
"Cepat buka mulutmu!" bentak Fina seraya meminumkan dengan paksa sebuah cairan pada Sherina.
"Uhmm!!" Sherina menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tahu bahwa cairan yang ada di dalam cawan, yang berusaha Fina berikan padanya adalah sesuatu yang berbahaya. Dia tak mampu memberikan perlawanan lain, karena posisinya saat ini yang sangat tak menguntungkan, terikat dan tersekap dalam gudang.
"Aku bilang buka!" bentak Fina sekali lagi. Dia memegang erat pipi Sherina, berusaha mati-matian memasukkan cairan ini ke mulutnya. Begitu mulut Sherina sedikit terbuka, Fina langsung menuangkan semua cairan yang ada di cawan tersebut ke dalam mulut Sherina sampai habis. Meskipun lebih banyak yang tumpah, Fina bisa memastikan kalau ada juga yang berhasil masuk ke mulut anak tirinya.
"Hoekk ...." Sherina memuntahkan cairan itu, dia juga meludah ke lantai berkali-kali, sebisa mungkin dia mengeluarkan sisa-sisa cairan berbahaya yang masih berada di mulutnya. Meskipun begitu, Sherina merasa tak begitu yakin. Dia merasa ragu karena berpikir mungkin saja sudah ada beberapa tetes yang tertelan dan masuk ke kerongkongannya.
"Heh!" Fina menyeringai sinis. Dia melambai pada seorang pelayan yang ada di belakangnya. Dia meminta sebuah kain lap, untuk mengusap tangannya yang juga sempat terkena cairan tadi.
"Apa yang barusan kau berikan padaku, hah?!" tanya Sherina dengan tatapan garang. Dia marah sekali karena diperlakukan seperti ini.
"Haha, memangnya apa lagi? Tentu saja itu racun!" jawab Fina dengan senyum kepuasan.
"Kau ... kau mau membunuhku?!"
Fina tertawa cekikikan, dia mendekat dan sekali lagi mencengkeram rahang bawah Sherina. "Ya, kau akan mati jika tidak menuruti perintahku! Walaupun cuma sedikit yang tertelan, racun itu perlahan-lahan akan membunuhmu! Jika kau ingin hidup, kau harus menandatangani surat pengalihan saham! Berikan saham 30 persen yang kau punya pada ayahmu! Baru setelah itu aku akan memberimu penawar racun itu!"
"Heh, mengalihkan saham pada ayah? Mimpi saja! Kalaupun aku menurutimu, tidak ada jaminan kau akan menepati kata-katamu! Lebih baik aku mati daripada harus memberi kalian keuntungan!" jawab Sherina tanpa keraguan.
"Oh, ya sudah! Dasar keras kepala! Kalaupun kau mati, tidak akan ada yang curiga, orang-orang pasti akan menganggap kematianmu itu sebatas kecelakaan karena pengaruh dari kutukan! Satu jam lagi aku akan kembali, pikirkan baik-baik keputusanmu!" Fina melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar, lantas berbalik dan mengajak pelayannya pergi dari gudang.
"Sialan!" umpat Sherina sambil meronta. Dia terus menggesek-gesekkan tangannya yang kini terikat di belakang. Meskipun kecil kemungkinannya, dia berharap bisa terlepas dan bebas.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak menyangka kalau mereka berdua akan nekat sampai ke tahap ini. Dan lagi ... racun yang sudah masuk ke tubuhku, apakah percobaan pembunuh mereka padaku kali ini akan berhasil?"
Bibir dan tubuh Sherina gemetar. Dia tidak menyangkal jika sekarang dia begitu takut. Dikurung, disiksa dan diikat sendirian di dalam gudang yang gelap, bahkan juga telah dicekoki oleh racun.
***
Pada saat yang sama Fina telah kembali ke sisi Panji, dia ingin melaporkan soal yang baru saja terjadi pada Sherina.
"Bagaimana? Apa Sherina bersedia tanda tangan?" tanya Panji dengan tatapan penuh harap.
Fina menggeleng kepala, lantas berkata, "Dia belum mau, tapi kau tenang saja. Aku sudah mencekoki Sherina dengan racun, meskipun hanya sedikit yang dia minum, aku jamin kalau racun itu cukup berefek padanya. Aku sudah mengancamnya, kita beri dia waktu sedikit lagi supaya dia berubah pikiran. Jika masih belum tunduk juga, kita bisa memaksanya memberi persetujuan dengan cap jari."
"Hahaha ... bagus! Tidak sia-sia aku menikahimu, sebentar lagi semua kekayaan itu akan jadi milik kita!"
"Tuan! Ada kabar penting!" teriak salah seorang pelayan rumah yang tiba-tiba muncul.
"Kabar penting apa?" tanya Fina.
__ADS_1
"Di luar gerbang, ada mobil yang sama seperti yang dipakai oleh Nyonya Ariana saat kunjungan kemari. Di belakangnya juga ada sebuah mobil lain. Sopir mobil itu bilang, kedatangannya kemari karena ada urusan penting untuk didiskusikan dengan Tuan Panji."
"Ah, itu pasti benar Nyonya Ariana! Tunggu apa lagi?! Cepat persilakan dia masuk! Dia datang pasti untuk membeli sahamku!" titah Panji dengan nada antusias. Dia sangat bersemangat karena membayangkan kedatangan Ariana yang membawa setumpuk uang untuk diberikan padanya.
"B-baik, Tuan ...."
Panji dan Fina sama-sama bergegas ke ruang tamu demi menyambut kedatangan Ariana. Namun, sungguh sayang, dugaan mereka salah. Bukannya Ariana Bashara, justru Vicky Bashara-lah yang datang.
"Wahh ... tak aku sangka kalian akan menyambutku, aku tersanjung," ucap Vicky yang langsung masuk tanpa rasa sungkan. Di belakangnya, tampak ada 5 orang pengawal yang semuanya berbadan kekar.
"Vi-Vicky?!" Panji dan Fina sama-sama terperangah. Pikir mereka, tujuan macam apa yang membuat Vicky bertamu ke rumah mereka di waktu mendadak seperti ini.
Di satu sisi, Vicky langsung duduk di kursi ruang tamu. Semua pengawal yang dia bawa berjaga di samping kiri dan kanannya. Dengan tatapan tajam, dia menatap ke arah Panji dan Fina seolah-olah menyimpan dendam pada mereka. "Aku tidak akan basa-basi. Cepat katakan, di mana Sherina!"
"S-Sherina? Apa yang kau bicarakan?" tanya Panji dengan wajah pura-pura bingung. Sebisa mungkin dia berusaha supaya tak terlihat gugup di depan Vicky. Dia tak mau dicurigai jika dia telah menyekap Sherina di gudang rumahnya.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kalau Sherina ada di sini! Aku sudah bilang pada kalian sebelumnya, Sherina itu istriku! Jika kalian berani berbuat macam-macam padanya, maka kalian harus siap melawanku!" gertak Vicky yang sontak saja membuat Panji dan Fina gemetar ketakutan.
"...." Panji diam seribu bahasa, dia melirik pada Fina karena sudah tak tahu lagi harus berkata apa agar dapat mengelak.
Habislah aku, sekarang aku mesti bagaimana? Tak aku sangka Vicky akan benar-benar peduli pada Sherina. Aku kira waktu itu hanya sandiwara demi mempermalukan pesta pernikahan Sofia. Sial, benar-benar sial sekali. Jika saja aku tahu hal ini, harusnya aku tidak bertindak gegabah. Ini sudah terlambat, mungkin aku harus membuang harga diriku supaya bisa selamat. Mungkin saja Sherina akan memaafkanku jika aku berlutut dan memohon padanya.
"Baik!" 4 dari 5 orang pengawal seketika maju. 2 dari masing-masing mereka menahan Panji dan Fina. Memegangi pasangan suami istri yang licik ini sekuat tenaga.
"Apa-apaan kau?! Kau mau menahan kami?! Ini termasuk tindak kekerasan! Aku sungguh tak menyangka kalau Tuan Muda Vicky Bashara yang terkenal jujur itu malah bertindak melanggar hukum seperti ini!" teriak Panji sambil berusaha memberontak.
"Benar! Padahal kau itu datang untuk bertamu! Dan secara status, kau itu adalah menantu kami! Kau ini orang yang sungguh tidak tahu sopan santun!" teriak Fina yang turut mencari pembenaran supaya bisa lepas dari tahanan pengawal Vicky.
"Pffttt ... menggelikan sekali kalian menakut-nakuti dengan membawa-bawa hukum dan mengajariku tata krama. Lagi pula, mana ada aku melakukan tindak kekerasan? Aku cuma menyuruh pengawalku untuk membantu memegangi kalian saja. Tapi, ya sudah kalau kalian tidak mau ...." Vicky terkekeh. Para pengawal itu pun segera melepaskan genggaman mereka dari Panji dan Fina.
"A-apa maksudmu ...?" Panji dan Fina sama-sama dibuat bingung.
BUZZ BUZZ
BUZZ BUZZ
Ponsel milik Panji mendadak berdering, dia seketika mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Saat dia melihat jika panggilan telepon itu berasal dari seseorang yang penting. Dia seketika mengangkatnya tanpa ragu.
"Halo? Ada apa meneleponku?!" tanya Panji dengan nada angkuh. Namun, sejurus kemudian ekspresi wajah Panji mendadak jadi pucat pasi. "A-apa kau bilang ... semua investor menarik dana investasi mereka ...?"
Tubuh Panji bergetar hebat. Tak kuasa menerima kenyataan jika perusahaannya saat ini berada di ambang kebangkrutan. Bukan hanya ponselnya yang jatuh, tubuhnya juga lemas bagaikan lumpuh. Dia seperti tak mampu lagi menopang tubuh, lalu berakhir bersimpuh di lantai dan hanya menatap Vicky dengan tatapan kosong. Sedangkan Vicky, dia tersenyum menyeringai, tugas yang dia percayakan pada Oliver telah berjalan mulus. Menghancurkan sebuah perusahaan menengah dengan sekali serangan, itu sangat mudah dilakukan bagi Vicky Bashara.
__ADS_1
"S-sayang ...." Fina terbata-bata, dia juga takut sendiri ketika melihat tingkah suaminya.
"Ha-Harusnya aku tidak menyinggung Sherina ... aku ... aku menyesal ...."
"Sudah terlambat menyesal sekarang! Inilah balasan yang kau dapat karena berani mengganggu istriku!" Vicky beranjak dari sofa, dia melewati Panji dan Fina begitu saja.
Semua pelayan di rumah ini juga ketakutan, mereka yang berada di ruang tamu bisa melihat dan mendengar dengan jelas tentang apa yang terjadi pada kedua majikan mereka. Pikir mereka, haruskah mereka segera mengundurkan diri? lagi pula sebentar lagi perusahaan yang jadi penghasilan utama keluarga ini akan bangkrut. Tak akan mampu lagi untuk membayar upah para pelayan seperti mereka.
"Kalau kau mau hidup, tunjukkan jalannya padaku!" pinta Vicky dengan tatapan dinginnya.
"B-baik Tuan ... mari ikuti saya," ucap salah seorang pelayan wanita yang tadinya mengikuti Fina. Dia tahu betul apa yang Vicky maksud, dia tidak bodoh dan mampu membaca situasi. Mau tidak mau, suka tidak suka, pilihan satu-satunya yang tersisa adalah dia harus menuruti Vicky dan mengkhianati majikannya.
Pelayan wanita ini mengantarkan Vicky ke arah gudang. Saat kunci dari pintu gudang telah dibuka, Vicky langsung memasuki gudang itu dan berteriak, "Sherina!"
"...?!" Sherina yang sedari tadi tertunduk lesu seketika mendongak. Dia tak percaya jika Vicky akan datang untuk menyelamatkan dirinya.
Vicky segera berlari mendekat. Dia terkejut dengan penampilan istrinya, rambut yang acak-acakan, bekas memar kemerahan di wajah, serta tangan dan kaki diikat dengan tali pada kursi. Dia tak habis pikir jika istrinya akan diperlakukan dengan rendah seperti ini. Hatinya semakin merasa bersalah karena baru datang sekarang.
"Bertahanlah sebentar lagi, Sherina!" Dengan cepat Vicky melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Sherina. Lalu, tiba-tiba saja dia juga membopong Sherina pergi keluar dari gudang yang gelap dan kotor itu.
"Vi-Vicky ... turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," ucap Sherina dengan suara lirih.
"Tidak boleh! Pergelangan kakimu habis diikat dengan kuat, bahkan sampai berbekas merah! Kau pasti akan kesusahan kalau berjalan sendiri! Jadi diam saja dan menurutlah!" bantah Vicky dengan spontan.
"...." Sherina tak berkata sepatah kata pun lagi. Entah kenapa dia merasakan perasaan aman dan dilindungi begitu Vicky tiba.
Saat Vicky yang menggendong Sherina melewati Panji dan Fina yang masih bersimpuh di lantai. Hal ini sekilas menarik perhatian Sherina. "Mereka kenapa?"
"Bukan apa-apa, aku cuma memberi sedikit pelajaran pada mereka! Tak perlu kau pikirkan!" Vicky berserta para pengawal yang dia bawa segera pergi dari rumah yang memuakkan ini. Dia terus menggendong Sherina hingga masuk ke mobilnya sendiri.
Sherina masih belum mengatakan apa-apa, rasanya sedikit aneh dan menyenangkan saat dia diselamatkan oleh Vicky. Dan ketika berada di perjalanan, tiba-tiba dia berkata, "Terima kasih banyak, Vicky. Aku berhutang budi padamu."
"Jangan menganggapnya seperti itu. Aku ke sini karena Velix yang memberitahuku. Kau selamat karena kecerdikanmu sendiri. Untung saja kau meninggalkan pesan pada Velix. Sekarang ayo kita pulang, kita obati dan kompres dulu wajahmu yang memar."
"T-tunggu Vicky! Kita harus segera ke rumah sakit!" pinta Sherina seraya memegang bahu Vicky.
"Rumah sakit? Apa kau terluka parah?!"
"Tidak, tapi ibu tiriku memberiku racun!"
"A-apa?!" Vicky terperangah.
__ADS_1