir kalian pantas menerimanya. Aku ingin Ruby menjadi Sekretaris Direktur! Dan aku mau Pasha jadi General Manager! Jabatan itu sangat sesuai untuk kalian! Ruby akan mengurus hal-hal yang berkaitan denganku, lalu Pasha akan mengepalai semua departemen! Aku tahu betul kalian punya kemampuan untuk mengisi posisi ini! Dulu, kalian berdua juga mendampingi ibuku. Dan sekarang, aku mau mengembalikan masa kejayaan Dream Glow Cosmetics! Aku percaya pada kalian, maukah kalian membantuku mewujudkannya?"
Ruby dan Pasha sekilas saling menatap satu sama lain. Mereka berdua tersenyum saat mengetahui bahwa keduanya memiliki pemikiran yang sama. Lalu, mereka berdua kompak melihat ke arah Sherina dan berkata, "Kami bersedia membantu Bu Direktur!"
"Haha, baguslah! Aku tahu kalau kalian bisa diandalkan! Mohon kerja samanya, ya! Jangan sungkan menegurku jika aku salah! Secara teknis, kalian berdua lebih senior dan berpengalaman dibandingkan aku!" ucap Sherina dengan senyum ramah. Dia sungguh senang karena berhasil mendapatkan orang-orang yang setia.
"Bu Direktur bisa saja, kalau mencari yang jelas-jelas berpengalaman dan kompeten, suami Bu Direktur adalah yang paling cocok!" celetuk Ruby.
"J-jangan bahas dia! Pokoknya tetap lebih unggul kalian, dia tidak tahu apa-apa soal perusahaan kosmetik!" bantah Sherina dengan wajah yang merona.
Hari ini sungguh hari yang teramat istimewa bagi Sherina. Di hari pertamanya bekerja sebagai Direktur, dia sama sekali tidak menemui kesusahan. Namun, esok harinya dia dihadapkan dengan sebuah masalah baru. Sekretaris barunya, yaitu Ruby terlihat begitu pening saat mengungkapkan masalah ini pada Sherina.
"Jadi seperti itu, Bu Direktur. Penjualan kita terus menurun, artis yang sudah menjalin kontrak dengan kita memutus kontrak di tengah jalan. Dan sekarang, kita kekurangan dana untuk membayar artis lain. Jika seperti ini terus ... takutnya produk kita akan kehilangan pasar," ucap Ruby dengan raut wajah khawatir.
"Hemm ... jangan pesimis, biar aku pikirkan jalan keluarnya!" pinta Sherina dengan tatapan yang sebenarnya kurang yakin.
Ini adalah krisis pertama yang harus aku lewati. Jika aku gugur di sini, maka aku tidak pantas disebut sebagai pemimpin. Masalah terbesarnya adalah kekurangan dana, sebenarnya ini mudah untuk diselesaikan kalau aku mengadukan hal ini ke Vicky. Akan tetapi, jika dia keluar lebih banyak uang lagi, ini sama saja dengan aku merugikan dia, serta menunjukkan padanya kalau aku kurang kompeten. Hutangku yang 250 juta saja belum sempat aku bayar, mau ditaruh di mana mukaku?
Biarpun kami ini suami istri, hubungan kami tidak semesra yang para pegawai ini kira, juga tidak seburuk rumor yang dibuat oleh para fans fanatik Cleo. Satu-satunya jalan keluar, aku harus memikirkan pengeluaran biaya seminim mungkin untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin. Eh, tunggu sebentar ... sepertinya aku punya ide!
"Ruby! Aku sudah punya jalan keluarnya! Kita akan mengadakan sebuah audisi!"
"Audisi? Tapi ... Bu Direktur, mengadakan audisi juga memerlukan biaya. Kita tidak punya waktu untuk melakukan itu sekarang, dan terlebih lagi pengeluaran kita juga akan membengkak!" protes Ruby yang sungguh tidak mengerti dengan jalan pikir Sherina.
"Tidak, Ruby! Justru kita harus mengadakan audisi! Aku tahu kalau kita sedang kekurangan dana, tapi di dalam keterbatasan ini, kita masih punya peluang! Karena aku tidak berencana untuk menggunakan artis atau iklan televisi yang mahal. Tapi, aku berencana untuk menggunakan beberapa influencer yang saat ini sedang viral di media sosial!" jelas Sherina yang mencoba memberikan pengertian pada Ruby.
"Eh? Iklan hanya dengan mengandalkan media sosial? Apakah itu memiliki pengaruh yang signifikan seperti iklan televisi?" tanya Ruby lagi.
__ADS_1
"Iya, pengaruhnya sama kuat! Atau bisa dikatakan lebih kuat! Sebelumnya saat aku masih menganggur, aku selalu menyempatkan diri untuk membantu merapikan dokumen milik suamiku. Dan aku pernah membaca sebuah riset, bahwa zaman sekarang ... anak-anak muda lebih cenderung suka mencari hiburan dengan ponselnya daripada menonton hiburan di televisi. Aku yakin kalau riset itu benar, BSH Enterprise itu perusahaan IT nomor satu!"
"Jadi, sekalian saja kita manfaatkan zaman peralihan teknologi ini. Kita cukup memasang iklan di media sosial, dengan begitu sudah cukup bagi kita untuk melakukan pemasaran produk supaya lebih dikenal kembali!" lanjut Sherina lagi.
"Ohh ... kira-kira saya paham. Alasan Bu Direktur ingin mengadakan audisi, karena ingin mencari influencer yang mampu memasarkan produk kita dengan baik! Biaya untuk merekrut influencer tidak semahal artis, jadi kita bisa menghemat biaya!" ucap Ruby antusias.
"Benar! Kau sungguh memahami maksudku, Ruby! Tidak salah aku menjadikanmu sekretarisku! Oh ya, ada satu hal lagi! Anak-anak muda zaman sekarang banyak sekali yang mengikuti tren asal Korea. Kalau begitu, kau carilah influencer yang membuat konten make up ala Korea! Mari kita kenalkan kalau kosmetik kita tidak kalah dari produk luar negeri! Dream Glow Cosmetics menyediakan produk kecantikan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki! Mari kita buat seluruh dunia tahu hal ini!"
"Haha, baik Bu Direktur! Segera saya kerjakan perencanaan audisi!" Ruby sudah tak pening lagi. Dia merasakan semangat antusiasme Sherina yang ikut menular ke dirinya.
***
Di suatu pagi hari yang cerah. Saat ini suasana hati Cleo sedang dalam keadaan yang menyenangkan, karena dia telah menyelesaikan pemotretan yang melelahkan di Berlin. Saat ini dia sudah berada di villa mewahnya sendiri, menikmati secangkir cokelat panas dan membaca majalah kesukaannya, yaitu majalah bisnis.
Meskipun membaca majalah bisnis, dia sama sekali tidak tertarik pada perkembangan bisnis ataupun ekonomi dalam negeri. Yang dia lakukan, hanya ingin tahu prestasi baru apa yang telah dicapai oleh kekasihnya. Sudah tidak mengherankan lagi, sejak dulu dia memang terobsesi dengan Vicky.
"Keyran Kartawijaya ... ah, bukan! Christian Atharwana ... ini juga bukan! Vicky Bashara ... ini dia! Sayangku Vicky lagi-lagi dimuat di majalah!" ucap Cleo dengan tawa girang, dia sungguh senang telah menemukan nama Vicky pada deretan pebisnis yang berpengaruh lainnya.
Cleo membaca setiap kata demi kata dengan saksama. Dia memiliki rasa bangga tersendiri ketika kekasihnya ini membuat prestasi baru. Pria yang menjadi pujaan hampir setiap wanita adalah miliknya. Biarpun kenyataannya kekasihnya sudah menikah dengan orang lain, Cleo masih bersikap masa bodoh asalkan dia masih memiliki status sebagai pacar Vicky yang dikenal luas oleh orang-orang.
Akan tetapi, pada detik berikutnya senyuman antusias Cleo menghilang. Dia sungguh dibuat terkejut oleh judul headline pada halaman berikutnya. "Sosok Direktur yang menyelamatkan Dream Glow Cosmetics hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Sherina Dharmawangsa ...."
"Sial, wanita busuk ini lagi!" umpat Cleo sambil merobek halaman yang memuat gambar Sherina. Dia teramat benci, lagi-lagi dia dibuat kesal dengan wajah istri dari kekasihnya.
Kepar*t! Tidak mungkin dia mampu melakukan hal besar seperti ini sendiri! Dia pasti menggunakan cara licik! Aku yakin kalau Vicky membantunya diam-diam! Dasar wanita sialan! Kau pasti menggoda Vicky saat aku pergi ke luar negeri! Sial, bisa-bisanya aku kecolongan! Aku tidak boleh membiarkanmu terus mengambil hati Vicky! Akan aku buat Vicky jadi jijik padamu!
"Adam! Adam! Kau di mana!? Cepat ke sini!!" teriak Cleo sekencang mungkin memanggil manajernya.
"Ya, Nona Cleo? Ada apa memanggil saya?" tanya Adam yang baru saja datang. Napasnya terengah-engah, dia buru-buru lari untuk segera menghampiri super model yang merupakan majikannya ini. Bahkan di hari Cleo libur pun, dia masih harus melakukan tugasnya sebagai manajer.
"Lihat ini baik-baik!" bentak Cleo seraya melemparkan potongan halaman yang memuat gambar Sherina.
"I-ini ... bukannya dia adalah istri tuan Vicky?" tanya Adam yang berusaha memastikan, supaya dia tidak salah mengira ataupun salah paham.
"Sudah tahu masih tanya! Benar kalau dia itu Sherina! Istrinya Vicky yang tidak tahu diri! Aku mau kau melakukan sesuatu untukku! Kau carilah preman, gangster, mafia atau terserah! Pokoknya cari orang suruhan yang mau terima bayaran! Nanti suruh dia tuangkan cairan asam ke wajah Sherina! Aku mau dia jadi wanita cacat yang buruk rupa!"
"T-tapi Nona ... ini termasuk tindakan kriminal, sebaiknya jangan ..." bujuk Adam dengan nada pelan.
"Berani sekali kau mempertanyakan perintahku! Apa kau sudah bosan bekerja jadi manajerku?! Apa kau pikir di tempat lain kau bisa mendapatkan gaji yang cukup, untuk mengobati ibumu yang kritis di rumah sakit?!" ancam Cleo lagi tanpa rasa sungkan.
"Saya tidak berani ...."
"Huh! Kalau begitu lakukan apa yang aku suruh! Jangan banyak tanya! Cepat cari orang! Paling lambat tiga hari dari sekarang, aku mau dengar berita kalau direktur dari perusahaan kosmetik wajahnya jadi tidak cantik lagi! Apa kau sudah paham?!"
"P-paham ... Nona, saya permisi ...." Adam segera pergi dan melakukan apa yang Cleo minta. Dia benar-benar tidak punya kuasa untuk membantah apalagi melawan.
__ADS_1
"Haha, tunggu saja kau Sherina! Begitu wajahmu jadi jelek, Vicky akan segera mencampakkanmu!" gerutu Cleo dengan tawa jahatnya.