Pengantin Pengganti Penolak Kutukan

Pengantin Pengganti Penolak Kutukan
Jebakan


__ADS_3

Ariana marah besar, dia merasa ditipu. Niat awal ingin membeli seluruh saham Dream Glow Cosmetics yang ada di tangan Panji. Namun, sekarang rupanya harga yang Panji tawarkan menurutnya sangat tidak masuk akal. Biarpun Ariana seorang Nyonya Besar yang cenderung berada di rumah, tapi dia masih paham beberapa perihal soal menjalankan perusahaan.


"Nyonya Ariana, mohon tenanglah ..." bujuk Panji dengan nada lembut.


"Tenang katamu?! Bagaimana aku bisa tenang?! Kau pikir perusahaanmu itu sebesar apa?! Mustahil nilai 40 persen saham bisa sebanyak itu! Dasar perampok!" cerca Ariana yang emosinya semakin menjadi-jadi.


"Nyonya, sepertinya Nyonya Ariana mendapatkan kekeliruan informasi. Saham Dream Glow Cosmetics yang saya punya bukan hanya 40 persen, tapi 70 persen!" ungkap Panji dengan tanpa ragu. Sontak saja Ariana dibuat kaget olehnya. Begitu pun dengan Fina, dia juga kaget dengan perkataan suaminya barusan. Karena yang dia tahu, saham yang berada di tangan suaminya hanya 40 persen dari keseluruhan.


"70 persen ...?" gumam Ariana dengan kedua alis yang saling mengait.


70 persen itu terlalu banyak, ini sama saja aku mengakuisisi perusahaan Dream Glow Cosmetics. Memangnya apa untungnya aku mengakuisisi perusahaan semimayor seperti ini? Tujuanku itu cuma untuk mempersulit Sherina memperoleh apa yang dia mau. Jadi, aku juga harus berhitung dengan cermat. Aku tidak mau kalau harus merugi demi merugikan orang lain.


"Bagaimana, Nyonya Ariana? Harga dan barang yang saya tawarkan itu sepadan, kan? Saya ini bukan seorang penipu, Nyonya Ariana bisa tenang selagi berbisnis dengan saya!" bujuk Panji sekali lagi. Dia tahu betul soal seberapa banyak keuntungan yang bisa dia peroleh jika Ariana menyetujui tawarannya.


Ariana tak langsung menjawab, dia berpikir dan terus menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia ambil keputusan ini atau tidak. "Hmph! Akan aku pertimbangkan!"


Tiba-tiba saja Ariana beranjak dari kursinya, dia memakai kacamata hitamnya lagi seraya berkata, "Aku permisi, tak perlu kalian antar!"


Benar saja, Panji sedikit merasa kesal lantaran Ariana pergi tanpa memberikan kepastian. Rasanya hampir sia-sia, padahal dia sudah menunggu kedatangan Ariana di rumahnya selama berjam-jam. "Cih, wanita menor itu ternyata tidak mudah ditipu!"


"Sabar ... keluarga Bashara memang tidak bisa kita anggap remeh. Omong-omong ... Kenapa tadi kau bilang kalau kau punya 70 persen saham? Bukannya kau cuma punya 40 persen?" tanya Fina penasaran.


"Ya, memang aku cuma punya 40 persen. Namun, sebentar lagi akan jadi 70 persen! Kita rebut 30 persen saham sisanya dari Sherina!" ungkap Panji dengan seringai liciknya.


"Merebut dari Sherina? Apa kau yakin? Selama ini susah sekali merebut 30 persen saham itu darinya. Terlebih lagi, sekarang dia sudah berada di kediaman Bashara. Akan susah untuk memancingnya kemari. Bagaimana caranya kita merebut saham itu?" tanya Fina lagi.


"Kau tenang saja, aku punya rencana! Dan kali ini aku jamin akan berhasil!"


***


Sore hari di kediaman Bashara, hari ini Sherina tampak sibuk berada di dalam kamar Velix. Dia di sana karena membantu adik iparnya ini membuat kerajinan tangan untuk tugas sekolah. Yaitu kerajinan berupa hiasan dinding yang terbuat menggunakan bahan dasar tali makrame.


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


Tiba-tiba saja ponsel milik Sherina berdering. Dia yang saat ini sedang mengepang tali makrame seketika berhenti melakukan tindakannya. Lantas memeriksa siapakah yang saat ini meneleponnya. Dia terkejut karena telepon itu berasal dari ayahnya yang menyebalkan.


"Velix, aku angkat telepon sebentar, ya!"


"Heum? Oke," jawab Velix yang kemudian melanjutkan mengepang tali makrame sendiri.


Sherina beranjak dari karpet, dia berdiri di sudut kamar Velix. Karena menganggap perbincangan dengan ayahnya bukan sesuatu yang sangat penting, jadinya dia tak perlu keluar dari kamar untuk mengangkat telepon itu.

__ADS_1


"Halo? Ada perlu apa menghubungiku?" tanya Sherina dengan nada malas.


"Sherina, ini aku! Aku ingin mengabari kalau ayahmu tiba-tiba sakit keras!" terdengar jawaban dari Fina yang suaranya terkesan panik.


"Hah?! Ayahku sakit keras? Baguslah kalau begitu! Kalau ayahku sudah mati jangan lupa kabari aku! Nanti aku akan meludahi kuburannya! Oh, sekalian membuang kotoran anjing di atasnya!" ucap Sherina dengan lantang.


"Dasar anak kurang ajar! Bisa-bisanya kau bicara begitu! Kau mendoakan aku cepat mati, hah?!"


"Pffttt ... astaga, siapa yang baru saja berteriak sekencang itu? Aku rasa orang yang sakit parah tidak akan mampu melakukannya!" Sherina terkekeh, dia berhasil membongkar kebohongan pasangan suami istri yang licik ini.


"Sherina! Terserah kau mau percaya atau tidak! Yang jelas, besok kau harus datang ke rumahku!" pekik Panji yang telah kehabisan kesabaran.


"Tidak mau! Jangan kira kau bisa menjebakku!" bentak Sherina yang langsung menutup panggilan telepon.


Huh, jangan kira dengan pura-pura sakit maka aku akan peduli. Di masa lalu, kalian saja sudah menyiksaku sampai aku sakit pun tetap tak membawaku berobat. Nasib baik bagiku bisa bertahan hidup sampai sekarang.


Sherina mengela napas panjang, lantas kembali duduk di karpet dan menemani Velix lagi. "Ada apa, Kak? Kenapa Kakak ipar marah? Orang itu orang yang jahat sama kakak ipar, ya?"


"Iya, barusan itu memang orang jahat! Menyebalkan pula! Oh ya, rahasiakan ini dari siapa pun, oke?" bujuk Sherina seraya menyodorkan jari kelingkingnya. Namun, Velix tak langsung menyambut ataupun mengaitkan jarinya seperti biasa.


"Kenapa harus dirahasiakan? Kakak ipar ceritakan saja pada kak Vicky, aku yakin kalau dia mau membantu kakak ipar menyingkirkan orang jahat!"


"Ehmm ... itu tidak bisa," jawab Sherina seraya menarik tangannya kembali.


"Kenapa tidak bisa? Apa salahnya meminta bantuan pada kak Vicky? Kakak ipar kan juga sudah sering membantunya," ucap Velix lagi dengan tatapan polos.


"Tidak-tidak! Aku sama sekali tidak meragukan kakak ipar!" jawab Velix sambil menggeleng kepala secepat mungkin.


"Nah, begitu baru benar!" Sherina terpaksa tersenyum. Tentu saja dia tidak bisa mengatakan pada Velix bahwa di antara dia dan Vicky terdapat sebuah kesepakatan. Yang mana dilarang untuk mencampuri urusan masing-masing, karena alasan inilah Sherina tak mau menyeret Vicky masuk ke dalam masalahnya.


Jebakan yang direncanakan oleh Panji dan Fina lewat begitu saja, karena Sherina sudah tahu niat buruk yang mereka punya. 3 hari berlalu, selama masa-masa ini Panji tak lagi mendapatkan respons dari Ariana soal pembelian saham. Hal ini membuat Panji semakin nekat. Percobaannya untuk menjebak Sherina tak berhenti sampai di situ.


Demi mendapatkan keuntungan yang besar, baik Panji maupun Fina masih belum menyerah. Karena itulah hari ini mereka menelepon Sherina lagi.


"Ck, apa lagi?" keluh Sherina sambil mengernyit. Dia merasa teramat terganggu, karena saat ini dia sedang menikmati waktu senggangnya membaca buku novel sembari meminum teh hangat.


"Masa bodoh! Tidak akan aku angkat!" gerutu Sherina karena sudah muak. Dia mencoba mengabaikan telepon dari ayahnya itu.


Walaupun sudah berkali-kali tidak Sherina angkat, Panji masih belum menyerah untuk meneleponnya. Sherina tak tahan lagi, dia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu penuh emosi. "Apa yang Ayah inginkan?! Cepat katakan! Aku sibuk! Jangan ganggu aku!"


"Akhirnya kau angkat juga anak kurang ajar! Aku juga tidak akan basa-basi! Datang ke rumahku secepatnya! Ada masalah serius yang harus kau tahu! Ini menyangkut soal perusahaan ibumu! Jika kau tidak datang, aku tidak bisa jamin bagaimana nasib perusahaan ke depannya!" bentak Panji yang tak lagi bersandiwara.


"Apa?! Kau mengancamku?!"

__ADS_1


"Ya, aku memang mengancammu! Cepat datang atau kerugian yang kau alami akan lebih parah!" gertak Panji sekali lagi yang langsung memutus panggilan telepon.


"Sial!" umpat Sherina hingga tubuhnya gemetaran karena marah.


Ayah brengs*k itu terus berusaha untuk membuatku datang ke rumah! Aku yakin kalau dia sudah mempersiapkan jebakan di sana! Meskipun begitu, aku tidak boleh diam saja. Dia itu orang yang nekat, bisa-bisa nanti dia benar-benar akan berbuat sesuatu pada perusahaan milik ibu.


"Cih! Terpaksa aku harus ke sana! Tapi, aku akan datang dengan persiapan!"


Sherina segera bersiap, dia juga membawa senjata tersembunyi, yaitu sebotol semprotan cabai yang bisa dia gunakan di kala terdesak nanti. Namun, saat dia keluar dari kamar, tiba-tiba saja dia berpapasan dengan Velix.


"Velix?!" Sherina terkejut, dia juga dengan tangkas menghindar untuk tidak bertabrakan dengan Velix.


"Kak Sherina, hari ini sekolahku libur! Apa Kakak mau aku ajak jalan-jalan di taman wisata yang baru dibuka?" tanya Velix dengan tatapan berharap.


"Ah, Velix ... maafkan aku. Kita pergi lain kali saja, ya! Saat ini aku sibuk, aku tak punya waktu untuk bermain denganmu," jelas Sherina supaya Velix tak terlalu kecewa.


"Kakak ipar memangnya mau ke mana?"


"Kakak ada urusan di rumah orang tua kakak! Sekali lagi maaf, ya, Velix! Lain kali aku janji akan menemanimu pergi ke taman itu!" Sherina berjalan melewati Velix begitu saja. Namun, baru beberapa langkah yang dia ambil, tiba-tiba dia berbalik menghampiri adik iparnya lagi.


"Velix, maukah kau membantuku?" tanya Sherina dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Ya, tentu saja aku bersedia membantu kakak ipar!" jawab Velix tanpa ragu.


"Baguslah! Kalau begitu, aku minta padamu ... jika dalam waktu 4 jam aku belum kembali ke kediaman, tolong bawa orang, polisi juga bisa! Pokoknya minta bantuan pada orang yang bisa dipercaya untuk menjemputku. Kau bisa melakukannya, kan?"


"Bisa! Tapi ... untuk jaga-jaga, bagaimana kalau kakak ipar bawa saja pengawal dari kediaman?"


"Ah ... itu, tidak bisa, soalnya pertemuanku ini rahasia. Aku hanya bilang ini padamu, karena aku mempercayaimu, Velix!" Sherina terpaksa menolak, karena dia belum punya kekuasaan di rumah ini, dia takut jika hal ini akan bocor ke Ariana maupun Vicky.


"Oke! Kak Sherina bisa mengandalkan aku!" ucap Velix dengan tatapan berapi-api. Dia merasa tersanjung karena Sherina bilang jika dirinya sangat dipercaya.


"Bagus, aku pergi dulu, ya!"


Sherina bergegas pergi, bahkan kali ini dia memakai jasa taksi online, berjaga-jaga supaya sopir di kediaman tidak bisa memberikan informasi secuil pun pada Ariana. Sesampainya dia di rumah milik ibunya, dia langsung melewati gerbang dan mendobrak pintu masuk utama.


"Aku sudah datang! Jadi katakan apa yang—"


BUAGH!!


Sebuah pukulan dari benda tumpul yang datang dari arah belakang tepat mengenai Sherina. Kesadarannya seketika menghilang, dia ambruk begitu saja di lantai yang dingin itu. Sungguh sebuah sambutan yang tak terduga.


"Kerja bagus!" ucap Panji pada pengawal yang dia tugaskan untuk memukul Sherina.

__ADS_1


"Nah, sekarang tugas kalian ikat dan bawa dia ke dalam gudang!" imbuh Fina yang mendadak muncul.


"Baik, Tuan, Nyonya ...."


__ADS_2