
24 Maret 20xx, hari ini adalah sebuah hari yang istimewa bagi sebagian besar orang. Karena hari ini diperingati sebagai hari jadi Kota B, pemerintah kota telah membuat kebijakan bahwa setiap instansi diliburkan selama 2 hari. Dalam masa-masa yang meriah ini, juga diadakan sebuah karnaval besar yang dibuka untuk umum.
"Kakak ipar! Bagaimana penampilanku?" tanya Velix sambil meringis, dia sangat menantikan pujian dari Sherina.
"Wahh ...." Sherina terpukau, kostum yang dipakai oleh adik iparnya ini sungguh indah. Topi yang berbulu, baju bak pangeran kerajaan yang dilengkapi dengan jubah, serta sebuah tongkat panjang yang biasa disebut dengan baton. Dia sudah siap untuk menjadi seorang mayoret yang akan memimpin marching band dari sekolahnya.
"Cocok sekali denganmu!" Sherina tiba-tiba mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu mengarahkannya kepada Velix. "Ayo senyum! Aku akan memotretmu!"
"Jangan! Aku malu!" Pipi Velix merona, dia tidak mau bergaya di saat sekelilingnya masih banyak teman-temannya.
"Haha, tidak apa-apa. Teman-temanmu yang lain juga berfoto dengan orang tua mereka. Ayo Velix, jangan malu-malu~" bujuk Sherina dengan senyuman.
"Ehmm ... satu jepretan saja, ya?" pinta Velix sambil melirik ke kanan kiri untuk melihat situasi teman-temannya yang lain. Memang benar kalau anggota marching band yang sudah memakai kostum sebagian besar juga berfoto dengan keluarga mereka. Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi Velix, dia biasanya akan merasa iri saat melihat kedekatan teman-temannya dengan orang tua mereka yang mau datang dan menemani di saat acara seperti ini. Namun, sekarang dia sudah tidak iri lagi. Karena sekarang sudah ada kakak ipar seperti Sherina yang akan selalu menemaninya.
"Oke, ayo bilang buncisss!" Dengan aba-aba yang diberikan oleh Sherina, akhirnya Velix mau bergaya untuk satu potret gambar. "Wahh ... bagus! Ayo satu kali lagi!" ucap Sherina yang kemudian mendekati Velix.
"Hm? Tadi katanya cuma satu, aku tidak mau tambah lagi!" protes Velix dengan tampang cemberut.
"Iya, satu foto saat kau sendiri, dan satu foto lagi saat bersamaku. Memangnya kau tidak mau berfoto bersama kakak iparmu ini?" tanya Sherina dengan ekspresi pura-pura kecewa.
"Tidak-tidak! Baiklah, aku akan berfoto sekali lagi untuk kakak ipar!"
"Nah, begitu baru benar!" Sherina tersenyum puas, dia lalu berfoto dengan Velix dengan menggunakan mode foto selfie. Hasil jepretan kali ini pun tak kalah bagus dengan yang tadi. "Haha, foto ini akan aku kirimkan ke Vicky! Biar dia juga lihat penampilan adiknya yang keren ini!"
"Hmph!" Velix hanya mendengus kesal, dia tak berkomentar apa-apa pada kata-kata Sherina barusan. Akan tetapi, Sherina menyadari sikap Velix yang tiba-tiba berubah tanpa alasan yang jelas.
"Ada apa Velix? Kenapa kau tiba-tiba kesal?"
"Aku kesal gara-gara ingat kak Vicky. Bisa-bisanya dia menolak untuk datang bersama kakak ipar. Dia justru lebih memilih menghabiskan waktu bersama rekan bisnisnya! Padahal, kalau ada dia ... pasti lebih menyenangkan," jawab Velix dengan pipi yang menggembung.
"Hei, jangan kesal pada kakakmu~" ucap Sherina seraya mencolek pipi Velix yang bulat.
"Kenapa kakak ipar justru membelanya? Jangan sampai dibutakan oleh cinta, lho!"
__ADS_1
"Pffttt kau ini ...." Sherina tertawa cekikikan, bahkan juga mencubit pipi Velix saking gemasnya. "Velix, dengar baik-baik, ya ... aku membela kakakmu bukan karena dibutakan oleh cinta. Akan tetapi, karena kakakmu memang harus melakukan sesuatu yang penting. Rekan bisnis kakakmu hari ini datang dari luar negeri, proyek yang akan mereka bicarakan sangat penting, bernilai ratusan miliar. Jadi, Vicky secara khusus menyambutnya supaya dia mendapatkan kesan yang baik. Lalu pengesahan proyek pun bisa berjalan lancar. Sekarang kau mengerti, kan?"
Velix terdiam, dan sejurus kemudian dia tersenyum pada Sherina. "Iya, aku mengerti! Lagi pula aku sudah bahagia kalau kakak ipar sudah ada di sini."
PROK PROK PROK!!!
"Semuanya, ayo berkumpul! Kita harus siap-siap karena sebentar lagi kita berangkat!" teriak seorang guru pembina dari Lilac Intercultural Academy.
"Ah, kau dipanggil. Cepat ke sana! Pawai karnaval akan dimulai satu jam lagi! Nanti aku akan ke alun-alun lebih dulu, aku harus cari tempat yang bagus! Aku janji akan merekam semua atraksimu sebagai mayoret!"
"Ishh ... Kak Sherina!" Wajah Velix memerah, dia tersipu malu karena pertunjukannya sangat dinantikan. Tanpa basa-basi lagi dia langsung berkumpul bersama teman-temannya dan membuat barisan.
Setelah memberikan dukungan pada Velix sebelum pertunjukkan, Sherina bergegas untuk pergi ke titik awal pawai dimulai. Untung saja tidak memakan waktu lama, karena jarak dari Lilac Intercultural Academy tidak terlalu jauh dari tempat tujuan. Sesampainya di sana, sudah ada ribuan warga Kota B memadati alun-alun demi menyaksikan pawai hari jadi kota yang ke-109.
Pukul 9 pagi waktu setempat. Gubernur dan Walikota memberikan kata sambutan, lalu dimulailah pawai budaya yang meriah. Seluruh masyarakat bersorak-sorai menyambut iringan pawai. Lalu, marching band perwakilan Lilac Intercultural Academy menjadi pertunjukan pembuka yang berada di barisan paling depan.
"READY ... GO!" teriak Velix dengan suara lantang. Seketika iringan musik yang bermacam-macam dimainkan dengan selaras. Barisan marching band bergerak maju, dipimpin oleh Velix yang memberikan aba-aba sambil memutar dan melempar tongkat sebagai bagian dari atraksi.
Masyarakat berteriak dengan antusias. Mereka sungguh dibuat terkesima dengan pertunjukan yang baru, biasanya mayoret laki-laki lebih cenderung dipakai dalam marching band militer. Akan tetapi, mereka sungguh terkesan dengan penampilan bocah cilik yang mengagumkan ini. Para anggota marching band juga tak kalah menarik, siswa yang berasal dari mancanegara turut ikut adil dalam memeriahkan karnaval.
Sungguh sebuah pertunjukan yang memanjakan mata. Para murid yang andil telah menghabiskan waktu latihan, demi memberikan yang terbaik sebagai bentuk kecintaan mereka pada kota ini. Bapak Wali Kota yang menonton sangat puas karena telah menunjuk Lilac Intercultural Academy untuk ikut berpartisipasi. Pihak sekolah pun juga senang, hal ini bisa menjadi ajang untuk mempromosikan sekolah mereka supaya makin dikenal oleh publik.
"Semangat Velix!" seru Sherina saat Velix melewati jalan yang ada di depannya. Dia juga terus memegangi ponselnya supaya tak kehilangan momen ini.
"Hihihi," Velix meringis. Berkat disoraki oleh kakak iparnya tersayang, dia jadi lebih bersemangat untuk melakukan atraksi yang lebih bagus lagi.
"Syukurlah Velix sudah tidak murung seperti kemarin, di kecewa karena ibunya tidak mau datang. Latihannya selama ini jadi tidak sia-sia," gumam Sherina penuh kepuasan.
Tugas utamanya hari ini telah selesai. Akan tetapi, Sherina merasa sayang jika harus mundur sekarang, karena tempat yang dia dapatkan saat ini adalah hasil berdesakan dengan orang lain. Akhirnya sebelum memutuskan untuk kembali menunggu Velix di sekolah, Sherina masih berdiam diri di sini untuk lanjut melihat pawai.
Dia merasa tertarik untuk menantikan apa yang akan muncul di barisan setelahnya. Di kehidupan sebelumnya Sherina sangat pemalu, bahkan dia hanya menonton karnaval yang cuma ada setiap tahun saat masa kecilnya saja. Sudah lama sekali rasanya dia tidak hadir dalam suasana yang ramai dan menyenangkan seperti ini. Pikirnya, menjadi seseorang yang extrovert sepertinya tidak buruk juga.
Pertunjukan dari instansi lain pun juga tak kalah menghibur. Bahkan secara khusus pemerintah kota menghadirkan pertunjukan barongsai, sebagai bentuk penghormatan dan toleransi karena ada banyak orang beretnis Tionghoa yang menetap di kota ini. Contohnya Satya, mantan suami Sherina itu adalah seorang keturunan Tionghoa.
__ADS_1
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
Tiba-tiba saja ada panggilan masuk ketika Sherina sedang merekam video. Terpaksa dia memberhentikan rekamannya, lalu beralih melihat siapakah yang meneleponnya.
"Kayla ...?" Sherina mengernyit, dia berpikir alasan kenapa selingkuhan ayahnya menelepon mendadak. "Ada urusan apa dia menghubungiku? Aku rasa semua urusanku yang berkaitan dengannya sudah tuntas."
Karena rasa penasaran, akhirnya Sherina pun terpaksa mundur dan menjauh dari kerumunan orang. Dia mencari tempat yang agak tenang untuk mengangkat telepon dari Kayla yang terus berulang.
"Halo? Ada urusan apa kau meneleponku?" tanya Sherina sedikit ketus, dia merasa tidak terlalu nyaman saat berhubungan dengan orang yang punya ikatan dengan ayahnya.
"S-syukurlah Kakak mau mengangkat telepon dariku. Begini Kak ... aku ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan Kakak," jawab Kayla yang suaranya terdengar lirih dan gemetar.
"Aku sedang sibuk, aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini. Kita bertemu di lain waktu saja, nanti aku kabari kapan aku ada waktu!" ucap Sherina yang hendak menutup telepon.
"Tunggu sebentar! Apa saat ini Kakak sedang melihat acara karnaval?" tanya Kayla dengan nada ragu.
"Bagaimana kau bisa tahu?!" Sherina terkejut, dia mulai menaruh rasa curiga pada Kayla. Dia juga mulai bersikap waspada, mengira bahwa saat ini dirinya sedang diawasi diam-diam dari suatu tempat.
"A-aku hanya mengira-ngira saja, Kak. Tak perlu curiga padaku. Soalnya aku lihat semua orang menantikan acara karnaval ini. Dan emm ... jika Kakak tidak keberatan, tolong temui aku di Green Cafe. Tidak jauh dari alun-alun, kok. Aku mohon ... sebentar saja tidak apa-apa." pinta Kayla dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, kalau begitu aku akan ke sana sekarang juga!"
"Terima kasih banyak, Kak!"
Setelah panggilan telepon itu berakhir, Sherina bergegas pergi ke Green Cafe yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari alun-alun. Setibanya di sana, suasana kafe tampak sepi, memang karena saat ini orang-orang lebih ramai di luar untuk melihat karnaval. Lalu, di meja paling pojok, terlihat Kayla yang melambai kepada Sherina.
"Huff ...." Sherina menghela napas, lalu segera duduk di meja yang sama dengan Kayla. Dia sedikitĀ terkejut saat melihat Kayla sudah memesankan segelas kopi espresso untuknya.
"Terima kasih sudah mau datang, Kak," ucap Kayla dengan senyuman tipis.
Sherina meneguk sedikit kopi itu demi menghargai Kayla. Lantas dengan tatapan serius, dia pun berucap, "Tidak perlu basa-basi, cepat katakan apa yang mau kau katakan. Waktuku tidak banyak, aku harus segera menjemput adik iparku."
__ADS_1
"Ehmm ... begini," Mendadak Kayla menundukkan kepala, dia sangat gugup untuk mengucapkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya. "A-aku hamil anaknya Om Panji."
"A-apa?!" Sherina melongo. Kabar ini sungguh menambah kejutan tak terduga di hari karnaval.