
"Ummm ...." Vicky perlahan membuka mata. Dia sedikit terkejut karena melihat langit-langit kamar yang asing. Namun, dia tersadar saat melihat sekelilingnya. Tubuhnya yang masih dalam keadaan telanjang hanya setengah ditutupi oleh selimut. Seketika wajahnya merona ketika mengingat percintaan panas yang semalam dia lakukan.
"Gila," gumam Vicky seraya menutupi wajahnya sendiri.
Aku tidak percaya kalau semalam aku sudah melakukan itu. Benar-benar sulit dipercaya, rasanya seperti mimpi. Semua beban pikiranku ikut hilang begitu saja. Pantas saja selama ini teman-temanku selalu bilang kalau menikah itu enak, ternyata mereka memang benar.
Tiba-tiba saja Vicky duduk, dia menoleh ke kiri dan kanan seperti orang yang mencari sesuatu. "Omong-omong ... di mana Sherina? Dia sudah bangun lebih awal dariku, di mana dia?"
"Eh, kau sudah bangun?" tanya Sherina yang mendadak muncul dari luar kamar. Dia lantas mendekati suaminya yang masih berada di atas ranjang ini.
"Ya, baru saja," jawab Vicky sedikit malu-malu. Dia kembali terbayang-bayang kejadian semalam setelah melihat tanda merah bekas kecupan di leher Sherina. Dan lagi, sekarang istrinya ini sudah berpakaian rapi dengan rambut terurai yang tampaknya belum kering sepenuhnya. Pikirnya, dia yakin betul kalau Sherina sudah bangun jauh lebih awal.
"Baguslah, aku sudah selesai buat sarapan. Kau bersihkan dirimu dulu, nanti kita sarapan sama-sama!" ajak Sherina dengan senyuman. Sungguh pemandangan menarik baginya, sikap Vicky yang saat ini pemalu sungguh berbeda dari Vicky yang semalam begitu liar.
"Oke, tapi ... di mana pakaianku yang kemarin ...?" tanya Vicky sedikit bingung. Dia melirik ke lantai, baju sempat dia lepas dan lempar ke lantai sudah tidak ada.
"Sudah aku cuci!" jawab Sherina yang tiba-tiba menarik selimut Vicky.
"Hei, kau!!" teriak Vicky dengan panik, dia kelabakan menarik selimut itu kembali untuk menutupi tubuhnya.
"Hehehe, kenapa? Kau malu? Memangnya tubuhmu bagian mana yang belum aku lihat dan sentuh?" tanya Sherina dengan seringai menggoda.
"A-aku masih belum terbiasa ... jadi, berhentilah menggodaku!" protes Vicky seraya memalingkan wajahnya.
Sherina terkekeh, dia semakin gemas melihat tingkah suaminya ini. "Haha, baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Kau tak perlu mencemaskan soal bajumu, aku sudah beli beberapa setel pakaian untukmu. Ada baju kasual dan beberapa baju formal untuk kau pakai ke kantor."
"Beli? Memangnya ini jam berapa? Apa sudah ada toko yang buka?" tanya Vicky keheranan.
"Ckck, kau ini CEO di bidang IT, harusnya kau sudah tahu kalau beli baju sudah tidak harus datang ke tokonya. Tapi, meskipun aku memakai aplikasi shopping, barang pesananku juga tidak akan menjamin cepat sampai. Jadi, aku meminjam namamu. Aku mengirim email langsung ke direktur dari salah satu department store, dia membalas emailku dengan baik. Bahkan juga melayaniku dengan menawarkan beberapa pilihan sekaligus. Dan dalam waktu kurang dari setengah jam, baju yang aku pesan sudah sampai diantar ke sini. Emm ... aku juga dapat merchandise secara cuma-cuma."
"Ternyata meminjam namamu bisa memiliki pengaruh seperti ini. Langsung mendapatkan pelayanan spesial yang tidak mungkin sembarangan orang lain dapat! Suamiku ini benar-benar hebat," lanjut Sherina lagi dengan senyum canggung. Vicky langsung geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Haiss ... kenapa kau tidak minta bantuan pada Oliver saja? Dia bisa membawakan bajuku kemari."
"Itu karena ... aku tidak mau Oliver tahu tentang keadaanmu saat ini. Biarpun dia adalah asistenmu, tetap saja dia adalah orang luar. Sedangkan pertengkaranmu dengan ibu, itu adalah masalah internal keluarga. Aku begini bukan karena tidak percaya pada Oliver, tapi aku tidak mau seenaknya memutuskan sesuatu untukmu. Bisa saja kau mau merahasiakan soal ini darinya ..." jawab Sherina dengan nada sedikit menyesal. Dia merasa bersalah karena tindakan yang dia ambil ternyata kurang tepat.
Vicky menghela napas panjang, dan setelahnya tersenyum tipis. "Terima kasih, aku tahu niatmu itu baik. Tapi, lain kali kau bisa percayakan saja hal semacam ini kepada Oliver. Dia memang orang luar, tapi selama ini dia sudah banyak membantu urusan pribadiku. Tidak apa-apa kalau dia tahu sekarang aku pergi dari kediaman. Lagi pula Oliver bukan orang yang suka menyebarkan kabar ke orang lain."
"Baiklah, lain kali pasti akan kuingat!"
"Oh ya, omong-omong department store mana yang kau kirimi email?"
"Moon Department Store, apakah ada masalah?" tanya Sherina sedikit gugup. Dia khawatir jika sudah melakukan hal yang kurang tepat lagi.
"Ah, rupanya Moon Department Store! Tidak ada masalah, aku sudah mengenal dan menjalin hubungan bisnis yang baik dengan department store itu. Dan hubungan secara pribadi, aku juga mengenal baik salah satu pemilik saham utamanya. Baguslah kau memesan baju di sana. Kalau kau memesan di department store lain ... takutnya akan membuat mereka berharap lebih pada kita."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu." Sherina tersenyum lega. Lalu, tiba-tiba saja dia mendekat lagi dan menarik-narik tangan Vicky. "Sekarang waktunya kau mandi! Ayolah, Vicky! Jangan menunda lagi! Aku harus segera mengganti seprai!"
"Ganti seprai?"
"Iya! Memangnya kau sudah lupa?!" bentak Sherina dengan wajah kesal.
"Eh, tidak-tidak! Mana mungkin aku lupa. I-itu pengalaman pertamaku ..." jawab Vicky yang tersipu malu. Sekali lagi dia dibuat teringat karena melihat bekas percintaan yang masih tampak jelas di kain alas tidur yang terpasang. Akhirnya Vicky bersikap patuh, dia segera pergi ke kamar mandi sesuai perintah dari istrinya.
Tak berselang lama kemudian Vicky telah selesai membersihkan dirinya. Pakaian yang dia kenakan kali ini bukan pakaian formal yang selayaknya dikenakan ke kantor seperti biasanya. Sherina kembali dibuat kebingungan dengan sikap suaminya ini.
Dan setelah mereka selesai sarapan. Saat Sherina hendak membereskan piring. Tiba-tiba saja Sherina bertanya, "Vicky, ini bukan hari libur, apa hari ini kau tidak ke kantor?"
"Aku ada rencana pertemuan jam 3 sore nanti. Dan lagi ... beberapa dokumen masih tertinggal di ruang baca kediaman. Aku sudah menyuruh Oliver untuk mengambil beberapa dokumen yang penting. Masih banyak waktuku yang longgar. Jadi, aku ingin berada di sini dan menemanimu dulu," jawab Vicky dengan senyuman.
"Haha, dasar kau ini ...." Sherina geleng-geleng kepala.
"Biar aku bantu!" ucap Vicky menawarkan diri. Dia mengambil piring kotor yang lain dan membantu Sherina menaruh peralatan makan yang kotor itu di wastafel dapur.
"Sherina," panggil Vicky ketika istrinya ini sibuk menggosok piring dengan spons dan sabun.
"Ya?" sahut Sherina tanpa menoleh.
"Apa kau tidak lelah?"
"Maksudku, pagi ini saja kau sudah melakukan banyak hal. Kau bangun lebih awal dariku, buat sarapan, membereskan baju, dan sekarang bersih-bersih. Jika berada di kediaman utama, kau tak perlu bersusah payah melakukan semua ini. Jadi, aku bertanya apa kau tidak lelah?"
"Pfftt ... rupanya soal itu!" Sherina tertawa, dia merasa pertanyaan suaminya ini sangat menggelikan. "Apa kau kasihan padaku? Kalau begitu carikan pembantu untukku!"
"Eh, kalau kau ingin ... sekarang juga aku akan te—"
"Tidak usah, Vicky. Aku hanya bercanda," potong Sherina dengan tawa kecil.
"Kau benar, jika aku berada di kediaman utama, aku memang tak perlu melakukan semua ini. Akan tetapi, meskipun sekarang aku harus melakukan semua ini sendiri, aku tidak merasa keberatan. Lelah, tentu saja aku merasa lelah. Namun, rasa lelah ini lebih bermakna daripada tidak melakukan apa-apa," lanjut Sherina lagi.
"Maksudmu? Bagaimana bisa rasa lelah itu bermakna?" tanya Vicky yang semakin dibuat bingung.
"Tentu saja bermakna. Misalnya saja, aku mengurus pakaian yang kau pakai. Aku juga memasak untukmu, lalu kau memuji masakan buatanku. Ketika orang yang dicintai menikmati sesuatu yang sudah dipersiapkan, itu rasanya menyenangkan. Lagi pula, ini wujud baktiku sebagai istrimu. Aku akan melayanimu, bukan hanya sekedar dalam urusan ranjang. Tapi, melayani di sini ... artinya tidak sama seperti aku jadi pelayan. Haha, aku tidak jago menjabarkan hal semacam ini. Tapi kira-kira seperti itu."
"...." Vicky tertegun, dia memikirkan sejenak untuk memahami apa arti di balik kalimat yang Sherina ucapkan. Lalu, tiba saja dia menahan tangan istrinya ini seraya berucap, "Tunggu dulu!"
"Eh? Kenapa?" Sherina menatap linglung. Seketika tangannya yang dipenuhi oleh sabun menjadi bersih sendiri karena disiram oleh air keran wastafel.
"Aku mau membantumu! Membantu cuci piring!" jawab Vicky dengan sorot mata penuh keyakinan. Entah kenapa dia merasa konyol sendiri, seumur hidup sebagai seorang pewaris keluarga Bashara, inilah kali pertama baginya memiliki niat untuk mencuci piring.
"Tiba-tiba ... apa kau merasa tidak enak? Tadi aku bilang bahwa aku bukan pelayan, itu bukan untuk menyindirmu. Kau tidak perlu merasa sungkan padaku, aku bisa melakukan ini sendiri. Lagi pula tidak banyak ...."
__ADS_1
"Tidak, Sherina. Aku mau membantumu bukan karena aku merasa tersindir atau apa pun. Tapi aku sudah sadar, kalau suami istri itu artinya menjadi partner dalam hidup. Untuk hal-hal seperti ini, kau tidak perlu melakukannya sendiri. Aku bisa membantu, kita bisa bekerja sama, karena kita ini partner!"
Sherina termenung, dia sungguh kaget karena semua kata-kata ini keluar dari mulut seseorang seperti Vicky. Meskipun hal remeh, Sherina merasa tersentuh karena suaminya ini mempunyai niat untuk membantu. Jika dipikir-pikir, ini sungguh berbeda saat dia menjadi istrinya Satya. Yang mana kala itu semua pekerjaan rumah tangga dia lakukan sendiri.
"Baiklah kalau kau mau membantu, kau bisa letakkan piring yang sudah selesai aku cuci di rak piring!" jawab Sherina dengan senyuman. Hatinya sungguh dibuat berbunga-bunga karena memiliki sosok suami seperti Vicky.
Meskipun hal kecil, tetapi penuh arti. Menjadi pasangan dalam hidup, artinya juga menjadi partner yang harus siap saling mendukung seumur hidup. Biarpun tinggal di tempat yang tidak semewah kediaman, mereka berdua sama-sama merasa lebih nyaman tinggal di tempat ini. Alasannya tentu saja karena satu hal, yakni karena tidak ada suara bising dan keributan dari Ariana.
Kedamaian seperti ini rasanya ingin Vicky jaga untuk selamanya. Sebab itu, selama 10 hari terakhir ini dia tidak pernah mengangkat panggilan telepon dari Ariana. Dia tahu betul kalau ibunya itu pasti ingin membujuknya untuk pulang ke kediaman. Namun, kemarahan Vicky masih belum padam ketika mengingat perlakuan tidak adil yang selama ini Sherina terima di sana. Jika Sherina tidak kembali, maka Vicky pun sama.
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
"Sayang, ponselmu bunyi," ucap Sherina sambil menggoyangkan tubuh Vicky yang saat ini sedang berbaring nyaman dengannya.
"Ck, siapa yang malam-malam mengganggu kita?" keluh Vicky dengan wajah masam. Padahal dia sudah sangat nyaman mendekap Sherina ke pelukannya, dia sudah mengantuk dan ingin sekali tidur.
"Coba lihat, mungkin itu penting!" bujuk Sherina yang kemudian bangkit. Dia mengambil ponsel suaminya itu yang diletakkan di atas nakas. "Eh ... ini nomor telepon rumah."
"Biarkan saja, paling ibuku yang menelepon. Sudahlah, sebaiknya jangan meladeni dia lagi. Ayo kita lanjut tidur," tolak Vicky yang benar-benar sudah malas.
"Ehmm ... oke." Sherina menaruh ponsel itu kembali. Dia juga merasa kalau ini hanya salah satu siasat dari Ariana.
BUZZ BUZZ
BUZZ BUZZ
Belum sempat Sherina kembali berbaring, tiba-tiba kali ini giliran ponselnya yang berbunyi. Dan saat dia periksa, rupanya masih sama berasal dari kediaman. "Telepon dari rumah lagi, tapi ... tumben kali ini menelepon ke nomorku."
Firasat Sherina mendadak jadi buruk, dengan harap-harap cemas dia memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. "Halo?"
"Halo, ini saya!" Terdengar suara Paman Will yang terkesan panik.
"Ada apa Paman?" tanya Sherina.
"Tolong berikan teleponnya pada Tuan Vicky! Saya ingin berbicara penting, i-ini darurat!"
"O-oke," jawab Sherina gugup. Dia lalu menekan tombol speaker supaya Vicky juga dapat mendengar dengan jelas.
"Ini aku, ada apa?" tanya Vicky seraya beranjak duduk.
"Tuan! Nyonya Ariana belakangan ini sakit! Tapi beliau bersikeras tidak mau diantar ke rumah sakit. Tadi, baru saja beliau batuk darah! Sekarang ... beliau pingsan!"
"Apa?!" seru Vicky dan Sherina serempak.
__ADS_1