
"Nyonya, nona Cleopatra sudah tiba," ucap Paman Will pada Ariana yang saat ini tengah duduk santai sambil membaca majalah kecantikan.
"Baguslah, suruh dia kemari!" titah Ariana dengan senyum gembira. Kedatangan Cleo memang sudah dia tunggu-tunggu.
"Baik, Nyonya."
Tak berselang lama setelah Paman Will pergi, Cleo datang dengan membawa sebuah paper bag di tangannya.
"Mama Ariana!" sapa Cleo dengan senyuman. Dia juga langsung menghampiri Ariana dan merangkulnya, serta memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri yang sering kali wanita lakukan ketika bertemu. Biarpun belum resmi menjadi menantu, sejak dulu Cleo memang selalu memanggil Ariana dengan sebutan 'Mama', karena keakraban dan kesamaan selera mereka berdua pada setiap hal.
"Mama, ini adalah hadiah untuk Mama!" ucap Cleo seraya menyerahkan paper bag yang dia bawa.
"Wahh ... apa ini?" tanya Ariana yang tanpa sungkan menerima barang itu. Sudah sejak lama di antara mereka saling memberi hadiah adalah hal yang biasa.
"Ini adalah tas buatan tangan yang sedang jadi tren di musim ini. Beberapa waktu lalu aku menerima tawaran iklan, dan aku mendapatkan tas itu dari sponsor. Aku ingat kalau model dan warna tas itu sesuai dengan selera Mama Ariana, jadi aku berikan tas itu! Apakah Mama suka?"
Ariana mengintip sedikit, dia bisa tahu jika apa yang semua Cleo katakan benar adanya. Dia memang menyukai warna dari tas itu. "Iya, mama suka! Terima kasih, Ariana! Mama pasti akan pakai tas ini!"
"Haha, sama-sama. Ehmm ... oh ya, di mana Vicky? Dia tidak menemuiku, apakah dia sedang tidak di rumah?" tanya Cleo seraya menoleh ke kanan kiri.
"Iya, Vicky sedang berada di luar. Dia bilang ingin bertemu dengan calon investor."
"Ah, begitu ya. Lalu bagaimana dengan Sherina?" tanya Cleo lagi.
__ADS_1
"Haiss ... dia itu benar-benar keterlaluan, pagi sampai siang dia terus mengikuti Vicky. Lalu begitu pulang dia malah mengurung diri di kamar. Dia sama sekali tidak berniat menyapaku, sepertinya dia sudah lupa diri. Padahal cuma pengganti, tetapi dia bertingkah seperti nyonya rumah ini!" gerutu Ariana dengan raut wajahnya yang tampak kesal.
"Sungguh? Padahal jika dilihat-lihat, dia sepertinya perempuan yang lugu. Aku tak menyangka jika dia akan mengabaikan dan kurang ajar pada Mama Ariana seperti ini," celetuk Cleo dengan ekspresi pura-pura prihatin. Dia memang sengaja mengatakan itu semua demi menghasut supaya Ariana bertambah tidak suka pada Sherina.
"Kau benar, Cleo! Aku tidak bisa membiarkan dia semakin kurang ajar! Aku harus memberinya pelajaran supaya dia sadar soal statusnya!"
Saat ini Cleo seperti bersorak dalam hati. Rencananya untuk memanas-manasi Ariana rupanya berjalan dengan mulus. "Mama, aku punya sebuah rencana!"
"Benarkah? Apa itu? Cepat katakan padaku!" pinta Ariana seakan tidak sabar. Dan Cleo pun segera mendekat dan berbisik padanya.
***
TOK TOK TOK!
"Hm?" Sherina langsung mendongak begitu mendengar suara ketukan pintu kamar. Dia menutup buku novel yang sedang dia baca. Lalu segara membuka pintu untuk mengetahui siapa yang hendak menemuinya. Dan rupanya orang itu adalah Paman Will.
"Nyonya Sherina diminta untuk segera turun dan menemui nyonya besar," jawab Paman Will.
Untuk sejenak Sherina terdiam, berpikir kemungkinan macam apa yang jadi tujuan ibu mertuanya mencarinya. "Baiklah, tolong Paman Will tunjukkan jalannya padaku!"
"Baik, mari ikuti saya."
Sherina mengikuti jalannya Paman Will, hingga dia sampai di tempat di mana Ariana dan Cleo sudah menunggunya. Merasa tak ada yang perlu dilakukan lagi, Paman Will memutuskan lekas pergi.
__ADS_1
"Ibu mencariku?" tanya Sherina dengan nada sopan.
"Iya, soalnya aku ada perlu denganmu," jawab Ariana dengan nada ketus.
"Hai, Sherina! Senang bisa bertemu denganmu lagi!" sahut Cleo yang tersenyum penuh kebohongan.
"Ah, iya ...."
"Sebenarnya aku yang meminta Mama Ariana untuk memanggilmu kemari. Aku dan Mama Ariana berencana untuk mengajakmu pergi belanja bersama. Kau tidak keberatan, kan?" tanya Cleo dengan sorot mata berharap.
"Belanja? Tapi sepertinya ... untuk saat ini aku sedang tidak menginginkan sesuatu," jawab Sherina yang mencari-cari alasan untuk menolak.
"Kau tinggal temani saja kami, apa masalahnya? Lagi pula kami juga akan berbelanja untuk Vicky, kau itu belum lama mengenal putraku, kau harus belajar lebih banyak dari Cleo! Lagi pula niat kami mengajakmu belanja bersama itu baik. Apa jangan-jangan kau sendiri yang enggan untuk jadi lebih akrab dengan kami?" tanya Ariana dengan nada menyindir.
"B-bukan begitu, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Tolong Ibu jangan salah paham, kalau begitu aku akan ikut berbelanja dengan kalian," jawab Sherina dengan nada sungkan. Meskipun menganggap jika ibu mertuanya ini lumayan menyebalkan, sebisa mungkin Sherina harus menahan kekesalannya.
"Nah, harusnya sikapmu dari awal memang begitu! Kau jangan sampai lupa diri kalau kau itu cuma pengganti! Menantuku yang sebenarnya itu Cleo, bukan kau! Biarpun kau yang menikah dengan Vicky, jangan harap kau bisa merebut cinta Vicky! Kau jangan terlalu sombong dan berharap hanya karena aku diperlakukan dengan baik olehnya!" cecar Ariana lagi yang seakan belum puas menghina Sherina.
"Sudahlah Mama ... jangan marah lagi, tidak baik untuk kesehatan. Aku juga tidak merasa terancam dengan adanya Sherina. Aku percaya kalau Vicky hanya mencintaiku seorang. Lagi pula, Sherina hanya pengganti yang hidupnya tak akan lama lagi," bujuk Cleo dengan seringai liciknya. Dengan mudahnya dia mengeluarkan kata-kata menyakitkan untuk menghina Sherina, alih-alih demi menenangkan Ariana.
"Kau benar, Cleo. Aku tidak boleh marah, energiku hanya akan terbuang sia-sia untuk memarahi menantu tidak berguna sepertinya," ucap Ariana dengan tatapan merendahkan.
"...." Sherina diam seribu bahasa, diam-diam mengepalkan kedua tangannya seerat mungkin untuk menahan amarah supaya tidak meledak.
__ADS_1
Rupanya begini wajah asli ibu mertuaku. Saat ini dia terus-terusan menghinaku seakan itu hiburan menyenangkan baginya. Akan tetapi, ketika di depan Vicky dia berlaku lembut padaku. Dan Cleo ini pun ternyata sama saja. Sama-sama bermuka dua dan penakut. Awas saja kalian, aku pasti akan membongkar sifat asli kalian ini di depan Vicky. Karena aku yakin, Vicky itu adalah orang baik dan cerdas. Dia pasti tahu mana yang benar dan salah.
Dan aku juga yakin. Niat kalian mengajakku berbelanja pasti tidak sesederhana itu. Kalian berdua pasti merencanakan hal buruk untukku. Tapi terserah, lakukan saja. Aku justru penasaran, trik murahan macam apa yang akan kalian perbuat padaku. Jangan kira kalian bisa mempermainkan aku seenaknya!